
...πΌπΌπΌ...
"Lo ngapain disini?"
Daze protes, dia heran kenapa Putra duduk dimeja bundar yang telah dia pesan untuk kelompoknya, Putra bukan bagian dari kelompoknya.
"Lah, lo juga ngapain disini?"
Daze menggeleng pelan, Meysa duduk disebelah kanan Clarissa yang tengah fokus menatap laptop, disebelah kirinya ada Erlangga yang sedang mengarahkan apa saja yang perlu Clarissa ketik.
"Berisik lo," ujar Meysa dalam nada rendah, dia ikut menatap tugas yang Clarissa kerjakan.
"Kalian berdua lagi nyontek tugas kami ya,"
"Setiap kelompok beda tugas Ze," jawab Putra, jengah melihat ketidak terimaan Daze akan kehadirannya dengan Meysa. "Gue lagi nungguin pacar gue,"
"Dih," Daze mengelus kedua bahunya. "Merinding gue denger lo ngomong gitu,"
Erlangga bangkit diikuti salah satu anggota mereka, mencari buku untuk menambah jawaban pada tugas mereka. Laki-laki itu kembali dengan membawa nampan berisi dua ice dan dia berikan pada Putra dan Meysa.
Daze mendesah. "Er, kok lo kasih minum sih, ya makin lama lah dia disini, yang ada bikin gak nyaman anggota yang lain,"
"Kita gak masalah kok," tanggap perempuan berbaju kodok didepan Putra, perempuan itu tersenyum tipis diikuti anggota lain yang mengiyakan tanggapan perempuan itu. "Santai aja, tugas kita sebentar lagi selesai kan?"
"Iya sih,"
"Inikan bulan dimana Clarissa sama Putra publish soal hubungan mereka, pasti mereka lagi suka deket-deket terus," Putra mengacungkan jempolnya pertanda setuju. "Lo pasti juga ngerasain itu kan Ze sama Marisa, jadi maklumi saja soal Putra yang selalu ada disekitar Clarissa."
"Gue suka nih orang," Putra menunjuknya dengan tatapan bangga. "Lo mau siapa? sahabat gue yang masih jomblo Erlangga sama Rinda doang."
Perempuan itu terkekeh. "Eh, bisa aja."
"Lo gak tahu Put, Erlangga udah punya pacar,"
Erlangga menatap Meysa tajam, dia tidak tahu kenapa Meysa mengatakan kebohongan soal dirinya.
"Ada? siapa?"
"Waktu gue kesini sendirian buat ngikutin Bintang, eh ketemu dia sama cewek dari sekolah lain, lumayan juga. Gue setuju kalau itu Er,"
Daze dan Putra menatap Erlangga, laki-laki itu tampak berpikir soal kalimat Meysa. Lalu menatap mata yang melihat kearahnya, dia menggeleng pelan. "Gak cocok,"
"Oh, lo masih bisa daftar," Ucap Putra cepat pada perempuan dihadapannya.
"Kenapa? kemarin cantik loh, gue aja disapa baik,"
Bukannya mendapatkan jawaban dari Erlangga, Putra dan Meysa malah berdebat soal siapa yang cocok untuk menjadi pasangan Erlangga. Putra kekeh terhadap perempuan dihadapannya, sedangkan Meysa kekeh pada perempuan yang waktu itu tidak sengaja mereka bertemu.
"Putra," semuanya menoleh pada Clarissa yang mulai bersuara, jari telunjuknya dia tarus pada bibirnya meminta Putra untuk diam, tentu saja Putra menurut dan langsung suasana menjadi hening.
__ADS_1
Daze menahan tawanya. "Kalau Clarissa yang ngomong aja langsung diem lo,"
Erlangga menyodorkan satu halaman untuk dikerjakan oleh Daze, langsung membuat Daze terdiam.
...πΌπΌπΌ...
"Mau kemana?" Putra menggenggam tangan Clarissa erat dalam kemudinya, tangan kanannya tetap fokus menyetir.
"Pulang aja," Clarissa benar-benar sudah terbiasa dengan sikap manis Putra kepadanya, sekarang dia tidak perlu lagi untuk menghindarinya, cukup diam dan nikmati sebagai kekasih Putra. "Papa mau ajak aku untuk nemui kak Bintang,"
"Masih belum mau pulang?"
