Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:86


__ADS_3

Stik drum dan album terbaru Bad Omens ada di atas mejanya. Clarissa mematung sampai Kanya mendekat dan mengguncang tubuhnya. Bagaimana bisa barang berharga yang sempat hilang ini kembali padanya, Clarissa menoleh kekanan dan kekiri. Dia berjalan menghampiri salah satu teman sekelasnya yang dia lihat sudah ada di dalam kelas sebelum dia datang.


"Boleh tanya??"


Teman sekelasnya itu mengangguk.


"Lo dateng jam berapa?"


"Jam tujuh."


"Masih pagi tuh, paling pertama dong ya? lihat enggak siapa yang dateng nyamperin meja gue?" tanyanya cepat. Clarissa ingin tahu.


"Sorry Clarissa, gue gak tahu. Soalnya pas gue sampai itu barang emang udah ada di atas meja lo." Perempuan sebayanya itu tampak degdegan saat di introgasi mendadak oleh Clarissa, sebelumnya mereka tidak pernah berbicara. "Mungkin di taruh jauh sebelum gue dateng."


"Ca...."


Clarissa menoleh menatap Kanya.


"Gak pentingkan siapa yang bawa barang penting ini, yang penting sekarang barang special ini kembali sama lo kan?"


Clarissa tidak berani membantah, mungkin Kanya lupa soal pentingnya orang yang membawa dua barang berharga ini. Tapi hanya sebentar, karena Kanya tiba-tiba melotot menatapnya, Kanya menepuk dahinya pelan.


"Gue bantu cari tahu yaa...."


Sahabatnya itu sudah pergi melesat entah kemana.


Clarissa kembali duduk ditempatnya, sudah lewat tiga puluh menit Kanya belum kembali dan Clarissa masih menatap dua barang pemberian Nick Folio dan Noah Sebastian. Clarissa butuh tahu siapa laki-laki di malam konser Bad Omens itu. Kelasnya mulai ramai dan teman-temannya sudah banyak menguasi tempat duduk masing-masing sembari menunggu bel jam pertama di mulai.


Dia melihat Putra berjalan masuk di ikuti Erlangga, serta tidak jauh Meysa berjalan di belakang mereka. Putra memberikan senyum manisnya, laki-laki itu tidak langsung duduk di mejanya, melainkan menghampirinya. Clarissa mendongak ketika Putra mengelus lembut puncak kepalanya.


"Senang gak?"


Pertanyaan itu membuat Clarissa mendadak berdiri, kursinya membentur meja milik Erlangga, bahkan pemiliknya terkejut di ikuti anggota kelasnya.


"Kenapa lo gak bilang dari awal?"


"Ha?" Putra terdiam. Mata mereka beradu lama, Clarissa lebih dulu memutuskan pandangannya dan dia menatap dua barang yang sejak tadi dia pegang. Putra ikut menatap itu, dan dia tersenyum tipis. "Sorry....."


Damn.


Damn.


Damn.


Clarissa butuh Kanya.


Waktu tidak tepat, guru pelajaran mereka datang dan Kanya berlari masuk dan langsung duduk dibangkunya. Tubuhnya menyerong kebelakang sedikit. "Ca ternyata yang......."

__ADS_1


"Gue tahu, kita bahas nanti."


Clarissa menunduk, dia menatap kembali dua barang yang dia harapkan segera ketemu. Bahkan kebahagiaan kembalinya stik drum milik Nick Folio telah dikalahkan oleh rasa penasaran siapa laki-laki yang telah menghabiskan dua puluh menit bersama dimalam konser Bad Omens itu.


Putra Rizqi Adietama.


...🌼🌼🌼...


"WHAT!!?!??!?!?"


Clarissa mendaratkan kepalanya diatas meja, dia tutupi menggunakan buku paketnya yang dia bawa. Kenapa Vina dan Delisa berteriak sangat keras hingga membuat siswa yang sedang menghabiskan waktu istirahat dikantin ini menatap ke arah mereka.


"Serius Ca?"


Clarissa mengangguk.


Vina mengibas lehernya dengan tangan kosong. "Sumpah, jadi cowok itu Putra. Ya ampun, jodoh gak kemana ya..."


"Terus lo mau gimana Ca sama Putra?"


"Gak tahu," dia masih menundukkan kepalanya. "Nyak, menurut lo gimana?"


Sejak tadi Kanya terdiam, matanya menatap lurus yang langsung menjurus pada gerombolan anak kalangan atas. Rombongan Putra. Salah satu dari gerombolan itu menatap kearahnya, Kanya langsung memutuskan pandangan dan mengusap puncak kepala Clarissa yang masih tertunduk.


"Diem aja."


"Tunggu Putra bergerak dan ngejelasin semuanya, lo cukup tunggu dan gak usah gegabah buat nanya-nanya." Kanya kembali menatap ke depan. "Kita sebagai perempuan juga harus jaga sikap, takutnya dia cuma iseng dan malah buat lo semakin jatuh dan sakit."


