Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:27


__ADS_3

Bintang mengusap wajahnya gusar, melepaskan kacamata yang membantunya mengerjakan tugas sepanjang malam. Dia masih belum bisa tidur sampai waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Menatap seorang perempuan yang tengah tertidur pulas diranjangnya.


Seharusnya dia bahagia, mamanya menyetujuinya untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, pesan dari Meysa untuk pertama kali mengganggu pikirannya malam ini. Bintang kembali meraih ponsel dan membaca ulang pesan itu.


Meysa Amalial


Hey, I understand your feeling.


I know what you are like.


you are the best in my life.


Kamu tidak melakukan apapun,


i know that. Aku tau kamu tidak


benar-benar mencintai perempuan itu.


Sama seperti Putra, kamu hanya


memanfatkan wanita lain


hanya untuk membuatku cemburu.


Menatap Raisa kembali, memanfaatkan perempuan itu hanya untuk membuat Meysa cemburu. Demi apapun itu adalah pikiran yang dangkal, jangankan cinta, seluruh pikiran dan dunia Bintang sudah dia berikan kepada Raisa. Jadi, kenapa dia harus memikirkan tentang sebuah kepalsuan.


Yahh,,, Bintang mengangguk. Perempuan menyebalkan itu hanya menginginkan dirinya yang tidak lagi perduli. Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Clarissa masuk.


Clarissa Fatiyah A


Kangen abang!!!!


^^^Bintang Angkasa A^^^


^^^Please deh dek!!!!^^^


^^^Sudah dibilangin juga, jangan^^^


^^^panggil kakak seperti itu.^^^


Clarissa Fatiyah A


Kak Bintang belum tidur?


Kenapa?


Jangan karena kakak mau


nikah sama dia, terus kalian


bisa lembur ya!!!!


^^^Bintang Angakasa A^^^


^^^Ngomong apa sih!!!!^^^


Clarissa tidak lagi menjawab pesannya, kemungkinan sudah tidur karena Clarissa memang selalu bersikap aneh saat bergadang dan Bintang sangat memaklumi hal itu.


"Sayang...." Bintang berdiri menghampiri Raisa yang terbangun dari tidur nyenyaknya, menaikkan selimut dan hanya menyisakkan kepalanya. "Kamu belum tidur? masih mengerjakan tugas?"


"Um... Sebentar lagi sayang." Mengusap puncak kepala Raisa dan mengecupnya, "hais..."


Raisa membuka matanya lebar, melihat Bintang menggeleng pelan dan mendesis kesal. "Kamu kenapa? mau aku temani ngerjain tugasnya?"


"Engga sayang, kamu lanjut tidur lagi aja. Sebentar lagi aku akan tidur." Mengelus lembut kepala Raisa saat perempuan itu beringsut merebahkan kepala pada pahanya. "Raisa, I love you."

__ADS_1


Raisa tersenyum, meraih tangan Bintang dan mengecupnya dalam keadaan masih memejamkan matanya. "Love you too sayang."


...🌼🌼🌼...


Clarissa melambaikan tangannya tinggi-tinggi, menatap Bintang yang juga melakukan hal yang sama, hari ini kakaknya itu berjanji akan mengajaknya berjalan-jalan. Karena janji itu membuat Bintang sudah berdiri didepan halaman sekolah Clarissa untuk menjemputnya usai pelajaran selesai. Putra berdiri dibelakangnya mendorong pelan, membuat Clarissa mendongak melihat Putra yang begitu menjulang tinggi.


"Pulangnya jangan malem-malem, kalau ada apa-apa jangan lupa telepon gue." Ucapnya tanpa menatap Clarissa.


"Kenapa lo pikir bakal ada apa-apa sama gue? kali ini gue pergi sama kakak gue sendiri, menurut lo dia bakal ngapain gue?"


Putra berdecak, "bukan kak Bintang yang gue maksud. Tapi orang lain." Putra dapat melihat dari arah lain seorang laki-laki tengah berjalan mendekati Bintang dengan membawa dua botol.


"Kak Rehan maksud lo? dia orangnya baik kok, perhatian lagi."


"Lo gak lagi pamer sama gue karena ada yang perhatian sama lo kan?" Clarissa menggeleng. "Gue gak bakal cemburu."


