Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:52


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


"Lo gak mampir?" Kalimat pertanyaan pertama Clarissa setelah lama mereka berdua berdiam. Saat mengantarkan Vina lebih dulu saja mereka tidak mengobrol lebih banyak, interaksi hanya terjadi antara Vina-Kanya dan Vina-Clarissa. Tidak ada percakapan yang mengalir tidak sengaja antara Kanya dan Clarissa.


Kanya menggeleng, kepalanya tetap menatap lurus kedepan, biasanya saja walau tidak mampir perempuan itu akan tetap menghentikan mobilnya tepat dihalaman rumah sahabatnya. Namun kali ini, dia terlihat enggan masuk dan hanya berhenti didepan pagar saja. "Gue lupa gosok baju buat nanti malam jalan."


"Ohh, have fun ya?" Clarissa melepaskan sabuk pengaman dan membuka tas punggungnya. Mengeluarkan satu buku bersampul hitam dan bertuliskan namanya dengan warna hitam pula diatas kertas berwarna putih. "Bay the way, ini kisi-kisi bu Siska buat ujian besok."


Kanya meraihnya dan langsung ditaruh disampingnya. "Thank you."


"Lo masih marah sama gue?"


"Biasa aja." Jawabnya tanpa menoleh. "Jam berapa konser mulai?"


"Gue naik taxi online aja."


"Ck," Kanya menatapnya. "Tinggal jawab aja apa susahnya sih?"


"Jam delapan mulai, jam setengah delapan harus cek tiket buat masuk." Jawabnya dengan malas-malasan.


"Yaudah turun lo,"


"Sorry kalau gue ngerepotin lu terus,"


"Berisik Ca, gue mau gosok baju."


"Oke oke gue turun." Melirik Kanya tajam. "Santai aja dong."


Tanpa ba-bi-bu Kanya langsung melesat pergi setelah Clarissa turun dan memandangi kepergiannya dengan wajah kesal.


"Apaan sih, lebay." Umpatnya kepada mobil Kanya yang sudah terparkir dihalaman rumah yang masih terlihat dari halaman rumahnya. Clarissa masuk setelah berusaha keras membuka pintu pagar, kehancuran keluarga mereka untuk yang lalu membuat mamanya terpaksa menghentikan semua pekerja rumah kecuali bi Siti, membuat pagar besinya yang terlihat tidak terurus. Keras, membuat Clarissa harus mengeluarkan seluruh tenanganya untuk membuka dengan tangan menerobos kedalam.


Setelah terbuka, Clarissa berjalan masuk dengan langkah gontai. Pintu tidak terkuni membuatnya langsung masuk tanpa susah-susah sampai berteriak. Dia berjalan menaiki tangga, tanpa mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Karena dia tahu tidak ada seorangpun didalam rumahnya, dan bi Siti pasti sedang berada dikamarnya.


"Non Ica,"


Clarissa tersentak.


"Bi Siti bikin kaget," Clarissa menuruni tangga mendekati perempuan paruh baya itu. "Mama sama kak Bintang belum pulang?"

__ADS_1


"Bu Dinda ada pasien mendadak, tadi padahal sudah pulang. Kalau mas Bintang hari ini ada pertandingan basket diclubnya, mungkin malam pulangnya." Jawab bi Siti. "Non Ica mau makan sekarang atau nanti, biar bibi panaskan."


"Nanti saja, Ica mau istirahat sebentar."


"Baik non."


Clarissa berbalik melanjutkan perjalanan menuju kamarnya, suasana rumahnya masih sama. Pembedanya, kali ini bi Siti tidak menjelaskan dimana keberadaan sang papa. Biasanya papanya sudah lebih dulu pulang atau menyempatkan menjeputnya pulang sekolah. Rasanya masih kurang nyaman saat berada dalam rumahnya yang sama namun keadaan sudah semakin berbeda.


Beruntungnya kamarnya tidak berubah, bi Siti menjaga kamarnya dengan baik, mengunci dan bahkan sempat bersitegang dengan wanita pilihan papanya karena ingin melihat-lihat semua isi ruangan dirumah ini. Clarissa merebahkan dirinya diatas kasur, sepatu sudah dilepasnya menyisakan kaus kaki dan seragam lengkapnya, untuk melepaskan rompi yang dia gunakan untuk luaran seragamnya saja sangat berat. Matanya menatap baik-baik posisi desain kusus pada atap kamarnya, dulu papanya yang mencari arsitektur yang hanya diperbolehkan merancang setiap inci kamarnya.


Papanya adalah yang terbaik sebelum wanita itu hadir.


