Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:96


__ADS_3

HALLO SEMUANYA.


MINAL AIDZIN WALFAIDZIN YA, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.


SEBELUMNYA SAYA MEMINTA MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA, YAPS ATAS SIKAP KURANG AJARNYA SAYA INI, MENELANTARKAN KARYA TANPA ADANYA PENGUMUMAN.


SUDAH BERULANG KALI CLARISSA INI TERBENGKALAI, SEMOGA KALI INI TIDAK!!!?


...🌼🌼🌼 SELAMAT MEMBACA 🌼🌼🌼...



...(picture by Pinterest)...


...🌼🌼🌼...


Drrrtt...... Drrtttt......


Clarissa menarik ponselnya yang bergetar dari dalam lacinya, layar ponsel menampilkan sebuah pop-up pesan dari Putra. Kepalanya menoleh, tapi laki-laki yang dia lihat bersikap seakan tidak sedang mengganggunya, Clarissa menunduk lagi menatap ponselnya untuk melihat isi pesan dari Putra.


Putra R. Adietama


Pulang bareng?


^^^Clarissa Fatiyah A^^^


^^^Enggak usah,^^^


Putra R. Adietama


Kenapa?


Belum lagi Clarissa membalas pesan dari Putra, Kanya mengetuk mejanya, membuatnya langsung melepaskan ponselnya.


"Kenapa?"


"Lo sama kak Rehan nanti jadi ke gramedia?


Clarissa mengangguk. "Hmmm..."


"Lo bawa kartu langganan lo kan Ca? lumayan, biasanya dapet potongan, mau pakai punya gue gak? gue selalu bawa sih tapi gak pernah gue pakai." Ucapnya sembari membuka dompetnya, mencari kartu berwarna biru muda.


"Gak usah, gue selalu bawa punya gue kok."


"Okey deh." Menutup dompetnya, baru Clarissa hendak meraih ponselnya, lagi-lagi Kanya mengetuk meja. "Sudah izin sama Om? apa perlu gue yang minta izin."


"Gak usah, ini mau minta izin." Dia kembali pada ponselnya padahal jam pelajaran masih berlangsung, dia tahu Kanya masih menatapnya. "Udah Nyak, menghadap depan, nanti bu Tika marah."


Sudah ada notifikasi pesan dari Putra sebelum dia membalas tadi.


Putra R. Adietama


Sama Kak Rehan?


Kok gak bilang.


^^^Clarissa Fatiyah A^^^


^^^Ini baru mau bilang,^^^


^^^boleh?^^^


Putra R. Adietama


Boleh.


Ketika pelajaran selesai dan ketua kelas sudah memberikan arahan mereka untuk memberikan salam perpisahan pada guru pengajar, seluruh anggota kelas merapikan alat tulis mereka dan bergegas keluar kelas setelah guru keluar. Putra lebih dulu selesai dan menenteng tasnya menuju meja Clarissa, laki-laki itu mengelus puncak kepala Clarissa pelan.


"Duluan.."

__ADS_1


"Iya." Jawab Clarissa tanpa menoleh, dia tetap fokus pada pekerjaannya.


"Widiihhh, lo suspicious banget loh Ca," bisik Kanya tepat di telinga Clarissa, bahkan membuat Clarissa bergidik geli. "Hah, kenapa kok lo tumben banget mau nanggepin Putra, biasanya cuek aja."


"Biasa aja." Jawabnya langsung pergi, menarik Delisa yang berdiri diambang pintu menunggunya.


...🌼🌼🌼...


Tangan Clarissa melambai tinggi pada sosok laki-laki berkemeja biru muda di dekat gerbang sekolahnya. Rehan turut melambaikan tangannya san tersenyum tipis melihat kehadiran Clarissa.


"Sudah lama kak?"


"Sekitar 10 menit yang lalu,"


"Lama dong."


Rehan menggeleng, dia berjalan membuka pintu penumpang untuk mempersilahkan Clarissa masuk. "Enggaklah, gak kerasa kalau nunggu kamu."


Clarissa masuk dan melihat Rehan memutar mobil, terlihat tangan laki-laki itu mengangkat sekilas pada sebuah motor besar berwarna merah yang mengklakson padanya. Rehan sudah duduk dan mulai menjalankan kemudinya, "Putra kalau sekolah selalu pakai motor ya?"


"Iya, tapi pernah beberapa kali bawa mobil."


