Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:20


__ADS_3


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Bi Siti tersenyum bahagia, setelah keadaan rumah yang dia tempati berubah menjadi mencekam untuk beberapa hari, kini telah kembali riuh dalam suasana yang membahagiakan. Terlihat wajah ceria dari nyonya yang telah dia ikuti dari lama, Bi Siti membawakan hidangan makanan keatas meja tanpa menurunkan ukiran bibir melengkungnya. Dia sangat merindukan suasana seperti ini.


Bintang yang merengek karena mamanya lebih memilih untuk menuangkan sajian lauk pauk kepada piring tamunya. Clarissa yang tertawa sembari menekan perutnya karena geli melihat ekspresi kesal Bintang. Rehan hanya tersenyum menatap Dinda yang baik memilihkannya makanan sehat.


"Jadi kapan kamu mau bawa Raisa kerumah???" Ekspresi lucu Bintang berubah. "Selesaikan kuliah kamu dengan cepat, baru nikahi dia." Rehan terbatuk. "Pelan-pelan Rehan."


"Maaf tante,"


"Karena Rehan sudah menjadi teman dekat Clarissa, masalah ini juga tidak perlu ditutupi." Mengelus puncak kepala Bintang. "Gak perlu malu juga, yakan sayang??"


"Iya ma."


"Mama tau kak Bintang hamilin pacarnya yang ghosting itu?"


Dinda menautkan alisnya. "Ghosting?"


"Iya, ghosting. Berbayang, gak tau gimana bentuknya tapi tiba-tiba mengabari kalau dia hamil." Menekan daging dengan kekesalan penuh. "Freak, ica baru tau ada orang seperti dia."


"Hushh, jaga bicaramu ica, karena setelah dia memperkenalkan diri. Dari situ kita sudah menjadi keluarga." Menoel pipi gembul Clarissa, "bukannya kamu menginginkan kakak perempuan seperti Kanya juga???"


"Tapi ica gak mau Raisa.."


"R-R-R Raisa, bukan Laisa dek." Rehan tersenyum menatap Clarissa, pipinya mengembang menatap Bintang tajam. "Kamu bisa ngomong R kalo nyebutin nama Putra doang."


"Kata siapa???"


"Emangnya kakak gak denger? kalo kamu manggil Rehan aja suka gak kedengeran kok." Ejeknya lagi. "Rehan, kamu harus bisa nembus dinding pertahanan suka Clarissa terhadap Putra, rasa suka dia sudah mendarah daging soalnya."


"Clarissa suka Putra? aku kira Putra yang suka sama Clarissa." Dinda dan Bintang memandangnya, "selama dekat dengan Clarissa, Putra selalu ngikutin soalnya."


"Kak, kan udah aku jelasin kemarin, itu hanya kebetulan." Menyupai daging hingga membuat pipinya mengembang, Rehan mengusap saus diujung bibirnya.


"Iya, aneh aja."


"Haduh, sudah sudah, lupakan soal Putra. Jangan mengalihkan pembicaraan mama," menatap Bintang serius. "Kapan???"


"Nanti Bintang coba bicarakan lagi sama Raisa, dia masih kurang percaya diri untuk ketemu keluarga kita ma."


Dinda melototi putrinya ketika mendengar suara decakan darinya. "Mama akan tunggu sampai dia siap, jangan terlalu lama. Mama juga perlu cek kandungannya."


"Iya ma."


Clarissa menghela nafas, bukankah itu kesalahan besar, kenapa mamanya terlihat santai dan tidak memperdulikan dosa yang kakaknya telah perbuat. "Mama tidak marah?"


"Kenapa harus marah? mama pernah berada diposisi Raisa, mama malah sangat bangga kepada Bintang karena berani bertanggung jawab padahal dia masih harus mengejar pendidikannya." Dulu dia dikatakan sebagai pengahalang kesuksesan Doni karena telah mengandung anak yang tidak diinginkan, Dinda dihina, karena dia merasa Bintang adalah nyawanya. Dia mempertahankan hal itu, "nikahi dia dengan cinta, jangan karena terpaksa."