Cukup dua puluh lima menit Clarissa memejamkan matanya, mimpi indahnya mengenang kebahagiaan keluarga mereka yang utuh telah luntur. Clarissa mengerjap matanya, menatap jam dinding didalam kamarnya yang menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia bangkit, meraih handuk lalu masuk kedalam kamar mandi, membersihkan diri dengan air hangat. Ia harus bergegas mandi untuk bersiap-siap.


...🌼🌼🌼...


Pukul tujuh malam, mama serta kakaknya masih belum kelihatan, Clarissa sudah mengisi perutnya dengan masakan cepat saji yang dibuatkan oleh bi Siti. Dia duduk diteras rumahnya, menunggu Kanya yang baru saja mengirimi pesan untuk menjemputnya.


Saat Honda Jazz S CVT hitam masuk kedalam halaman rumahnya, Clarissa berdiri dan masuk kedalam rumah mencari bi Siti. "Bi, Ica pergi ya, bilang sama mama sama kak Bintang kalau ada yang nanya."


"Oh iyaa non Ica." Bi Siti berlari dari dapur ketika mendengar teriakan Clarissa. "Pergi sama siapa non?"


"Girang amat..." Puji Kanya melihat wajah sumringah Clarissa ketika memasang sabuk pengaman.


"Iya dong,"


Kanya terlihat cantik mengenakan dress berwarna salmon dengan rambut yang sengaja digerai. "Kenapaa? gue cantik?"


Clarissa mengangguk. "Kelihatan beda, mau date dimana sih?"


"Gue gak tau sih jelasnya dimana?" Mengangkat bahunya acuh. "Dia cuma suruh gue dandan yang cantik doang, ya gue ngikut aja sih."


Mood Kanya terlihat sedang baik, sebaiknya dia hilangkan pemikiran tentang menanyakan soal perseteruan mereka. Clarissa diam mendengarkan Kanya bersenandung mengikuti dvd dalam mobilnya, memutar lagu kesukaan perempuan itu. Terkadang memang aneh, Clarissa dan Kanya memiliki genre yang berbeda, Clarissa dengan genre metal dan Kanya dengan genre funny, sang kpopers. Tapi mereka tetap nyambung dalam bercerita.


"Jemput dia dulu yaa." Tawarnya sembari melihat jam ditangannya, "masih beberapa menit lagi buat sampai diarea konser, rumah dia deket sini kok."


"Aman." Jawabnya tenang.


Laki-laki dengan kemeja putih berdiri dipinggir jalan, melihat jam tangan dan sesekali membuka ponselnya.


"Itu dia kan?" ucap Clarissa spontan melihat sosok laki-laki yang dia kenali sedang dekat dengan sahabatnya itu. "Kalian mau kemana sih? dia formal banget pakai kemeja putih, kayak mau akad."

__ADS_1


"Anj, mau dinikahin dong gue." Tanggap Kanya sarkas. Kanya menghentikan mobilnya tepat didepan laki-laki itu, melihat seseorang duduk didepan membuatnya bergerak membuka pintu belakang dan duduk.


"Hai, Edo." Edo tersenyum tipis, dia terlihat menunduk malu.


"Ca, lo balik jam berapa?"


Pertanyaan Kanya membuatnya mengalihkan dari tatapan intens kepada Edo. "Belum tahu sih, gak usah bareng deh, gue bisa cari taxi atau kalau kemaleman gue bakal cari penginapan diarea terdekat aja."


"Jaga diri baik-baik ya..." Ucapnya ketika sampai didekat area konser, cukup ramai dan hampir membuat Clarissa sesak. "Lo bawa inhaler kan?"


"Bawa." Menepuk mini-bag nya.


Kanya memeluk Clarissa sekilas. "Gue gak bisa jaga lo."


"Iya tahu, ini bukan pertama kalinya gue nonton konser sendirian." Clarissa menatap Edo yang terus saja diam, menundukkan kepalanya. "Seneng-seneng kalian. Gue pamit."


Kanya merasa tidak enak jika membiarkan Clarissa berjalan menuju box besar penyerahan tiket. Tapi, memang benar ini bukan pertama kalinya dia tidak menemani Clarissa menonton konser. Tapi sebagai sahabat sejak kecil, kali ini Kanya merasa ada yang salah dari firasatnya.


Pandangan menyesal dan tidak tega melihat Clarissa pergi telah buyar saat Edo berpindah duduk disampinya, bekas tempat Clarissa tadi.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HUAA 😭😭


BEBERAPA HARI YANG LALU


HP RUSAK!!!


JADI DIBENERIN DEH


MAKANYA LAMA GAK


UPDATE 😭😭


ALHAMDULILLAH, INI HP


SUDAH SEMBUHH.


SEMOGA, BISA LANCAR LAGI


BUAT UPDATE SETIAP HARINYA.

__ADS_1


__ADS_2