Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:65


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Erlangga ketika Putra sudah kuat mencekram kerah bajunya, tatapan marahanya tadi berubah menjadi datar lagi setelah tahu siapa yang telah meninjunya secara mendadak. Dan Erlangga tidak perlu bertanya kenapa Putra melakukan hal itu. Mereka sama-sama saling baradu tatap, Erlangga dengan tatapannya yang datar dan sulit diartikan, sedangkan Putra dengan tatapan amarahnya.


Suasana lapangan semakin riuh, ingin mencari tahu apa penyebab Putra marah pada Erlangga. Setahu mereka, Erlangga adalah satu-satunya sahabat Putra yang tidak pernah membuat kesalahan sampai Putra marah. Karena mereka tahu, Erlangga adalah orang yang tidak perduli pada sekitarnya.


Clarissa yang berdiri didekat mereka malah tetap membisu, lagi-lagi dia tidak tahu harus melakukan apa.


"Gue,, sudah pernah bilang sama kalian. Siapapun yang mengganggu Clarissa itu urusan kalian, tapi kalau Meysa yang mengganggu Clarissa itu sudah jadi urusan gue." Ucap Putra yang mungkin hanya didengar beberapa orang saja. Tangan Putra sudah berubah menjadi mencekram leher Erlangga, tapi Erlangga tidak merubah ekspresinya dan dia terlihat seperti tidak ingin melawan. "Dan apa yang udah buat lo jadi gak dengerin omongan gue Er."


Erlangga tidak menjawab, semakin erat jari-jari Putra dilehernya, semakin datar pula ekspresi wajahnya.


Putra terlihat sangat kesal karena Erlangga tidak meresponnya. "Mau sampai kapan lo diam kayak gini, bangs*t!!!"


"Putt, udah Put, kontrol emosi lo.." Rinda berusaha melepaskan tangan Putra, tapi dia tidak kuat. "Sekolah kita lagi ada acara dan lo malah buat masalah,"


"Yang lagi buat masalah itu bukan gue, tapi Erlangga." Ucap Putra tanpa melepaskan tatapan menghunusnya dari Erlangga.


Noel dan Daze yang ada ditempat itu juga langsung ikut mengerumuni, Marisa juga berusaha ikut melerai, biasanya perempuan itu yang dapat menghentikan emosi Putra. Tapi gagal. Putra tampak sedang tidak mood untuk diganggu.


"Gue cuma mau bantu lo."


Putra mengendurkan kekuatan tangannya saat mendengar kalimat pertama yang Erlangga lontarkan. "Bantu? for what?"


"Lo lagi sibuk ngurusin acara sekolah, jadi gue yang turun tangan nyelesain masalah Meysa."


"Lo tahu apa yang lo perbuat?" Erlangga mengangguk. Putra tersenyum tipis. "Gue gak pernah sekalipun nyuruh lo, Daze, Noel sama Rinda untuk turun tangan soal Meysa kalo saat itu gue gak bisa nyelesainnya. Lo pikir saat itu ada masalah, saat itu juga gue nyelesainnya?"

__ADS_1


Erlangga bungkam.


"Enggak kan Er?" Putra melepaskan cengkramannya dengan setengah berbalik dia berkata. "Gue gak suka kalau lo ikut campur sama apa yang jadi urusan gue."


"Gue cuma mau ngasih tahu lo aja." Langkah Putra berhenti dan dia kembali menatap Erlangga. "Lo bilang kalau lo perduli sama Clarissa, tapi lo gak pernah bener-bener ngasih pelajaran sama Meysa? lo serius gak sih sama pelajaran?"


"Maksud lo?"


"Kalau lo emang bener-bener ngasih pelajaran sama Meysa, dia gak akan terus-terusan ganggu Clarissa."


"Jadi maksud lo?" Putra berjalan menghampiri Erlangga. "Lo ngelakuin itu karena perduli sama Clarissa?"


Erlangga dan Putra kembali beradu pandang, ini pertama kalinya Erlangga dan Putra berseteru. Sebelumnya Erlangga tidak pernah membuat Putra marah, begitu juga sebaliknya, Putra tidak pernah marah pada Erlangga. Rinda gemetar dan maju, berada ditengah-tengah kedua sahabatnya yang sedang bersiteru.


"Udah dong guys, ini pasti cuma salah paham." Ucapnya dengan nada gemetar.


Putra menepis tangan Rinda pada lengannya. "Gue gak pernah gegabah soal ambil tindakan."


"Asal lo tahu, Meysa nyeritain semuanya kalau dia yang nyelamatin Clarissa didalam toilet."


"Lo percaya?"


"Kalau dia bilang iya itu berarti benar, kalau dia bilang tidak itu berarti enggak."


