
Doni menyesap kopinya sembari menatap layar ponsel, membawa cangkir kecil itu dari dapur menuju ruang tamu. Dia tersentak kaget ketika melihat laki-laki tinggi berdiri di ambang pintu utamanya.
"Astagaaaa,,,," Doni mengelus dadanya dan menghela napas lega. "Putra?"
Putra yang masih berdiri di ambang pintu tersenyum. "Selamat pagi Om..."
"Iya, pagi juga." Doni menyapa balik, dia berjalan mendekati Putra. "Kamu mengagetkan saja, mau menjemput Ica ya?"
"Iya Om."
"Pasti kamu tidak mengabarinya terlebih dahulu. Soalnya Ica sudah berangkat dari tadi bersama dengan Bintang." Jelasnya, membuat Putra melihat jam tangannya.
"Biasanya Ica berangkat jam delapan om, ini masih jam tujuh kenapa sudah berangkat?"
"Bintang ada keperluan pagi-pagi, makanya dia mengajak Clarissa sekalian."
Mendengar itu, Putra mengangguk paham. "Ya sudah, kalau begitu Putra pamit berangkat dulu Om."
...πΌπΌπΌ...
Eraphone sebelah kirinya terlepas, Clarissa menoleh pada laki-laki yang selalu mengusiknya itu. Tapi kali ini dia tidak ingin menghindar ataupun menatap tidak suka, Clarissa mengembangkan senyumnya dan menyapa.
"Tumben berangkat pagi?"
Putra menarik kurssinya dan duduk di dekat perempuan itu, dia ingin merutuki pihak sekolah karena membuat peraturan untuk duduk sendiri-sendiri. Andai saja bisa di ubah, mungkin Putra akan kesetanan untuk duduk langsung satu bangku dengan Clarissa. Oh, bisa jadi Clarissa yang sudah kehilangan kewarasannya.
Putra terlihat menahan sedak di dadanya, Clarissa terlihat menggemaskan. "Berangkat sama kak Bintang ya?"
Clarissa mengangguk.
Putra menusuk pipi gembul Clarissa. "Padahal tadi gue jemput lo,"
"Hah? serius?"
"Seriously."
Mereka mengobrol sedikit sampai datang Kanya dan Vina ke dalam kelas, seperti biasa Kanya akan menatap heran dan tidak suka pada Putra yang mendadak duduk di sebelah sahabatnya itu. Perempuan itu menghampiri Clarissa dan membisikkan sesuatu pada Clarissa sampai membuat Daze yang semula tidak perduli malah mendekatkan diri dan ingin mendengar juga, sayangnya gagal, Kanya menjauhkan diri, menatap Daze. "APA LO?!???"
"Gak kenapa-kenapa gue." Jawab Daze.
Kanya menaruh tasnya dan menarik Clarissa pergi. Clarissa menurut saja saat ditarik secara kasar atau lembutpun, sampai mereka jauh dari area kelas dan berhenti di ruang olahraga yang masih sepi.
"Lo tadi bisikin apaan dah?"
__ADS_1
"Bohongan doang gue." Dia terkekeh dan menatap Clarissa lagi. "Tumben tadi lo mau ngobrol sama Putra? biasanya diem aja."
"Tadi dia nanya pas gue asik main game, ya gue jawab."
"Lo?"
"Hm.. Kenapa?"
"Jawab pertanyaan sewaktu lagi main game? bukan lo banget tuh." Punggung tangan Kanya sudah menempel pada dahi Clarissa. "You are weird, Clarissa. Lo gak lagi sakit kan?"
"Biasa aja kali." Menurunkan tangan sahabatnya itu. "Ke kelas yuk, bu Endah sudah jalan ke sini tuh."
Kanya menatap tatapan mata Clarissa yang langsung menjurus pada Bu Endah selaku guru Biologi yang berjalan menuju ruang kelas mereka. Sudahlah, Clarissa memang pandai mencari topik agar dia tidak terpojok.
...πΌπΌπΌ...
"Ihhh kenapa sih anak-anak cowok kalau lagi main basket, gantengnya bertambah?" Ujar Vina di saat mereka melewati lapangan basket, matanya memang selalu liar jika dihadapkan dengan situasi semacam itu. Untungnya, teman-teman yang di ajak bicarapun menatap kearah pandangan Vina dan mengangguk setuju.
Delisa tersipu malu, "iya, pacar gue juga nambah ganteng."
"Iya iya yang punya pacar ganteng." Ledek Kanya dan menoyor kepala Delisa yang berjalan di depannya. Perempuan itu menggeser tubuh Clarissa untuk berganti posisi dengannya, dan dia melebarkan bola matanya pada Putra yang sedang melambaikan tangan kearah mereka.
"Ganggu pemandangan."
"Heh, kecuali Putra ya. Dia mau ikut basket kek, bola kek, alat musik kek, gak ada ganteng-gantenganya." Ucap Kanya yang langsung mendapat sorakan dari Vina dan Delisa. Kanya menatap Clarissa. "Kenapa? lo gak suka dia gue bilang gitu?"
"Bu-bukan gitu,,,,,"
"Awas ya lo ikut merhatiin dia?" Kanya menajamkan suaranya. "Percuma dia baik kalau dia gak tahu perasaan lo."
Clarissa diam, dia tidak berani bercerita lebih saat ini, dia juga sudah memberikan janji pada Putra untuk tidak memberitahu siapapun kalau mereka telah bersama. Seharusnya dia memberikan pengecualian untuk ketiga sahabatnya, tapi Clarissa masih tidak berani.
