Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:31


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Clarissa menatap lama perempuan dihadapannya, mantan tunangan laki-laki yang dia kagumi sejak SMP. Mendengar pengakuan Marisa bahwa mereka tidak pernah merasakan perasaan suka yang mendalam membuat hatinya merasa hangat. Walaupun dia menyadari bahwa perasaan senang ini tidak akan mengubah apapun soal kedekatannya dengan Putra. Cukup lama mereka saling menatap, Marisa menunggu jawaban darinya kenapa menanyakan perihal itu, dan Clarissa juga belum menemukan jawaban yang mengenakkan.


Tatapan Marisa teralihkan, perempuan itu mengangkat tangannya tinggi. Clarissa ikut melihat kearah yang dilihat Marisa, seorang laki-laki tengah berdiri diambang pintu mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin hingga matanya menangkap lambaian tangan Marisa. Daze berjalan menuju kearah mereka dan berdiri tepat disisi kanannya, menatap Clarisa.


"Ca, yuk,"


"Kemana?"


"Lo dicari Putra."


Marisa menopang dagu menatap pacarnya itu. "Kok bukan Putra sendiri yang kesini?"


"Dia lagi diruangan om Gio, aku disuruh bawa Clarissa ke ruangan Erlangga. Soalnya dia lagi menuju kesana." Jawabnya, lalu kembali menatap Clarissa yang masih terdiam. "Ayok, Ca? sudah selesai makan juga kan?"


"Sayang, makan dulu ya? kamu kan belum makan siang, tadi kita buru-buru kesini." Marisa bediri. "Aku pesankan,"


Daze menahan lengan Marisa agar tidak pergi. "Jangan sayang, aku cuma disuruh Putra untuk jemput Clarissa. Nanti kita makan diluar ya?" Laki-laki itu kembali menatap Clarissa, memintanya untuk ikut dengannya menemui Putra.


Clarissa berdiri saat Daze memberikan jalan untuknya. "Daze, lo disini aja, gue bisa sendiri kok."


"Jangan,,,,"


"Lo belum makan? Marisa itu khawatir sama lo, jangan terlalu ambil pusing soal gue. Lagian cuma jalan dari kantin ke ruangan Erlangga gak masalah kok." Namun kalimat panjang lebar Clarissa tidak membuat Daze melepaskannya dengan mudah.


"Bisa marah dia, kalau lihat lo enggak barengan sama gue." Tangan yang masih mencekam lengan Marisa menurun hingga menggenggam perempuan itu. "Kamu juga ikut kembali keruangan Er, ya sayang."


Diamnya Marisa membuat Clarissa merasa tidak enak, dia dapat membaca kalau Marisa tidak menyukai situasi ini. Perempuan itu melepaskan genggaman Daze. "Kalian duluan saja, nanti aku nyusul."


"Kenapa?"


"Aku mau beliin kamu roti, aku juga gak mau kamu sakit Daze."


Daze tersenyum tipis. "Makasih ya sayang."


"Maaf ya Marisa."


Ungkapan permintaan Clarissa membuat Marisa berhenti mendadak dan menatapnya. "Maaf untuk apa ya?"


"Karena sudah mengganggu waktu kalian."


"Ya ampun, enggak apa-apa loh Clarissa." Perempuan itu tersenyum lebar. "Sudah duluan saja, aku mengerti Putra kok."


Setelah melihat Marisa berjalan menuju kasir untuk memesankan makanan untuk Daze, keduanya langsung keluar menuju ruangan Erlangga. Daze tidak seperti biasanya, membuat Clarissa mengingat ucapan Erlangga beberapa waktu yang lalu. Bahwa bagi laki-laki itu Clarissa adalah sebuah beban untuknya, karena Putra selalu meminta mereka untuk menjaganya. Sedangkan Clarissa sama sekali tidak merasa special hingga harus diperlakukan sedemikian. Clarissa mendongak menatap Daze, apakah Daze juga berpikiran yang sama dengan Erlangga?


"Daze,,,"


"Hem?" Laki-laki itu menatapnya.


Clarissa kembali berpikir, mungkin akan menyakiti hatinya jika bertanya tentang perasaan mereka yang terus-terus menuruti perintah Putra.


"Kenapa?" tanyanya lagi ketika tidak mendapatkan satu kalimatpun dari Clarissa. "Lo ada yang sakit?"