Bintang terdiam, memandang mamanya dalam, itu adalah kata-katanya untuk sang papa saat dipengadilan tadi. "Selesaikan makanannya, mama harus kerumah sakit lagi, dan tante minta tolong sama Rehan."


"Iya tante.."


"Antarkan Clarissa kerumah Adietama."


"Apa???"


"Apa pendengaran kamu bermasalah?"


"Bukan tante..." Rehan menatap Clarissa, perempuan itu diam dan tidak berekspresi apapun, "kenapa Clarissa masih tinggal disana??"


"Kenapa memangnya?"


"Maa.. "


Dinda mengelus punggung Clarissa, "mama akan merenovasi rumah ini dan menjualnya, kita akan tinggal dirumah peninggalan kakek."


"Ke-kenapa???" Bintang tampak terkejut dengan keputusan mamanya tanpa merundingkan kepada anak-anaknya. "Kenapa harus dijual?"


"Kamu tidak setuju, tidak masalah. Kamu bisa memakainya nanti saat sudah menikah dengan Raisa," Dinda bangkit dari duduknya meraih ponsel didekatnya. "Dokter Anita sudah menelpon mama berulang kali menanyakanmu, sementara kamu tinggal disana selagi rumah ini direnovasi. Begitu...."


"Maa,, ica kan bisa tinggal sama mama."


"Tidak bisa syaang, mama sudah membawa semua barang-barang kita yang penting kerumah kakek, mulai lusa mama pindah tugas kesana, itu sangat memudahkan mama," Clarissa tampak tidak setuju, "Bintang tetap akan tinggal diapartemen bersama Raisa, setelah renovasi selesai, kita akan merancang kedepannya. Bintang dan Raisa mau tinggal disini silahkan, atau ica yang akan menempatinya sendiri, mama tidak masalah."

__ADS_1


"Mama pindah tugas?"


Dinda tersenyum, keputusan yang telah Gio lakukan membuatnya sedikit lega. Tidak masalah dia mengalah, setidaknya dia tidak akan lagi melihat mantan suaminya disana. "Itu keputusan yang terbaik bagi mama sayang." Meraih tasnya diatas meja tidak jauh dari meja makan. "Mama pergi, titip ica ya Rehan."


"Iya tante..."


"Hati-hati buu.... " Bi Siti menunduk kecil.


...🌼🌼🌼...


Rasa kesal dan emosi beraduk menjadi satu, dada Gio naik turun karena sedang menahannya. Matanya masih memandang lurus kearah lain, Anita yang duduk disebrangnya hanya diam sembari meremas kedua tangannya dengan manatap Gio. "Padahal aku orang yang sangat baik hati dimuka bumi ini."


"Maaf," perempuan dengan mengenakan seragam SMA Gemilang Cahaya tengah berlutut didekat kakinya, "sa-saya tidak akan melakukannya lagi."


"Sudah aku katakan, behenti berkhayal tentang hubunganmu dirumah ini, Meysa..." Matanya beralih kepada Anita, istrinya masih bertahan untuk diam. "Kubiarkan kamu menyentuh Anita, kubiarkan kamu sekolah plus fasilitas yang mewah. Apa yang membuatmu kurang hingga menginginkan Putra juga?"


Meysa menggeleng, "Mey gak pernah menginginkan Putra..."


"Mey...." Meysa melirik Anita, wanita itu menggeleng pelan, memerintahkan dirinya untuk tidak membantah.


"Aku memaafkanmu," Meysa mendongak, "tapi kusarankan untuk tidak menyentuhnya lagi, dan jangan membuat onar disekolah."


Wajah sangar Gio berubah ketika melihat Clarissa masuk dan pandangan matanya menatap Meysa, "kamu sudah pulang?"


