
...sometimes it's okay, feel bad about yourself...
...πππππ...
Clarissa menghentikan langkah saat melihat Azka melambaikkan tangan kearahnya dan berjalan menghampiri. "Clarissa, mau pulang bareng gue gak?"
"Enggak!!!" Clarissa dan Azka menoleh kesumber suara, menatap seorang pria berwajah datar tengah berdiri menatap keduanya. "Lo udah dijemput sama om Gio didepan."
Sepertinya Erlangga telah menyampaikan jawaban Clarissa pada Azka terlebih dahulu. Hal itu tidak membuat laki-laki berpenampilan berandal itu menyerah, dia berjalan mengikuti langkah Clarissa dibelakang Erlangga. "Kapan-kapan pulang bareng yuk."
"Gak bisa!!" Clarissa menghentikan langkahnya, dia mendongak menatap Erlangga, laki-laki itu menjawab lagi.
Azka memasang wajah tidak sukanya. "Lo siapa sih?"
"Erlangga Davin Anderson, dua belas IPA dua." Berjalan kehadapan Azka, menutupi Clarissa dari laki-laki berandal itu.
Laki-laki dengan anting-anting ditelinganya berdecak. "Maksud gue, kenapa lo yang jawab."
"Karena itu jawaban yang mau Clarissa keluarkan." Jawabnya tanpa ekspresi.
"Sok tau lo."
Clarissa mengangguk menatap Azka dari balik punggung Erlangga. "Bener kata Erlangga, gue emang mau jawab itu tadi."
"Tega bener lo?" Erlangga tersenyum sinis menatap ekspresi sedih yang dipasang Azka, Clarissa malah bergidik ngeri, ekspresi itu tidak membuatnya goyah atau apapun.
Erlangga menarik tangan Clarissa, "takut om Gio nunggu."
"Dada,,,, Clarisaa...." Dengan tampang bodoh Azka melambaikan tangan kearahnya, oh astaga, Clarissa benci ekspresi itu.
Mereka berjalan beriringan tanpa menoleh lagi kearah Azka, untuk apa? mereka berdua itu memiliki sifat yang sama, tidak perduli pada orang lain. Sifat yang buruk.
Terlihat Gio tengah berdiri bersandar pada mobil sibuk memainkan ponselnya, Erlangga langsung melepaskan genggamannya pada tangan Clarissa, dia tidak ingin dipandang lain oleh Gio.
"Hai om." Sapa Erlangga.
"Hai,,, maaf merepotkanmu Er."
Erlangga menggeleng. "Gak masalah om, kebetulan Clarissa sudah didekat gerbang."
"Mau pulang bersama?" tawar Gio.
"Gak usah om, Er bawa mobil, mau jemput oma disalon langganannya."
Gio tertawa sembari memukul bahu Erlangga. "Oma mu ya, sudah berumur tapi masih tetap memikirkan penampilannya, nanti om atur kapan bisa bertemu dengannya sekaligus menanyakan perihal usaha mebel oma mu, sampaikan salam om ya."
"Iya om,"
Erlangga menunduk kecil setelah mobil Gio melewatinya sembari mengklakson pelan.
"Kenapa om?" karena melihat Gio tiba-tiba tersenyum tipis melihat Erlangga.
Gio menggeleng. "Ah engga, gemes aja sama Erlangga, terakhir lihat dia tertawa keras sewaktu dia masih kecil. Sekarang lihat dia tersenyum aja tidak pernah."
"Jadi Putra sama Erlangga temenan dari kecil? ica kira mereka akrab semenjak SMA ini, soalnya setau ica Erlangga bukan dari SMP Bina Jaya." Suatu kebanggaan bagi Gio, Clarissa tidak pernah berbicara panjang dengan siapapun, itu yang dia dengar dari Dinda. Dia akan menyombongkan diri nanti pada istrinya.
Gio menggeleng. "Omanya dulu harus mengurusi penjualan rumah dan kebun orang tuanya, makanya Erlangga tidak SMP disini."
Mulut Clarissa membulat.
"Hanya Noel dan Daze yang teman sejak SMP nya, mereka berdua satu sekolah sama kamu kan?" Clarissa mengangguk. "Kalau Rinda lawan main basketnya dulu." Clarissa mengangguk lagi. "Om senang Putra memiliki teman-teman seperti mereka."
"Kenapa?"
"Rinda yang cerewet tapi nurut sama Putra, Daze yang setia menemani Putra sekalipun Putra tengah marah besar padanya, Noel yang selalu membantah ucapan Putra tapi selalu siap membantu apapun kesulitan Putra, Erlangga yang diam dan nurut, kemungkinan karena malas beradu argument dengan Putra tapi dia adalah teman yang baik." Gio tersenyum tipis. "Ahh semuanya teman yang baik bagi Putra, makanya om selalu siaga jika mereka membutuhkan bantuan om."
Clarissa tersenyum. "Hem, seperti itu lah persahabatan, Ica sama Anya juga sering berantem tapi selalu baikan."