Langkah Clarissa berhenti membuat laki-laki itu juga menghentikan langkah. "Gue bisa minta tolong?"


"Oh, bisa bisa, lo mau apa?"


"Jangan turutin apa mau Putra."


"Hah? kenapa?"


"Gue ngerasa, selalu menjadi beban untuk kalian. Bahkan disaat kalian harus menjaga pasangan kalian malah disibukkan dengan gue."


Daze hanya tersenyum. "Ica, gue paham kok perasaan lo. Tapi semua pasangan kita itu lebih mengerti dari pada lo. Kami semua masih dibawah Putra, keluarga Adietama selalu membantu kami dan itulah alasan kami terus ingin membantu Putra."


"Tapi enggak gini,"


"Gini gimana? Putra cuma meminta hal-hal kecil yang kebetulan berhubungan sama lo dan itu enggak masalah buat kami." Daze memiringkan tubuhnya hingga menatap Clarissa penuh. "Ca, semua pasangan kami udah dikasih peringatan kok tentang ini, kalau enggak percaya tanya aja sama Delisa."


"Tapi......"

__ADS_1


"Orang tua kami sama sekali tidak pernah mendoktrin kami untuk bebuat seperti ini. Tapi kami sendiri yang menyadari betapa baiknya keluarga mereka, dan yang membuat kami semakin simpati, keluarga Adietama sama sekali tidak melupakan tentang rasa hormat kepada orang lain." Daze menepuk pundak Clarissa. "Kami cuma mau yang terbaik untuk Putra. Sekalipun Putra meminta hal yang lebih sulit, itu enggak akan membuat kami menolak. Walaupun Putra tidak pernah memaksa kami berbuat demikian."


Obrolan mereka berhenti ketika Daze membuat isyarat untuknya diam, laki-laki itu menunjuk ujung lorong. Terlihat Putra tengah berjalan sembari memainkan ponselnya, mungkin tidak menyadari kalau mereka tengah berdiri menatap.


"Putraaa...."


Laki-laki itu mendongak, dia memasukkan ponsel kedalam saku dan semakin melebarkan langkahnya. "Ca, keruangan Erlangga dulu ya? aku mau nemuin papa."


Clarissa mengangguk,


"Put, gue ke kantin gak apa-apa kan? Marisa masih disana."


"Iya, ada Rinda kok diruangan Erlangga."


"Loh, si Noel?"


"Dia lagi anter oma pulang, kondisi lagi enggak sehat karena kejadian ini. Makanya Noel anter oma,"


"Oh, bener juga sih, tadi kelihatan pucet banget." Daze menatap Clarissa. "Ca, gue balik ke kantin dulu ya."


"Iya, makasih."


Daze merespon ucapan terima kasih Clarissa dengan tersenyum dan dia berlari meninggalkan mereka berdua.


"Udah makan kan?" tanyanya sembari menyelipkan rambut Clarissa kebelakang telinga.


Clarisaa menelan salivanya kesusahan. Clarissa butuh oksigen penuh. "Su-sudah."


"Ke ruangan Erlangga sendiri tidak apa-apa kan?"


Clarissa tersenyum tipis, dia bukanlah anak kecil yang hanya menyusuri lorong dengan ketakutan ketika sendirian. Dia mengangguk, lalu berjalan melewati Putra tanpa mengatakan sepatah katapun.


Kakinya terasa lemas saat Putra mengelus puncak kepalanya ketika dia baru mulai melangkah pergi.


Dulu, Clarissa selalu menginginkan berada didekat Putra. Bahkan dengan pikiran kotor meminta papanya untuk menjodohkan mereka. Tapi keinginannya bukan hal semacam ini, mendapat perhatian yang sangat berlebihan dari teman-teman Putra bahkan dari laki-laki itu sendiri. Semula dia merasa kaget, namun seiring berjalannya waktu perhatian itu sudah tidak asing lagi baginya. Sayangnya kalimat tenang Erlangga membangunkannya dari mimpi indah.


...🌼🌼🌼...


Tangannya terangkat pada knop pintu, lama dia tatapan sebelum memutarnya dan mendorong kecil. Terlihat Rinda tengah berbaring di sofa sembari memainkan ponsel. Melihatnya masuk Rinda langsung duduk dan menatapnya sampai dia berdiri didekat laki-laki itu.


"Sudah, lo?"


"Belom nih," mengelus perutnya.


