
...πΌπΌπΌ...
Hari-hari Clarissa begitu menyenangkan, pergi dan pulang ke sekolah bersama Putra tanpa rasa takut. Kabar berita sudah menyebar kemana-mana soal hubungannya dengan Putra. Bahkan pacarnya itu sudah terang-terangan mengumbar perhatian padanya tanpa lagi takut, tidak ada yang berani menyakitinya ataupun sekedar mengejek. Meysa sudah cukup berubah, dia tidak lagi sebrutal dahulu, malah perempuan itu sedikit lebih pendiam, suka menyendiri.
Jika ada kesempatan, Meysa dan Kanya masih suka bertengkar meskipun itu hal sepele. Seperti sekarang, mereka memperebutkan siapa yang akan sekelompok dengan Clarissa karena mereka enggan satu kelompok.
"Hey, bisa berhenti." Putra menengahi, guru pengajar hanya meminta mereka untuk membagi kelas menjadi perkelompok sebelum beliau masuk kedalam kelas. "Gue aja masih mau berbaur sama yang lain walaupun gak mau pisah sama Ica, kenapa kalian berdua lebih posesif sama dia."
"Diem lo bucin." Bentak Kanya, dia membawa tas Clarissa untuk duduk didekatnya, tapi terkejut karena Meysa sudah menarik Clarissa untuk duduk disebelahnya. "Anj, balikin Ica gak."
Kanya berlari menghampiri Clarissa dan menariknya untuk duduk dikelompoknya, namun mendesah kesal ketika menyadari tas Clarissa sudah dibawa oleh Meysa dikelompok mereka.
"Kalian bisa berhenti gak sih?" Daze mulai ikut campur, "kalau gini ya gak bakal selesai, lebih baik Clarissa gak sekelompok sama kalian bertiga, adil kan?"
"GAK!!!" Kanya dan Meysa menolak bersamaan.
"Shut the hell up," Ujar Meysa kasar, dia bersidekap menatap Daze. "Gak usah ikut campur."
"Yaudah, kalian satu kelompok aja." Ucap salah satu anggota kelas.
"GAK!!" Ucap mereka serentak.
TOK.. TOK.. TOK..
Semuanya menoleh pada pintu yang terketuk, seorang guru laki-laki masuk. "Bisa kalian tidak ribut, kenapa IPA satu menjadi berisik akhir-akhir ini."
Tidak ada yang menjawab mereka,
"Putra, ikut saya, ada pak Gio dikantor."
Putra mengangguk dan berdiri mengikuti langkah guru. Clarissa menatap Kanya dan Meysa bergantian, keputusan ada ditangannya, ingin memilih siapa untuk tugas kelompok seni budaya. Clarissa meraih tasnya yang ada pada Meysa, kedua pesaing itu menatap Clarissa yang berjalan menuju kelompok enam, pada paling ujung.
"Ca...." Rengek Kanya menatap kepergian Clarissa.
"Nah, adil kan?" Ucap Daze semangat karena Clarissa memilih untuk masuk dalam kelompoknya. "Dah, lo berdua kembali pada kelompok masing-masing."
Kesal sudah pasti, Kanya dan Meysa terpaksa menerima keputusan adil Clarissa. Clarissa sendidi juga tidak bisa memilih salah satunya, mungkin dia akan lebih baik memilih Kanya karena merela bersahabat sejak kecil. Sayangnya, kini Clarissa tahu bagaimana posisi perasaan Meysa saat tidak ada seorangpun yang perduli pada dirinya, Meysa akan merasa semakin sakit ketika kepercayaannya kepada dirinya telah dia hancurkan. Clarissa duduk disebelah Daze, menerima sodoran tugas yang harus dikerjakan dari masing-masing anggota lalu dokumpulkan dan dijadikan satu setelah semuanya selesai.
Siial.
__ADS_1
Clarissa mengutuki dirinya, dia tidak melihat anggota yang dia pilih sebelumnya. Ada nama Erlangga dibagian paling atas sebagai ketua kelompok, apa kegiatan ini akan berjalan dengan baik?
"Akhirnya, berhenti juga kalian?" Putra masuk, membawa papper bag minipada tangan kanan dan setumpuk kertas pada tangan kirinya. Dia berjalan pelan menuju kelompoknya lalu membagikan kertas yang dia bawa tadi setelah menaruh papper bagnya. "Hasil ulangan fisika, yang gagal diminta buat nemuin beliau istirahat kedua."
