
...πΌπΌπΌ...
Clarissa menghela napas kesal, duduk didepan kelas sendirian, tidak bisa bertanya ataupun marah pada Putra. Tidak ada kesempatan mereka untuk berbicara berdua, Clarissa ingin menanyakan soal konser itu, dia ingat bahwa Putra pernah mengatakan padanya kalau dia boleh bertanya apapun mengenai malam konser Bad Omens padanya. Tapi menurut Clarissa, saat itu tidak ada yang perlu ditanyakan, jadi dia tidak bertanya, dan sialnya sekarang ada malah tidak memiliki kesempatan.
Dan sekarang Clarissa merutuki nasibnya, duduk sendiri didepan kelas menatap Putra yang tengah bermain basket dilapangan. Kedua teman dekatnya sedang sibuk dengan urusan masing-masing, minus Vina karena keluarganya ada acara dan dia izin sekolah. Seseorang duduk disampingnya, membuat Clarissa menoleh, Rinda, duduk membawa dua kotak susu rasa oreo.
Clarissa menerima kotak susu tersebut saat Rinda menyodorkan, menusuk kotak susu satunya dan dia sedot.
"Lo gak ikut main basket?"
"Gak, nanti pelajaran bu Eva, lo tau kan? kalau bu Eva gak suka dikelas bau keringet, ya walaupun keringet gue gak bau juga sih," Dia terkekeh sendiri, Clarissa hanya mengangguk tanpa menanggapi kalimat sarkasnya. "Temen-temen lo kemana?"
"Biasa, Kanya kekelas Edo terus Delisa kekantin sama Noel." Jawabnya sekilas.
"Vina?"
"Izin, ada acara keluarga. Tantenya nikah."
"Wih, yang gue denger tante Vina cakep ya Ca?"
Clarissa mengangguk. "Iya, banget," Clarissa menatap Rinda, laki-laki itu melihat kearah lapangan sembari asik menyedot susu kotak yang sudah habis tapi dia paksa terus menyedot. "Rinda,"
"Em...." Jawabnya tanpa melihat.
"John Varvatos Artisan."
Alis Rinda mengerut, melihat kearah Clarissa. "Apa tuh?"
"Merek parfum,"
"Oh, gue gak paham soal parfum."
"Tapi lo punya parfum itu,"
"Iyakah?" menutup kedua tubuhnya dengan kedua tangan yang menyilang. "Kok lo tau parfum yang gue pakai Ca? seremm ihh."
"Malam itu lo pake parfum itu kan?"
"Malam kapan?" Rinda berdecih, menatap Clarissa yang masih menatapnya. "Tadi malam?"
"Iya." Clarissa tersenyum tipis, Rinda seperti sedang kepergok melakukan kesalahan dalam bicara, kenapa dia harus bertanya malam kapan sedangkan mereka baru bertemu tadi malam. "Tadi malam."
"Um, gak inget, soalnya jaket yang gue pakai semalam itu pernah gue pakai terus gue semprotin parfum Putra. Terus semalem gue pakai lagi karena belum kotor. Hehe." Rinda menjelaskan dengan cengengesan. Entah benar atau sedang menutupi kesalahannya.
"Oh,"
"Kenapa Ca?"
"Wangi," jawabnya asal, tidak perlu mengkonfirmasi hal lain lagi, Clarissa akan bertanya langsung pada Putra saja. "Bad Omens bakal gelar konser lagi,"
"Iya. Anjir, tapi gak ada tiket VIP lagi, katanya cukup sekali kameren aja." Rinda menyikut lengannya. "Beruntung banget lo,"
Clarissa mengangguk, "banget, lo nonton?"
"Gak tau, lo?"
"Mungkin nonton, mau bareng?"
"Ehh, gue lihat besok deh." Rinda terkekeh ringan, Clarissa sengaja, hanya ingin mengingatkan Rinda tentang malam konser itu, kalau saja benar dia ada laki-laki itu.
Bel masuk berbunyi, Clarissa berdiri melihat Putra berlari kearahnya, "yuk masuk,"
Laki-laki bergerak menjauh saat Clarissa hendak mendekat. "Aku bau keringat,"
"Gue kekelas." Potong Rinda, melambaikan tangannnya sembari berjalan menjauh.
Kelas mulai kembali sibuk, Clarissa kesal karena lagi-lagi tidak memiliki peluang untuk mengobrol, semoga saja Putra mengajaknya pulang bersama agar mereka dapat berbicara empat mata.
Dan keberuntungan berpihak kepadanya, bel pulang dan Putra menghampiri mejanya, mengajaknya untuk pulang bersama.
__ADS_1
"Mau makan dulu atau langsung pulang?"
"Pulang aja deh, papa masuk malam dan tadi ngabari kalau mau makan siang bareng. Ikut ya."
"Okey," Putra mengangguk dan melajukan kemudinya, dalam perjalanan mereka belum berbicara, Clarissa masih mengatur kata untuk dia keluarkan. Sedangkan ruang mereka hanya terdengar lagu yang sengaja Putra putar.
