Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:24


__ADS_3

...maybe you can hide your pain, but not with other people's stories...


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Setelah membersihkan wajahnya seperti biasa sehabis beraktifitas diluar ruangan, Meysa berjalan keluar dari dalam toilet diruangan papanya. Terlihat seorang perawat sedang memeriksa kondisi sang papa. "Gimana sama keadaan papa?" tanyanya, walau dia sudah tahu papanya sudah tidak ada lagi harapan sembuh, namun dengan mendengar kebohongan kecil dari perawat mampu membuat hatinya terasa lebih baik.


"Pak Raka kondisinya semakin baik," perawat itu tersenyum kecil. "Saya permisi dulu nona Meysa."


"Terima kasih suster." Meysa berjalan mendekati ranjang sang papa, mengelus kepalanya pelan. "Mey seneng kata suster kesehatan papa semakin baik. Cepet sehat papa, Mey lagi renovasi rumah kita."


Raka tidak menjawab, dia hanya terbaring dengan tatapan kosong, untuk bertahan selama ini saja sudah mendapatkan sebuah keajaiban baginya.


Terdengar pintu terketuk lalu terbuka kecil, memperlihatkan seorang perawat wanita yang mengangkat sebuah plastik berisi kotak. "Makan siang." Bisiknya.


Meysa berlari menyusul keluar, mengejar perawat wanita berwajah manis, mereka duduk disebuah taman ditengah-tengah rumah sakit. "Hemm, sudah aku bilang, jangan terus memberiku makanan."


"Makan saja kenapa sih." Menarik tangan Meysa untuk duduk disampingnya.


Meysa mendongak dan menghirup udara segar disana.


"Kenapa?" Suster Dita menatap Meysa lama sembari mengunyah makanan dengan lahap. "Nangis aja kalau mau nangis."


"Dih, siapa yang mau nangis?" Membenarkan posisi duduknya lalu meraih kotak makanan yang telah dibuka oleh suster Dita. "Wahh ayam geprek.." Serunya.


"Ehh tunggu," suster Dita meraih pergelangan tangan Meysa yang membiru. "Why? kakek kamu ngelakuin ini lagi?"


"Bukan,,,"


"Mey,, jawab jujur. Siapa yang melakukan ini padamu?" Dia meraih sesuatu didalam saku sweater rajutnya. "Tadi abis ngobatin luka pasien yang jatuh didepan, ini bisa ngobatin memar juga," ujarnya seraya mengoles salep pada lengan Meysa.


"Ini,,,,,,, aku sendiri yang ngelakuinnya."


"Gak apa-apa, setiap seseorang melukai orang lain atau diri sendiri, pasti ada alasannya." Ujarnya disela fokusnya pada lengan Meysa.


Meysa tersenyum tipis, "dan aku tidak memiliki alasannya."


"Mey,,, kamu gak cocok jadi pendiem dan sok serius gitu tau gak? dan aku tau alasannya," suster Dita bangkit dari duduknya, memasukkan salep kedalam saku, "mau pergi ah, ada pasien yang harus ku cek."


"Hah, makan dulu."


"Sudah siap."


Meysa melihat kotak kosong yang baru dilipat suster Dita dan dimasukkan kedalam tong sampah, "kok cepet?"


"kamu yang kelamaan? terlalu lama mikirin masalah kehidupan yang gak selesai-selesai sampai lupa sama makanan yang hampir dingin." Setelah melambai kecil, ia masukkan tangannya kedalam saku sweaternya lalu berjalan menjauh.


"Meyy...." Teriaknya agak jauh, dia berdiri dianak tangga. "Jangan ngelakuin sesuatu yang kamu gak sukai, jangan turuti apapun yang membuat kamu malah gak nyaman, lawan saja, toh itu yang selama ini biasa kamu lakukan. Semangat...." Mengangkat tinggi tangannya lalu berjalan menjauh, tidak ingin mendengar tanggapan Meysa.

