Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:48


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


PLAK!!!!!!


"Bangs***.." Meysa menegakkan kepalanya lagi karena tiba-tiba tertoleh kesamping kiri akibat seseorang. "Lo ada masalah apa sama gue?"


"Gue yang perlu nanya itu sama lo anj."


"Susah emang kalo kacung udah ikut campur?"


Kanya maju dan mendorong Meysa hingga punggung perempuan itu terbentur tembok. "Lo cari mati ya?"


"Lo yang cari mati," Meysa menegakkan tubuhnya lagi menatap Kanya tajam. "Gue gak ada nyentuh dia."


"Cih, we never know? kalau aja ada CCTV disekitar tubuh lo, pasti ada bukti jelasnya." Kanya maju selangkah, tepat dihadapan Meysa. "Bahkan semut aja tau kalau lo gak akan pernah bisa diem setiap ketemu Clarissa."


"Gue ngomong jujur anj," Meysa tidak mau kalah, dia mendorong Kanya yang terus saja maju setiap dia berkata mencerca kepadanya. "Gue udah janji sama Putra buat gak ganggu dia."


"Dan lo pikir gue percaya?" Mata Kanya menatap sangat sinis. "Bahkan mungkin Putra aja gak yakin sama janji palsu lo itu."


"Terserah, gue gak butuh dipercaya sama lo."


Kanya masih belum melepaskan tatapan sinisnya, mereka berdua melupakan koridor kelas yang ramai. Semua tampak berusaha hilang jika Kanya ataupun Meysa sedang berada disekitar mereka. Tatapan mereka tidak lepas sampai pak Joko, selaku guru yang paling ditakutkan datang menghampiri keduanya.


"Berhenti bertengkar, kalian sudah kelas tiga dan masih meributkan sesuatu dengan keras kepala." Pak Joko menatap tajam Meysa dan Kanya. "Ikut saya kekantor,"


Pak Joko berbalik dan berjalan lebih dulu, membiarkan Kanya dan Meysa mengikutinya menuju ruangannya. Beliau adalah salah satu orang yang berjasa disekolah Gemilang Cahaya, pendiri utama dan berteman baik dengan Darmo Sudrajat Adietama, kakek Putra. Terkadang pak Joko kebingungan, dia harus menuruti Darmo Sudrajat Adietama untuk tidak mengusik Meysa atau menuruti Gio Adietama untuk tidak mengusik sesuatu yang berhubungan dengan Clarissa.


Sesekali pak Joko melihat kebelakang, apakah dua siswi yang sedang berseteru masih mengikutinya atau malah menghilang. Pak Joko membuka pintu ruangannya, meminta Meysa dan Kanya masuk, duduk pada dua kursi yang disediakan tepat dihadapan meja kerjanya. Ruangannya berAC, tapi tetap tidak membuat tatapan panas antara Meysa dan Kanya mendingin. Badannya yang tinggi besar dan tatapannya yang tajam, membuat dua siswi bermasalah itu menatap setiap pergerakannya hingga duduk manis didepan mereka, menopang dagu dengan kedua tangannya.


"Rasanya mengesalkan tidak bisa menghukum kalian seenaknya. Padahal sebetulnya ini tidaklah perlu, nepotisme, kalian membuat kami terpaksa melakukan hal semacam ini." Pak Joko menatap Meysa. "Cobalah bersikap dewasa, kalian sebentar lagi akan lulus dan masuk perguruan tinggi. Bertengkah dengan suara keras? Are you kidding me? kalian seperti sengaja membuat onar agar terlihat ya?"


Tidak ada yang menjawab.


"Meysa, apa kamu tidak merasa kalau semuanya terjadi karena kesalahanmu???"


Meysa menatap pak Joko. "Kenapa bapak asal tuduh? apa bapak punya bukti kalau saya penyebab masalah!! dia yang datang lebih dulu dan bahkan menampar wajah SAYA!!" Meysa menunjuk pipinya, bekas tamparan Kanya. "Saya bisa pidanakan dia karena kasus kekerasan."


"KAMU PIKIR SAYA TIDAK TAU!!??!!" Pak Joko menatap Meysa tajam. "Kanya Dealova melakukan itu karena kamu membully Clarissa,"

__ADS_1


"SAYA TIDAK MEMBULLY CLARISSA PAK??!!" Teriakan Meysa membuat pak Joko melebarkan matanya. "Saya baik, mau membantu dia yang terjatuh,"


"Heh!!?" Kanya menyela. "Sejak kapan Meysa Adelia membantu Clarissa? mungkin anak sekolah lain aja tau kalau lo itu gak mungkin baik sama Clarissa,"


BRAK?!!


Pak Joko menggebrak meja. "Tolong kamu tenang dulu Kanya."


Meysa terpojokkan, dia diam tidak bisa berkutik saat pak Joko kembali menatapnya tajam. "Saya tidak bisa mentolelir kejadian seperti ini, rasanya susah jika ingin menghukum kalian. Apa saya harus menentang pak Darmo Sudrajat Adietama untuk memberimu sanksi? atau saya harus menentang pak Gio Adietama untuk memberi sanksi kepada Kanya yang notabenenya membela Clarissa walaupun dengan cara yang salah."


Mereka berdua tidak menjawab.