"Sewaktu bawa mobil itu sempat heboh loh, bahkan sampai masuk ke obrolan grup mantan angkatan SMA Gemilang Cahaya, angkatan kakak." Ujarnya dengan mata fokus menyetir.


"Iyakah?"


"Iyaa, soalnya dulu pernah dengar, kalau Putra tidak akan membawa mobilnya kecuali ke arena balapan." Jelasnya lagi. "Terus dia tidak pernah sekalipun membiarkan orang lain duduk dibangku penumpangnya. Kalau soal terakhir belum ada yang tahu apa alasannya."


Clarisaa teringat, tentang ucapan Kanya sewaktu Putra membawanya kesekolah menggunakan mobil pertama kali. Jika Putra tidak mengizinkan siapapun duduk dibangku penumpang mobilnya, lalu kenapa dia di perbolehkan?


"Giila ya, kalau famous, cuma bawa mobil saja sampai heboh."


Clarissa hanya tersenyum dan mengangguk saat menanggapi cerita Rehan, dia tidak akan menceritkan kalau kehebohan itu dialah penyebabnya.


"Mau makan siang dulu atau langsung ke gramedia kak?" Tanya Clarissa pada Rehan yang fokus menyetir.


"Kamu sudah lapar ya? kalau kakak tadi sempat mampir kerumah temen dan disuguhi cemilan." Menoleh pada Clarissa yang tampak berpikir. "Makan dulu aja kali ya? biar fokus cari bukunya."


Memasuki parkir gramedia, mereka berdua berjalan menuju pusat makanan pada lantai bawah sebelum menuju lantai atas, letak berbagai macam buku yang mereka cari. Rehan membawa Clarissa pada sebuah kafe kecil, dia pesankan paket nasi untuk Clarissa dan cemilan untuknya serta dua minuman cola.


"Jadi kakak gak makan?"


"Kan tadi kakak sudah bilang,"


"Kan cuma cemilan."


"Tapi mengenyangkan," dia menatap waiter yang membawa pesanan mereka. "Kakak pesan kentang goreng kok,"


"Ohh..."


Rehan duduk tenang memainkan ponselnya sembari sesekali menghapus jejak saus yang ada pada bibir Clarissa. "Kamu makan aja gemesin banget sih,"


Clarissa tidak perlu menjawab.


Setelah Clarissa selesai mengisi perutnya, mereka mulai berjalan menuju gramedia dan mencari buku yang Rehan cari.


"Kakak yakin cuma mau novel itu?"


"Iya," menatap novel terjemahan best seller yang berjudul Almond karya 'Sohn Won-pyung' itu.


Clarissa berjalan menuju rak dan meraih dua buku lalu salah satunya dia serahkan pada laki-laki di hadapannya.


"Kakak coba baca ini deh, the good son, dulu aku punya novelnya cuma dipinjem sama Edo dan sampai sekarang belum dikembaliin. Recomended banget." Jelasnya. "Menceritakan tentang Yoo Jin yang menemukan ibunya tewas tergeletak dengan leher tergorok di kaki tangga apartemen mereka........"


"Wait a minute," Rehan menatap buku bersampul gelap itu dan ia sempatkan untuk membaca sinopsisnya. "Thriller dong ya?"


"Kenapa?"


"Kenapa kamu rekomendasiin cerita kaya gini sih," Rehan memampangkan buku 'Almond' tepat di depan wajah Clarissa. "Rekomendasikan buku yang seperti ini dong Clarissa, ini bagus karena menceritakan tetang suatu penyakit Alexithymia atau ketidakmampuan mengungkapkan emosi maupun merasakannya. Jadi lakon utamanya itu tidak tahu bagaimana rasanya sedih, bahagia, takut, dan sebagainya. Cocok nih sama kamu, Alexithymia."

__ADS_1


"Aku bisa merasakannya kok."


"Yakin?" Rehan membungkuk kecil, tepat pada wajah Clarissa, mereka cukup lama saling berpandangan. "Coba terangin bagaimana perasaan kamu sama kakak?"


"Hah?"


Rehan terkekeh, mencubit kedua pipi Clarissa dengan satu tangannya. "Kamu mau beli itu?"


Clarissa menatap buku yang dia pegang, lalu mengangguk.


