
...πΌπΌπΌ...
"Gandeng terooosssss!!!!" Kanya berteriak kencang, didepan mereka ada sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan,
Delisa menyikut geli, "Nyak, jangan diganggu sih, mereka baru publish hari ini loh,"
"Iya Nyak, kena mental nanti si Ica," ucap Vina yang berjalan dibelakang dua temannya, Kanya yang mendengar protesan itu hanya terkekeh.
Kanya menoleh pada Rinda yang berjalan disebelahnya, "lo beneran gak apa-apa?"
Rinda tersenyum, "kenapa lo nanya gue? santai aja kali, akhirnya Putra mengungkapkan perasaannya."
"Gak kayak lo?"
"Kok gue?"
Kanya menggeser sedikit agar lebih leluasa berbicara pada Rinda, membuat Delisa mundur kebelakang agar sejajar pada langkah Vina. "Lo masih gak mau ngakui perasaan lo, Rin?"
"Kanya, gak usah bahas itu disini ya, lupain aja soal pengetahuan lo itu."
"Kenapa?"
"Yang kita pikirkan sekarang cuma kebahagiaan Clarissa, soal pikiran lo kayaknya buang aja."
Kanya mendesis pelan, tidak mungkin juga Rinda berani mengatakan soal isi hatinya pada Clarissa, yang sudah menjalin hubungan pada sahabatnya sendiri. Terlebih lagi, Putra lebih unggul dari semuanya, kekuatan keluarga Putra selalu membuat semua keluarga sahabatnya menciut. Gio selalu membantu seluruh teman Putra hingga para orang tuanya menjadi sahabat, Gio selalu berperan penting saat semua kesulitan. Maka dari itu, para orang tua selalu memberikan nasihat agar mereka bersikap lebih baik pada Putra.
"Konyol."
Rinda menoleh pada Kanya lagi. "Apaan?"
"Pemikiran lo itu konyok, Rinda." Kanya mendelik kesal, "mau sampai kapan kalian hidup dalam balas budi."
"Diem Nyak," Rinda memilih berjalan lebih dulu, memukul bahu Putra untuk memberi tahu kalau dia akan pergi duluan.
"Put, lepas ihh, banyak yang lihatin."
Putra menggeleng, ini kesempatan baik, masalah Meysa selesai dan masalah hubungannya juga sudah terbongkar. Putra dapat leluasa menggandeng Clarissa, genggaman mereka semakin kuat. "Biarin sih, semua orang udah tahu kalau kita pacaran sekarang."
"Tapi tangan gue keringetan,"
Putra mengangkat tangan mereka yang bertautan, "keringetan?"
__ADS_1
Clarissa mengangguk, perempuan itu menghela napas lega ketika Putra melepaskan tautan tangan mereka. Dan sialnya, Putra berpindah dari kiri ke kanan hanya untuk mengganti genggaman tangan mereka.
"Loh kok,"
"Katanya yang sebelah sana keringetan, ya kita ganti dong,"
"Put, kamu gak malu ya dilihatin sesekolahan gini."
Putra menatap kegelisahan dari raut wajah Clarissa, namun genggaman tangannya memberikan jawaban bahwa dia tidak masalah soal apapun. "Malu soal apa? does have you including disgrace? You care too much about your distant thoughts. Ini akan lebih heboh ketika nyonya Adietama tahu."
...πΌπΌπΌ...
"Itu, ditaruh sebelah sana," Anita bergerak memerintah salah satu pelayannya untuk menaruh vas bunga yang baru dia beli siang tadi. "Hati-hati ya, pokoknya malam ini rumah ini harus terlihat indah."
Anita mengoceh selama pelayan dirumah mereka bergerak, terserah ada yang mendengar atau tidak, dia tetap mengoceh. Memeriksa makanan yang chef Aldo buat, memberitahu pelayan khusus kebersihan untuk kembali mengepel lantai agar tidak licin.
"Ada apa ma? kenapa semua orang heboh?"
Anita terkekeh melihat Gio yang berjalan turun, "mama mau adakan pesta makan malam pa, semua Dokter dirumah sakit kita mama undang."
"Ha? kok papa tidak tahu, soal apa?"
Wanita anggun itu berjalan mendekati sang suami, meraih kedua tangannya dan dia elus secara lembut. "Papa akan punya menantu, mau kan?"
"Papa tidak tahu?"
"Apa?"
Anita kembali mendekat dan berbisik. "Putra dan Clarissa resmi pacaran?"
Tubuh Gio memundur, dia kaget. "Kata siapa?"
"Rinda, informasi pribadi mama."
