Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:46


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


"Tumben," cagilan Bintang tidak direspon. "Dek."


"Hm.."


"Tumben,"


Dinda melihat kearah Bintang, "tumben kenapa kak?"


"Biasanya kalau ada Putra, Ica suka gak bisa gerak, ini tadi gesit banget sampai Putra gagal nyentuh." Lengannya dicubit Clarissa keras sampai dia meringis. "Sakit dekk..."


"Kak Bintang apaan sih," kembali duduk dan memasang sabuk pengamannya.


"Sakit tau," menatap sang mama dengan wajah memelas, Dinda yang melihat itu tersenyum tipis lalu mengelus bekas cubitan putrinya.


"Makanya jangan ganggu adik kamu apalagi itu soal Putra. Kamu lagi, sudah mau jadi papa kok manja sih," masih tetap mengelus lengan Bintang.


Bintang terkekeh. "Kan sama mama juga,"


"Bagaimana kabar Raisa?"


"Baik ma,"


"Masih kontrol kandungannya kan?"


"Iya, kemarin Bintang anterin Raisa ketemu sama Dokter Eva, yang menggantikan kerja mama."


Dinda mengangguk. "Kapan mau nikahi dia? keburu kandungannya besar loh, mama harus ketemu sama keluarganya, kak."


"Mama papanya masih ada di luar negri ma, belum ada rencana pulang katanya." Bintang menatap kedepan lagi. "Raisa bilang juga belum siap,"


"Kapan siapnya? apa kalian mau merawat anak itu tanpa pernikahan?" Dinda menggeleng. "Dunia memang sudah lebih modern, tapi hamil diluar nikah saja tidak boleh apalagi sampai hidup satu atap tanpa pernikahan."


"Bukan begitu ma. Nanti Bintang akan membicarakan hal ini lagi sama Raisa."


...🌼🌼🌼...


Mobil baru saja terparkir dan Clarissa sudah berlari keluar, mendorong pintu rumah dengan semangat, rumah yang sudah dia tinggalkan tanpa sekalipun dia melihat.


"Bi Sitiiii...." Teriaknya kuat. "Bii...." Panggilnya berulang kali, dia tidak menemukan pelayan rumahnya dimanapun.

__ADS_1


Clarissa berlari keluar rumah lagi, melihat mamanya dan kakaknya sedang menuruni koper lalu menariknya naik keatas teras rumah.


"Ma, bi Siti kok gak ada?"


Dinda menatap putrinya sekilas lalu beralih menatap koper yang segera dia tarik. "Pagi tadi katanya mau pulang kerumahnya sebentar, nanti malam mungkin sudah kembali kerumah ini sayang."


"Okey deh, Ica kekamar dulu ya ma?"


"Iya, hati-hati jangan lari-lari nanti kamu terjatuh."


Clarissa tidak menjawab, dia tetap berlari sesukanya menaiki anak tangga satu persatu dan langsung membuka pintu berwarna cokelat miliknya. Clarissa membuka pelan dan senyumnya terus mengembang lebar, sepertinya bi Siti telah mengganti sepreinya karena mendapat kabar dirinya akan pulang. Clarissa merebahkan diri diatas kasurnya, menatap langit-langit kamar dengan kaki yang dia ayunkan karena menggantung.


Matanya baru terpejam beberapa menit dan sesuatu bergerak dari sebelahnya. Clarissa tahu kalau itu adalah kakanya, yang ikut merebahkan diri disampingnya.


"Dek."


"Hmm,"


"Kalau kakak sudah menikah dengan Raisa, kamu lebih suka kami tinggal disini atau enggak?"


"Tergantung."


"Tergantung kenapa?"


"Ya dia bagaimana sama Ica dan mama,"


"Kalau dia baik, mengerti tentang mama dan Ica, ya kenapa ada masalah sama tinggal dirumah."


"Kakak ragu,"


"Ragu kenapa?" dia mendongak, melihat Bintang yang tidur lebih tinggi darinya.


