Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:16


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Clarissa mendengar semuanya, dia duduk diujung tangga paling atas, mencoba menguping apa yang akan papa dan kakaknya bicarakan jika tanpa orang lain didekatnya. Obrolan cukup ringan dan terdengar tanpa kecanggungan. Dia mendengar kedewasaan sang kakak mengenai tanggung jawab yang dia contoh dari papanya. Mungkin berat jika Bintang lanjutkan, tapi seperti apapun, Raisa adalah ibu dari anaknya, pernikahan yang hambar pasti akan Bintang lalui demi cabang bayi.


Saat Clarissa sudah berpindah kedalam kamarnya, merebahkan diri diatas ranjang dengan kaki yang sengaja dia biarkan menggantung, Clarissa dapat mendengar jelas percakapan random antara papa dan kakaknya. Setidaknya ini cukup berjalan baik, dia mencoba memejamkan matanya perlahan.


Pintunya terketuk pelan, suara panggilan Doni membuatnya bangkit dan membuka pintu. "Sudah tidur atau sedang belajar?"


"Tiduran pa, besok persentasi tugas tapi Ica udah pelajari." Doni mengangguk,


"Ada temanmu, em.... Erlangga katanya, papa pernah lihat dia dirumah Adietama juga, dia didepan."


"Oh ya?" Untuk apa Erlangga datang, Clarissa menatap jam dinding dikamarnya, ini pukul sepuluh malam? Clarissa mengangguk. "Oke pa, nanti Ica turun."


Selang beberapa menit Doni turun, Clarissa turun menemui Erlangga yang diberitahu oleh papanya menunggu diluar, laki-laki itu menolak masuk karena hanya ingin bertemu sebentar dengannya. Clarissa melihat Erlangga duduk disofa yang memang sengaja ditaruh oleh mamanya untuk duduk santai diwaktu senggang dulu, meja disamping laki-laki itu disajikan piring berisi cookies dan teh hangat yang masih mengeluarkan asap. Mungkin masih panas, jadi belum tersentuh oleh Erlangga karena air yang masih penuh.


"Kenapa Erlangga?" Tanya Clarissa menghampiri laki-laki itu yang sedang memainkan ponselnya.


Melihat Clarissa datang membuat Erlangga berdiri, seperti biasa tanpa ekspresi. Laki-laki itu menyerahkan sebuah tas bening, Clarissa hanya menatap sambil menunggu penjelasan.


"Besok gue gak masuk, lo yang gantiin gue buat persentasi." Jelasnya. "Salam buat bokap lo, gue langsung balik."


Tanpa babibu Erlangga langsung melenggang pergi setelah mengambil kunci motornya diatas meja. Clarissa menghampiri Erlangga yang sudah menaiki motornya dengan berlari kecil. "Lo mau kemana?"


"Nganter oma,"


Hanya itu jawabannya, Clarissa mengangguk dan hanya memperhatikan Erlangga yang sudah melajukan motornya keluar halaman, lalu menyalakannya dan melesat pergi.


...🌼🌼🌼...


"Huaahhhhh," Putra bersandar pada bahu Clarissa, mereka duduk dikantin denggan Clarissa yang menyesap teh jeruk. "Ca, kenapa dari dulu suka banget sih nanya, untung aku bisa jawab."


"Ya biar yang lain paham juga dong."

__ADS_1


"I know. Tapi kamu terlalu menggebu, aku baru jawab dan kamu langsung tanya lagi."


"Manja, najiis.." Sindir Kanya yang berjalan melewati mereka menuju bangku dimana Edo duduk. Sejak satu sekolah tau kalau Kanya berpacaran dengan Edo, mereka berdua berani untuk menunjukkan kemesraan mereka, tidak jauh dibandingkan dengan sicouple Putra dan Clarissa. Pasangan itu juga sudah berani menunjukkan kemesraan.


Meysa duduk disamping Putra dan langsung merangkul lengan laki-laki itu, menyandarkan kepalanya dibahu Putra, juga tidak lagi membuat semua orang kaget ataupun bingung. Meysa sudah dikenal sebagai adik Putra dan Clarissa dikenal sebagai kekasih Putra. Dengan posisi Meysa menyandar pada Putra dan Putra menyandar pada Clarissa malahembuat mereka yang melihat terkekeh gemas.


"Clarissa masih datar aja mukanya." Celetuk Vina yang berada tidak jauh dari mereka.


Delisa yang duduk dihadapannya mengangguk, menatap kebelakang dimana posisi Clarissa duduk. "Susah emang ngerubah wajah Clarissa, kata Kanya dulu dia cerewet loh, terus humble sama siapapun."


