
...πΌπΌπΌ...
Gio menatap putra sematawayangnya lama, masalah kecelakaan yang menyebabkan Erlangga harus dioperasi membuat Putra kewalahan. Emosinya tidak terkontrol saat tau ada yang mengganjal dari kejadian itu. Tapi, saat diminta untuk turut bersaksi langsung dihadapan Firman Sanjaya, putranya itu malah menolak.
"Kan kamu yang minta semua ini diperjelas?" Gio berjalan mendekati Putra yang masih duduk disebelah Clarissa.
"Iya, tapi gak bisa sekarang pa."
"Why?? tell me the reason??" Putra diam membisu, hanya karena Gio Adietama menanyakan alasan kenapa dirinya tidak mau ikut membuat semua teman-temannya menatapnya.
Hanya Clarissa yang menunduk, perempuan mungil itu juga merasa kenapa harus melakukan ini. Tangannya yang sedang menggenggam ujung kemeja sekolah Putra terlepas, memilih untuk menautkan kedua tangannya. Putra sempat merasakan tangan Clarissa terlepas dari kemeja sekolahnya, bahkan dia melihat itu dan mendongak menatap papanya. Gio tersenyum tipis menyaksikan hal itu.
"Ya sudah kalau kamu tidak bisa sekarang."
"Bisa kok pa,"
"Loh. Kamu ini bagaimana sih? harus berpegang pada prinsip dong. Jangan plin-plan seperti itu."
"Maaf,"
Gio menatap perempuan mungil yang membuat putranya tidak berpegang prinsip itu. "Clarissa tunggu disini dulu ya? tidak lama kok, jangan pulang duluan, harus pulang bareng Putra."
Clarissa mengangguk. "Iya om."
Gio hendak kembali mengajak Dokter Indra, Marisa, dan Putra untuk melanjutkan perjalanan, tapi tangannya refleks menahan dada laki-laki yang mau bergabung tanpa diajak. "Kamu mau ngapain?"
"Ikut Marisa om,"
"Haduh, haduh, bucin. Rinda, tahan dia." Mendengar perintah Gio, Rinda bergegas meraih lengan kiri Daze dan tanpa arahan Noel merih lengan kanan Daze. "Kamu kan tidak saya minta untuk ikut?"
"Daze mau nemenin Marisa."
"Kan Marisa sama saya? untuk apa kamu temani??" Gio menatap Dokter Indra sebelum mengajak mereka pergi menuju ruangannya, dia sempat berkata. "Dok, Dok, punya anak kok pada bucin ya...."
Tawa keduanya menggema, hanya Daze dan Clarissa yang tidak ikut dalam tawa aneh itu. Alasan Daze tidak tertawa karena dia merasa tertekan tidak bisa ikut menemani Marisa, sedangkan Clarissa tidak ikut tertawa karena dia tidak tahu harus tertawa untuk apa?
...πΌπΌπΌ...
Clarissa duduk disofa dengan perasaan tidak nyaman, gelisah dan terus merasa resah, dia melirik Erlangga yang sudah duduk menatap Daze dan Noel yang sibuk mengajaknya bicara. Sedangkan Rinda tengah sibuk bertanding game online disebelah Clarissa.
Mata Erlangga sesekali menatapnya tajam, alasannya apa Clarissa juga tidak mengerti? padahal dia sekalipun tidak melakukan kesalahan kepada laki-laki itu.
"Sumpah Er, semua orang panik loh pas tau lo kecelakaan." Noel mengatakan keresahannya dengan menepuk bahu Erlangga tanpa berpikir kalau tubuh sahabatnya itu masih dapat merasakan sakit. "Tadi kalau saja Daze gak kabarin gue, ya gue udah main jalan aja sama Delisa. Untungnya dia bisa barengan sama temennya yang searah."
"Keadaan anak itu gimana?"
__ADS_1
"Anak siapa Er?" Rinda ikut nimbrung padahal sejak tadi sibuk memainkan ponselnya.
"Anak yang hampir gue tabrak."
Ketiga sahabatnya bahkan Clarissa langsung menatap Erlangga.
"Emangnya ada anak yang hampir lo tabrak?" Alisnya berkerut, seingatnya penyebab kecelakaannya karena dia berusaha menghindari anak kecil yang mendadak menyebrang. "Lo kecelakaan tunggal Er."
"Iya memang ada," Putra masuk tanpa permisi dan langsung berdiri disisi ranjang Erlangga. "Marisa kasih tau yang dia lihat tadi sama om Firman, semuanya akan diselidiki dari awal."
"Hah? seriusan itu Put?" Noel merasa kaget, padahal dia tidak mendengar kabar soal anak kecil itu.
"Anak itu menghilang, makanya gue mau banget minta tolong sama om Firman. Gue ngerasa curiga aja sama dibalik kecelakaan ini." Ujar Putra tanpa mengalihkan tatapan kearah Clarissa.