"Iya om,"


"Bagaimana sidang mamamu sayang?" Meysa mengepalkan tangannya, dia belum pernah dipanggil seperti itu oleh mamanya. "Apa berjalan baik??"


"Iya tante, mama menang,"


"Syukurlah," Anita berjalan mendekat dan merangkul Clarissa menuju lantai atas, dia sangat menunggu Clarissa agar dia mencari alasan untuk tidak duduk dan menatap Meysa. "Ganti pakaian lalu tante temani untuk makan siang,"


Meysa mengusap pipinya yang basah, mendengar mamanya sangat perhatian kepada orang yang begitu dia benci, dan tidak melihat kearahnya, berlutut didekat kaki Gio, pria yang diinginkan mamanya hingga rela meninggalkan dirinya dan papanya.


"Sakit???"


Menysa mendongak, "engga..."


"Seperti apapun perlakuanmu padanya, semua orang tetap akan menyayanginya." Gio bangkit, "tunggu sebentar,"


"Mau kemana pa??"


"Ambil sesuatu untuk Meysa."


Tidak disangka, Putra berjalan mendekati Meysa, tersenyum sinis. Meysa diam tidak bergerak, dirumah ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Putra mengetuk bahunya dengan jus mangga kotak ditangannya, Meysa mendongak, Putra duduk ditangan sofa dibelakangnya. "Nih minum..."


"Gak perlu,"


"Ck, gue tau lo haus."


Meysa memajukan badannya untuk menjauhi Putra. "Please deh Putra, kamu kan tau sendiri, aku gak akan bisa nyentuh apapun dirumah ini..."


"Gue yang kasih."


Meysa menggeleng, "ck, Putra kaki kamu.." Meysa maju lagi, Putra seperti sengaja mengayunkan kakinya lalu ujung sendalnya menyenggol punggung Meysa hingga menimbulkan rasa sakit.


"Lo kan tau kaki gue panjang..."


Meysa memajukan tubuhnya lagi, "ck Putra..."


"Lo sih duduk disitu."


"Kamu sendiri, sofa banyak kenapa duduk dibelakang aku." Protesnya, Putra memang bisa mengerjainya saat situasinya seperti ini.


Putra tersenyum kecil, "ini rumah gue." Ayunan kakinya memelan ketika melihat Gio tengah menuruni anak tangga sembari membawa sebuah amplop kecil. "Ngambil apa pa?"


"Ini," mengangkat amplop. "Hadiah untuk Mey karena tidak mengganggu Clarissa hari ini."


"Tidak usah om.."


"Ambilah," amplop terlempar diatas meja dihadapannya. "Selagi aku sedang berhati hangat."


"Ambil Mey...." Punggungnya terasa sakit lagi ketika ujung sendal Putra menyentunya.

__ADS_1


Perlahan Meysa meraihnga, dia mendongak lagi menatap Gio. "Terima kasih om,"


"Aku dengar kamu mau merenovasi rumahmu, merapikan lagi agar terlihat seperti sebuah rumah keluarga, agar saat papamu pulang dia akan merasa senang, begitu?"


Meysa tersenyum kecil mengingat akan hal itu, dia mengangguk menjawab pertanyaan Gio. "Padahal kamu tau papamu tidak akan pernah bisa keluar dari rumah dakit."


Amplop tersemas dengan kuat akibat perbuatan Meysa, dia menahan segalanya. "Terima kasih atas hadiahnya om, Mey sangat senang mendapatkannya."


"Dari pada merenovasi rumah, kenapa tidak mendengarkan saranku untuk tinggal di apartment?"


"Tidak apa-apa om."


"Hmm, pulanglah," Menata Putra, "Panggilkan Deon untuk mengantar Mey pulang."


"Biar Putra anter pa."


"Gak usah Put...."


