
...(Pict by Pinterest)...
...πΌπΌπΌ...
Clarissa menghentakkan kakinya beberapa kali, dia kembali menangis setelah beberapa jam menghilangkan sisa tangisnya dari adu mulutnya bersama Kanya. Kini dia kembali menangis karena mendapatkan kabar dari rumah sakit kalau mamanya terkena serangan jantung. "Kanya mana Viinn.."
"Sebentar ya, teleponnya gak aktif Ca. Dia tadi keluar sama Delisa."
"Nyokap gue.."
"Iya Ca, sebentar." Ucapnya berulang kali sembari mencoba menelpon Kanya ataupun Delisa. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang meresponnya.
Rasanya tidak puas. Dia berlari keluar mencari keberadaan Kanya dan Delisa, hingga ketika salah satu pintu Vila terbuka membuatnya berhenti mendadak. Putra?
"Ca, kenapa lo nangis?" tanya Putra mendadak dengan wajah panik.
"Mama Put."
"Tante Dinda kenapa?"
"Serangan jantung." Clarissa melepaskan cengkraman tangan Putra pada bahunya, dia mendekati Delisa yang keluar dari dalam Vila yang sama dengan Putra. "Del, Anya mana?"
"Tadi pergi sama Rinda Ca, itu mereka." Tujuk Delisa ketika melihat Kanya dan Rinda yang berjalan dibelakangnya. "Nyak..."
Clarissa berlari dan langsung memeluk tubuh Kanya, dia melupakan tentang perdebatan mereka tadi. Clarissa menumpahkan seluruh tangisnya dalam pelukan sahabatnya itu.
"Ca, kenapa?" Rinda maju dan mengelus puncak kepala Clarissa.
Clarissa menatap Kanya dengan wajah penuh bekas air mata. "Nyak mama serangan jantung."
"Ya ampun. Yaudah, kita balik ke Jakarta sekarang." Kanya menarik tangan Clarissa untuk bergegas membawa semua temannya kembali ke Jakarta.
"Nyak, lo beresin semua perlengkapan kalian disini, biar gue yang bawa Ica balik ke Jakarta." Ucap Putra, meminta tanpa penolakan.
...πΌπΌπΌ...
Dalam perjalanan Clarissa hanya menangis dan terus mengusap air matanya dengan sekotak tissue yang diberikan oleh Putra. Clarissa bingung, dia harus menjauhi Putra karena membuatnya berdebat dengan Kanya atau malah bersyukur karena adanya Putra, dia bisa cepat sampai menembus puncak menuju Jakarta, laki-laki itu membawa mobil sportnya.
"Tenang Ca, semua baik-baik saja. Gue udah telepon bokap gue tadi buat mastiin keadaan tante Dinda." Ucap Putra mencoba menenangkan Clarissa perihal Dinda, mamanya.
"Gue takut kalau mama......"
"Ca, cukup. Tante Dinda akan baik-baik saja."
__ADS_1
Satu-satunya orang tua yang dimiliki Clarissa adalah mamanya, papanya tidak mungkin mampu lagi berada disisihnya. Wanita penghancur itu pasti sudah menguasai seluruh kehidupan papanya, jika saja Clarissa kehilangan mamanya, harus kemana lagikah dia?
"Everything gonna be okay. Right? Ada gue, ada Kanya dan yang lainnya disamping lo, jangan pernah merasa sendirian." Ucap Putra sembari mengelus puncak kepalanya.
Hari tidak terasa begitu lama, Putra benar-benar membuat mobilnya terasa melayang diudara karena kecepatan tingginya. Tangan Clarissa masih sibuk menekan tombol panggil untuk Bintang tapi tidak kunjung terjawab. Karena tidak mendapatkan jawaban, dia memilih diam, pasrah terhadap Bintang dan pasrah pada keadaannya saat ini, entah dia sampai dirumah sakit dengan cepat atau dia akan lebih dulu meninggalkan semuanya. Semua pikiran jahatnya bergantung pada kegesitan Putra mengendarai mobil.
Mereka sudah keluar dari jalan tol, Putra mulai memelankan lajuannya karena jalanan semakin ramai.
"Mampir mini market bentar ya Ca? gak apa-apa kan? ini udah sore dan lo belum makan apapun sejak siang tadi."
Clarissa tidak menjawab, dia hanya mengangguk dalam menundukkan kepalanya.
Tidak butuh waktu lama Putra berada di mini market, laki-laki itu sudah keluar dan menenteng satu plastik berisi roti dan minuman. Dia langsung masuk dan membuka roti serta memasangkan pipet kedalam susu kotak.