"Untuk kebaikan bersama, saya akan tetap memberikan kalian hukuman." Pak Joko menarik loker kerjanya, mengambil sebuah amplop dua besar. Tangannya juga bergerak meraih dua kertas entah menulis apa, tidak ada yang tahu sampai dia lipat dan dia masukkan kedalam amplop yang sudah dia ambil sebelumnya. "Baca ini ketika sampai dirumah, mohon kerja samanya,"


Mereka berdua keluar ketika diminta oleh sang pemilik ruangan. Kanya berjalan dibelakang Meysa menuju kelas mereka masing-masing. "Gue gak tau sih apa hubungan lo sama kakeknya Putra."


Kalimat Kanya membuat Meysa menghentikan langkahnya.


"Gue jadi curiga kalau hubungan baik lo sama kakek Putra yang membuat lo jadi terobsesi sama Putra." Kanya berjalan mendahului Meysa yang mematung, perempuan itu berjalan mundur memperhatikan raut wajah Meysa. "Tapi satu hal, Putra pernah bilang sama gue waktu diarena balap, kalau dia suka sama Clarissa. Jadi gue kasih tau sama lo kalau sampai kapanpun lo gak akan pernah bisa ganggu Clarissa."


Kanya menghentikan langkahnya. "Atau mau amannya, lo bisa bener-bener bersikap baik sama Clarissa karena sepertinya lo butuh posisi itu."


"Tiba-tiba gue percaya kalau lo emang gak ngelakuin apapun sama Clarissa dikantin tadi."


...🌼🌼🌼...


"Nyak, dari mana?"


Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan Clarissa, hanya duduk dikursinya dan memasukkan amplop cokelat kedalam tasnya. Membuka ponselnya lalu mengetik sesuatu dan kembali menaruh kedalam tas.


Ponsel Clarissa bergetar, membuat perempuan itu melihat ponselnya dan tertera sebuah pesan dari Kanya.


Kanya Dealova


Demi apapun,


rasanya gue belum


puas nampar cewek


aneh itu.

__ADS_1


Clarissa berdiri menghampiri Kanya, "lo berantem? sama siapa?"


Kanya tidak menjawab, dia kembali membukanya dan setelah ditaruh, ponsel Clarissa bergetar lagi.


Kanya Dealova


Medusa.


"Nyak, apaan sih!!? lo berantem sama siapa?"


"Sama Meysa." Jawab Daze ketika melewati Clarissa dan duduk dimeja tepat dibelakang Kanya. Daze menatap Clarissa yang memperhatikan dirinya. "Iya Ca, Kanya berantem sama Meysa didepan kelas IPA 3. Ramai lagi, tanya aja kalau enggak percaya."


Clarissa menatap Kanya. "Nyak, bener?"


Kanya membuka ponselnya lagi dan ponsel Clarissa bergetar ketika Kanya sudah menutup ponsel miliknya.


Kanya Dealova


Iya!!?!


"Jawab kenapa sih? malah ngirim gue pesan."


"Duhhh!!?" Kanya menatap kesal kearah Clarissa. "Lo bisa diem gak sih? berisik tau gak!?! iya gue berantem sama Meysa karena bela lo, besok-besok itu lawan bukannya diem aja."


Clarissa terdiam.


"Kenapa? gak bisa jawab kan lo." Kanya membuka ponselnya dan sibuk melihat-lihat gambar dimedia sosialnya. "Susah banget dibilangin, ngapain juga lo larang-larang orang buat gak bilang sama Putra. Lo tau sendirikan? itu medusa gangguin lo ya gara-gara Putra. Jadi si Putra itu perlu tanggung jawab."


"Lo lupa? semakin Putra sibuk bela gue, orang malah mikir gue sama Putra ada apa-apa dan orang bakal mikir juga kalau gue ini jadi semakin sombong karena dibela sama dia."


Kanya menatap Clarissa lagi. "Teruss!!?! lo tetep mau pegang prinsip lo untuk gak ngelawan mereka? sampai kapan? sampai gue mati terus gak bisa bela lo lagi?"


"Lo ngomong apaan sih?"


"Gue kesel tau gak sih Ca? kesel sama lo, apa cuma itu alasan yang buat lo gak berani lawan Meysa sama temen-temennya?" Kekesalan Kanya sudah sampai diubun-ubun, dia benar-benar tidak habis pikir kepada Clarissa. "Gue tuh jadi bingung tau gak sih? pengen ngajarin lo buat lawan mereka tapi rasanya gue gak rela kalau lo gak bergantung lagi sama gue. Tapi gue semakin kesel lihat lo gak bisa apa-apa kalau gak ada gue."


Clarissa tidak menjawab, dia berjalan ketempat duduknya dan merebahkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya diatas meja. Daze yang melihat pertengkaran dua sejoli itu tanpa ingin melerai seperti biasanya, masih diam duduk diatas meja.


"Kalau lihat kondisinya kayak gini, kemungkinan bukan gue sama yang lain yang bakal ngadu sama Putra." Clarissa membuka matanya tanpa melihat kearah Daze. "Gue setuju sama ucapan Kanya. Kalau Putra harus tanggung jawab sama apa yang dia udah ambil resiko buat ada dideket lo."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2