"Ya sudah sini, balasan sebagai terima kasih karena sudah direkomendasikan." Menarik buku dan dia membawa Clarissa menuju kasir dengan menggenggam tangannya. Selagi kasir menscan buku mereka, Rehan mengajak Clarissa berbicara tentang hal random, tawa kecil Clarissa membuat Rehan gemas dan mencubit pipinya berulang.


"Kamu sama Putra masih belum ada kemajuan?"


"Hah?" Clarissa menoleh pada Rehan. Laki-laki itu tersebyum tipis. Mata Clarissa mengikuti arah pandangan mata Rehan, menuju laki-laki tinggi yang mengenakan seragam yang sama dengannya tengah memilih buku yang memunggungi mereka.


"Kalau kalian tidak ada apa-apa, tidak mungkin Putra sampai di sini. Ngikutin kita." Tutur Rehan mencari jawaban tegas Clarissa.


Dalam diamnya Clarissa masih mencari jawaban, apakah boleh dia mengatakan hal jujur pada Rehan.


"Kalian pacaran?" Clarissa mengangguk kecil tanpa melihat Rehan.


Respon itu membuat Rehan tersenyum tipis. "Kalian backstreet?"


Clarissa melirik ke arah Putra, yang tidak sengaja sedang menatapnya lalu berpura-pura menatap ke arah lain. "Iya. Kakak jangan bilang siapa-siapa."


"Aman, mengangkat jari jempolnya." Dia mengelus puncak kepala Clarissa. "Akhirnya, perasaan kamu terbalaskan juga ya."


"Kakak tahu?"


Rehan mengangguk. "Sebelum mau deketin kamu, Kanya bilang kalau kamu susah dibuka hatinya karena sudah ada pemegang kuncinya. Sayangnya rasa suka kakak ke kamu lebih besar rasa suka kamu ke Putra."


"Maaf."


"For what? kakak malah senang melihat kamu akhirnya bisa tidur dengan tenang,"


"Belum,"


Rehan meraih papper bag berisi buku mereka dan memasukkan dompetnya kedalam saku celana. "Kenapa? soal perempuan fanatik Putra?"


Tidak mendengar tanggapan Clarissa, Rehan menarik tubuh mungil itu sedikit menjauh karena mereka mengganggu antrian. "Jangan perdulikan. Kamu pantas kok untuk Putra, rasa kamu itu tulus sama dia,"


Clarissa tersenyum tipis.


"Kalau Putra emang sayang sama kamu, dia tidak akan membiarkan kamu terluka sedikitpun. Dia akan membela dan memperjuangkan kamu untuk jauh dari masalah itu." Rehan mengelus puncak kepala Clarissa yang tertunduk lesu. "Jangan takut. Kakak ada kalau kamu butuh pertolongan."


Clarissa mendongak, dia tersenyum tipis. "Terima kasih kak."


"It's okey, setidaknya kakak masih dengan sama kamu meskipun bukan menjadi pasangan." Rehan terkekeh. "Jangan perdulikan perasaan kakak."


Clarissa tidak menolak saat Rehan bergerak menggenggam tangannya. Dia menarik lembut, langkah mereka berhenti tepat di rak paling ujung dengan satu pengunjung laki-laki yang memakai topi meneliti setiap buku dengan kepala menoleh kesegala arah.


Rehan menepuk, membuat laki-laki itu berbalik dan terlonjat kaget. "Gaya banget kamu, gak usah pura-pura ikhlas Clarissa aku bawa kalau kamunya ngikutin gini."


Putra berdehem. "Bukan urusan kakak."


"Okey, nih aku kembaliin." Masih dalam genggamannya, Rehan mendorong Clarissa agar mendekati Putra. Laki-laki itu mengeluarkan salah satu novel dan dia berikan pada Clarissa. "Terima kasih ya sudah di temani, kapan-kapan lagi kita main bareng. Tanpa ada yang ngikutin."


Sindiran itu membuat Putra membuang wajahnya.


"Hati-hati kak." Clarissa melambaikan tangannya ketika Rehan berbalik dan pergi.


Putra mengelus pipi Clarissa. "Maaf."


"Iya gak apa-apa."


Backstreet yang Clarissa inginkan adalah tidak diketahui oleh orang lain. Tapi sikap Putra bisa membuat seluruh orang tahu bahwa mereka sedang menjalin hubungan.


Siaal.

__ADS_1


Untung ini Putra, Clarissa dapat pahami.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2