Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:87


__ADS_3

SEDANG BERUSAHA AGAR


TIDAK HIATUS YANG KE TIGA KALINYA.


HUHU 😭, SEMANGAT, SEMANGAT


...🌼🌼🌼...


"Nyak, please lo temenin gue ya??" Rengeknya, mereka masih di dalam mobil. Kanya sudah menghentikan mobilnya sesuai permintaan Clarissa berjarak dua meter dari kediaman Adietama. "Gue gak tahu harus bersikap gimana di hadapan Putra."


"Ica," Kanya meraih tangan sahabatnya itu yang bertengger dilengannya, dia genggam erat dan bibirnya tersenyum tipis. "Gue gak bisa, lo tahu sendiri gimana gue bersikap di hadapan keluarga Adietama. Gue masih gak bisa bersikap sopan sama mereka kecuali sama Om Gio, bahkan sama Tante Anita aja gue suka ngomong seenaknya tanpa berpikir. Gue sudah bantu lo untuk gak satu mobil sama Putra, jadi gue harap lo bisa bertindak tanpa gue disana. Okey?"


"Gak bisa."


"Bisa. Lo pasti bisa!!" Tangan Kanya terangkat dan terkepal, bentuk menyemangati untuk Clarissa. "Lo cukup diam, dan jawab apa yang ditanya sama mereka. Lo gak usah deketin Putra buat tanya soal malam itu ataupun soal kebenarannya."


"Jadi beneran gue gak usah nanya apapun?"


"Iyalah. Lo berharap apa dari jawaban dia?"


Clarissa diam menimang, ya, benar juga kata Kanya, apa yang dia harapkan jika itu benar-benar Putra.


"Lo berharap kalau dia bilang iya dan langsung ngajak lo pacaran, gitu?" Clarissa tidak menjawabnya. "Selama ini dia ada di dekat lo itu karena ingin dijauhi oleh cewek-cewek fanatik di sekolah, bisa aja kan kalau malam itu dia deketin lo karena ada cewek yang lagi ngejer-ngejer dia dan kebetulan aja lo disana."


Kanya benar.


Clarissa tidak bisa menepis akan hal itu. Dia lupa posisinya sebagai perempuan yang dimanfaafkan oleh Putra. Dalam kepalanya yang tertunduk Clarissa mengangguk. "Benar. Seharusnya gue gak lupain soal itu."


"Okey, lo sudah siap buat masuk kesana? gue lajuin ini mobil."


"Siap." Tangannya yang terkepal terangkat keatas. "Semangat Clarissa, lo pasti bisa."


Kanya tersenyum tipis. Dia tidak ingin membuat Clarissa berharap banyak pada Putra. Bahkan Kanya sendiri masih belum menemukan fakta kenapa Putra bersikap seakan-akan dialah yang membawa dua barang special itu.


"Gue turun nih?" Tanya Clarissa setelah Kanya menghentikan mobilnya di parkiran milik kediaman Adietama.


"Iyalah, masak lo mau disini aja?"


"Lo gak mau anterin gue Nyak?"


Kanya menatap datar. "Ica, lo bukan anak kecil yang harus gue anter. Lagian lo kan pernah tinggal disini, ya kali masuk sampai ruang tamu aja gak berani."


"Tapi ini beda feel loh Nyak."

__ADS_1


"Ya apapun......" Kanya menghentikan kalimatnya, dia melihat Anita menghampiri mobilnya, dengan sangat terpaksa dia keluar diikuti Clarissa.


"Kenapa tidak turun?" tanya wanita cantik itu.


"Sedang cari pelembap bibir, Tante." Kanya jawab asal. "Kanya langsung pamit, Tante."


"Loh, tidak ikut makan siang bersama disini?"


Tentu saja Kanya menolak dengan cepat. "Maaf Tante, Kanya ada urusan jadi gak bisa mampir."


"Sayang sekali, padahal Chef Aldo sudah masak banyak."


Kanya tidak perduli, dia menunduk kecil lalu melambaikam tangannya pada Clarissa untuk permisi pulang. Clarissa sudah cukup aman dalam rangkulan Anita.


"Kanya masih saja bersikap seperti itu pada Tante." Tidak hanya orang sekitar yang merasakan aura gelap Kanya jika berhadapan langsung pada keluarga Adietama. Anggota keluarga itu sendiripun merasakan hal yang sama, sampai saat ini Clarissa juga tidak paham kenapa Kanya begitu tidak sukanya pada keluarga sebaik ini.


Mata Clarissa melebar ketika melihat Meysa duduk di ruang tamu dengan pria yang pernah dia sapa saat pulang sekolah kemarin. Buru-buru ia menunduk kecil melihat Jeri.