Gio berdecak, "kenapa? bukankah kamu senang dengan Putra yang tiba-tiba bersikap baik padamu, mau mengantar pulang??"


"Kali ini tidak," Meysa berdiri menghampiri Deon yang terlihat berjalan mendekat, "biar Mey tetap pulang bersama Deon, seperti biasa."


"Haihh, gak asik Meysa.."


Meysa menunduk kecil menatap Gio, "permisi om... Sekali lagi terima kasih hadiahnya."


"Hati-hati Mey..."


...🌼🌼🌼...


Clarissa bukan tipe orang yang mau ikut campur dengan urusan orang lain, dia tidak perduli dengan keadaan sekitarnya kecuali orang terdekatnya. Dia memilih untuk menjauhi hal yang akan membuatnya sulit nantinya.


Pada saat melihat keberadaan Meysa dalam posisi yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, hati kecil Clarissa mengatakan. Tolong cari tau. Anita juga tidak tampak seperti biasanya, dia terlihat tengah menutupi kegusaran dalam dirinya dengan memperhatikan Clarissa lebih rinci.


"Tante ada masalah???" Akhirnya dia mencoba mencari cara lain.


Anita menghentikan aksi mengikat rambut Clarissa, "tidak ada, kenapa?"


"Tante terlihat aneh,"


"Benarkah???" menepuk pipinya, menatap cermin seperti sedang mencari celah keanehannya. "Aneh dimana??"


"Bukan, maksud ica, sikap tante."


Anita terdiam, dia hanya tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat Meysa diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Senyumnya mengembang, "tante boleh cerita sama ica."


"Tidak ada." Mengelus puncak kepalanya, melanjutkan kepangan yang sempat terhenti. "Clarissa jadi mau pergi malam ini, kenapa tidak dengan Putra saja???"


"Sudah buat janji tante, gak enak kalau dibatalkan." Anita hanya mengangguk. Clarissa menatap dirinya dalam pantulan cermin, Anita tidak terpancing, dia berpegang teguh untuk diam. Namun sesuatu membuat rasa penasaran Clarissa mengguncang. "Meysa sedang apa disini tante?"


"Hanya main,"


Apa yang sedang mereka mainkan? dengan posisi Meysa duduk bersimpuh dilantai.


"Tante tidak ke Rumah sakit? apa tidak ada pasien."


Anita menghentikan kepangannya, merapikan sedikit lalu memutar kursi yang diduduki Clarissa, "hari ini kamu sangat cerewet? apa karena sudah melepas rindu dengan mamamu?"


"Hem,"


"Sebelum mamamu pindah tugas, kita akan buat acara makan malam bersama ya, kamu tetap akan tinggal disini kan?"


Clarissa juga tidak bisa membantah ucapan mamanya uang mengatakan hal itu. "Iya, mama tadi kasih tau ica buat tetap tinggal disini."


"Tante senang dengarnya," menarik Clarissa masuk kedalam pelukannya, "berkat kamu disini, itu merubah suasana dalam hati tante, merasa cepat pulang adalah pilihan terbaik sekarang, belum pernah terlintas dalam pikiran tante selama 13 tahun berumah tangga untuk menjalani sarapan, makan siang dan makan malam bersama."


Mendengar ungkapan itu, Clarissa tidak bisa berkata-kata, memangnya seperti apa kehidupan dirumah ini jika tidak ada Clarissa?


"Om Gio jarang mengajak tante untuk makan bersama, tante lebih sering menghabiskan waktu bersama Putra. Tapi semenjak dia tumbuh jadi laki-laki tampan dan dewasa, dia jarang dirumah, tante jadi kesepian deh.."


Clarissa meraih jari telunjuk Anita, "selama ica disini, ica bakal temenin tante kok."


"Makasih sayang,"


Mereka saling memandang, mungkin Anita sama seperti dirinya. Berlindung dirumah ini untuk menjauhi sesuatu, begitu yang ada dipikirannya.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2