"Umm, semalam kenapa gak jadi jemput?" Clarissa memilih kata to the point tanpa basa-basi, dia tidak pandai akan hal itu bukan? Putra belum menjawab, dia menarik rem tangan karena jalanan mulai dipadatkan oleh berbagai kendaraan. Menoleh pada Clarissa.
"Loh, kan aku udah bilang kalau ada acara sama papa."
"Makan malam kan?"
"Iya, sayang."
"Papa bilang acara makan malamnya batal."
Putra menoleh, menatap keluar jendela lalu kembali menatap kearahnya, matanya bergerak tidak berani menatap mata Clarissa.
"Hmm?" Berusaha mencari jawaban Putra."
"Memangnya aku gak boleh punya acara lain?"
"Sama siapa?"
"Ca, kenapa kamu jadi mau cari tau soal urusan aku?"
"Gak boleh?"
"No, bukan begitu sayang." Putra mengusap wajahnya. "Kamu aneh, ini seperti bukan kamu."
"Aku cuma mau tau aja, kemana kamu? padahal kamu bilang kalau akan datang selagi masih ada waktu, seharusnya kamu punya banyak waktu semalam? terus juga kamu sama sekali gak ada kabarin aku." Kalimat panjang Clarissa tidak ada yang Putra bantah, laki-laki itu diam dan kembali menatap keluar jendela. "Padahal aku gak apa-apa kalau kamu emang pergi sama temen, tapikan aku cuma mau tau kemana dan sama siapa, that's it."
"Don't childish Ca, cuma pergi sama temen....."
"Childish?? kamu bilang aku childish, serius? Want to know more about his girlfriend, what is childishness?" Clarissa menghela napasnya pelan, membuka sabuk pengamannya. "Okey, sorry kalau pertanyaan aku buat kamu gak nyaman, aku pulang sendiri."
"No, Clarissa....." Putra keluar mobil, berteriak memanggil nama Clarissa dan sang pemilik tidak berhenti atau berbalik melihatnya, hanya berjalan cepat meninggalkan mobil yang mulai berjalan pelan. Clarissa paham kalau memang ini agak sedikit berlebihan, tapi Putra sangat tidak menunjukkan kebenaran yang dia miliki, jadi Clarissa hanya menelan secuil alasan darinya.
...πΌπΌπΌ...
"Halo, selamat siang." Matanya berkeliar, membuat pak Rahmat tersenyum tipis.
"Mencari Bintang,"
"Ah iya, dia dikantor ini kan?"
"Benar," pak Rahmat memutar badannya. "Bintang, ada yang mencari..."
Bintang yang sedang fokus pada layar komputer langsung menegapkan tubuhnya, pak Rahmat memanggilnya setengah berteriak membuatnya terkejut. Tempat duduk kerjanya berada disudur ruangan, membuatnya tidak perduli pada kesibukan didekat pintu utam. Matanya menatap tamu yang dimaksud oleh pak Rahmat, membuat Bintang yang semula berekspresi ramah berubah menjadi kesal.
"Siniii....." Pak Rahmat melambaikan tangannya dengan semangat, mengerti maksud dari pria itu, bahwa mereka akan bersikap sangat ramah dan baik saat dengan siapa mereka berhadapan. Ya walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa pak Rahmat memang sangat baik. "Cepat Bintang,,,, jangan membuat pak Gio menunggu terlalu lama."
"Santai saja pak, saya hanya mampir sebentar."
"Ada apa?"
Pak Rahmat menyikut lengannya, menatap kesal karena Bintang bertanya tanpa menunjukkan sopan santunnya. "Yang baik,"
"Ada apa pak?" Tanyanya ulang, membuat Gio tersenyum tipis.
"Ini pak Gio,,,"
"Iya saya tau," Bintang memotong kalimat pak Rahmat, membuat staf tetap menatapya heran. Bintang seperti bukan Bintang biasanya, different. Bintang menatap Gio datar. "Kenapa?"
Pak Rahmat tidak lagi menyikut, dia sedikit tidak berani saat Bintang memakai mode bukan biasanya, pak Rahmat menatap Gio dengan memasang wajah meminta maaf atas sokap Bintang.
"Saya datang kesini atas panggilan pak Rofi, lalu saya mampir kemari karena ingin melihatmu,"
"Sudah lihat kan?" Bintang berjalan kearah pintu, membuka kedua pintu dengan lebar, tidak membiarkan pintu tertutup lagi seperti biasanya secara otomatis. Tangannya membentang keluar. "Silahkan keluar, kami sedang sibuk."
"Bintaaaangggg....." Pak Rahmat mengeram kesal, memanggil Bintang dengan berbisik, matanya melotot agar Bintang paham dengan siapa dia berbicara, bisa bahaya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak Rahmat," tegur Gio pada pak Rahmat yang setengah mati menahan Bintang agar tidak berbuat seenaknya, "saya yang salah karena datang diwaktu yang tidak tepat."
"Ah bukan begitu kok pak," pak Rahmat setengah menunduk bentuk hormatnya.
