
...πΌπΌπΌ...
Clarissa menghembuskan napasnya pelan, berusaha tidak terdengar oleh pemilik kendaraan yang dia tumpangi. Clarissa tadi sempat menolak, tapi tidak ada jawaban 'terserah atau iya' dari Erlangga. Dengan ragu dia berjalan masuk kedalam mobil sport Erlangga karena setelah dia menolak untuk pulang bersama, dan laki-laki itu tetap tidak menjalankan mobilnya sampai Clarissa masuk. Padahal bisa saja, laki-laki itu langsung meninggalkannya atau Clarissa yang berlari pergi. Sikap pendiam keduanya sangat tidak baik ditiru.
Erlangga menoleh pada Clarissa, dia berdecak dan bergerak memakaikan sabuk pengamannya lantas membuat Clarissa terkejut dan menahan napas serta menegang. Setelah terpasang, dia melihat sensor mobil mendadak berhenti, Clarissa menghembuskan napasnya pelan. "Kenapa gak ngomong sih, gue suka lupa pakai sabuk pengaman."
"Ribet."
Clarissa menelan salivanya. Dia berbasa-basi pada orang yang salah.
Mobil kembali melaju keluar dari gedung sekolah SMA Gemilang Cahaya. Tidak ada yang perlu dibicarakan oleh keduanya, Clarissa memilih diam menatap keluar jendela, melihat pemandangan padat siang ini. Sama halnya dengan Erlangga, Clarissa sudah menyadari dari dulu kalau laki-laki disampingnya itu tidak pernah menyukai keberadaannya, dia satu-satunya teman Putra yang lebih banyak cemberut ketika Clarissa hadir diantara mereka. Mungkin permintaan Putra saat meminta semua teman-temannya untuk melindungi Clarissa adalah satu alasan Erlangga semakin tidak suka pada perempuan mungil itu.
Mungkin bagi Erlangga, Clarissa adalah beban yang harus dijaga untuk Putra. Sedangkan mereka semua bukanlah pesuruh, melainkan sahabat. Omongan orang cukup memperkuat ketidaksukaan Erlangga terhadapnya. Erlangga bukannya tidak berani membantah pada Putra, dia pernah sekali menentang ucapan Putra, sialnya tidak pernah didengar oleh laki-laki budak cinta itu.
Mobil berbelok kekiri, ini bukan jalan rumahnya, tapi Clarissa tidak berani bertanya. Gerakan kagetnya, menegapkan tubuh, melihat Erlangga sekilas lalu kembali menatap keluar jendela dan kedepan. Dia hampir berpikiran buruk untungnya Erlangga menepikan mobilnya kesebuah bengkel. Dia pernah kesini bersama Gio untuk mengantar Erlangga juga.
"Sebentar," tanpa menunggu Clarissa bertanya.
Erlangga keluar mobil dan menyapa beberapa pekerja bengkel, menghampiri salah satu pria yang tengah asik mengobrol dengan pakaian penuh oli ciri khas orang bengkel. Mereka berdua bercerita sebentar lalu pria itu mengangguk dan menghampiri mobil Erlangga.
"Astaga," pria itu terkejut melihat Clarissa disana, mereka bertemu pandang dan membuat Clarissa tersenyum tipis. "Sorry, gak tahu kalau Erlangga bawa ceweknya."
"Em,,," Clarissa belum menjawab, Erlangga sudah membuka lebar pintu bagian kemudi.
"Kira-kira lama gak?"
"Bentar doang, kenapa?"
"Pinjem mobil lo dong, mau nganter," dagunya terangkat menunjuk Clarissa.
__ADS_1
"Oh, pacar lo Er?"
"Pacar Putra," laki-laki itu mundur, memberikan leluasa bagi abang bengkel untuk keluar. Erlangga menunduk menatap Clarissa. "Keluar, gue anter."
"Erlangga...." Panggilan lirih Clarissa menghentikannya. Clarissa mebutup pintu mobil sengan pelan. "Gue cari taxi aja deh."
"Lo nyuruh gue bertanggung jawab kalau sampai sesuatu terjadi sama lo?"
Clarissa menggeruk kepalanya. "Gue bisa jaga diri kok."
"Gak usah ribet," balasnya sembari berlalu pergi, menghampiri pemilik bengkel untuk menerima pinjaman mobil.