Clarissa melihat sodoran susu kotak rasa strawberry dan roti berisi selai cokelat. "Lo suka ini kan?" Dia melihat Putra sebentar dan menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Putra kembali melajukan kemudinya menuju rumah sakit miliknya, dan langsung membawa Clarissa menuju ruangan yang mereka tuju.
"Kak Bintaaanggg....." Clarissa berteriak, tidak memperdulikan dia sedang dimana, kakinya berlari cepat dan tiba-tiba memelankan ketika melihat Meysa berdiri dibalik punggung kakaknya.
"Iyaa." Bintang memeluk tubuh Clarissa erat. "Maaf, kakak enggak denger tadi Ica telepon kakak. Ponselnya kakak mode getar."
"Gimana sama keadaan mama kak?" Clarissa tidak perlu memperdulikan penjelasan Bintang soal tidak bisa menerima panggilannya, kalau tidak soal Raisa, ya ini pasti soal Meysa. "Mama baik-baik saja kan?"
Pintu ruangan yang mereka tunggu terbuka, terlihat Gio keluar diikuti beberapa perawat serta Doni. Papanya itu berjalan menepuk bahu Bintang dan mengelus puncak kepala Clarissa.
"Ica dapet kabar dari Dokter Eva pa,"
"Sini..." Doni meminta Clarissa untuk mendekat, dan memasukkan Clarissa kedalam pelukannya. "Mama baik-baik saja, sedang istirahat."
Hembusan napas Bintang dan Clarissa terdengar bersamaan. Mereka lega bahwa mamanya tidak akan pernah meninggalkan mereka.
Gio ikut mencubit pipi Clarissa gemas. "Tenang ya, papa kalian adalah Dokter jantung terbaik, pasti akan menolong mama kalian."
"Makasih pa." Ucap Bintang, memang saat ini yang dibutuhkan mereka adalah Doni.
"Ayo Dokter Doni, kita keruangan saya." Doni mengangguk, dan Gio menepuk bahu putranya. "Jangan lupa sapa kakekmu."
"Kakek disini?"
"Didalam." Menunjuk ruang rawat Dinda. Gio menangkap Meysa yang berdiri tidak jauh dari Bintang. "Kamu disini?"
"I-iya om, tadi kemari bersama Bintang."
"Sudah melihat papamu?"
"Be-belum, sebentar lagi."
__ADS_1
Gio mengangguk, kalu kembali menatap Doni. "Mari Dokter Doni."
Kepergian Doni dan Gio membungkam mereka berempat, Gio tidak akan pernah memaafkan Doni karena sudah menyakiti Clarissa dengan pengkhianatan. Tapi dia tidak akan tinggal diam membiarkan Dinda sakit, saat ini Dokter yang mampu menangani Dinda adalah mantan suami wanita itu, dengan sangat terpaksa Gio memintanya.
"Ica mau lihat mama?" tanya Bintang, Clarissa mengangguk. Dia dibawa Bintang masuk kedalam ruangan Dinda, mereka berdua menghilang dibalik pintu ruangan.
Putra berjalan dan duduk disamping Meysa. Dia tersenyum tipis. "Berhasil nih?"
"100% berhasil dong."
"Gue cuma bisa kasih hadiah sampai disini, untuk selanjutnya enggak. Kak Bintang udah mau nikah." Jelas Putra, keberhasilan membuat perjanjian dengan pemilik Cafe tidak terlalu sulit baginya, yang sulit hanya menyatukan keduanya.
"Lo udah pernah ketemu sama calon Bintang belum?"
"Kenapa?"
Meysa diam, jika Meysa memberitahu tentang kebenarannya, apa dia akan mendapatkan hadiah yang lebih? atau, hadiah yang dia harapkan malah tersakiti dan parahnya mampu menghilang.
"Kepikiran aja, Bintang gak pernah publish siapa perempuannya, padahal sewaktu pacaran sama gue, setiap hari selalu update story."
Putra terkekeh. "Ya waktu sama lo kan zaman alay Mey, jadi gak heran kalau kak Bintang pamer. Nah kalau yang saat inikan sudah sama-sama dewasa."
"Tapi ya tetep ngerasa anehlah."
"Pikiran lo aja yang aneh, postive thinking dikit kenapa jadi orang."
Meysa menggeser tubuhnya. "Well? sejak kapan lo jadi orang yang positive thinking?"
πππππππ BERSAMBUNG ππππππ€π
CLARISSA FATIYAH ADAMS
BINTANG ANGKASA ADAMS
PUTRA RIZQI ADIETAMA
MEYSA ADELIA
__ADS_1