"Selamat siang Om Jeri."


"Hallo, bertemu kamu lagi."


Clarissa tersenyum, dia menunduk lagi pada Gio yang turun dari lantai atas. "Selamat siang Om Gio."


"Wahh kamu lama sekali, Meysa terlihat sudah kelaparan loh." Kalimat Gio membuat Clarissa menatap Meysa yang masih menunduk sejak kedatangannya.


Gio mengangguk. "Yuk, ke meja makan? Putra dan yang lain sudah menunggu."


...🌼🌼🌼...


"Jadi sekarang Meysa sekelas sama Clarissa dan Putra dong?"


"Iya Tante," Clarissa mengangguk, sedangkan Meysa tidak menjawab maupun mengangguk.


"Kamu kan suka kerang buatan Chef Aldo, kenapa tidak ambil." Anita menarik mangkuk berisi tumis kerang ke hadapan Clarissa dan menuangkannya sedikit ke dalam piringnya.


Clarissa merasa tidak enak, seharusnya Anita bersikap biasa saja di depan Meysa, putri kandungnya. Sejak ia datang, Meysa belum bersuara ataupun mengangkat wajahnya, perempuan itu fokus pada makanan dihadapannya. Clarissa semakin merasa tidak nyaman berada disana.


"Meysa suka apa?"


Pertanyaan itu baru mengangkat wajah Meysa, dia menggeleng dengan senyuman tipis. "Tidak ada."


"Biar mama ambilkan."

__ADS_1


Meysa menggeleng lagi. Dia menatap Jeri di sebelahnya. "Om, kapan pulang, Mey belum mengerjakan tugas rumah untuk besok."


Jeri melirik Anita, dia tahu acara makan ini tidak seperti yang Meysa inginkan. Jeri mengangguk. "Habiskan makanmu ya sayang, nanti kita langsung pulang."


"Kenapa tidak mengerjakan disini saja, kamu kan sekelas dengan Clarissa dan Putra." Gio menimbrung dalam obrolan kecil Meysa dan adik laki-lakinya. "Benarkan?"


Meysa menggeleng. "Hari ini Meysa ada janji sama Tante Alia," Meysa meraih lengan Jeri. "Om, ayo pulang."


"Mey......." Panggilan lembut itu berasal dari Anita, perempuan yang duduk dihadapannya menatap sedih. "Kamu tidak ingin tinggal dengan mama?"


Meysa tidak menjawab, dia menatap Jeri lagi. "Ayo Om,"


Pergeseran kursi milik Jeri membuat Gio terpaksa menghentikan kalimat yang akan dia keluarkan. "Maaf mas, mbak, saya akan bawa Meysa pulang. Terima kasih jamuan makan siangnya," Jeri meraih pergelangan tangan Meysa. "Ayo sayang, nanti Tante menunggu."


Buru-buru Meysa berdiri tapi tangan lainnya sudah diraih oleh Putra. Keduanya menatap kearah laki-laki itu. "Mey, mama nanya, gak mau jawab?"


Meysa menunduk sebentar sebelum melepaskan tangan Putra dari tangannya secara perlahan. Dia menunduk kecil pada Anita yang menatapnya sedih, lalu pada Gio yang hanya menatapnya datar. "Permisii...."


...🌼🌼🌼...


Dalam perjalanan, Clarissa dan Putra tidak saling mengajak bicara. Makan siang bersama tidaklah menyenangkan, apa ia menjadi pengganggu diacara makan siang tadi? Clarissa memukul kepalanya pelan. Sial. Kenapa dia harus menerima ajakan itu sih, pasti Meysa akan semakin membencinya.


Ah iya, kenapa juga ia harus memikirkan soal perasaan Meysa.


"Ca..."


"Ha... Ya.. Apa?" Kaget, dia sangat kaget ketika Putra memanggilnya.


Laki-laki itu tersenyum tipis. "Sudah sampai rumah nih."


"Ohh, okey. Gue turun ya makasih."


Putra menghentikan Clarissa untuk turun, dia meminta perempuan mungil itu kembali duduk ditempatnya. "Ca, gak ada yang mau lo omongin sama gue."


"Ngomongin soal apa ya?"


"Apapun."


Clarissa menggaruk pelipis, Putra sangat kuat menggenggam pergelangan tangannya. "Enggak deh kayaknya."


"Beneran?"


"Iya."

__ADS_1


"Soal apapun loh Ca, soal makan siang tadi atau soal konser gue bakal jawab. DENGAN JU-JUR."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2