Putra kembali menuju bangkunya setelah membagikan kertas ulangan kepada masing-masing pemilik. Meraih dua pappe bag mini dan dia berikan pada Meysa dan Clarissa.
"Waw..." Daze melotot pada kota kecil yang ada pada papper bag, dia melihat isinya ketika Clarissa membuka. "Dari bokap lo Put?"
Putra mengangguk,
"Cie elah," Ledek Daze menatap Clarissa.
"Kanya!!!" Semua mata beralih pada Meysa yang memanggil Kanya dengan riang.
"Mey....." Putra memanggil lirih, dia tahu apa yang akan adiknya itu perbuat.
Meysa tidak mendengarkan, senyumnya melebar saat Kanya dengan malas menatapnya. Meysa menunjukkan kotak mini berisi kalung dengan bentuk bintang. "Kalung gue sama Clarissa couple,"
Kanya tersenyum tipis, "So what? Clarissa gak akan pakai, karena dia pakai kalung persahanatan sama gue pemberian dari tante Dinda."
Meysa memudarkan senyumannya, melihat Clarissa yang sudah memasukkan pemberian Putra kedalam tas tanpa memberikan ekspresi senang, malah kembali pada buku pelajaran.
Kanya kembali menyeringai tajam pada Meysa, memberikan senyum kemenangan.
...πΌπΌπΌ...
Ponselnya bergetar, terdapat satu notif pesan dan Clarissa buru-buru membukanya.
Gio Adietama
It's okey baby, simpan saja.
bukan maksud om ingin
mengganti barang kenangan
dari mamamu, om tadi ingin
membelikan hadiah untuk Meysa
dan teringat akan dirimu, makanya
__ADS_1
om belikan sekalian, mengingat
selama kita kenal om sama sekali
belum memberimu hadiah.
Alis Clarissa berkerut, memangnya harus begini? padahal Clarissa tidak pernah terpikirkan soal hadia apapun selama mereka kenal. Demgan penuh pertimbangan, Clarissa membalas pesan dari Gio.
^^^Clarissa Fatiyah A.^^^
^^^Terima kasih om, maaf,^^^
^^^kalau untuk sementara^^^
^^^kalungnya Ica simpan dulu,^^^
Gio tidak lagi membalas pesannya, Clarissa kira pria baik itu marah terhadapnya, tapi ponselnya bergetar dengan nama Gio disana. Clarissa menelan salivanya pelan, kenapa Gio menelpon.
"Iya om,"
"Hallo sayang, besok ada waktu luang?" Tanya Gio pelan disebrang panggilan.
Clarissa menimang sebentar, "ada tugas kelompok Om, mungkin Ica pulang sore karena pulang sekolah langsung buat tugas."
"Ouh, padahal om ingin ajak kamu makan siang bersama,"
"Maaf om," Clarissa memikirkan waktu lain. "Bagaimana kalau besoknya, Ica senggang."
"Benarkah? menurutmu apa Meysa mau ikut makan bersama?" Clarissa paham, Anita maupun Gio harus menyeretnya untuk mengambil hati Meysa. Hidup perempuan yang mulai mendekatinya dengan kebaikan itu sedang diperebutkan oleh kakak beradik Adietama. Menurut Clarissa, Meysa berhak memilih dengan siapa dia akan hidup, bahkan sekalipun Meysa memilih untuk hidup dengan Jeri Adietama itu akan lebih baik.
"Nanti Ica coba tanya pada Meysa om,"
"Kamu tidak lagi takut padanya?" Gio bertanya dengan nada mengganggu.
Clarissa terkekeh hambar. "Tidak. Meysa bersikap lebih baik om, sepertinya berlabel kekasih Putra ada untungnya." Gio tertawa keras, sepertinya orang disebelahnya yang Clarissa tidak ketahui siapa ikut tertawa. "Om sedang di Rumah sakit,"
"Tidak, sedang duduk santai dengan papa Noel." Gio masih terkekeh. "Om harus menutup teleponnya sekarang, selamat beristirahat dan sampai bertemu besok ya."
Panggilan terputus, Clarissa merutuki dirinya setelah melempar ponselnya kekasur, hais, berlabel kekasih kekasih putra, kenapa Clarissa mengatakannya semudah itu.
"Gilaa ya, kenapa gue ngomong gitu tadi..."
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