
...πΌπΌπΌ...
Sesuai janji, Oji datang sekitar pukul sepuluh pagi. Dia tersenyum sapa menatap Dinda yang duduk dikursi depan rumahnya.
"Sudah mau berangkat?" tanyanya ketika Oji sudah menegakkan penyagak pada sepedanya. Melihat anggukan Oji, Dinda melihat kearah dalam. "Mungkin Ica sedang siap-siap, baru bangun soalnya."
"Wah, kalau dia asli orang sini, sudah kena marah karena bangun siang."
"Untungnya dia bukan orang sini." Tanggap Dinda sembari tertawa.
Keduanya menghentikan tawa ketika Clarissa keluar dengan menenteng mini bag miliknya. "Ma, Ica pamit."
"Iya, jangan malam-malam pulangnya."
Selagi mengikat tali sendalnya dia mendongak menatap Dinda. "Please, mama lupa? Ica pulang sore,"
"Oh iya lupa." Dinda menatap Oji. "Pelan-pelan naik sepedanya."
"Iya bu Dokter," berpamitan, memutar sepedanya dan dia tuntun sampai keatas jalan. Dia melihat Clarissa menatap sepedanya dengan saksama. "Maaf, saya gak punya motor."
"Sepeda baru?" tanyanya tanpa menanggapi kalimat menyedihkan Oji, dan duduk tanpa aba-aba. "Kok beda."
"Keranjang belakangnya saya lepas, terus saya pakaikan jok biar kamu duduk dengan nyaman." Oji mulai menaiki sepedanya, dia tersenyum lagi kepada Dinda sebelum melajukan kayuhannya. "Saya mulai jalan yaa..."
"Iya...." Clarissa melambaikan tangan tinggi-tinggi kearah Dinda. "Dadaa mamaa....."
...πΌπΌπΌ...
Clarissa menghirup udara dalam-dalam, tangannya menggenggam erat kaos Oji setelah dia meminta izin kepada laki-laki itu.
"Oji,, pakai parfum apa?"
Oji yang masih fokus mengayuh, memelankan lajuannya dan menoleh kesamping. "Punya oom saya, beliau koleksi parfum, jadi saya suka minta sedikit kecuali saat kerja."
"Baunya seperti Putra."
Sadar atau tidak. Clarissa sangat frontal dalam mengatakan tentang Putra kepada orang yang baru dia kenal kemarin sore. Dalam ucapan Clarissa, Oji tampak menggeleng kecil.
"Putra siapa?"
"Ada deh..." Clarissa melihat kearah samping, mereka sudah berjalan menyusuri jalan setapak yang hanya bisa diakses untuk kendaraan roda dua dan pejalan kaki saja. Pantai sudah terlihat namun mereka belum memasuki pintu utama.
"Udah kelihatan pantainya..." Teriaknya sembari mengembangkan senyumnya.
Oji mengangguk, dia kembali memperlambat lajuan kayuh karena jalan menurun, tangannya terus kuat mencekam rem agar tidak merusut cepat. Clarissa lebih dulu turun dan menunggu Oji untuk memarkirkan sepedanya.
__ADS_1
"Yuk."
"Ramai juga ya..." Mengikuti langkah Oji masuk kesebuah warung.
"Belum sarapan kan? tadi waktu saya jemput, kan kamu baru bangun." Clarissa mengangguk dan duduk disebelah Oji. Tidak butuh waktu lama soto dan es teh sudah tersaji dihadapannya.
"Punya lo... Ehh maksudnya, punya kamu?" Clarissa lupa, mereka yang tinggal disini tidak terbiasa dengan gaya bahasanya.
"Saya sudah makan." Ujar Oji, menarik gelas es tehnya dan diseruput sedikit selagi menunggu Clarissa menghabiskan sotonya. "Dijamin, kamu enggak akan menyesal sudah makan soto disini, soalnya enak banget."
Clarissa mengangguk mendengar kalimat Oji karena dia sudah mencicipinya disela itu. Benar-benar enak dan gurih, Clarissa suka, bahkan rasanya hampir menyaingi soto dikantin sekolahnya.
"Nanti setelah makan, saya ajak kamu menyusuri pantai sampai keujung bukit, pemandangannya bagus, beberapa orang saja yang berani keatas karena masih curam." Melihat ekspresi Clarissa, Oji tersenyum. "Tapi aman kok, saya cukup biasa menaiki tebing itu, setiap libur kerja saya selalu kesana untuk melepas penat."
Oji menyodorkan kotak tissu saat tampak Clarissa kebingungan mencari sesuatu untuk membersihkan cipratan kuah dimeja.
"Di Jakarta pasti ramai ya?"
"Jangan ditanya."
"Saya pernah sekali kesana, ikut paman menjual sapi ternaknya."
Clarissa mengangguk mendengarkan.
"Oh iya, bagaimana kabar mas Bintang? kenapa tidak ikut kemari?"
Menutupi fakta yang sebenarnya mungkin jalan terbaik, toh Oji tidak akan tau masalah yang ada pada keluarganya. Mamanya hanya sekedar menetap untuk menghindari papanya, mungkin dalam waktu tidak terlalu lama, semuanya akan baik-baik kembali. Clarissa tidak perlu menceritakan detailnya bagaimana soal ketidakhadiran kakaknya disini.