__ADS_1


Meysa yang mendengar itu hanya diam, menatap suster Dita yang sudah berjalan jauh. Dari sekian banyak orang yang menganggapnya teman tidak pernah dia rasakan seperhatian seperti suster Dita, wanita manis itu berbicara selayaknya kakak dan memperhatikan dirinya selayaknya seorang keluarga. Mengingat kejadian pertama kali bertemu, dia tidak pernah ramah sekalipun pada wanita itu, namun wanita itu terus saja mendekatinya hingga mereka akrab sampai kini.


Mengingat ucapan suster Dita barusan, Meysa tampak bepikir, bukankah memang dia anak yang pembangkang? lantas kenapa dia sekarang harus menjadi anak yang memikirkan dampak dari sikap melawannya? Seharusnya dia tau siapa yang harus dia takuti, kenapa dia takut saat kakeknya marah sewaktu bilang akan menyakiti papanya jika dia tidak menuruti kemauan kakeknya itu. Bukankah Meysa seharusnya takut pada Gio, selama ini Gio lah yang mengurusi biaya hidupnya dan hidup papanya. Membantu papanya mempertahankan kanker otak selama hampir 12 tahun bukanlah waktu yang singkat.


Tapi, kenapa Meysa begitu takut saat kakeknya mengancam???


Jawaban itu masih berputar dalam pikirannya, dia sendiri saja tidak mampu mengetahui jawababnya. Matanya menatap seorang pria tengah berjalan dengan memasukkan kedua tangan kedalam saku sweater hoddie. Walaupun wajah itu tertutupi topi dengan rambut yang sedikit gondrong tidak membuat Meysa asing, dia sangat mengenali pria itu. Meysa berlari mengejar, meninggalkan makanan yang belum sempat dia cicipi.


Senyumnya mengembang, saat tengah sampai meraih pergelangan tangan pria itu. Namun saat pria itu menepis dan menatapnya dengan datar nan dingin senyumnya memudar.


"Bintang... Kamu disini?"


"Lepas..." Mesya tidak melepaskan tangan Bintang, malah semakin mengeratkan peganggannya. "Gue mau nikah setelah selesai kuliah."


Meysa tersenyum tipis. "Terus? aku cuma mau ajak kamu makan sing bareng, bukan tidur bareng?"


"Ck, gue sibuk." Ketika terlihat Meysa lengah dia melepaskan cengkraman tangan Meysa lalu berjalan pergi.


Meysa hanya mampu menatap hingga Bintang tidak terlihat dari pandangannya lagi, "ya gitu aja terus, semua orang ngejahuin gue."


Ponselnya bergetar, panggilan dari Tias salah satu anggota geng nya. Meysa menghela napas sebelum menerima panggilan itu dengan malas.


"Hmm..."


"Mey, gilaa, lo mau tau gak apa yang gue liat di mall saat ini." Ucapnya dengan suara terdengar membara. "Hah? hah? hah??"


"Gue ketemu Clarissa sama nyokapnya Putra, Dokter Anita. Gila gak tuh." Meysa mencengkram ponselnya kuat, "mereka baru keluar dari butiq, gaya nya aja kayak sama sekali gak tertarik sama Putra, nyatanya mau juga, malah lagi deketin nyokap nya."


"Ya biarin aja."


"Kok lo kayak gak semangat gitu sih? lo harus buat perhitungan sama si cebol itu."


Meysa menerawang pandangan lain, dia merasa iri pada Clarissa mendapatkan kasih sayang dari semua orang. Berbeda dengan dirinya, bahkan mamanya sendiri saja tidak menginginkannya. Tapi dia tidak ingin bertanggung jawab dengan resiko lain yang akan diterimanya jika menyakiti Clarissa. "Gue bakal cari cara lain kali, sekarang gue lagi jaga papa, udah dulu cung gua matiin, Bye..."


Saat hendak berbalik, dia melihat beberapa perawat tengah berjalan keluar dari dalam ruangan papanya, bahkan terlihat Gio tengah keluar dari sana juga.


