
...πΌπΌπΌ...
"Hey dude, tenang," Nichol berdiri menatap Bintang datar. "Bokap lo pasti khawatir."
"Bacoot lo," menatap Nichol tidak senang, dia berjalan sempoyongan menuju kitchen dan meraih gelas, menuangkan air putih kedalamnya lalu menegak secara perlahan hingga tandas. "Bintang gak mau pulang,"
"Kak,,," menatap Clarissa. "Kita bisa bicara baik-baik lo,"
"Halah..." Bintang mengibas tangannya, dia seakan tak acuh lagi pada adik tersayangnya. "Lagi males ngomong, mending pergi aja."
"Bintang," Nichol menatap tajam. "Lo tau sendirikan, yang salah itu ya Raisa, kenapa lo marah sama bokap lo?"
"Kalau gak tau apa-apa, diem aja deh."
"Gue tau," laki-laki itu menatap nyalang terhadap Bintang. "Gue sumpek lihat lo, kesini pas mabuk doang, gak kasihan lo sama Aleta yang kesusahan bantuin lo pas gak sadar gitu,"
Bintang menatap Aleta, lalu menatap Nichol tidak senang.
"Nic," Aleta menggeleng, dia berjalan meraih tas serta kunci mobilnya, menarik Nichol pelan. "Kami permisi dulu, silahkan bicara baik-baik. Kamu Bintang, coba dengarkan dulu penjelasan semuanya, kamu gak pantes bersikap menjengkelkan."
Nichol dan Bintang masih saling menatap tidak suka. "Lo bakal nyesel kalau sampai lo kehilangan orang yang sayang sama lo untuk kedua kalinya."
BLAM!!!!
Pintu apartement tertutup, kebisuan langsung menyelimuti satu keluarga ini. Ucapan terakhir Nichol terngiang pada telinga Bintang, cukup lama mereka saling membisu hingga sang peran utama berjalan kekamar yang sempat dia singgahi, Doni maupun Clarissa tidak mengeluarkan sepatah katapun, mereka mematung dalam posisi mereka sejak Bintang keluar dan masuk lagi, hanya mata mereka yang terus mengikuti gerakan Bintang. Hingga laki-laki itu kembali muncul membawa tas dan kunci mobilnya.
"Ica sama kakak," ucapnya pelan lalu berjalan melewati keduanya, Clarissa sempat memandang Doni bingung. Papanya tersenyum tipis, meminta Clarissa mengikuti permintaan kakaknya dengan sebuah anggukan.
Doni mengendarai mobilnya mengikuti mobil yang dikendarai Bintang serta Clarissa disana, kakak-beradik itupun tidak berbicara sepatah katapun, Bintang hanya mengklakson ketika melihat mobil Aleta masuk kearea apartemen, dan dibalas oleh perempuan itu tanpa mereka saling menurunkan kaca mobil.
Sampai dikediaman mereka, Bintang hanya masuk kedalam kamar, Clarissa juga tidak dapat mencerna apa yang ada dalam benak kakaknya. Doni masuk, mengelus puncak kepala dan tersenyun tipis. "Ini lebih baik dibandingkan kakakmu tidak ada dirumah,"
__ADS_1
Clarissa cukup memahami. Kondisi seperti apapun, akan lebih baik jika mereka bersama. Clarissa menaiki tangga menuju kamarnya, masuk dan dia rebahkan diri diatas ranjangnya, menatap langit-langit kamar. Semua benar-benar runyam.
Entah berapa lama Clarissa tertidur, dia mengerjap matanya menatap keluar jendela, langit sudah gelap dan lampu kamarnya belum ia nyalakan. Saat hendak bangkit detak jantungnya langsunh berdebar melihat laki-laki yang duduk dimeja belajarnya. "Astaga kak Bintang, bikin Ica kaget aja."
Bintang berdiri menghampiri ranjangnya. "Anterin kakak."
"Kemana?"
"Ke rumah Adietama." Ucapnya singkat, tanpa menunggu jawaban Clarissa. Bintang pergi meninggalkan kamar adiknya sembari menghidupkan saklar lampu sebelum benar-benar pergi dari kamar itu.
Clarissa hanya menatap pintu yang sudah tertutup, bersiap-siap membersihkan diri.
Tidak cukup lama, mereka sudah berjalan menuju kediaman Adietama. Clarissa meminta izin pada papanya yang sedang tugas malam untuk pergi bersama Bintang, dia tidak perlu memberikan alasan pergi kerumah Adietama, itu akan membuat papanya khawatir. Clarissa sudah lebih dulu menghampiri nyonya Adietama yang senggang, sebelum mereka sampai dirumah besar itu.