Cukup beberapa menit Clarissa menghabiskan makanannya, mereka tidak banyak bicara karena Clarissa sibuk pada santapannya dan Oji sedang berbincang dengan salah satu warga yang laki-laki itu kenal. Clarissa tidak terlalu paham apa yang mereka bicarakan karena menggunakan bahasa khas daerah yang saat ini dia sedang kunjungi.
Oji menghampiri Clarissa lagi dan mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan, mereka sengaja memperlambat jalan agar dapat menikmati pemandangan. Banyak anak-anak kecil yang diawasi oleh orang yang lebih dewasa bermain di bibir pantai. Clarissa berjalan tanpa alas kaki, dan sandalnya telah ditenteng oleh Oji sesuai permintaan laki-laki itu sendiri. Clarissa sempat menolak, namun dia dihentikan saat akan merebut sandalnya, membuatnya terpaksa membiarkan.
Matahari mulai menurunkan teriknya, mata tidak lagi menyipit terkena paparannya. Clarissa dan Oji masih berjalan menyusuri pantai tanpa mengatakan sepatah apapun, terkadang Oji yang bercerita ketika sesuatu telah mereka lewati dan Clarissa hanya menganggukkan kepala untuk menanggapinya.
Sampai disebuah tunggakan kecil, Oji lebih dulu naik dan berbalik melihat Clarissa yang hendak mengikuti jejaknya. Laki-laki itu mengulurkan tangan. "Sini, pegang saya saja,"
Clarissa meraih tangan itu.
"Hati-hati," ujar Oji lagi saat kaki Clarissa mulai menapaki jalan kecil dengan bantuannya.
Disetiap pinggir tebing diberi pagar kayu sebagai pembatas. Masih rawan. Saat Clarissa mencoba melihat kebawah dengan mengencangkan pegangan pada pagar, sangat terlihat jelas dibawah mereka tumpukan batu besar.
Oji mengajaknya untuk duduk dibawah pohon besar dengan akar yang terbentuk seperti sebuah tempat untuk mereka duduk. Angin berhembus kencang, Clarissa menjepit poninya agar tidak menutupi mata. Tempat ini masih sepi, hanya terlihat beberapa orang saja dengan jarak yang sangat jauh, bahkan Clarissa tidak dapat melihat jelas wajah orang disana.
"Memang masih sepi, soalnya untuk naik kesini sedikit curam dan mereka tidak memiliki keberanian yang cukup besar." Ucapnya seperti menjawab pertanyaan yang ada pada benak Clarissa. "Pulang ke Jakarta jam berapa?"
Clarissa menatap laki-laki itu. "Jam limaan."
__ADS_1
"Pulang sebentar lagi tidak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa, ini masih jam dua, berangkat kestasiun bisa jam empat dan masih bisa kejar jam pulang kejakarta."
"Kalau pas libur panjang, kemari saja. Saya akan ajak kamu keliling ke desa ini lebih lama." Clarissa mengangguk.
...πΌπΌπΌ...
Hari ini cukup, Clarissa sudah puas berdiam diatas bukit menikmati pemandangan indah pantai lewat atas sana. Puas dengan berjalan cukup jauh untuk mendapatkan kenyamanan seindah itu.
Clarissa sudah mencuci kakinya dan Oji menaruh sepasang sendalnya ditempat yang lebih kering. Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang mengendarai sepeda milik Oji.
"Oji, turun disini aja."
"Kenapa?"
"Jalannya kan menanjak, butuh tenaga dua kali lebih kuat untuk naik keatas."
"Oke deh."
Oji menuntun sepedanya karena jalan yang mereka tempuh dengan keadaan menanjak, Clarissa berjalan dibelakang, terkadang ikut membantu mendorong walaupun Oji tidak membutuhkan itu.
Saat jalanan terasa mendatar, Oji meminta Clarissa untuk naik lagi keatas sepeda bagian penumpang. Laki-laki itu bawa dengan keadaan lebih cepat.
"Mampir sebentar ya..." Oji memelankan lajuannya saat hampir didekat sebuah warung kecing dipembelokan. Laki-laki itu turun diikuti Clarissa, dia diam saja saat Oji sibuk berbincang dengan pemilik warung, dia sempat tersenyum kecil saat pemilik warung menatapnya dan tersenyum ramah.
Oji kembali menghampirinya.
"Sudah?"
"Sudah." Jawab Oji.
"Rumahku yang jalan kekiri kan?" menunjuk simpang empat yang salah satu arah menuju rumahnya.
"Iya."
"Sampai sini saja, kan tinggal jalan sendiri dekat."
"Jangan, kan pergi sama saya, tidak enak sama bu Dokter kalau kamu pulangnya sendirian."
"Tapi aku jalan saja ya?"
Oji mengangguk. Mereka kembali melanjutkan perjalan kerumah nenek Clarissa dengan berjalan kaki. Tetap tidak ada perbincangan. Mereka diam sembari mendengarkan suara angin yang cukup kencang saat ini.
"ICAAA??!?!"
Langkah Clarissa berhenti, bahkan sempat membuat Oji ikut berhenti, melihat laki-laki tinggi didepan mereka, berdiri tepat didepan rumahnya.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