"Sesekali sih, kalau papa gak dirumah baru kak Bintang pulang." Bintang memutar kemudi menuju rumah Clarissa masih dengan satu tangan menggenggam tangan kekasihnya itu. Mendengarkan cerita Clarissa soal Bingang yang masih enggan berbicara pada papanya, kekecewaan Bingang terus menumpuk. Kehilangan Dinda dalam keluarga benar-benar membuat semuanya berantakan. "Gak apa-apa kan?"
"It's okey, keluarga lebih penting Ca. Sama aku bisa lain hari, aku tetep senang walaupun sebentar sama kamu untuk sore ini." Lagi pula, disekolah mereka sudah menghabiskan waktu bersama.
Clarissa tersenyum tipis, mendengar Putra sangat mengerti tentang dirinya. Dia menatap tangannya yang masihh ada pada genggaman Putra. Astaga. Sangat tidak pernah dia pikirkan soal ini sebelumnya. Putra adalah pemicu sekaligus penyebab berhentinya jantungnya bekerja.
Mereka telah sampai didepan kediaman Clarissa, Doni yang sudah berdiri didepan rumah mereka melambaikan tangan ketika melihat salah satu mobil Adietama berhenti didepan rumahnya. Putra memang jarang membawa mobil pribadinya, terlalu cepat untuk jalan bersama Clarissa, lebih enak membawa mobil mama atau papanya yang lebih santai.
"Halo om," sapa Putra ketika membukakan pintu untuk Clarissa keluar, Doni tersenyum sembari melambaikan tangannya pada Putra.
"Jangan manjakan Ica, Putra." Tegas Doni pada Putra yang membantu Clarissa membawakan tas laptopnya. "Nanti dia terbiasa dan malah bergantung padamu."
Putra terkekeh. "Itu yang Putra inginkan."
"Membuat Clarissa bergantung padamu? jangan, om akan kesulitan jika itu terjadi." Dia juga sedikit skeptis pada perasaan Putra pada putrinya yang mendadak itu. Meskipun Putra mengatakan sudah lama menyukai Clarissa, tetap saja Doni tidak nyaman akan hal itu. "Langsung pulang?"
"Yapp. Kata Ica, om mau mencari kak Bintang."
"Semangat om, semoga semuanya lekas membaik." Putra melambaikan tangannya pada Clarissa yang langsung dibalas oleh perempuan itu, sembari dia berjalan menuju mobilnya lalu melintas pergi dari hadapan mereka.
"Senang?"
Clarissa mendongak menatap papanya, dia mengangguk samar dengan senyum tipis pada bibirnya. "Papa sudah tahu dimana keberadaan kak Bintang,"
"Sepertinya masih di apartemen temannya itu,"
"Papa sudah mencari tahu dimana kak Raisa tinggal?"
Doni menggeleng, Clara menyembunyikan segalanya dengan sempurna sampai Doni tidak tahu sedikitpun soal keluarganya. Dia terlalu bodoh untuk mencintai.
"Ya sudah, ayo kita cari kak Bintang."
Doni membiarkan Clarissa untuk berganti pakaian sekolah terlebih dahulu, lalu membawa putrinya menuju apartemen yang beberapa hari Bintang singgahi. Keduanya masuk berjalan menuju lobi beriringan,
"Loh, Tuan Jerii...."
Doni setengah berteriak pada pria berjas abu-abu, pria itu menoleh padanya dan tersenyum tipis padanya. "Astaga, kenapa anda bisa disini?"
"Mencari putraku,"
__ADS_1
"Bintang? Oh, ingat, dia punya teman disalah satu lantai disini. Kemarin kami sempat bertemu dan Bintang mampir ke apatemen kami,"
"Iyakah? wah," Doni menghela napasnya. "Sulit, kepercayaan Bintang pada saya sudah hilang begitu saja."
Dati sorot mata Doni memancarkan kekecewaan yang begitu besar, siapapun akan dapat melihat jelas, senyum yang ditebarkan Doni mengandung sejuta kesedihan. Bintang tidak salah atas tindakannya, tapi Doni merasa ini keterlaluan, ingin mengatakan dengan jujur atas sikap Bintang padanya dia urungkan karena mengetahui semua terjadi karena dirinya. Jeri menghampirinya dan mengelus bahu Doni untuk menguatkan.
"Saya bisa bantu menjaganya lewat sini, Bintang itu kan adik saya, Dokter Doni. Don't worry, what was Bintang's problem is now also a problem for me." Jeri tersenyum pada Clarissa yang berdiri tidak jauh darinya. "Ayo masuk, kita cari tahu bagaimana keadaan Bintang."
