Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:63


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


SENIN, Lapangan sekolah SMA Gemilang Cahaya selalu seramai biasanya. Tapi bedanya, hari ini tidak ada upacara Bendera, tidak ada senam dipagi hari. Hanya keramaian dan kebisingan dari semua mulut murid-murid. Mereka senang, karena setelah menyelesaikan ujian tengah semester, dalam minggu ini mereka akan diberikan kebebasan. Kegiatan lomba antar kelas setelah ujian adalah kebiasaan yang dilakukan SMA Gemilang Cahaya setiap tahunnya.


Ada berbagai macam lomba. Dari lari jarak jauh, tarik tambang, bola voly, bola basket, jalan santai ganda, dan masih banyak lagi. Seperti tahun sebelumnya, Clarissa duduk dipinggiran lapangan, mencari tempat duduk yang aman. Dia tidak pernah diikut sertakan karena penyakit asmanya, jika lelah dia akan pingsan dan malah membuat seluruh teman-temannya kerepotan. Untuk menghindari konsep dibicarakan dibelakang, lebih baik dia menghindar saja.


"Clarissa, kamu aku ikutin lomba jalan santai gak apa-apa kan?" tanya Mira yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya, dia ingin menolak tapi tidak tahu caranya, biasanya Kanya yang menolak, tapi sahabatnya itu sedang asik berkumpul diarena lapangan voly untuk bermain. "Aman kok, kan cuma jalan santai itupun berdua, gak perlu menang, karena aku yakin kelas kita pasti menang dilomba yang lain."


"Umm,,"


"Ya... ya... yaa.. Soalnya semua udah ambil bagian dan ada yang gak mau ikut lomba jalan santainya. Mudah kok, kamu cuma...."


"Okey," potongnya, dia tidak ingin berbicara lama-lama. "Aku ikut itu,"


"Beneran? gak terpaksa kan?"


"Terpaksa sih,,"


"Clarissa...." Wajah Mira merengut, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi setelah merengeki namanya. "Bentar aja kok,"


"Iya Mira. Aku ikut kalau gak dipaksa menang."


"Iya, inikan cuma lomba biasa, jadi kamu enggak perlu memang."


Clarissa mengangguk.


Mira tersenyum puas. "Okey, aku catat nama kamu ya? jangan terlalu jauh nanti enggak kedengeran kalau kamu dipanggil, sekitar jam sepuluhan mulai lombanya, soalnya sehabis istirahat setelah lomba basket putri berakhir."


"Iya."


Mira pergi dengan membawa kertas diatas papan, mungkin dia sibuk mencari siapa teman sekelasnya yang akan dia ikutkan lomba. Maklum, Mira adalah sekertaris, dia sibuk mencatat dan mengatur seisi kelasnya, karena ketua kelas mereka sedang sibuk sebagai panitia acara.


Clarissa berdiri, menuruni anak tangga sampai kelapangan.


"Ica.." Kakinya berhenti, menatap Vina yang melambaikan tangannya tinggi. "Mau kemana?"


"Toilet." Ucapnya tanpa suara.


Vina berlari setelah berpamitan dengan teman-teman yang lain untuk menghampiri Clarissa. "Gue anter."


"Gak usah, gue bisa sendiri kali." Kepalanya menatap toilet diujung yang ramai. "Deket juga kan?"


"Gak apa-apa nih?"

__ADS_1


"Sebentar lagi lomba mulai Vin, lomba basket perempuan kan duluan."


Suara mic dengan loudspeaker besar berbunyi, ketua osis SMA Gemilang Cahaya mengatur nada dan mulai mengucapkan salam pembukaan. Meminta untuk seluruh siswa berkumpul diarena lapangan bola basket karena lomba pertama mereka akan dimulai.


"Tuh kan, udah sana."


"Beneran."


"Iya, udah kebelet nih."


"Yaudah, bawa ponsel lo kan? nanti telepon kalau ada apa-apa."


"Iya iya bawel."


Vina sudah berlari menghampiri teman-teman sekelompoknya untuk bermain, membuat Clarissa kembali melanjutkan perjalanannya. Sesuatu yang ingin keluar sudah diujung tanduk membuatnya berlari. Toilet sepi menyisakan beberapa siswi yang sedang berganti pakaian olahraga dan ada beberapa yang sedang merapikan polesan diwajah mereka. Clarissa masuk kesalah satu toilet yang terbuka, dia menutup rapat lalu menuntaskan niat awalnya datang kesini.


BRAK!!?!


Clarissa ikut tersentak, kenapa menutup pintu harus sekencang itu? batinnya berucap, padahal dengan pelan saja sudah bisa tertutup rapat.


Cukup sepuluh menit dia berkutat didalam toilet. Sudah tidak ada lagi siswi-siswi yang lainnya, toilet kosong dan pintu utama tertutup. Clarissa hanya mengerutkan dahinya sembari mencuci tangan menggunakan sabun, dia menatap lekat daun pintu sembari meraih tissue untuk dia keringkan tangannya yang basah.


Langkahnya pelan menghampiri pintu, memegang handle dan mencoba membukanya. Terkunci. Sial, sengaja atau tidak ini menyeramkan dengan lampu yang gelap.


"Tolong....." Dia menggedor kencang. "Yang diluar tolonggg bukain pintunya,,,,," teriaknya lagi.


Clarissa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana olahraga. Siaal. Sekali lagi dia mengumpatt, disekolahnya jaringan data tidak pernah ada jika sedang didalam toilet.


Clarissa mencoba sekali lagi menggedor pintu, kali ini dengan kekuatan lebih bahkan mungkin dia seperti ingin mendobrak.