Clarissa harus bagaimana? ini pertama kalinya ia berbicara dengan Rinda. "Makan aja, biar gue yang tunggu disini."


"Eh, seriusan?" Clarissa mengangguk, membuat Rinda berdiri dan tersenyum kegirangan, bahkan laki-laki itu sempat berlari hampir memeluknya namun dibatalkan tanpa sebab. "Sumpah Ca, perut gue keruyukan terus...."


"Yaudah ke kantin aja, nanti kalau ada apa-apa biar gue panggil Suster atau Dokter. Di kantin masih ada Marisa sama Daze kok." Ucapnya, mencoba meyakinkan Rinda kalau dia tidak apa ditinggal sendirian menemai Erlangga yang belum juga sadar. Lagian, ditinggalkan hanya berdua dengan Rinda malah membutnya bingung, selama ini dia belum berinteraksi banyak kepada teman-teman Putra selain Daze.


Rinda mengangguk, dia sempatkan menepuk puncak kepala Clarissa dengan lembut. "Okey, gua pamit ya."


Sudah dibilang. Clarissa tidak lagi kaget mendapat perlakuan seperti itu, semua teman-teman Putra memang selalu melakukan hal itu padanya. Menepuk, mengelus puncak kepalanya, atau bahkan mencubit pipinya jika tidak sengaja berpapasan. Hanya Noel yang mungkin menjaga perasaan Delisa, tapi saat mereka belum berpacaran Noel juga melakukan hal yang sama. Clarissa menatap Erlangga, laki-laki yang memiliki ketajaman saat bicara itu juga tidak melakukan hal yang sering dilakukan oleh teman dekat Putra lainnya.


Walaupun ini pertama kalinya Clarissa berinteraksi dengan Rinda, laki-laki juga selalu melakukan aksi gemas kepadanya saat bertemu. Tapi tidak dia temukan saat mereka bertemu dengan Marisa.


Clarissa duduk disofa bekas Rinda berbaring tadi, dia mengeluarkan ponsel dan mulai membuka aplikasi game yang sering dia mainkan setelah mengecilkan volume suara. Sebelum itu dia melihat kearah Erlangga sekilas memastikan kalau Erlangga masih dalam kondisi belum sadar.


"Yess..." Bibirnya bergumam, hampir 30 menit dia dapat mengalahkan semua pemain. Ekor matanya melihat pergerakan dari arah Erlangga, membuatnya buru-buru berdiri dan berjalan mendekat.


"Er-langga...." Panggilnya lirih, apa ini pertama kalinya Erlangga sadar dari tidurnya, namun gelagat aneh diberikan oleh laki-laki itu. Erlangga masih memejamkan mata, tapi gerakan cepat dan menegang laki-laki itu membuat Clarissa panik. "Erlangga....."


Panggilan Clarisaa tidak ada jawaban semakin membuatnya panik, dia menekan Alarm peringatan berulang kali agar para tim medis cepat datang. Kejangnya tubuh Erlangga yang semakin kuat membuat Clarisaa takut, tim medis belum juga terlihat.


"Haahhhh!!!???!" teriakan laki-laki itu membuat Clarissa membatalkan untuk pergi, dia menoleh melihat Erlangga duduk dengan napas tidak teratur, dengan pandangan kebingungan.


"Erlangga..." Panggilnya saat menghampiri laki-laki itu, seperkian detik tubuh Clarissa menengang. Secara tiba-tiba saja Erlangga memeluknya tanpa mengatakan apapun.


Dia mencoba melepaskannya namun pelukan itu terlalu kencang, seakan tidak ingin dirinya pergi kemanapun.


"Jangan pergii......"


Cukup lama Clarissa dalam pelukan Erlangga. Tidak satupun Dokter atau barangkali perawat yang lewat untuk dimintai Clarissa pertolongan. Saat perlahan pelukan itu merenggang, membuat Clarissa bergegas menjauh dan mata mereka bertemu. Namun tatapan itu terlihat sangat kosong, dengan penuh keberanian Clarissa mendekat, walau tangannya yang gemetar tidak bisa dia kontrol.

__ADS_1


Dia maju dan menuntun Erlangga untuk berbaring lagi, melihat apakah ada yang salah dari laki-laki itu. Setelah merapikan selimutnya, dia berjalan keluar berniat memanggil Dokter. Tapi Clarissa tersentak ketika pintu mendadak terbuka dengan hentakan keras.


"Sayang....."


