Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:31


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Rongga dadanya menyempit, Clarissa kehabisan napasnya. Clarissa bergerak menjauh dari teman-teman dan orang tua Kanya. Bahkan dia terduduk diujung rumah sakit, berulang kali dia penepuk dadanya kuat. Dia tidak menjangkau satu tarikan oksigen sekalipun.


"Icaaa....." Delisa berteriak panik, air mata yang sudah membanjir dapat teralihkan saat melihat satu orang yang paling terluka tergeletak diujung lorong.


Melihat itu, semua orang berlari, Noel dengan sigap mengangkat Clarissa kebangkar dan mencari pertolongan. Lira semakin terisak sedih, dia dapat memahami bagaimana kondisi Clarissa sekarang, putri bungsunya adalah sahabat Clarissa sejak kecil. Sampai sebuah bangkar keluar dari ruang gawat darurat, Lira menangis dalam pelukan suaminya, papanya juga sama gilanya, menangis kuat.


Dokter terkejut saat kerahnya dicengkram kuat. "Bagaimana bisa kamu tidak dapat menolong nyawa GADIS KECIILLL!!!!"


"Pak.... Pak..." Semua berteriak, para perawat kebingungan saat pemiliknya meneriaki Dokter yang diam saja diguncang oleh Gio. "Tenang...."


"Sudah saya katakan, selamatkan bagaimana caranya. Semua yang ada didekat Clarissa harus dalam perlindunganku, lalu aku harus mengatakan apa padanya jika satu sahabat tidak bisa aku LINDUNGIII....." Gio terus berteriak, dia menyadari bahwa rumah sakitnya tidak sesempurna seperti yang dibicarakan oleh kebanyakan orang. "Ba-bagaimana....."


"Om..." Marisa mendekatinya. "Ya Marisa tau, ini bukan waktu yang tepat, tapi om...."


"Marisa, i know ini kehendak Tuhan. Tapi apa yang harus kita lakukan pada Clarissa, semua orang tersayangnya meninggalkannya." Gio menangis, dia menyesal sekali. Dia menjadi yang paling sakit karena tidak dapat membantu gadis kecil yang dia sayangi.


Tora, papa Kanya menatap Gio nanar. Matanya ikut terus mengalir mendengar ungkapan Gio. "T-terima kasih telah merasa kehilangan, tolong jangan salahkan siapapun."


Pria gempal itu menarik istrinya dan mengajaknya menemui putri bungsunya, untuk membawa pulang kerumah. Tidak ada yang lebih gila dari kehilangan orang yang dicintai, tapi semua sudah kehendak Tuhan. Tora menarik napasnya, berusaha menjadi penguat bagi Lira, sang istri.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


Sebuah alat oksigen tertancap dimulutnya, Clarissa melirik keseluruh ruangan, sepi, dia hanya melihat Erlangga yang berdiri tidak jauh dengan ponsel yang tertempel ditelinganya. Hanya beberapa gumaman lalu laki-laki berjalan kearahnya, tampak kaget saat melihat matanya yang terbuka.


"You okey?"


Clarissa menangis lagi mendengar pertanyaan itu. Siapa yang baik-baik saja ketika kehilangan orang yang dia sayang. Kanya berharga baginya, dia tidak ingin kehilangan Kanya, Erlangga mendekatinya, mengusap kepalanya, merapikan anak rambut yang hampir menutupi seluruh wajahnya.


"Pelakunya sudah tertangkap, Kanya sudah dibawa pulang oleh orang tuanya." Erlangga menahan Clarissa untuk bangkit. "No, you better rest longer."


Clarissa menggeleng, menatap Erlangga sedih. Laki-laki dihadapannya tidak seperti biasanya, dia terlihat terus menemani Clarissa, bahkan tidak pergi kemanapun. Hanya dia yang ada diruangan ini.


Pintu terketuk sebelum terbuka pelan, memperlihatkan Daze yang berjalan pelan, dia melirik Erlangga sekilas lalu menatap Clarissa. "Mau pulang?"


Clarissa mengangguk. Dia benar-benar kacau, dia hanya ingin melihat Kanya sekarang.


"Jangan." Erlangga menghentikan Daze yang hendak mematikan alat sambung bantuan pernapasan untuk Clarissa. "Dia masih harus istirahat."


Sudah terlihat dari pakaian Daze yang mengenakan celana dasar hitam dan kemeja hitam. Daze mulai mematikan semua alat bantu tanpa meminta pertolongan perawat, dia cukup ahli dalam urusan ini. Daze berjalan menghampiri Clarissa, membantu perempuan itu berdiri, meraih jaket Erlangga yang tergeletak diujung ranjang dan dia pakaiankan pada Clarissa tanpa meminta izin pada pemiliknya.


Erlangga diam saja saat Daze dengan telaten membantu Clarissa turun dari bangkar dan keluar kamar. Clarissa dituntun Daze hingga masuk kedalam mobil. Dalam perjalananpun mereka tidak saling bicara, Daze sendiri tidak mengambil jalan basa-basi, membiarkan Clarissa membungkam mulutnya, bertarung dengan pikirannya sendiri.


Doni menyambut dengan tatapan hampa, dia juga tidak berbuat apapun ketika Tuhan sudah berkehendak.