"Dan kamu...."
"Ica??" Clarissa menunjuk dirinya heran.
"Kamu yang selalu menghindar dari Putra." Clarissa menepis tangan Gio yang berada pada hidungnya. "Yakan??"
"Enggak, Ica gak pernah menghindar dari Putra." Elaknya.
"Sampai kapan sayang." Gio menekan klakson saat motor Putra tengah melewati mobilnya. "Hais, anak itu masih suka ugal-ugalan kalau naik motor."
"Om..."
"Hem.."
"Enggak jadi deh." Gio diam, dia seperti mengerti apa yang tengah Clarissa pikirkan.
"Sampai kapan kamu akan bersikap dingin pada Putra. Om sangat senang jika kamu mau terbiasa dengannya, dia anak yang baik, walau terkadang memang anaknya keras kepala. Sesuatu yang membuatnya tertarik akan dia kuasai dan jika seseorang mengganggunya dia tidak akan tinggal diam." Gio menatap sebentar sebelum melajukan kemudinya setelah lampu lalu lintas berwarna kuning. "Soal anak-anak perempuan yang mengganggumu, kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Mereka tidak akan berani mengganggumu lagi."
__ADS_1
Pikiran Clarissa menerawang pada hari lalu, ketika melihat Meysa tengah duduk berlutut didekat kaki Gio. "Apa karena hari itu Meysa kerumah?"
"Dia meminta maaf, berjanji tidak akan mengganggumu lagi." Ucapnya. "Sekali dia katakan janji, dia tidak akan mengulanginya, tenang saja."
"Om melakukan sesuatu padanya? kenapa sampai berlutut?"
"Om tidak melakukan apapun, tapi Putra yang melakukannya." Terdengar Gio menghela nafas, "dia melakukan itu atas kemauannya sendiri, dulu Meysa bukanlah anak yang seperti itu, karena pengaruh kakeknya dia berusaha Mendapatkan Putra."
"Kakek?"
"Um kakek yang jahat," bisiknya, "mau om beritahu sesuatu?"
Clarissa menoleh, dia memang sedang memikirkan sesuatu, tapi sepertinya Gio memahami pikirannya, "apa itu om?"
"Meysa anak yang menggemaskan, sama sepertimu?" Clarissa tersenyum tipis, dia memikirkan dari mana asal sisi menggemaskan perempuan judes itu. "Betul, hanya saja, kakeknya itu sangat menginginkan dia menjadi menantu om, makanya dia berubah seperti itu."
"Kenapa tidak om jadikan saja, mungkin dia tidak akan berubah."
"Haih, mana bisa, om tidak mau memiliki menantu darah daging istri om sendiri, kamu kan tau Anita orang yang egois, pasti anaknya juga seperti itu." Ucapnya dengan nada setengah kesal.
Apa?
Apa Clarissa salah dengar?
Putra dan Meysa.....
"Putra dan Meysa kakak beradik? bagai-bagaimana bisa???" Clarissa sangat terkejut dengan arah pembicaraan ini.
Gio mengangguk pasti. "Dulu saat Anita menikah dengan Raka, papanya Meysa. Keluarganya itu tidak ada yang setuju. Pada saat itu dokter kecantikan belum banyak dicari oleh kebanyakan orang. Jadi mereka pikir Anita hanya akan menghambat kesuksesan anak satu-satunya mereka. Sewaktu Meysa berumur tiga tahun Anita meninggalkannya karena paksaan dari keluarga Raka."
Meysa yang malang.
"Bekerja dirumah sakit dan Putra sangat menyukai wanita cantik itu."
Clarissa menoleh. "Jadi tante Anita bukan ibu kandung Putra?"
"Hem, ibunya sudah lama meninggal, dan dia sangat menyukai Anita." Gio tersenyum kecil, "dari situlah om menikahinya, baru satu tahun pernikahan. Kami mendapat kabar bahwa perusahaan Raka jatuh bangkrut serta dia jatuh sakit dan seluruh keluarga yang selalu ada untuknya berpura-pura tidak tau. Meysa tinggal bersama seorang perawat wanita dirumah kecil. Makanya om mengambil Meysa dan membiarkan Anita merawatnya, om juga senang Putra sangat menyayangi Meysa saat itu."
Tidak, ini bukan cerita terbaik untuknya, lalu kenapa Meysa begitu sangat menginginkan Putra, bahkan sangat membenci dirinya karena dia dan Putra memiliki kedekatan.
"Jawabannya adalah kakeknya."
"Hah?" Clarissa menatap Gio lagi.
Clarissa mengangguk samar.
"Karena kakeknya. Setelah tau Anita menjadi istri om, keluarga itu datang dan meminta maaf. Mereka mengatakan akan merebut paksa Meysa jika om tidak menjadikan cucu perempuan mereka menjadi menantu om," Gio mendengus, "kamu pikir orang yang tumbuh saling bergangtung dengan sebutan kakak beradik bisa tumbuh cinta? Tidak kan? Dan lagi, permintaan macam apa itu."
