
...(pict by Pinterest)...
...πΌπΌπΌ...
"Gue denger, perempuan itu tabrak Kanya karena ingin ngehancurin kebahagiaan perempuan yang lo suka." Edo tidak mengalihkan pandangan dari makam Kanya yang dikelilingi banyak orang. "Jadi, lo suka Kanya?"
Erlangga melirik Edo, semua kalimat tidak dia hiraukan. Hanya pertanyaan terakhir yang mampu membuat Erlangga bergeming.
"Sejak kapan lo suka Kanya?"
"Lo salah paham." Akhirnya Erlangga bersuara. "Gue gak pernah suka Kanya."
"Terus, maksudnya apa? kenapa perempuan itu cuma menginginkan lo? kenapa perempuan itu mau ngehancuri kebahagiaan perempuan yang lo suka. Kanya yang dia hancurin.." Edo menunduk, dia mengepalkan tangannya kuat. "Kalau emang bener lo suka sama Kanya, atau Kanya yang suka sama lo. Seharusnya kalian bersama, Kanya gak akan pergi kalau dia gak sama gue."
"Do, come on." Erlangga menghadap Edo. "Suka gak suka, lo gak berhak ngomong hal gak penting kayak gitu sama gue. Kuncinya cuma satu, Kanya bahagia sama lo. Stop ngambil kesimpulan itu, bukan cuma lo yang merasa bersalah, yang seharusnya disalahkan itu gue."
Tiba-tiba, rasa ingin memukul seseorang muncul dibenak Erlangga. Tapi mereka sedang berada dipemakaman dengan banyak pelayat. Jangan buat kegaduhan. Begitu yang ada dibenak Erlangga. Mereka sedang berdiri cukup jauh dari makan Kanya, dia hendak mengumpat dan memarahi Edo, tapi kedua orang tua Kanya datang menghampiri mereka saat penguburan selesai.
"Edo, mampir sebentar ke rumah ya." Edo hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah keluarga Kanya keluar dari pemakaman.
Erlangga kembali menatap kedepan, melihat beberapa teman masih berdiri disana. Clarissa masih dalam pelukan Anita, menangis tanpa suara.
__ADS_1
...πΌπΌπΌ...
Bintang menatap datar, pada seorang perempuan yang mengenakan pakaian tahanan dengan tangan terborgol. Kepala perempuan itu tertunduk saat duduk dikursi sidang, mendengarkan semua perdebatan antara jaksa dan pengacara. Gio sudah menyewa pengacara terbaik untuk menghukum pelaku seberat-beratnya.
Bintang menunduk, matanya sempat bertemu dengan perempuan yang sempat bersarang dihatinya. Dia sudah memaafkan perempuan itu karena memiliki darah seorang perusah hubungan keluarganya, tapi, menjadi penyebab kematian orang terdekatnya membuat hati kecilnya kembali marah. Apa lagi saat dia tau kalau mantan kekasihnya itu adalah pembully adiknya.
Pantas saja Raisa selalu menolak saat Clarissa memintanya untuk mengajak Raisa bergabung. Sialnya, Bintang menatap laki-laki disebelah Raisa, adalah saudara Raisa yang mendekati Clarissa selama ini. Hubungannya dengan Raisa sudah hampir 2 tahun, jadi sudah selama itu Raisa membuat siasat untuk menghancurkan kehidupannya, sudah selama itu Bintang bersama orang yang tidak mencintainya.
Raisa dijatuhi sebuah hukuman penjara, Bintang tidak ingin mengucapkan apapun. Pembunuhan ini ternyata sudah mereka rencanakan. Dendam mereka menumpuk, dari ingin balas dendam karena Clara, mama Raisa yang sakit hati pada Dinda sampai Raisa sendiri yang memang tidak menyukai Clarissa.
Bintang memeluk Clarissa erat, mengecup puncak kepala Clarissa begitu banyak. Meminta maaf karenanya Kanya menjadi seperti ini, karenanya yang menerima kehadiran Raisa, Clarissa terisak disana, tapi tidak protes karena Bintang juga pasti sedang menyalahkan diri sendiri. Clarissa tidak ingin membuat Bintang semakin terpuruk.