...πΌπΌπΌ...
"Terima kasih," ucap Clarissa saat melepaskan sabuk pengamannya. Padahal dia pernah satu mobil dengan Erlangga dan tau kalau itu tidak akan berjalan baik, lalu? kenapa sekarang dia malah mengambil langkah itu lagi?
Erlangga tidak menjawab, dia membiarkan Clarissa keluar sendiri dan melajukan mobilnya ketika sudah melihat Clarissa masuk kedalam rumahnya. Clarissa berjalan pelan karena mood baiknya rusak karena Erlangga bersikap ketus padanya, entah apa yang membuat laki-laki itu selalu jutek dengannya?
Clarissa melebarkan matanya, sedihnya berubah menjadi senyuman. "Putraaa?"
"Iyalah, siapa lagi."
"Kok disini,"
"Nunggu kamu,"
Clarissa tersenyum lebar, dia menatuh tas dan jaketnya kesembarang tempat. Menghampiri Putra yang sedang menaruh mangkuk ke atas meja makan. "Kenapa gak bilang kalau mau kerumah?"
"Kan mau buat surprise," Putra terkekeh. Menatap Clarissa lalu mencubit pipinya pelan. "Erlangga gak mampir?"
"Kamu tahu kalau aku dianter Erlangga?"
__ADS_1
Putra mengangguk. "Tadi dia kabarin kalau Kanya mendadak ada urusan dan ngasih kamu ke dia."
"Put, kamu bilang sama teman-teman kamu ya kalau kita pacaran?" Melihat ekspresi bingung Putra, Clarissa menghela napasnya. "Dari omongan Erlangga, kayaknya dia tahu."
"Erlangga? gak usah kaget, dia bisa membaca semua gerakan tanpa perlu dikasih tahu." Jelas Putra, dia menarik kursi dan meminta Clarissa untuk duduk. "Makan siang dulu, aku mau pulang soalnya ada urusan mendadak."
"Gak makan siang bareng?"
Putra kembali terkekeh, Clarissa sangat menggemaskan. "Lain kali, penting banget nih, maaf ya gak bisa nemenin."
"It's okay kok," Clarissa berdiri dari duduknya dan mengantarkan Putra sampai didepan pintu, melihat kekasihnya itu masuk kedalam mobil putih setelah melambaikan tangan kearahnya. "Be careful."
Mobil putih itu tampak asing, Clarissa kenal semua mobil dari keempat sahabat Putra. Dia hanya menggeleng pelan, mungkin mobil yang lainnya, teman-teman Putra bukanlah anak-anak kalangan biasa, semua dari kalangan atas, malah aneh jika mereka hanya memiliki satu mobil dirumah. Clarissa kembali masuk kedalam rumahnya, dia harus menghabiskan sajian makan siang dari Putra, first time buatan kekasih. Clarissa terkekeh.
"Duh, senyum-senyum yang habis disamperin pacar," ledek bi Siti, berita ini cepat menyebar ya?
Clarissa mengatupkan jari telunjuknya dibibir. "Diem bi, nanti ada yang dengar, Ica belum mau siapapun tahu soal hubungan kami."
"Kenapa begitu?"
Bukan hanya bi Siti yang menanyakan hal ini, Putra juga, entahlah, Clarissa masih belum siap untuk diketahui sebagai kekasih Putra. Apalagi sampai nyonya besar mengetahui hal ini, pasti akan semakin runyam melebar.
"Gak ada alasan sih bi, rasanya aneh saja kalau selama ini mama sama papa selalu menginginkan Ica jauh dari Putra karena Putra menjadi penyebab Ica selalu dibully, terus tiba-tiba Ica sendiri yang malah mendekatkan diri dari penyebabnya."
Bi Siti mengangguk paham. "Iya non, pasti berat kalau sampai semua tahu dan non menjadi sasaran bullyan lagi."
"Iyaa."
"Tapi setidaknya, non Ica punya satu pelindung besar, penyebab itu akan menjadi benteng non Ica agar terhindar dari masalah. Bi Siti bisa lihat bagaimana den Putra begitu besar melindungi non Ica meskipun non beberapa kali menginginkan dia menjauh. Benarkan?"
Bi Siti ada benarnya, kenapa dia melupakan hal sepenting itu.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