"Pak Rahmat berdiri, jangan hormat seperti itu pada dia." Ucap Bintang,
Kalimat itu membuat salah satu staf berdiri, menatap Bintang tajam. "Bintang, hentikan kalimat tidak sopanmu."
Gio menatap laki-laki tinggi yang memakai kacamata, laki-laki itu menunduk pada Gio yang melihat kearahnya. "Jangan, jangan katakan itu pada Bintang, itu akan membuat dia tidak nyaman."
"Sudah tau kenapa masih disini,"
"Bintang," Gio menatap Bintang. "Kita perlu bicara berdua."
"Tidak perlu," Bintang mengencangkan pegangan pada hanlde pintu. "Jangan kasihani saya karena mama saya telah tiada. Tidak perlu berbuat apapun, saya sudah lupakan."
"Kamu salah paham."
"Jangan bersikap seakan kalian menyesal karena kematian mama saya." Bintang menunduk, membuat Gio menghela napas pelan. Dia berjalan kearah Bintang, lalu pergi meninggalkan kantor yang disinggahi Bintang.
Semua staf terdiam, tidak ada yang mengajak Bintang bicara, bahkan pak Rahmat terdiam dan hanya memperhatikan Bintang, menuju meja kerjanya, meraih satu tumpuk kertas. "Saya pergi fotocopy dulu."
Bintang membiarkan semua teman satu kantornya membicarakan sikapnya dibelakang, Bintang tidak baik jika mereka terpaksa menahan omongan saat ada dirinya disana tadi. Membuat Bintang memilih untuk pergi saja.
"Kasihan Bintang," ucap salah satu staf perempuan. "Kita enngak tau masalah yang dia hadapi,"
"Betul,"
Pak Rahmat mendengar itu hanya menghela napasnya. Hingga salah satu teman magang Bintang bersuara.
"Saya satu kampus dengan Bintang, dia anak yang cukup famous dan humble. Tapi memang sifatnta berubah sejak mamanya meninggal, bahkan tidak ada yang berani mendekatinya lagi karena dia menjadi pendiam." Jelasnya.
Pak Rahmat mengelus dadanya, "kasihan Bintang, kalau dia sudah kembali, suruh dia pulang duluan untuk istirahat. Kita tidak apa yang membuat keluarga Adietama mereka bersalah padanya, berikan Bintang istirahat sejenak."
...πΌπΌπΌ...
Bintang menatap datar pada lampu lalu lintas, dia sudah didalam mobil pada jam tidak biasanya. Salah satu seniornya memintanya untuk pulang lebih dulu karena melihat Bintang seperti sedang tidak baik, Bintang hanya menurut, pikirannya memang sedang tidak baik-baik saja.
Saat lampu berubah menjadi hijau, Bintang melajukan kemudinya setengah kencang, namun dia kurangi ketika dijalan trotaoar tidak sengaja dia melihat tas persis seperti milik Clarissa. Bintang melewatinya perlahan dan membulatkan matanya ketika benar yang dia lihat adalah Clarissa. Bintang menepikan mobilnya dan berlari keluar.
"Dekk!!" teriaknya. "Caaa,"
"Kak Bintang," panggil Clarissa saat dia mendongak mendapati Bintang yang berdiri tidak jauh darinya, mereka sama-sama berlari mendekat. "Kakak kok disini? sudah pulang magang ya?"
"Sudah." Dia tidak ingin menceritakannya. "Kamu kok jalan?"
Clarissa menunduk, membuat Bintang merasa ada sesuatu dan mengekus ouncak kepala adikknya. Dia menggandeng tangan mungil itu dan dia bawa menuju taman disebelah mereka. Bintang membeli dua buah es krim dan dia berikan satu pada Clarissa, yang duduk dikursi takan.
"Ada masalah."
"Ica baru tau kalau Putra nyebelin." Eluhnya. Clarissa menceritakan segalanya pada Bintang. Dan Bintang mendengarkan dengan baik, sesekali mengusap ujung bibir Clarissa, terdapat sisa es krim.
"Kenapa ya keluarga Adietama itu nyebelin." Ungkap Bintang saat Clarissa terdiam.
"Ada masalah kak?"
"Em, rumit."
"Kenapa?"
"Kakak baru tau kalau perusahaan yang kakak kagumi ini adalah milik Darmo."
"Hah?" Clarissa kaget, dia juga baru tau.
"Iya. Parah kan? kakak sampai lupa kalau keluarga mereka hampir menguasai seluruh bumi." Jelasnya kesal. "Kakak bingung, surat pembatalan kontrak diterima, dia muncul dihadapan semua orang dan membuat hari-hari kakak berantakan."
"Kakek Darmo mengatakan siapa kakak?"
"Enggak, dan semoga saja tidak." Bintang menyandarkan tubuhnya. Bintang serius, dia tidak akan bangga jika diungkapkan mengenai siapa dirinya dihadapan publik, Bintang sudah menerima dan cukup mulai mencintai dirinya sendiri sebagai Bintang Angkasa Adams anak dari Doni Andrian Bintara.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1