Anita terlihat bersemangat, wanita anggun itu berdiri dilatar kediamannya saat mendengar dari pos satpam bahwa mobil Bintang telah masuk kedalam area rumahnya. Clarissa turun lebih dulu, sedangkan Bintang tampak sibuk dengan bangku belakangnya. Kakaknya berjalan menghampiri Clarissa yang tengah dipeluk oleh Anita, Bintang hanya tersenyum tipis.
"Ada apa? kata Ica, Bintang yang mau mampir kesini."
Bintang berdehem. "Om Gio ada?"
"Temui saja, tante." Ucapnya, Bintang menatap Clarissa. "Tunggu sebentar,"
Clarissa tidak paham apa yang sedang dipikirkan oleh kakaknya, dia hanya mengangguk, tubuhnya bergerak menuju sofa besar dengan mata yang terus menatap Bintang menaiki anak tangga mengikuti Anita. Putra yang hendak turun juga menatap kaget melihat Bintang tanpa menatapnya.
...πΌπΌπΌ...
"Hey," Gio tersenyum, bangkit dari duduknya menatap Anita yang tersenyum tipis membawa Bintang bersamanya. "Tumben,"
Bintang tidak menjawab, dia hanya menatap Inggrid membuat perempuan itu mengetahui posisinya dan berdiri lalu permisi dari hadapan mereka. Bintang tampak serius, wajah tampannya tidak lagi dia gunakan untuk senyum manis seperti pertama kali menapaki rumah megah ini, senyum manisnya telah menghilang, tatapan ramahnya juga telah tiada, hanya ada sorotan tatapan tajam. Dengan tidak sopannya dia melirik Anita, membuat perempuan itu gelagapan kaget.
"Ehh, eee," Anita menatap suaminya. "Mama keluar dulu pa, soalnya Clarissa dibawah, takut dia bosan sendiri."
Gio mengangguk, mengantarkan Anita keluar ruangannya lalu menutup kembali, dia berjalan duduk disofa single meminta Bintang untuk duduk. Sayangnya laki-laki yang telah kehilangan kesopanannya itu tidak bergerak dari tempatnya.
__ADS_1
"Bintang, what do you want?"
Pertanyaan itu akhirnya membuat Bintang bergerak dari tempatnya, dia menaruh beberapa map keatas meja dan langsung Gio buka satu persatu. Pria itu tersenyum tipis ketika membacanya secara satu per satu.
"Ada yang salah?" Tanyanya pada Bintang setelah selesai membaca isi map dihadapannya.
"Tentu saja." Bintang menghela napasnya. "Tolong jangan ganggu saya,"
Gio tersenyum. "Kamu adikku Bintang,"
"Tidak ada persetujuan dari saya," jawabnya pelan. "Saya menghargai om sebagai atasan papa, jangan membuatnya rumit."
"Lalu?" Gio mengangguk, "kamu seperti Jeri dulu, menolak saat om mintai untuk tinggal disini."
"Siapa juga yang ingin hidup seperti om."
"Memang saya kenapa?"
Bintang menatap kearah lain, lalu menatap Gio lagi. "Tolong katakan pada pak Darmo, jangan pernah memberikan saya apapun, jangan sampai surat seperti ini sampai ditangan papa."
"Bukankah kamu ingin pergi juga dari hidup Dokter Doni."
Bintang mengangguk. "Yap, tapi bukan menghampiri keluarga kalian. Bintang akan urusi urusan Bintang sendiri, maaf mengganggu waktunya."
Bintang sempat menunduk sebelum melangkah pergi, baru sampai didepan pintu, suara Gio menghentikannya.
"Tolong, biarkan saya membantumu untuk urusan Raisa." Bintang berbalik menatap Gio lurus. "Apa yang akan kamu lakukan soal perempuan itu, serahkan pada saya."
"Buang kebiasaan mencampuri urusan orang lain."
Kalimat itu membuat Gio terkekeh, dia hanya menggeleng kecil menatap pintu yang tertutup tanpa Bintang dihadapannya.
"Sial, kenapa dia keren sekali." Ungkapnya bangga, dulu Jeri hanya menghindarinya saja, dia tidak menolak apapun yang Gio berikan. Hanya menerima tapi tidak pernah menikmati sepeserpun yang Gio berikan, sedangkan Bintang, laki-laki itu menolaknya mentah-mentah, bahkan tatapannya berubah. Dulu Gio suka kedewasaan dan sikap ramah Bintang kepadanya, sayangnya itu tidak lagi dia lihat sejak semuanya berantakan.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