Putra menunduk menatap Clarissa yang maju dan memberikan jarak, sempat berbalik menatapnya. "Posisi kita bakal buat kak Rehan cemburu."


"Kenapa lo mikirin hal itu?" Mata Rehan memang tengah memperhatikan mereka berdua. "Jadi lo buka hati buat dia?"


"Enggak juga." Clarissa berjalan mundur menjauhi Putra dengan tetap berbicara padanya. "Gue bakal pulang malem, kami mau jalan-jalan. Lo lakuin aja sesuatu yang lebih bermanfaat selain ngikutin gue."


"Dih, gak usah percaya diri tinggi gitu dong. Siapa juga yang mau ngikutin."


"Lo lah, kayak malam itu, waktu gue pergi sama kak Rehan."


Putra tetap berjalan pelan, matanya memperhatikan langkah Clarissa. "Emang gue gak boleh khawatir....."


"....Sama temen SMP lo?" sambung Clarissa.


Putra tidak menanggapi. "Dengan hati yang besar, gue izinin lo pergi dan pulang malem, dengan satu syarat lo harus tetap bales semua pesan gue."


"Tapi gue kan mau quality time sama diri gue sendiri." Protesnya mendengar syarat yang diucapkan Putra.


Menggeser tubuh Clarissa agar tidak masuk kedalam lubang karena perempuan itu masih tidak memperhatikan jalannya. "Lagian, mana ada quality time sama diri sendiri tapi ngajak orang."


Putra menarik lengan Clarissa, dengan sorotan mata mengatakan untuk tidak jauh-jauh. "Please Ca, kalau lo masih gak nyaman sama gue setidaknya lo jangan ketus kalau lagi ngomong sama gue."


"Gue biasa aja kok." Menarik tangannya, dia melihat kearah Rehan yang tengah berdiri disampingnya.


"Kak Bintang sudah nunggu kamu lama. Kami duluan ya Putra." Putra hanya mengangguk, malas untuk tersenyum berbasa basi kepada Rehan, dia hanya melemparkan senyum pada Bintang.


Rasa cemburu menghampiri Putra. Rasa egoisnya juga turut muncul saat melewati keduanya, dia menginginkan Clarissa lebih, tanpa ada pengganggu didekatnya. Karena Clarissa sendiri enggan berada didekatnya, untuk sementara ia biarkan perempuan yang disukainya itu berada dekat dengan pria lain.


"Dek, ngobrol apa sih sama Putra. Serius banget." Memeluk Clarissa lembut. "Kami nungguinnya sampai karatan loh."


"Lebayy...."


"Beneran. Yakan Han? sumpah ini kalau lagi di dekat Putra emang suka gak inget orang." Ledeknya, semula tampak asik, namun kehadiran Meysa membuat suasana hati Bintang berubah. "Yuk masuk nanti kita gak jadi makan siang."


Meysa menarik lengan Bintang, "kamu gak mau nyapa aku?"


"Cukup." Bintang sudah yakin, dia sudah sekasar apa pada Meysa, tapi kelihatannya perlakuan ini tidak berfungsi. "Gue udah bilang sama lo, jangan ganggu gue, bisa kan???"


"Aku cuma gak mau kita kelihatan asing, Bintang. Dari sorotan mata kamu aja, kelihatan kok kalau kamu masih perduli." Bintang berdecak.


Tangannya sudah menarik pergelangan tangan Meysa dan membawanya jauh dari mobil. "Please Mey, gue gak tau lagi harus ngomong pakai bahasa apa sama lo."


"Bahasa hati.."


"Gue mau nikah, jangan ganggu gue."


"Aku cuma mau kita bersikap biasa aja dan saling sapa. Benaran, aku gak minta kamu buat nemenin selama aku kesepain kok." Bintang menelan salivanya, dia ingat bagaimana dirinya selalu setia menemani Meysa saat perempuan itu kesepian di dalam rumah yang tidak berpenghuni. "Aku cuma,,,, rindu. Itu aja, semua orang menghindar dari aku, cuma bayangan kamu yang selalu menemani aku."


"Kak Bintang......" Bintang dan Meysa sama-sama menoleh, menatap Rehan dan Clarissa yang berdiri tidak jauh dari keduanya. "Tadi nyuruh ica cepet-cepet, ica laper."

__ADS_1


"Sebentar dek." Dia menatap Meysa lagi, "gak akan ada perubahan diantara kita Mey, gue sama sekali gak ada rasa lagi sama lo."