"Wahh," Gio bertepuk tangan, "ini berita besar,"
Tanpa memperdulikan istrinya, Gio berjalan sembari menggulung lengan panjangnya sampai ke siku mendekati dua orang yang tengah mengangkat vas bunga dengan ukuran cukup besar, pria gagah itu menghampiri dan membantu mengangkatnya. "Ma, ini taruh dimana?"
"Di tengah-tengah situ pa, kalau tamu masuk akan langsung lihat keindahan vas bunga itu," Anita berjingkrak senang. "Itu kado dari papa saat mama ulang tahun, huh, jadi kangen papa, apa kabar ya?"
Setelah ditaruhnya vas bunga antik pemberian Darmo, Gio menoleh pada sang istri yang masih ditempatnya. "Jangan pikirkan papa, dia harus cukuo tenang pada otaknya. Disini dia hanya akan mengacaukan hidup Bintang saja."
"Orang tua mana sih yang tidak ingin dekat dengan anaknya? Dokter Doni saja bersikeras mempertahankan Bintang, bagaimana dengan papa yang orang tua kandungnya?" Anita menuruni anak tangga dan mendekati sang suami. "Mama juga akan melakukan hal yang sama seperti kedua papa itu,"
__ADS_1
"Lalu, mama akan bertindak seperti apa jika berada pada posisi papa?" Gio juga butuh memiliki keputusan yang baik bukan? serba salah menjadi seorang penengah.
"Akan memutuskan Clarissa dan Bintang jadi hak asuh kita,"
Gio berdecih menatap kearah lain. "Lebih tidak masuk akal, sudahlah, papa mau mandi."
"Yasudah, siapa juga yang suruh papa untuk bantu angkat barang?" Ejeknya, baru sekali mengangkat saja, suaminya sudah terlihat kelelahan.
...πΌπΌπΌ...
Kediaman Adietama kembali terlihat ramai, kali ini bukan acara pertemuan biasa. Anita selalu membuat Clarissa menjadi pusat perhatian semua orang, membanggakan dirinya padahal tidak ada yang perlu dibanggakan. Bahkan dengan lantang bahwa Clarissa sudah dia klaim sebagai bagian dari keluarga mereka, Clarissa hanya melirik Putra yang terkekeh pada setiap tindakan sang mama.
"Bener kata kamu,"
Putra menoleh, menatap Clarissa datar, mereka tengah berdiri dibalkon berdua. Membiarkan para orang tua melanjutkan jamuan dan perbincangan. "Aku bilang juga apa? mama akan heboh jika tahu,"
"Temen-temen kamu?"
"Mereka diatas, mana ada yang mau duduk diantara para orang dewasa."
"Iyasih, duduk disana itu membosankan?" Clarissa tersentak, membuat Putra menoleh pada sumber terkejutan Clarissa, sang mama melambaikan tangan dan meminta mereka untuk kembali bergabung.
"Jangan berdua-duan terus dong," Anita menggoda keduanya, setelah mereka berdua datang mendekat. Anita menepuk bangku kosong disebelahnga untuk Clarissa duduki, sedangkan Putra mencari tempat kosong untuknya sendiri. "Benar kata papa kamu? kamu pernah memintanya untuk memohon pada om Gio agar dijodohkan dengan Putra?"
Hanya wajah Clarissa yang terlihat memucat, sedangkan Putra dan semuanya tertawa menggeleng tidak percaya pada tindakan Clarissa yang menggemaskan.
"Papa,,,"
Doni terkekeh, "memang itu faktanya,"
"Tidak apa-apa," Anita menengelus lembut, "sekarang tidak perlu merengek untuk dijodohkan, kalian sudah bersama sekarang."
"Jadi, yang duluan suka itu Clarissa ya?" tanya salah satu Dokter kesehatan yang duduk disebelah Gio, Putra tersenyum sedikit, "Wah, saya kira Putra loh, soalnya yang dari tadi menunjukkan ketertarikan hanya Putra. Clarissa pandai sekali menyembunyikan perasaan ya."
"Iya dong Dok, buktinya dia bisa menyembunyikan rasa sukanya sejak kelas dua SMP."
"Astaga," para orang dewasa tersentak kaget.
Gio menatap Clarissa. "Jadi, selama itu? hebat, padahal yang om tahu kamu selalu jutek padanya."
"Paa, hebatkan pacar Putra."
"Ya, ya, ya, sekarang sudah bisa menyombongkan diri ya." Gio terkekeh dengam sikap sombong putranya, dia tahu kalau Putra selalu bersikap perhatian pada Clarissa sejak lama.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