"Om Gio, Erlangga sadar...." Dia mendadak memeluk tubuh pria itu, tangannya gemetar ketakutan.


"Tenang ya,," Gio menarik Clarissa untuk merapat ke dinding, memberikan tim Dokter dan perawat untuk memeriksa kondisi Erlangga.


Clarissa semakin mengeratkan pelukannya saat Erlangga tidak melepaskan tatapan tajamnya terhadapnya. Sayangnya tidak ada yang menyadari akan hal itu.


"Pa...." Putra masuk, diikuti teman-temannya.


"Kalian keluar dulu," melepaskan pelukan Clarissa. "Beri ica minum, dia tampak terkejut."


Dengan lembut Putra menarik Clarissa dan meminta teman-temannya untuk keluar, dia mendudukkan Clarissa dikursi depan yang disediakan oleh Rumah Sakit disamping Marisa. Clarissa menegak air putih pemberian dari Marisa.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Marisa.


Clarissa menggeleng. "A-ku kaget..."


Putra duduk disamping kirinya mengelus puncak kepalanya, melihat keadaannya dengan saksama. Saat Putra akan berdiri ingin melihat keadaan Erlangga, Clarissa menahannya dengan menahan ujung kemeja sekolahnya yang tidak dia masukkan, memintanya untuk tetap duduk tanpa perkataan.


Laki-laki itu menuruti keinginannya, duduk disampingnya dengan mata tanpa menatap kearah lain. Entahlah, Clarissa juga tidak tau kenapa melakukan hal itu, pikirannya hanya berpusat pada tatapan tajam Erlangga tadi.


Beberapa langsung berdiri dan mendekat saat pintu terbuka, memperlihatkan Gio yang diikuti tim medis.


"Kalian masih disini?"


"Lalu kami harus kemana?" jawab Noel dengan kesal mendengar pertanyaan Gio. Dan sialnya pria itu tidak menanggapi lebih lanjut.


Tim medis berpamit pergi meninggalkan satu Dokter yang dicegah oleh Daze agar tidak pergi. "Erlangga bagimana pa?"


"Bagaimana apanya?" jawaban Gio yang langsung memotong pertanyaan anak kepada bapaknya itu membuat semuanya berdecak.


Dokter Indra tersenyum menatap Gio dan dia menatap putranya lagi. "Tidak apa-apa, semua baik-baik saja. Nanti kita lakukan check-up untuk melihat kondisinya keseluruhan." Pria gemuk itu menatap Gio. "Saya pamit Dokter Gio,"


"Iya Dokter Indra, terima kasih."


Dokter Indra berhenti tepat dihadapan Marisa, membuat perempuan itu berdiri tersenyum kepadanya. "Sudah makan?"


"Sudah om,"


"Baguslah."


"Jangan khawatir Dokter Indra, dia kan baik-baik saja selagi berada dilingkungan saya." Gio menatap Indra dengan seringai bercanda.


"Anda masih tidak terima ya kalau Marisa akan menjadi menantu saya?"


Tawa Gio memecah keheningan. "Enak saja, aku sudah ikhlas."


Indra memposisikan diri menatap Gio penuh. "Dih, mentang-mentang sudah mendapatkan pengganti. Benar kata Bram ya? tidak bisa mendapatkan ibunya kamu meraih anaknya." Bagaimana bisa dua pria dewasa itu bercerita mengenai masalah pribadi didepan anak-anak.


Tawa Indra berganti memecah keheningan, bahkan membuat Rinda yang mengerti cerita ini ikut tertawa. Dan Gio menatap Rinda dengan mata bulat.


"Diam kamu Rinda."


"Maaf om,"


Gio berjalan menghampiri Indra dan merangkul setelah menepuk lengannya dengan kuat. "Dasar. Marisa ikut keruangan om."


"Kenapa?"


"Om Firman sedang ada diruangan om," dia meminta Marisa untuk berdiri. "Katanya kamu saksi disana,"


"Papa Noel disini?"


"Iya, terus kamu mau apa?" Tatapan Gio membuat Noel tidak banyak bertanya. "Kamu juga Putra."


"Kok Putra?"


"Ya terus???" Gio berganti menatap Putra. "Kan kamu yang ngotot minta ini diperjelas."


"Putra enggak bisa."

__ADS_1


Gio melepaskan rangkulannya pada Dokter Indra, dia menatap Putra yang masih duduk disamping Clarissa.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2