"Lo percaya?" sekali lagi Erlangga menanyakan soal kepercayaan pada Putra terhadap Meysa. Putra diam membuat Erlangga menunduk lalu tersenyum tipis, Clarissa melirik pada teman-teman disekitarnya apakah mereka lihat senyuman Erlangga barusan. "Okey kalau gue salah, gue bakal temuin dia dan minta maaf."


Putra melihat kepergian Erlangga, dia menatap semua teman-temannya lalu meminta mereka untuk bubar dan kembali pada kegiatan mereka sebelum kepala sekolah melihat kerumunan ini. Putra menghampiri Clarissa. "Lo gak apa-apa Ca?"


Clarissa menggeleng.

__ADS_1


"Lo emang gak pernah serius dalam ucapan lo Put." Kanya berdiri dibelakang Clarissa. "**** lah sama omongan lo yang bilang bakal hancurin semua yang udah gangguin Clarissa. Ternyata gue salah, lo gak pernah bener-bener menghancurkan semua yang udah ganggu Clarissa."


"Nyak, please." Clarissa berbalik menatap Kanya. "Putra gak harus ngelakuin itu semua buat gue."


"Tapi semua yang lo dapet itu karena dia Ca. Seumur hidup lo itu selalu aman dan gak pernah ada sedikitpun yang benci sama lo. Tapi gara-gara dia lo jadi selalu kena masalah dan bahkan lo gak pernah tenang setiap disekolah." Kalimat panjang Kanya membuat semua orang diam, ucapan perempuan itu benar, yang tengah membenci Clarissa pun menyimak dengan baik bahwa kebencian yang tubuh didiri mereka pada Clarissa ya karena perbuatan Putra sendiri. "Dan lo masih bilang kalau Putra gak harus ngelakuin semua itu buat lo."


"Nyak......" Clarissa menunduk, dia malu sudah ditatap oleh puluhan mata.


"Kalau dia manfaatin lo buat dijauhin sama semua cewek. Ya lo perlu manfaatin dia buat lo suruh-suruh dia untuk hilangin semua orang yang udah buat hidup lo susah dong."


"Hentikan perdebatan kalian." Rinda menengahi. "Nyak, sana lo balik ketempat lo soalnya lomba voly udah mau mulai." Rinda menepuk bahu Putra. "Balik lo ke stand."


...🌼🌼🌼...


Clarissa menoleh keatas, satu kotak susu rasa oreo berada tepat diatas kepalanya. Berasal dari Rinda yang langsung duduk disampingnya ketika ia sudah menerima susu rasa oreo tersebut. Mereka sama-sama diam menatap arena pertandingan bola voly dari jauh. Clarissa tidak berminat untuk mendekat kesana, sedangkan Rinda memang diminta Putra untuk duduk didekat Clarissa.


"Erlangga kemana?" tanya Clarissa penasaran, toh perdebatan tadi dikarenakan dirinya, setidaknya Clarissa harus sadar diri dengan sikapnya kepada orang sekitar. "Gue jadi ngerasa bersalah."


"Ada didalam UKS, katanya pusing. Kenapa lo harus merasa bersalah."


"Perdebatan tadi muncul karena gue, tadi gue sempet denger beberapa siswi yang bilang kalau ini pertama kalinya Erlangga sama Putra berantem dan penyebabnya ya gue." Ia sampai tidak enak hati tentang ini.


Rinda mengangguk menatap Clarissa sebentar, lalu dia menunduk. "Soal pertama kalinya Erlangga berantem sama Putra itu bener. Tapi kalau soal penyebabnya lo itu gak juga sih, yang dibilang Erlangga itu bener kok, Putra emang gak pernah serius sama ucapannya buat ngasih pelajaran sama anak-anak yang berani gangguin lo, buktinya Meysa selalu ambil kesempatan buat nyakitin lo."


"Tapi, Putra gak perlu ngelakuin hal semacan itu buat ngelindungi gue."


"Icaa, terlepas dari entah Putra perduli beneran sama lo atau enggak. Dia ngelakuin itu karena perintah tante Anita, beliau bener-bener sayang sama lo, gue gak tahu kenapa tante Anita minta itu tapi kami-kami sebagai anak yang nurut sama tante Anita ya ngikutin aja." Clarissa menyimak. "Tante Anita itu baik banget sama kami, sudah menganggap kami sebagai anaknya. Kayak gue, nyokap udah gak ada, kayak Erlangga kedua orang tuanya udah gak ada, kedua orang tua Daze ataupun Noel sama-sama sibukkan? cuma tante Anita yang ada buat kami, kami sakit atau ada masalah beliaulah yang berani datang dan bantuin kami, sesibuk apapun. Makanya balas budi kami ya apapun yang diminta oleh Putra."


Anita dan Gio memang sama-sama baik, seharusnya sikap baik Putra tidak dia jadikan sebagai penambah perasaan suka itu. Bisa jadi memang selama ini Putra hanya menuruti perintah mamanya, bukan karena menyukai dirinya.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2