"TOLOOOONGGGG!?!?!?!" Teriaknya sekencang mungkin. "SIAPAPUN TOLONG BUKAIN PINTUNYAAAAA........"


Tenggorokannya tercekat, matanya terasa memanas, Clarissa tidak lagi bernapas dengan tenang, tangannya menggerayang kesisi saku celana olahraga lainnya, mencari inhaler yang mungkin saja dia bawa. Ketemu. Tapi baru saja dia hendak menghirupnya untuk sebentar, pintu terdorong kuat membuatnya tersungkur jatuh jauh dari dekat pintu.


"Ceboolllll....." Teriak perempuan yang membuat Clarissa merangkak menjauh ketika hendak didekati


"Am-ampuunn,, jangan sakitiii...."


"Enggaklah gila." Meysa merangkak mencari inhaler yang sempat dilihat tadi, tangannya meraba karena toilet hanya terang karena cahaya siang yang menerobos dari sela-sela kecil lubang angin. "Kenapa lampunya pakai mati sihhh..."


Dapat. Meysa berjalan mendekati Clarissa dan memberikan inhaler dan langsung segera dirampas serta dia hirup dalam-dalam. Meysa juga mengelus punggungnya, membuatnya dapat mengatur napas dengan pelan.


Perempuan itu membantu Clarissa berdiri dan membawanya keluar dari dalam toilet, dia juga membawakan ponsel Clarissa yang terjatuh mungkin karena dorongannya yang kuat tadi.


"Lo gak apa-apa?"

__ADS_1


Air mata Clarissa sudah jatuh, dia tidak tahu harus berterima kasih pada Meysa atau tidak. Karena bisa saja perempuan itu yang sengaja menguncinya didalam kamar mandi, dan sedang berakting mencoba membantunya. Entah apa yang sebenarnya Meysa coba rencanakan.


"Sumpah kurang ajar banget mereka."


Mereka siapa, Clarissa hanya menyimak dari ucapan Meysa yang terdengar kesal.


"Gue anter lo ke UKS ya?"


Clarissa menepis tangan Meysa, menolak bantuan yang dia sendiri tidak kenapa hari ini Meysa membantunya.


"Gue lagi baik loh ini." Dia mengucapkan hal itu dengan senyumnya yang aneh lagi, dengan melipatkan kedua tangannya didada dia menatap Clarissa datar. "Lo gak mau nerima bantuan gue yang jarang-jarang ini."


"Lo yakin bantuin gue?"


"Maksud lo?" tatapan Meysa berubah memicing, mungkin dia heran kenapa Clarissa menanyakan itu.


"Lo beneran bantuin gue atau ini rencana lo buat nyakitin gue lagi." Dengan air mata dan penampilannya yang acak-cakan, Clarissa menatap Meysa dengan ekspresi memohon apalagi tangannya sudah terkatup didepan wajahnya sembari menunduk. "Gue mohon, gue udah gak tinggal dirumah Putra lagi, gue juga udah menjaga jarak gue sama dia. Yang kemarin lo lihat gue pulang sama dia juga bukan disengaja. Jadi, please, jangan sakiti gue."


"Apaan sih, gue emang berniat baik sama lo lohh." Ucapnya lagi dengan penuh tekanan bahwa dia benar-benar sedang membantu Clarissa tanpa menginginkan apapun. "Gue..."


Clarissa mundur ketika Meysa hendak mendekatinya. "Gue beneran gak tahu salah gue dimana sampai-sampai lo beneran mau bunuh gue disaat Kanya gak ada disamping gue..."


"HEH?!?!"


Clarissa terjatuh, dia kaget dengan bentakan Meysa yang tangannya juga melayang keatas.


"Berhenti..."


Meysa menoleh pada suara bariton laki-laki didekat mereka, dia memandang datar dan menatap kebawah, dimana Clarissa sedang terduduk setengah berbarik dengan wajah ketakutannya. Air mata Clarissa tidak membohongi bahwa dia memang sedang ketakutan.


"Er,,," Meysa menghampiri laki-laki itu. "Sumpah, ini gak seperti yang lo lihat kok. Tadi, gue denger Tias sama Jesika lagi ngobrolin kalau mereka lagi berniat buat ngunci Clarissa didalam toilet, makanya gue cari setiap toilet dan baru ketemu disini."


"Minggir."


"Err, gue serius, gue bantuin dia keluar dari sana."


"Lo mau mau keliling nyeritain itu kesetiap oramg juga gak akan ada yang percaya."


"Tapi beneran, gue juga bantuin dia netralin napas dia yang sempat sesak." Meysa menatap Clarissa, meminta perempuan itu juga membenarkan apa yang dia katakan barusan. Sayangnya Clarissa hanya diam saja. "Lo beneran gak percaya gue bantuin tadi?"


Clarissa tidak menanggapi perdepatan antara Erlangga dan Meysa, apalagi menanggapi pertanyaan Meysa tentang meragukan perempuan itu yang tulus membantunya. Clarissa hanya berusaha mengatur tangisnya yang belum berhenti. Erlangga berjalan, dia menepis bahu Meysa untuk menjauh.


"Lo gak bakal laporin hal palsu ini sama Putra kan Er?" Erlangga tidak menjawab, dia melepas jaketnya dan memberikan pada Clarissa yang terduduk direrumputan. "Err, gue udah janji sama Putra untuk gak celakai Clarissa, gue nepatin itu dan lo gak percaya."


Erlangga membantu Clarissa berdiri. Dia menatap Meysa dengan tatapan datarnya. "Temui gue dirooftop."

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2