Clarissa menggeleng.
"Saat itu juga om kembalikan Meysa, dengan janji akan merawat Raka sampai sembuh, ya walaupun itu mustahil."
"Apa om Raka masih dirawat dirumah sakit?"
"Iya,"
Clarissa mengingat sedikit ketika tidak sengaja melihat Meysa tengah keluar dari salah satu ruangan rumah sakit. "Ica pernah lihat Meysa disana."
"Mungkin setelah om pulangkan Meysa, keluarganya memberikan pemikiran kepadanya untuk mendapatkan Putra, begitu." Gio menghela napas. "Walau terkadang om merasa menjadi orang yang paling buruk karena sudah berusaha menjauhkan ibu dari anaknya."
"Itu, takdir dari yang kuasa om."
Kepala Clarissa di elus pelan, "kamu jangan khawatir, perasaan Meysa hanya obsesi semata, bukan benar-benar menginginkan Putra."
"Hehe, kenapa om katakan itu pada Ica?"
"Tidak ada alasan. Hanya ingin menyelamatkan seseorang dari kesakitannya."
"Om orang baik,"
Clarissa tertawa kecil, "kamu pandai memuji."
"Kenapa om enggak menyelamatkan mama dulu, mungkin mama akan bahagia sama om dibandingkan sama papa."
Gio menggeleng, "jangan bicara seperti itu sayang, dengan membantu mama mu mempertahankan kamu dan Bintang saja om sudah senang. Kalau om berjalan baik dengan mamamu, kemungkinan kamu tidak ada sekarang."
Clarissa menunduk. Tidak ada mungkin lebih baik, karena percuma saja ada kalau tidak pernah dianggap. Meremas dasinya hingga basah.
"Huah, lega rasanya mengeluarkan unek-unek yang selama ini dipendam."
"Om tidak pernah menceritakan pada siapapun."
"Pernah." Gio tersenyum simpul, "ibu dan anak tau cerita pedih om ini."
"Mama tau ini?"
__ADS_1
"Tentu saja, cerita lengkapnya."
Clarissa tersenyum tipis. "Boleh Ica kasih saran, om adalah orang terbaik yang Ica kenal, apapun yang om lakukan saat ini, itu adalah pilihan terbaik yang om ambil, seperti mama. Menurut Ica, pertahankan kebaikan om untuk keluarga om, karena Ica yakin, akan ada bahagia suatu saat nanti diatas kepedihan yang seseorang terima saat ini."
Gio merentangkan telapak tangan, segera Clarissa meraihnya. "Terima kasih sudah menguatkan, om janji akan menjaga kamu sebaik mungkin."
"Terima kasih om," Gio melepaskan tautan tangan mereka karena mobil sudah memasuki halaman rumah mewah Aditema.
Clarissa menghentikan niatnya untuk turun ketika Gio memanggilnya lirih. "Boleh om kasih saran juga."
Clarissa mengangguk kecil.
"Jangan ulangi kesalahan yang mama mu lalukan dulu. Menyianyiakan perasaan orang yang tulus padamu."
...πΌπΌπΌ...
Kanya Dealova
Ca, kak Rehan nanyain lo tuh.
Lo gak ada bales chat dia
sama sekali οΈΆοΈΏοΈΆ
^^^Clarissa Fatiyah A^^^
^^^Iya, baru buka hp, gue.^^^
Kanya Dealova
Cie, yang dijemput sama
papa mertua,
Kanya Dealova
Om Gio makin ganteng aja.
~β₯~~β₯~
^^^Clarissa Faityah A^^^
^^^Nyak, main sini gih.^^^
^^^Gabut gue sendiri.^^^
Kanya Dealova
Males gue ketemu Putra.
Gue mau jalan sama calon
pacar gue.
^^^Clarissa Fatiyah A^^^
^^^Yaudah, baik-baik lo.^^^
Kanya Dealova
Iya ica ku sayang.
Cium jauh (γ₯οΏ£ Β³οΏ£)γ₯
Clarissa tidak berniat membalas pesan absurd terakhir dari sahabatnya itu. Dia membuka banyak pesan dari Rehan sembari membuka satu persatu kancing bajunya.
Rehan Dwitya
Clarissa, kemana aja sih?
Rehan Dwitya
Belum pulang???
Hanya itu yang Clarissa baca dari sekian banyak pesan dari laki-laki itu. Pintu terbuka membuatnya terbelalak kaget. "Astaga sayang," Anita menutup pintu dengan keras. "Kunci pintunya dong, untung bukan Putra."
"Tante gak ketuk pintu."
Anita mengerutkan alis datar, "tante gak tau kalau kamu sudah pulang. Mau anter ini." Mengangkat baju seragam miliknya.
"Tante gak ke Rumah sakit??"
Anita menggeleng, dia malah duduk diranjang nya dan memainkan ponsel. "Bagaimana kalau kita menonton hari ini?"
πππππ BERSAMBUNG πππππ
__ADS_1