
Tubuhnya terpaku pada sosok laki-laki tinggi yang berdiri tidak jauh dari dirinya dan Oji. Menatapnya datar tidak suka ketika melihat kearah Oji, dan kembali menatapnya dengan tatapan ramah namun Clarissa tidak bisa membaca arti dari tatapan itu.
"ICAA!!!?" Laki-laki yang berdiri diteras rumahnya berteriak, dia menaruh piring entah berisi apa dan berlari menghampirinya lalu memeluk. "Ya ampun, kangen banget gak ketemu lo Ca, sumpah gak punya temen mabar gue."
"Ka-kalian disini?" tanyanya gagap.
"Iya, mau jemput lo lah."
"Ke-kenapa?"
"Gak boleh?" Dia diberikan pertanyaan balik oleh laki-laki yang hanya berdiri memandanginya sejak tadi. "Seharusnya tanggapan senang yang kita dapet, kenapa malah lo kayak gak terima gitu."
"Eit, apa'an nih Put sama kalimat sarkas lo?" Rinda menatap Putra heran, maksudnya, kenapa harus mengatakan hal yang terdengar kasar seperti itu. "Ca, gue sama yang lain cuma mau jemput lo sekalian ikut refreshing juga."
"Yang lain?" Dia tidak menanggapi kalimat aneh Putra, matanya mengikuti arahan tangan Rinda yang menunjuk Erlangga yang keluar dari dalam rumah dan Noel yang duduk melambaikan tangan kearahnya.
"Rin..." Rinda melepaskan rangkulan pada bahunya sembari tersenyum malu kepada Putra yang menegur dan menatapnya tajam. Putra menatap Clarissa. "Dari mana?"
Clarissa mengerjap matanya. "Pantai,"
"Ini siapa Ca?"
Clarissa melihat kearah Oji, seseorang yang dimaksud oleh Rinda.
"Oji, dulu temen gue pas liburan kesini," Clarissa menatap Oji yang tampak kebingungan. "Oji, kenalin temen-temen aku disekolah,"
"Halo, Rinda." Rinda melambaikan tangannya, lalu mengulurkan tangan yang langsung diraih oleh Oji.
"Saya Oji."
Putra tiba-tiba berjalan kearah mereka dan menarik tangan Clarissa. "Nyokap lo nyariin."
"Udah bilang kok..." Dia menurut mengikutin tarikan tangan Putra, sekilas dia melihat kearah Oji. "Oji mampir."
Rinda menepuk bahu Oji. "Yuk, mampir."
...πΌπΌπΌ...
"Loh Ica kok sudah pulang," Dinda keluar membawa nampan. "Oji mana?"
"Itu..."
Oji yang duduk disebelah Rinda tersenyum kepada Dinda.
"Tadi kemana saja?"
__ADS_1
"Cuma kepantai saja kok bu Dokter."
"Pantainya bagus kan Ica?" Dinda menatap Clarissa yang duduk dihapit oleh Erlangga dan Putra dikursi panjang.
Clarissa mengangguk. Mamanya pasti sengaja menanyakan apapun kepadanya, padahal wanita iti sudah tau kalau Clarissa tidak akan bisa bergerak jika ada Putra didekatnya.
"Dimakan pisang gorengnya, kalau kurang nanti tante buatkan lagi." Dia merogoh saku celananya dan meraih ponsel yang berdering. "Selamat menikmati, tante mau angkat telepon sebentar."
"Iya tantee..."
Rinda menepuk bahu Oji kuat, hingga membuat laki-laki itu tersentak kaget dan mengelus dadanya.
"Ji, lo pakai parfum apa? mirip sama punya Putra, tapi dia gak mau kasih tau merek apa, licik kan?"
Oji tersenyum. "Saya pakai parfum punya om saya, tidak ada label mereknya, tadi Clarissa juga bilang baunya seperti Putra."
"Hah?" Clarissa mendongak menatap Oji. "Aku? kapan aku bilang?"
"Tadi, sewaktu berangkat."
"Eng-enggak perasaan."
