Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:00


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Anita meraih tangan Meysa dan menggenggam keduanya. Wanita itu tersenyum hangat tanpa melepaskan genggamannya. "Mama senang, bisa pergi sama kamu, walaupun maaf kalau mama belum bisa keluar hanya berdua dengan kamu."


Meysa hanya mengangguk, dia paham bagaimana rasanya menjadi mamanya jika dilihat pergi dengan dirinya hanya berdua tanpa ikatan apa-apa, itu kan yang orang tahu? Mungkin mamanya sengaja membawa Clarissa hari ini agar orang melihat tidak heran, Clarissa sudah sering mondar-mandir di dalam keluarga mereka.


Anita melepaskan genggaman tangannya dan tersenyum ketika melihat Clarissa kembali dari toilet.


"Kamu suka menu disini?"


"Suka tante, enak."


"Humm, nanti kita kasih bintang 5 setelah keluar dari sini." Clarissa mengangguk mendengar arahan Anita.


Beberapa pelayan kembali datang membawa kereta kecil pembawa makanan, ada satu buah cake berukuran kecil diatasnya dan beberapa makanan penutup.


"Wahh, apa ini? kenapa di meja kami ada kue segala," tanya Anita heran. Saat di meja lain terlihat biasa saja.


Salah satu pelayan terkekeh, dan koki mereka datang menyapa. "Ini atas permintaan atasan, bu Anita. Katanya ada tamu dari jauh yang berkunjung, jadi kami harus menyediakan makanan mewah lainnya."


"Wah, kenapa kalian berlebihan. Ucapkan terima kasih pada temanku itu ya.."


"Pasti bu," koki muda itu mengangguk. "Loh, kemana calon pewaris?? pelayan kami berebut ingin mengantar saat mendengar nyonya besar Adietama datang."


Anita terkekeh mendengar hal itu, kenapa orang-orang selalu bersikap berlebihan soal putra tampannya itu.


"Ini acara perempuan, bahkan pak Adietamanya saja tidak saya izinkan untuk ikut."


Koki itu tersenyum. "Lalu, siapa dua gadis cantik ini."


"Teman Putra."


DEG!!!


Clarissa melirik Meysa yang terlihat santai mendengar Anita menyebutkan mereka berdua adalah teman Putra, padahal Anita bisa saja mengatakan kalau Meysa putrinya dan Clarissa teman anaknya. Koki itu mengangguk paham.


"Kamu masih ingat tidak, ini Clarissa." Tunjuk Anita kepada Clarissa yang berada didepannya. "Dia anak Dokter Doni, yang pernah tingggal di rumah kami,"


"Nah iya," koki tampan itu tertawa, "tadi sempat mikir, pernah bertemu dimana ya,"


"Ica ingat tidak?"


Clarissa menggeleng.


"Koki ini pernah sekali menggantikan chef Aldo sewaktu libur sehari," Koki itu tersenyum pada Clarissa. "Mungkin tidak ingat, karena anda hanya memasak lalu pulang, tidak pada bagian penyajian."


"Benar juga," Koki itu merapikan topinya. "Ya sudah, silahkan dinikmati, saya kembali ke dapur dulu."

__ADS_1


Anita mengangguk kecil ketika koki itu menunduk padanya sebelum berpamit.


Mereka menikmati makanan penutup dan mencoba kue berukuran kecil dihadapan mereka. Anita memotong menjadi empat bagian, "lembut.."


"Iya tante, mirip sama buatan chef Aldo."


"Wah iya, mereka satu guru," jelas Anita. "Gurunya dulu bekerja dirumah kakek Darmo."


"Oh, pantes, makanya chef Aldo direkomendasikan ke rumah tante?"


"Benar," Anita menatap Meysa dan menyentuh dahi perempuan itu. "Kamu sakit? kok diam saja."


"Eng-enggak kok,"


"Kalau kurang enak badan, ngomong sama mama ya? takutnya serius."


"Memangnya kenapa kalau serius?" Pertanyaan Meysa membuat Anita memicing heran.


"Kenapa kamu tanya seperti itu?"


"Mama gak perlu bersikap perhatian sama Mey."


"Mey... Kamu kenapa sih?" wanita itu melihat kearah sekelilingnya, memastikan bahwa tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Kenapa? takut kalau orang dengar pembicaraan kita? takut kalau sampai mereka tahu kalau Mey anak mama?" Meysa menggigit bibir dalamnya. Dia mengatakan itu dengan bibir bergetar. "Apa Mey sememalukan itu sampai mama gak mau ngakuin Mey sebagai anak mama."


"Karena dari tadi Mey menahan semuanya." Meysa mengumpat dalam hatinya, kenapa harus air matanya jatuh sih. Dia jadi terlihat lemah. "Kalau malu, kenapa ajak Mey? padahal hati Mey senang sewaktu dengar mama ajak Mey makan berdua."