"Suster, ada apa???" menarik tangan seorang perawat setelah dia berlari ketakutan.


"Oh nona Meysa, tidak ada. Dokter Gio hanya ingin memastikan keadaan pak Raka hari ini?" perawat itu menunduk kecil, lalu berjalan melewatinya.


Apa? kenapa? tumben sekali om Gio melihat keadaan papa? Matanya melebar, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya bahwa Gio sudah melakukan sesuatu pada papanya.


Setelah masuk ruangannya dengan terburu-buru, matanya melebar. Melihat seorang laki-laki tengah duduk bersandar menatapnya, senyuman itu. Kenapa harus memasang senyum yang mengerikan itu.


...🌼🌼🌼...


"Apaan sih Mey, lo kayak liat malaikat pencabut nyawa tau gak?" menghela napas, "sampai shock gitu?"

__ADS_1


Meysa maju, memeriksa keadaan sang papa yang terlihat baik-baik saja. Masih dalam posisi yang sama seperti saat dia tinggal tadi. Alat-alat yang menjaga papanya juga masih aman.


"Lo gak ngapa-ngaapin bokap gue kan?"


"Engga, nyentuh aja enggak."


Meysa melirik, "terus ngapain lo disini?"


Putra tersenyum tipis menatap Meysa dengan memperlihatkan layar ponselnya. "Main game."


"Ya gak usah disini juga sih," menggeser kursi Putra. "Put, pergii iiiihhhh, jangan ganggu bokap gue lagi istirahat."


Rengekan Meysa malah membuat Putra cekikikan melihatnya, "gue kadang heran sama lo." Meysa tidak lagi memperdulikannya, dia sedang merapikan selimut papanya yang sama sekali tidak berantakan. "Disekolah, lo itu kayak pengen banget nempelin gue. Tapi diluar itu, lo kayak sekaan-akan gak mau gue ada disekitar lo."


"Lo juga, disekolah lo kayak jijik sama gue, tapi diluar itu lo kayak sok akrab."


"Padahal emang deket kan? Dulu." Dia masukkan ponsel kedalam sakunya. "Gue pulanglah,"


"Putra,,," Meysa menahan Putra untuk pergi. "Kalau gue tetep gak nyentuh Clarissa, apa lo bakal kembaliin nyokap gue?"


Putra berbalik, menatapnya lurus. "Tergantung."


"Apa?"


"Mama setuju akan hal itu enggak?" Pintu tertutup, meninggalkan Meysa yang tengah mencengkram selimut papanya.


Benar kata Putra, semua tergantung keputusan dari mamanya, bagaimana kalau mamanya tidak ingin kembali, bagaimana kalau wanita yang sudah hidup dalam kemewahan enggan kembali hidup dengan kesederhanaan?


Tapi,


Dirinya juga hidup dalam kemewahan berkat Anita bukan?


Lalu, apa yang sebenarnya dia inginkan?


"Bangs*t, gue tuh pengen apa sih?" Menggaruk tengkuknya. "Gue cuma pengen mama. Apa mama pengen gue juga?"


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Hallo semuanya..


Happy new year. Bagaimana dengan tahun kemarin? Lalu, apa keinginanmu ditahun ini? semoga semuanya tentang kebaikan.


Jika ditahun lalu kamu merasa kurang, jangan salahkan tahun atau nasibmu. Bisa saja kamu sendiri yang kurang bersyukur. Tidak ada yang sial didunia ini, semua kembali pada diri kamu sendiri.


Mau tahun yang lalu atau yang baru, semuanya akan tetap sama jika kamu tidak mengingat tentang bersyukur.


Stay safe, tetap jaga kesehatan.

__ADS_1


Jangan lupa bersyukur, berdoalah menjadi yang lebih baik untuk kedepannya. Jika hari hari lalu kamu sudah merasa baik, maka ada dua pilihan, pertahankanlah kebaikan itu atau buat semakin baik.


__ADS_2