Bintang memiringkan tubuhnya untuk menatap Clarissa lebih jelas. "Terkadang, kakak merasa dia tidak benar-benar ingin menjalin hubungan dengan kakak."


"Tapikan dia sudah mengandung anak kakak." Clarissa menatap Bintang. "Jangan bilang kakak ragu sama bayi yang dikandungannya."


"Yee, gak gitu dong."


"Terus kenapa?"


"Kamu ingat Meysa?" Menarik bantal dan dia jadikan sanggahan untuk kepalanya. Melihat Clarissa mengangguk, membuat Bintang menghembuskan napasnya. "Setiap ketemu sama dia, kakak malah jadi kepikiran dia terus."


"Kakak tau kan?"

__ADS_1


"Iya. Dia yang sudah ganggu kamu karena kamu dekat sama Putra kan?"


Clarissa mengangguk. "Ica tau kalau dia deketin Putra karena disuruh sama kakeknya, dan Ica tau kalau dia masih suka sama kakak, tapi enggak tau kenapa dia selalu nyakitin Ica."


"Iya, kakak inget."


"Sampai kapanpun, Meysa tidak akan pernah bisa akur sama Ica. Mungkin Ica bisa, tapi tidak untuk dia."


"I-iya." Bintang semakin menjawab ragu.


"Kakak harus bertanggung jawab. Mungkin kak Raisa bersikap beda karena bawaan bayi, jangan goyah hanya karena Meysa mengatakan masih rindu sama kakak." Clarissa memberi jeda. "Itu cobaan."


"Iya maaf,"


"Bukan salah kakak."


"Terus salah siapa?"


Clarissa menggidikkan bahunya. "Menurut kakak salah siapa?"


"Soal apa?"


"Gak tau ah," Clarissa memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan tangan yang terlipat, matanya terpejam namun dia tidak sedang tertidur. "Kalau dilihat-lihat, Meysa itu anak yang kurang kasih sayang beda sama Ica yang selalu dapat kasih sayang dari siapapun. Mungkin itu kenapa dia selalu melakukan hal jahat sama Ica, karena orang yang dia inginkan cuma perduli sama Ica."


"Hah? apa hubungannya."


"Putra, tante Anita, kak Bintang, kalian semua orang yang dulu perduli sama Meysa."


"Kak Bintang kan kakak kamu, wajar dong kalau kakak sayang sama kamu."


"Alasan kalian putus?" Bintang terdiam. "Karena kakak sibuk jagain Ica kan? kakak sibuk nemenin Ica dirumah sakit sampai lupa kalau Meysa butuh ditemenin kakak saat papanya operasi."


Bintang masih diam.


"Mungkin itu alasan dia benci banget sama Ica, padahal sakit Ica gak parah, cuma Ica gak mau aja kalau kakak nemuin dia." Mungkin, dulu karena Clarissa masih manja, padahal sudah berulang kali dia dirawat dirumah sakit dan orang tuanya serta Bintang harus berada didekatnya. "Kak, sejahat apapun Meysa sama Ica, Ica gak akan benci balik ke Meysa. Bahkan Ica akan terima dia kalau suatu saat dia ingin berteman."


"Ica gak salah. Jangan berharap lebih, dia bukan perempuan kebanyakan yang mau baik sama orang yang dia udah jahatin. Dia terlalu egois." Bintang menutup mulutnya kembali ketika ponsel dalam sakunya bergetar, dia merogoh dan membaca nama yang tertera. "Bentar ya, ini Raisa."


Bintang berdiri dan berjalan menuju pintu. "Iya sayang... I miss you too."


Clarissa berdecak pelan, dia menatap keluar jendela menerawang pandangannya, kakinya yang menjuntai dia ayunkan lagi. Dia benar dalam ucapannya, walaupun Meysa dan teman-temannya suka mengganggu bahkan parahnya sampai membuatnya masuk rumah sakit, dia tetap memaafkan mereka.


Karena memaafkan bukanlah perihal melupakan, melainkan tentang melepaskan rasa sakit.

__ADS_1


Kata-kata itu juga ia khususkan untuk sang papa.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2