Mereka berdua masuk kedalam lift dan langsung menekan tombol lantai dimana teman Bintang tinggal setelah bertanya pada resepsionis. "Saya dengar teman Bintang itu adalah salah satu anak politik, mungkin itulah kenapa mahasiswa bisa memiliki apartemen sendiri digedung ini. Saya saja sedikit kesulitan sewaktu berniat tinggal disini,"
Doni tertawa kecil. "Kenapa tidak beli rumah saja? bukankah Adietama memiliki rumah dimana-mana."
"Itu milik mas Gio, saya tidak berhak mendapatkan apapun."
Doni hanya mengangguk, memang benar, Gio memiliki tanah hampir seluruh diberbagai kota, yang pernah Doni dengar, hanya Gio anak satu-satunya dari mendiang istri pertama Darmo. Sedangkan Jeri dan Siska hanya anak dari istri kedua, Darmo tidak pernah membedakan, tapi anak-anaknyalah yang mengerti posisi mereka sendiri. Seharusnya Doni juga tidak perlu merasa khawatir pada posisi Bintang sebagai anak Darmo, karena putranya itu pasti akan mendapatkan perhatian lebih serta derajat yang tinggi. Tapi bukan itu yang Doni harapkan, dia tidak ingin Bintang lupa padanya, lupa akan siapa yang pertama ada untuk Bintang sebelum dia lahir.
Jeri cukup mengantarkan Doni dan Clarissa sampai dipintu lantai milik teman Bintang. Jeri tersenyum tipis. "Panggil saya jika butuh bantuan, walaupun jatuhnya Bintang adik saya sekarang, tapi ini urusan keluarga anda Dokter Doni. Saya tidak ingin mengambil langkah jauh."
Jeri lebih baik dibandingkan Gio yang selalu ingin ikut campur dalam urusannya, tapi semua juga demi kebaikan. Jeri hanya memberikan peluang Doni untuk berbicara baik dengan anak-anaknya, sedangkan Gio adalah orang yang selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cepat.
Pintu terbuka, menampilkan seorang perempuan manis mengenakan dress selutut berwarna merah muda. Perempuan itu menatap Doni bingung lalu tersenyum manis ketika melihat Clarissa disebelah pria gagah itu. "Siang om,"
"Siang, saya Doni."
"Mencari Bintang ya?" potong perempuan itu. "Saya Aleta.?"
Doni mengangguk. "Apa dia disini, Aleta?"
"Ada." Perempuan itu membukakan pintunya lebar, mempersilahkan Doni serta Clarissa untuk masuk. "Saya panggilkan, kondisinya buruk, dia selalu datang kesini dengan keadaan mabuk."
"Maaf merepotkan." Ucap Doni santai.
Perempuan itu menggeleng cepat. "Tidak om, Bintang teman saya sejak kuliah pertama, dia selalu menceritakan keadaan terbaik maupun terburuknya kepada saya. Dia selalu membantu saya saat kesulitan." Perempuan itu pergi lalu kembali dengan membawa nampan berisi botol jus dingin serta dua gelas diatasnya. "Duduk saja, om-Clarissa. Saua bangunkan Bintang dulu."
"Kalian sekamar?" Tanya Doni saat perempuan itu berjalan menuju salah satu kamarnya.
"Tidak om, jangan salah paham." Perempuan itu tersentak kaget saat salah satu pintu kamar yang lain terbuka, keluar seorang laki-laki yang sekiranya seumuran dengan Bintang. "Sudah bangun?"
"Um," laki-laki itu menatap Doni dan Clarissa bingung.
"Papa dan adiknya Bintang," ucap Aleta melihat kebingung diwajah laki-laki dihadapannya. "Aku panggil Bintang dulu,"
Laki-laki itu mengangguk, berjalan kearah Doni sembari merapikan rambutnya lalu mengulurkan tangannya. "Halo om, saya Nichol. Teman satu kampus Bintang, kekasih Aleta."
Doni berdiri, meraih tangan Nichol. "Saya Doni, papa Bintang. Saya sering melihat anda di TV."
Nichol terkekeh, mempersilahkan Doni kembali duduk. "Iyap, kuliah sembari kerja."
"Apa sedang trend sepasang kekasih tinggal bersama?"
Nichole tersenyum, "kebetulan lokasi syuting saya didekat sini, selesai dan saya beristirahat disini."
__ADS_1
"Papa ngapain kesini sih?" Nichole, Doni dan Clarissa menoleh pada sumber suara yang tidak menerima kehadiran ayah dan anak itu.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