Clarissa menangis sebentar dalam pelukan Doni saat Daze sudah berpamit pergi, Doni mengecup puncak kepalanya dan memintanya untuk membersihkan diri serta datang ke rumah Kanya sebagai perpisahan terakhir. Clarissa masuk kedalam kamarnya, memandangi seluruh fotonya dan Kanya dari kecil, mamanya membantunya menghiasi kamar dengan menggantung semua foto. Bahkan dia sempat memasang foto mereka berempat, Clarissa, Kanya, Delisa dan Vina sat berlibur kepuncak.


Air matanya terjatuh lagi saat tangannya menyentuh bingkai foto yang terpajang dimeja kecil sebelah kasurnya. Foto berbingkai hitam, foto dimana Kanya menggendongnya dibelakang saat berlibur kepantai, sekitar empat tahun lalu saat Kanya berulang tahun, Dinda membawa mereka berlibur kepantai. Mereka selalu menyempatkan berlibur bersama meskipun Dinda sering sibuk, Lira jarang berada dirumah ataupun mengurusi Kanya karena setelah pulang dari rumah sakit, wanita itu akan pergi kebengkel membantu pembukuan bengkel milik suaminya. Membuat Dinda sering memberikan perhatian lebih pada Kanya, berakhir Kanya yang mencurahkan seluruh perhatian kepadanya.

__ADS_1


Lalu sekarang?


Mama pergi, dan Kanya pergi.


Clarissa sendiri. Siapa yang akan menjaganya, Clarissa butuh mama, Clarissa butuh Kanya.


Clarissa duduk dilantai, kembali menangis. Bukan sekedar menjatuhkan air mata, tapi sudah mengeluarkan suara. Dadanya kembali sesak, tapi tidak membuat penyakit sialannya kambuh. Clarissa tidak kuat menahan kepedihan ini, dia harus menyalahkan siapa? saat mamanya pergi, dengan lapang dia memaafkan sikap papanya karena telah membuat mamanya sakit dan selikuhannya membuat mamanya pergi. Lalu ini? tidak ada yang bisa Clarissa salahkan dan Clarissa maafkan.


...🌼🌼🌼...


Cuaca sangat cerah, secerah terakhir Clarissa melihat senyum Kanya. Menjulurkan lidah kepadanya saat dirinya melambaikan tangan kegirangan melihat Kanya yang berdiri diujung. Clarissa masih ingin menyalahkan diri mengenai kenapa dirinya tidak berlari saja agar Kanya tetap berdiri ditempat. Karena menaruh perhatian seluruh padanya, terkadang Kanya menjadi berlebihan, hanya sekedar menyebrang membuat perempuan itu turun tangan. Clarissa bisa, tapi Kanya tidak ingin membiarkan.


Clarissa menatap peti yang sudah diturunkan secara perlahan, peti berwarna cokelat yang tampak sangat elegan. Gio yang memberikan hadiah terakhir untuk sahabatnya, Anita berdiri disebelahnya dan memeluknya erat, menggumamkan semua kalimat penyemangat yang tidak Clarissa dengar. Seluruh anggota tubuh Clarissa mendadak tidak berfungsi, matanya hanya tertuju pada setumpuk tanah yang mulai menutupi sebagian peti berisi sahabat sejak kecilnya.


Berapa kali Doni terlihat mengusap wajahnya, mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya. Doni sama kehilangan seperti putrinya, Kanya sudah dia anggap seperti anak sendiri sejak mereka berdua masih anak-anak, Doni menuruti semua ucapan Kanya saat perempuan cerewet itu merengek menginginkan sesuatu. Bahkan mengiyakan semua kemauan Kanya tanpa bertanya pada putrinya sendiri ingin atau tidak.


Banyak kenangan yang terjadi antara Kanya dan keluarga kecil Clarissa.


Bintang berdiri tidak jauh dari Clarissa, laki-laki itu mengenakan kacamata hitam, tidak ada yang melihat kemana arah mata laki-laki itu, mulutnya tertutup rapat. Pikirannya berantakan, Kanya tiada karena kekasihnya, kekasih yang ternyata tidak mencintainya, kekasih yang hanya memanfaatkan dirinya untuk kehancuran seseorang. Secara tidak langsung, Bintang adalah penyebab Kanya tiada. Begitu yang ada dalam pikiran Bintang.


Saat tanah sudah menutup rapat peti mati, Clarissa berbalik, memeluk Anita kuat, menangis dalam bahu wanita itu. Dengan lembut Anita mengelus punggung Clarissa.


Terima kasih Kanya, terima kasih karena sudah mau menjadi sahabat terbaik gue. Sudah mau menjaga gue selama ini, gak ada yang lebih berharga dari persahabatan kita. Banyak yang belum gue keluarkan semua keluh kesah gue sama lo.


Semoga, senyum terakhir lo menjadi sebuah kenangan indah yang amat teramat indah untuk gue.

__ADS_1


Enggak ada yang bisa gantiin lo sebagai sahabat gue, Nyak. Gue tau, mungkin selama ini gue cuma beban, tapi gue bangga bisa jadi beban dihidup lo. Bahagia terus ya, sampai bertemu dikehidupan selanjutnya. Sebagai sahabat, keluarga yang saling menyayangi satu sama lain.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2