Doni mengizinkan Bintang untuk menginap diapartemennya sendirian, membuang semua barang milik Raisa. Disatu sisi, dia memang butuh sendiri.
...πΌπΌπΌ...
Belum sempurna. Tapi Bintang sudah mencoba sebaik mungkin. Bintang memang belum siap menjadi ayah, tapi dia sudah siap menerima bayi itu.
Sialnya, Bintang dibohongi. Raisa tidak pernah hamil. Tidak pernah hamil anaknya. Raisa sempat mengungkapkan mengenai dirinya dipersidangan tadi, bahwa dia pernah hamil tapi tidak dengan Bintang. Tapi mereka sudah bersama, dan Raisa keguguran tapi tidak memberitahu Bintang dan tetap membohonginya sampai kemarin.
Bintang berlutut didepan kasur bayi, air matanya jatuh bercucuran. Bagaimana bisa dia mencintai sosok yang tidak pernah ada, ya, Bintang jatuh cinta pada bayi yang hanya Raisa berikan gambar hasil USG. Ayah adalah laki-laki yang akan menjadi cinta pertama anak perempuannya, Bintang akan berusaha sebaik mungkin saat menjadi seorang ayah kelak.
Tidak ada yang lebih sakit dari dibohongi, dikhianati, dibodohi seperti ini. Bintang menjadi andalan bagi keluarganya, tapi kenapa dia menjadi bodoh hanya karena ini? Bintang merebahkan dirinya dilantai, menangis sembari memeluk boneka yang sengaja dia tata.
__ADS_1
Bintang mengerjapkan matanya, mengusap wajah yang dipenuhi air mata. Suara bel membuatnya terbangun, entah berapa lama dia tertidur sampai awan yang semula terang berubah gelap. Bintang tidak ingin diganggu membuatnya membiarkan bel berbunyi beberapa kali.
Cukup lama dia terdiam merenungi kebodohannya sekali lagi. Namun suara bel kembali berbunyi, membuatnya terpaksa mengusap wajah dan berjalan kekamar mandi untuk membasuh wajah sembabnya. Mungkin raut wajah dan mata tidak bisa membohongi, tapi setidaknya dia masih terlihat segar. Bintang berjalan menuju pintu dengan langkah sempoyongan, hatinya hancur dan raganya terbawa oleh kehancuran itu.
Pintu terbuka, terlihat sosok yang sempat mengacaukan pikiran Bintang saat dia kekeh mempertahankan perempuan yang mengkhianatinya. Perempuan itu tersenyum tipis, berlari masuk dan melepaskan sandalnya dirak lalu berlari menyusuri ruangan yang pernah dia singgahi.
Bintang menghela napasnya, menutup pintu dan berjalan menyusul perempuan yang menyelonong masuk tanpa permisi. "Pergi."
"Clarissa bilang kamu disini, aku bawa makanan, temani aku makan." Ucapnya tanpa mendengar Bintang sedang mengusir, yang ditawari makan hanya diam memandang datar. Matanya mengikuti pergerakan perempuan itu berlari menuju kitchen set, meraih dua piring dan dua set sendok garpu.
"Ayo sini." Katanya sembari menaruh peralatan yang dia bawa kemeja tengah, perempuan itu berlutut membuka makanan yang dia bawa dan dia pindahkan keatas piring.
Perempuan itu menatapnya yang masih berdiri mematung, "kenapa diam aja. Sini..."
Bintang berjalan cepat, menarik lengan perempuan itu hingga membuatnya meringis sakit dan ikut berdiri. "Sakit, Bintang."
"Aku bilang, pergi."
"Kenapa? disini gak ada siapa-siapa kan? biar aku temani kamu." Ungkapnya tanpa berpikir, dia menarik tangannya dan hendak kembali melanjutkan kegiatannya yang tidak diharapkan disini.
"Jangan buat aku marah."
"Ya marah aja." Malas menanggapi, Bintang pergi menuju kamarnya meninggalkan perempuan yang berteriak memanggil namanya berulang kali.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