"Aku akan tunggu." Bintang berbalik menatap Meysa lagi, "kalau kamu merasa tidak yakin sama pacar kamu, kembali sama aku."


"Impossible...." Meysa hanya menatap datar, mereka semua pergi, dan dia hanya menatap lurus pada Rehan yang memandangnya, sebelum laki-laki itu berlalu pergi mengejar Clarissa dan Bintang.


...🌼🌼🌼...


"Ditelepon aja kali Put." Marisa mengunyah steak kentang yang baru disajikan oleh Daze, "mereka semua tengah berkumpul di apartment nya minus Erlangga, lagi-lagi dia beralasan akan menjemput Omanya disalon. "Aku pusing lihat kamu uring-uringan kayak gitu."


"Kalau dia ngerasa keganggu gimana?"


Noel yang asik bermain game dengan Rinda menoleh. "Sejak kapan Clarissa keganggu sama lo, kalau ada lo didekat dia aja, serasa dunianya berhenti tau gak."


"Itu namanya keganggu, Noel." Ujar Marisa.


Mereka semua tertawa, memang saat Putra sedang mendekati Clarissa, sangat terlihat jelas perempuan itu diam mematung dan hanya memperhatikan pergerakan Putra. "Gue denger dari Daze si Clarissa mau nikah ya sama Azka?"


"Hah, emang bener sayang?" Marisa menatap Daze yang sedang menuangkan saos diatas piring kecil. "Kok bisa? sejak kapan mereka dekat."


"Azka emang udah lama suka sama Clarissa, tapi kemaren gak tau sih kalau Clarissa bakal membicarakan tentang pernikahan, dan menyebut nama Azka gitu." Jelasnya, "palingan cuma bercanda."


"Emang Clarissa bisa bercanda? dia itu kan patung." Rinda menatap Putra kesal, dia dilempari kuaci dengan jumlah banyak. "Apasih nih bocah."


"Jangan ngomong sembarangan tentang Clarissa."


Rinda memasang wajah menggelikan sembari menatap Putra. "Jingin Ngiming Simbiringin tinting Clirissi."


Ejekan Rinda membuat Putra berdiri, belum sempat dia menghajar Rinda, pemilik Kafe Enjoy itu berlari dan bersembunyi di balik punggung Erlangga yang baru tiba.


"Er,,, katanya lo mau jemput oma."


"Udah," mengangkat plastik ditangannya. "Oma beliin kita Pizza."


"Wih....." Rinda dan Noel berlari, mereka sempat rebutan untuk meraih dua kotak Pizza di tangan Erlangga.


Erlangga hanya melirik Putra, dia kembali duduk di sofa santai dan memperhatikan ponselnya, sama sekali tidak tertarik pada Pizza yang tergeletak di meja, menandakan bahwa sedang terjadi sesuatu pada sahabatnya. "Kenapa sama si Putra?"


Rinda yang mendapat senggolan dari siku Erlangga menatap Putra. "Coba tebak, Alasan apa yang membuat Putra kayak gitu?"


"Clarissa."


"Pinter, kok lo tau sih Er. Heran, otak apa perempuan sih? tau segalanya?" Mulut Rinda mendapat tepukan pizza dari tangan Marisa, "apasih Sa?"


"Kenapa bawa-bawa kaum perempuan?"


Tampak Marisa sedikit emosi membuat Rinda hanya cengengesan meminta maaf. "Ya maaf Sa, gue kan cuma bercanda."


Erlangga dan yang lainnya tidak berniat untuk melerai, membiarkan keduanya beradu mulut dan hanya Daze yang terkadang menepis tangan Rinda saat dengan reflex ingin menyentuh Marisa. Hingga membuat Erlangga lelah sendiri melihat tingkah teman-temannya, dia berdiri dan duduk di dekat Putra. "Put,"


"Hm..." Responnya tanpa menatap Erlangga, dia masih saja fokus pada layar ponsel yang mati.


"Gue dapet informasi kalau dia bakal kembali."


Putra menoleh, dia tahu siapa yang dimaksud oleh Erlangga. "Gue gak perduli."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


PUTRA RIZQI ADIETAMA



CLARISSA FATIYAH ADAMS


__ADS_1


AUTHOR YANG MENGGEMASKAN



__ADS_2