Meysa bangkit dari duduknya, meraih tasnya dan berlalu pergi.


"Meyyyyy!!!!" Anita berteriak, namun tetap dengan nada kecil, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian pengunjung lain.


Clarissa berdiri. "Biar Ica aja tante, yang kejar Meysa."


...🌼🌼🌼...


Clarissa berlari mengelilingi taman yang ada pada restaurant yang mereka singgahi. Dia menemukan perempuan rapuh duduk dikursi panjang yang menghadap air mancur. Clarissa duduk disebelahnya.


"I'am okey." Ucap Meysa tanpa mendapat pertanyaan dari Clarissa sebelumnya. "Gue sudah tahu sejak gue datang dan ada lo disana."


"Gue,,,,"


"Gak usah ngerasa gak enak, toh bukan lo yang seharusnya disalahkan, tapi ya si Anita itu.."


Mata Clarissa melebar, "lo...."


"Kenapa? santai aja kali, gak ada orangnya juga."


"Bagaimanapun Tante Anita itu nyokap lo," semenjengkelkan apapun Anita, dia tetaplah ibu bagi Meysa, ibu yang melahirkannya. "Ambil sisi positifnya saja, mungkin tante Anita belum siap untuk ngasih tahu sama dunia kalau lo itu anaknya."

__ADS_1


"I know that." Jawabnya, dia menatap air mancur dihadapan mereka. "Sewaktu di Rumah Sakit, kita ngobrol didepan air mancur juga kan ya?"


Clarissa menatap kedepan, dia mengangguk samar.


"Kalau gue mau anggap lo sebagai temen gue boleh gak sih?" dia menoleh, ucapannya mendapat respon kaget dari Clarissa. Meysa tersenyum tipis, "gak usah dijawab sekarang, lo bisa jawab kalau lo yakin aja sama kebaikan gue. Soalnya gue sendiri suka bingung sama emosi gue, kadang gue gak suka sama lo, terkadang ingin banget gue gabung sama temen-temen lo buat ketawa bareng."


Clarissa hanya menyimak.


"Oh iya, Bintang udah pulang?"


"Dari mana lo tahu kak Bintang pergi dari rumah."


"Kemarin gue ketmu didepan gedung apartemen Om Jeri pas gue baru pulang sekolah. Dia sama perempuan, gak tahu siapa." Jelasnya. "Gue kesel, waktu lihat perempuan itu rangkul manja lengan Bintang tapi bukannya bela gue malah si Bintang bentak-bentak. Seharusnya gue sadar kalau Bintang itu sudah benci sama gue."


"GAK!!!" Sentakan itu membuat Meysa tersentak kaget, Clarissa hampir berteriak. "Kak Bintang gak benci lo, gue tahu itu, dia cuma gak mungkin bisa baik sama lo lagi aja."


"Kenapa?"


"G-gue gak tahu alasannya, tapi gue tahu dari tatapannya kalau dia gak pernah bermaksud kasar atau ketus sama lo."


Meysa mengubah posisi duduknya menghadap Clarissa, dia gengganng kedua tangan Clarissa dengan wajah yang tersenyum manis. "Serius. Menurut lo, gue tetep maju atau berhenti aja?"


"Berhenti."


Wajahnya berubah masam, dia lepaskan genggaman itu secara perlahan.


"Kak Bintang itu calon ayah, lo gak bisa memperjuangkan laki-laki yang sudah jelas gak bisa lo milikin lagi."


"Sejak kapan kalian dekat?" Kedunya menoleh, Clarissa dan Meysa berdiri karena terkejut. "Lo gak lagi,,,,,"


"Apaan sih Er," Meysa semakin memasang wajah sebal. "Gue bukan Meysa yang dulu, jadi gak usah negative thinking sama gue."


Wajah Erlangga tetap datar, dia beralih menatap Clarissa yang lamgsumg menggeleng. "Meysa beneran gak ngapa-ngapaon kok, kami cuma ngobrol."


Erlangga berjalan meraih tangan Clarissa dan membawa perempuan itu pergi, tentu saja Clarissa menatap Meysa dengan wajah kebingungan. Meysa langsung berlari mengejar, menghentikan langkah Erlangga.


"Gue aja yang lo bawa pergi,"


"Minggir..."


"Please Er."


Erlangga tidak memperdulikan permohonan Meysa.


"Kami kesini sama Tante Anita," ucap Clarissa dipertengahan perdebatan antara Meysa dan Erkangga.


Meysa menganggguk. "Iya, bawa gue pergi Er. Please, Clarissa aman kok disini, kan gue dibawa sama lo."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2