Vina berjalan mundur menatap keduanya. "Yang salah kalau Putra gak tahu perasaan Ica ya Ica sendiri Nyak, Putra kan gak tahu?"
"Bacoot lo, udah jalan yang bener."
Vina memposisikan jalannya lagi dengan benar, mereka akan menuju kantin untuk makan siang bersama.
"Heran gue sama Kanya, alasan dia gak suka sama Putra tuh apa sih Del?" bisik Vina pada Delisa, karena Kanya selalu marah jika ada kata dari dirinya yang membela Putra.
Delisa menyikut lengan Vina. "Gue gak tahu, mending lo diem aja."
"Gue denger lohhh!!!" Ucapan itu membuat Vina dan Delisa berjalan sedikit lebih cepat agar menghindari omelan Kanya.
__ADS_1
Clarissa menoleh pada lapangan basket lagi, dia tersenyum tipis ketika Putra masih berdiri di pinggiran lapangan basket menatapnya sebelum pandangannya tertutupi oleh gedung yang menjadi benteng antara lapangan basket dan jalan menuju kantin.
"Kalung baru Ca?" Tanya Kanya yang baru duduk di hadapannya, pertanyaan itu juga membuat Vina dan Delisa ikut menatap ke arah lehernya. Mereka menunggu jawaban Clarissa. "Cantik, gue baru lihat."
"Berlian kah?" Tanya Vina sembari memperhatikan kalung milik Clarissa dengan saksama.
Delisa mengibas tangannya di hadapan Vina. "Yee, emang kenapa kalau itu Berlian?"
"Emang boleh sekolah pakai kalung semahal itu?"
Kanya menatap Clarissa setelah mendengar ucapan sekaligus pernyataan yang membenarkan dari Vina. "Di beliin Om Doni, dalam rangka apa Ca?"
Clarissa menelan salivanya, Kanya maupun dirinya selalu bertukar cerita mengenai hal sekecil apapun, bahkan saat kedua orang tuanya membelikan sesuatu yang biasa. Tapi kali ini, yang dia pakai adalah pemberian Putra, dengan pelan Clarissa memasukkan kalung yang tidak sengaja keluar itu, "bukan berlian kok, ini hadiah permintaan maaf dari papa, baru gue pakai."
Percaya atau tidak. Kanya mengangguk, mungkin saja malas bertanya lebih lanjut, akhir-akhir ini Clarissa memang suka mengunci mulutnya. Memang tidak jauh beda dengan dulu, tapi setidaknya Clarissa yang dulu lebih mudah bertukar cerita dengannya di banding sekarang.
...πΌπΌπΌ...
Acara makan siang di kantin selesai, mereka berempat berjalan menuju kulkas minuman. "Lo mau apa Del?" Delisa menunjuk air putih mineral dan susu cokelat. "Tumben lo minum air putih?"
"Bukan buat gue, itu buat Noel. Dia kan lagi main basket."
Vina menggeleng. "Emang susah kalau deket-deket orang bucin."
Kanya menunjuk air mineral juga. "Nah lo buat Edo juga?"
"Iya, dia kan ada di sana juga," jawab Kanya sembari menerima botol air mineral dari Vina.
Vina juga mengeluarkan satu botol air mineral lagi untuk Clarissa, tidak perlu di tanya, Clarissa adalah satu dari tiga temannya yang selalu rajin minum air putih. Seperti anjuran sebenarnya, delapan gelas berukuran 230ml perhari atau total dua liter.
Mereka berempat berjalan ke pinggir lapangan, akan di adakan tanding biasa antara kelas dua belas IPA satu dan kelas sebelas IPS dua. Semua bersorak ketika Putra mengoper bola basket pada Erlangga dan laki-laki itu masukkan kedalam ring basket tanpa hambatan. Pertandingan selesai, Clarissa melihat kedua temannya berjalan memisah diri, Delisa menghampiri Noel yang sengaja ikut dalam pertandingan anak kelas dua belas IPA satu sebagai tim tambahan saja dan Kanya berjalan menghampiri Edo yang sedang duduk mengikat tali sepatunya, mereka berdua menyodorkan botol air mineral kepada pasangan masing-masing.
Clarissa meremas botol air mineral yang ada pada genggaman kedua tangannya. Masih tersegel. Clarissa ingin berjalan menghampiri Putra dan memberikan minuman ini pada laki-laki itu, sayangnya tidak ada keberanian karena terlihat segerombolan adik kelasnya menghampiri Putra dan memberikan banyak air minum. Lagi pula, jika dia lakukan hal itu, apa yang akan di katakan orang-orang tentang dirinya.
Siaal.
Dia kalah cepat, rasa ragunya telah membuatnya bertahan pada posisi tidak berdaya.
Ternyata Putra menatapnya dan tersenyum tipis, sepertinya Putra menerima keputusan Clarissa untuk tidak memberitahu kepada siapapun tentang hubungan baru mereka. Putra berdiri membagikan botol yang telah di beri adik-adik kelas itu pada teman-teman setimnya atau tim lawan setelah melihat gerombolan itu pergi, karena merasa tidak enak memberikan hasil pemberian kepada orang lain didepan orangnya langsung. Sampai di hadapan Clarissa, Putra meraih air mineral itu dan berjalan pergi.
Senyum Clarissa tersenyum. Putra peka pada tindakan yang tidak bisa dia lakukan.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1
...HUHUUUU, SEBEL YAA. SUKA BANGET NUNDA KARYA PADAHAL PENGEN PUNYA KARYA YANG SUKSES, CKCKCK....