Putra yang tengah bertopang dagu menyisipkan poninya kebelakang telinga, bibirnya menyungging sebuah senyuman. "Aku? sejak kapan lo ngomong manis gitu?"
"Be-berisik."
"Iya bu Dokter."
"Oh iya, bawa mobil berapa? tante mau ikut, soalnya tadi Jakta telepon tante mau bertemu langsung."
"Mama mau ikut ke Jakarta?" Clarissa bertanya semangat. "Serius ma?"
"Iya sayang."
"Kami bawa dua mobil tante," jawab Erlangga. "Tante ikut kami saja,"
"Okey, maaf merepotkan."
Rinda tertawa. "Tante apasih, apa yang merepotkan kalau semua yang berhubungan sama Ica."
Dinda tersenyum menatap Clarissa. "Senangnya, Ica punya teman-teman yang baik dan melindungi. Terima kasih ya," Dinda berdiri. "Tante mau siap-siap dulu, kalian cepat habiskan. Oji, kamu juga bantu habiskan."
"Baik bu,"
"Siap tante...."
__ADS_1
Mata Clarissa berkeliar, ada satu anggota mereka tidak hadir. "Daze gak ikut?"
"Kenapa menanyakan orang yang tidak ada?"
Clarissa langsung terdiam mendengar Erlangga menjawab dengan tatapan tidak berekspresi. Noel menggeleng dan dia membuat Clarissa terfokus padanya. "Daze semalem ikut balapan, terus ketahuan sama Marisa, diaduin deh sama nyokapnya, jadi sekarang dia lagi kena pasal-pasal."
"Kenapa dia kena pasal-pasal?"
"Lo gak tau?"
Clarissa menatap Erlangga. "Tau soal apa?"
"Nyokap Daze jaksa."
"Gue kira lo tau Ca, yang nanganin kasus tante Dinda sama om Doni kan mamanya Daze." Jawab Rinda. Clarissa menganga kaget, tidak menyangka kalau mama Daze adalah seorang yang sangat hebat.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, dan mereka semua bergegas membantu memasukkan barang-barang yang akan dibawa oleh Dinda dan Clarissa kedalam mobil.
Clarissa menghembuskan napasnya pelan, bagaimana bisa Putra terpikirkan tentang membawa mobil yang hanya ditumpangi dua orang ke desa jauh. Herannya, kenapa dirinya yang bertugas menemani Putra menuju ke Jakarta. Mamanya diminta oleh Rinda untuk duduk manis dimobilnya dengan Noel sebagai driver.
Mobil yang berada didepan mobil Putra berisikan Noel, Rinda, Erlangga serta Dinda sudah mulai berjalan ketika Dinda sudah meminta izin kepada Oji untuk menjaga rumahnya selama dia kembali ke Jakarta.
Selama dalam perjalanan Clarissa maupun Putra sama sekali tidak berbicara, Putra yang ingin fokus dan Clarissa yang tidak tau harus membuka percakapan soal apa.
...πΌπΌπΌ...
Meysa berdiri menatap Bintang didepannya, dia ingin tersenyum namun tertahan karena melihat tatapan tidak suka yang diberikan oleh laki-laki didepannya.
"Minggir..."
Dia tersadar dari lamunan dan kebekuannya yang membuat laki-laki didepannya terpaksa membuang waktu hanya untuk melihat dirinya yang ditatap oleh Meysa lama.
"Bintang...."
Kaki Bintang berhenti pas didepan pintu, dia sama sekali tidak berbalik melihat Meysa yang berusaha menghentikannya untuk pergi.
"Apa kamu yakin dengan perempuan itu?"
Bintang berbalik dan menatap Meysa. "Bicara yang jelas."
"Aku tau, kamu bersama wanita itu karena ingin bertanggung jawab kan? kamu tidak menyukainya, apa kamu tau kalau dia itu......."
"Berhenti bicara,,," Meysa menutup mulutnya. "Aku sudah muak, jangan pernah menyapaku kalau bertemu."
Meysa tidak dapat menghentikan langkah kaki Bintang yang meninggalkan Cafe yang telah menjadi tempat favorit mereka dahulu.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