"Benerkan kata gue." Erlangga menatap teman-temannya yang tidak percaya padanya. "Sudah, kalian pulang aja, gue kan udah gak apa-apa."
"Enak aja." Daze menggeleng kuat. "Udah enggak apa-apa bukan berarti itu disepelekan?"
"Suster belum kesini?" Daze dan Noel menggeleng. "Ya sudah gue cari dulu buat nemenin lo,"
"Enggak usah, memangnya gue anak kecil yang gak bisa apa-apa." Erlangga menatap semua orang yang ada diruangannya. "Gue pusing lihat kalian semua disini,"
"Tapi kita masih mau nemein lo,"
Erlangga menggeleng melihat ke arah Rinda. "Mau nemenin gue apa mau nyolong wifi rumah sakit Rin? volume game lo itu berisik, gua mau istirahat."
Erlangga berdecak. "Jangan ngeyel. Gue beneran mau istirahat, kepala gue sakit."
Putra menghampiri Clarissa, perempuan itu masih memasang wajah tidak mengenakkan. Tidak ada yang tahu posisi Clarissa ditatapan setajam itu oleh Erlangga, dengan tanpa alasan.
"Yuk Ca, pulang."
"Hah? iya,"
Clarissa berdiri tanpa melihat kearah teman-teman Putra. "Clarissa juga butuh istirahat, kami pulang ya, Er kalau ada apa-apa kabari kak Inggrid."
"Siap boss." Jawabnya dengan menghormat.
"Yuk Ca,"
"Cepet sembuh, Erlangga." Ucapnya tanpa menatap kearah yang dituju, bahkan dia tidak berpamitan dengan yang lainnya.
"Hati-hati Ca..." Lambaian dan ucapan dari Rinda hanya dibalas anggukan oleh Clarissa. Sumpah, dia tidak merasa nyaman berada diruangan ini sejak awal.
...πΌπΌπΌ...
"Sudah enakan Er?" Marisa masuk dan langsung duduk disisi ranjang. Daze berdiri dan menutupi paha Marisa menggunakan jaketnya. "Clarissa sudah pulang?"
__ADS_1
"Tanyanya satu-satu dong Sa," Erlangga menanggapi dengan wajah datar. "Gue, baik-baik saja, dan Clarissa sudah pulang sama Putra tadi."
"Rinda?" tanyanya ketika tidak melihat keberadaan laki-laki absurd itu.
"Cari cemilan."
"Noel??"
Erlangga mencubit pipi Marisa. "Dikasih apa sih sama lo Ze? cerewet banget."
"Gemesin kan?"
"He'em,"
Orang yang sedang mereka bicarakan malah melirik kesal. "Bukannya dijawab."
"Noel pulang, kalian juga pulang sana. Rinda yang nemenin gue disini," ujarnya ketika melihat Rinda sudah kembali dengan menenteng kantong plastik berisi banyak jajanan ringan. "Yakan Rin?
"Yoi broo,," jawabnya tanpa menanyakan apa yang harus dia iyakan dari pertanyaan Erlangga. Laki-laki itu langsung duduk ditempatnya lagi, membuka ponselnya untuk kembali login kedalam aplikasi game. "Sorry gak nawarin jajannya, Erlangga gak boleh makan sembarangan dulu, Marisa gak dibolehin Daze buat makan jajanan sembarangan. Kalau lo Ze, gue males mau nawarin nanti habis."
Daze berdecak, sedangkan Erlangga dan Marisa tertawa.
"Yuk pulang, kan ada Rinda." Ajak Daze membuat Marisa mengalihkan tatapan dari Rinda ke Daze. "Biar Erlangga istirahat dulu,"
"Iya,"
Marisa turun dan mengembalikan jaket Daze yang tersampir dipahanya. "Er, aku janji deh cari keberadaan anak itu untuk menghilangkan pikiran buruk kita ke dia."
Erlangga mengangguk. "Iya, semoga aja dia gak ngelakuin itu, bahkan sampai mengorbankan anak-anak hampir celaka."
"Om Firman sudah janji akan menyelidiki ini sampai bener-bener nemuin keberadaan anak kecil itu. Keren deh, banyak yang menyangkal kalau lo jatuh itu karena menghindari anak kecil yang mendadak nyebrang."
Daze merangkul Marisa. "Besok kita bicarakan lagi, jangan buat Erlangga mikirin soal ini, biar om Firman yang menanganinya."
"Bener kata Daze, gue yakin kok anak kecil itu bakal kita temuin." Erlangga tersenyum tipis. "Hati-hati dijalan."
Sepasang kekasih itu berjalan keluar setelah berpamitan dengan Rinda yang sudah fokus Pada dunianya. Erlangga menatap nanar pintu yang tertutup, kalau saja saat itu dia tidak menghindar kemungkinan kecelakaan akan lebih fatal dari ini.
πππππ BERSAMBUNG πππππ
DAZE HANENDRA
MARISA BETHANY GERALDY
__ADS_1