"Tapi Putra gak mungkin ngelakuin hal semacam itu kan Nyak?"


Kanya menatap Vina tajam. "Hati siapa yang tahu sih Vin, sikap baik dan perhatian dia selama ini karena ada maunya kan? ya barang kali aja malam itu karena ada sesuatu juga yang gak kita ketahui."


Benar juga.


Mereka tidak dapat menebak isi kepala orang lain untuk mengetahui kebenarannya. Clarissa hanya dituntut untuk diam dan menunggu perkembangan dari Putra saja. Tapi bagaimana bisa dia diam, Putra berdiri dan berjalan ke arah mereka, laki-laki itu berhenti di area dimana Clarissa dan teman-temannya duduk.


"Ngapain lo? ganggu pemandangan aja." Ujar Kanya, jangan heran, Kanya memang tidak pernah ramah pada Putra.


Entah sudah bebal atau sedang malas berdebat, Putra hanya tersenyum dan memilih tidak menanggapi Kanya. Dia menatap Clarissa. "Ca, nanti pulang bareng ya? mama kangen katanya, gue sudah bilang sama bokap lo dan diizinin."


Clarissa tidak menjawab, seperti biasa dia akan mencari jawaban dari sahabatnya. Di menatap Kanya untuk mendapatkan secerca jawaban. "Dia pulang sama gue, nanti gue yang anter."


"Okey." Putra mengangguk, tidak seperti biasanya, tidak ada rengekan dan adu mulut. Putra menurut saja yang di katakan oleh Kanya.


Laki-laki itu pergi, dan selang beberapa menit teman-temannya berjalan menyusul. Kanya berdiri membuat mata mereka menatapnya. Tanpa sapaan atau apapun, Kanya berdiri keluar dari mejanya. "Gue mau ngomong sama lo."


Rinda melirik temannya yang lain. Lalu dia memberikan nampan makanannya kepada Erlangga. "Titip ye, ada urusan nih."

__ADS_1


...🌼🌼🌼...


"Mau lo apa sih?"


Dahi Rinda berkerut, dia agak bingung tapi Kanya tampak tidak ingin bercanda dengannya. "Gue? gue gak mau apa-apa.."


"Kenapa?"


"Kenapa apanya sih?" Kanya sama sekali tidak memberikan penjelasan atas pertanyaannya, perempuan itu hanya melemparkan pertanyaam dan hanya menginginkan Rinda menerjemahkan sendiri. "Lo bisa ambil tatanan bahasa yang bagus gak sih? pertanyaan lo yang gak jelas itu sama sekali gak masuk di otak gue yang kecil ini."


"Sempit."


"Kita lagi di lapangan, Kanya. Dari mana sempitnya."


"Pemikiran lo." Tukas Kanya.


Rinda terdiam, dia masih tidak paham arah pembicaraan ini. Rinda ingin bertanya tapi dia urungkan karena terlihat Kanya menghela napasnya dan mengusap wajah dengan gusar.


"Apa Putra tahu soal konser Bad Omens itu?"


Rinda menggeleng, dia paham sekarang arah dari obrolan ini.


"Kenapa tadi dia bersikap seakan-akan dia itu cowok yang ada di konser Bad Omens?"


Pandangan Rinda tampak menjelaskan maksud dari kalimat Kanya. "Gue....."


"Lo mau ngehancurin perasaan Ica."


"Kanya, biarin gue jelasin dulu."


"Bacot lo." Rinda terdiam lagi. "Kalau lo gak berniat jelasin sama Ica, ya setidaknya gak usah ngembaliin barang itu. Putra sebusuk itu juga ya."


"Gak usah ngomong jelek soal Putra." Rinda maju membuat Kanya memundurkan satu langkahnya. "Putra bukan orang yang kayak gitu."


"Mungkin dia tahu soal konser itu, dan sekarang dia berlagak seperti laki-laki yang diharapkan sama Clarissa."


Rinda melotot. "Bisa gak lo gak usah ngomong jelek soal Putra!!!"


"TERUS?!?!? kalau dia gak busuk, kenapa dia santai aja waktu Clarissa mengira dia itu cowok yang ada di konser. Apa dia mau main-main sama Ica lagi?" Lagi-lagi Rinda tidak punya kuasa untuk menjawabnya. "Gue peringatin sama lo, jelasin semuanya sama Clarissa, lo harus berani maju selangkah dari Putra. Diterima atau enggaknya sama Ica, yang penting lo ada itikad buat jelasin."


"Kenapa gak lo aja yang jelasin."


Kanya menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Rinda datar. "Kalau gue jadi lo, gue gak akan jadi pecundang."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


CLARISSA FATIYAH ADAMS

__ADS_1



__ADS_2