"Iyakah?" Pertanyaan Rinda membuat Delisa kembali memposisikan duduknya dan menatap laki-laki disebelah Vina.


"Iya, tapi gak tau kenapa bisa berubah gitu,"


"Kata Kanya karena dulu pernah dibully pas SMP."


Noel yang jarang ikut campur langsung melirik Vina. "Iyakah? kita gak tau ya Rin?"


Rinda ikut mengangguk, mereka teman SMP dulu, kenapa tidak tahu soal pembullyan itu.


Rinda dan Noel sama-sama melirik, lalu keduanya menggeleng.


"Kalian gak tau?"


"Enggak," jawab Noel. "Gue gak deket sama dia dulu, jadi gak terlalu paham. Mulai deket pas awal masuk SMA, pas semasa SMP dulu ya cuma kenal-kenal doang, mulai ngobrol pas main sama Putra."


"Yang tau Putralah, mereka kenal dari kecil soalnya." Jawab Rinda.


"Kalau beneran Erlangga gitu, berarti cocoklah ya Erlangga sama Clarissa." Rinda tersedak, membuat Vina dan Delisa tersentak kaget, Noel yang melihat itu langsung menyodorkan botol air mineral kepada sahabatnya.


"Hati-hati Rin," ujar Noel mengingatkan.


Rinda merampas air mineralnya dan menegak dengan cepat, dia terbatuk sampai membuat hidungnya oanas dan tenggorokannya sakit sekali. Dirasa sudah cukup baik, dia menatap Delisa. "Hati-hati lo kalau ngomong, di denger Putra bisa mampus lo."


"Ya dia kehilangan gue lah." Noel menanggapi, jika sesuatu menyangkut Delisa berarti Noel turun tangan. Dan jika Putra pelakunya, ya dengan sangat terpaksa mereka berpisah-persahabatan. Rinda mendengar hal itu hanya menggut-manggut mengerti maksud dari Noel.

__ADS_1


"Ohooww," Vina berdecak kagum pada tindakan gentle Noel. "Padahal yang gue maksud itu ya cocok soal sifat mereka, seharusnya mereka bisa akrab karena pernah diposisi yang sama. Eeh, malah ternyata jauh banget."


"Ya malah bisa dibilang susah akrab sih Vin." Noel menanggapi, "soalnya sama-sama menutupi diri. "Lo pernah denger Erlangga dating sama anak sebelah Rin?"


Anak sebelah yang dimaksud Noel ada anak SMA Nusa Bangsa yang terletak disebelah SMA gemilang Cahaya. Rinda mengangguk. "Naila, cakep No, tapi kata Erlangga gak berminat karena terlalu cantik."


Delisa dan Vina menggeleng, biasanya itu yang dicari para laki-laki kan? "Kalian pernah saling curhat soal perempuan?"


Noel mengelus puncak kepala Delisa lembut. "Gak juga sih sayang, yang tau Putra suka Clarissa juga awalnya Daze yang tau gerak-geriknya."


"Yang tau Noel suka lo juga si Daze," Rinda menimpali.


Noel mengangguk ketika Delisa menatapnya dengan tatapan tanda tanya.


"Hebat banget si Daze,"


"Soalnya dia deket sama kita semua, terus dia suka ngebaca situasi, bahkan yang tau kalau Putra terpaksa tunangan sama Marisa ya si Daze sendiri." Rinda mengelus dadanya, sisa panas bekas tersedak tadi masih membekas. "Kalau ngumpul cuma ngobrolin seputar motor, mobil sama usaha masing-masing,"


"Jadi, Daze informan penting dong ya."


"Gak juga sih," Rinda terkekeh. "Gak semua dia tau,"


"Soal apa contohnya?" Vina penasaran.


"Soal gue suka siapa, Erlangga suka siapa. Noel aja gak tau?"


Noel mengangguk. "Gue cuma tau Rinda gak bisa move on sama mantannya tiga tahun lalu."


"Sialan lo."


Noel tertawa diikuti Delisa dan Vina. "Kalau Erlangga emang tertutup banget, dia ngeluh cuma soal kesehatan oma doang."


"Kalian perlu tau ya, tante Anita pernah minta salah satu dokter buat ngecek kesehatan Erlangga." Tentu saja Delisa dan Vina menatap bingung. Noel setengah menahan tawa disela obrolannya. "Tante Anita minta dokter untuk cek orentasi seksual Erlangga. Dia mengira Erlangga homoo."


"Haa????"

__ADS_1


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERLIANA πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


__ADS_2