Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:26


__ADS_3


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Rosita berjalan menapaki anak tangga sembari menikmati ice cream vanilla, dia tersentak ketika melihat Clarissa turun dari atas rooftop dengan ujung bibir terdapat darah segar mengalir. Rosita mengangkat tangannya dan melambaikan sedikit, namun Clarissa melewatinya begitu saja.


"Clarissa...."


"Eh," Sorotan pandangannya tampak kebingungan. "Sorry, gue gak lihat lo disitu."


"Gak apa-apa." Tersenyum kaku, "dari atas? ngapain?"


"Cari angin segar."


Menyodorkan plastik hitam. "Mau ice cream?"


"Engga, makasih. Itu pasti buat temen-temen lo, gue ke kelas dulu." Tangannya ditahan oleh Rosita.


"Bibir lo." Mengeluarkan tissue lalu mengusap lembut, "mau gue anter ke UKS?"


"Gak perlu. Gue ke kelas dulu." Rosita hanya mengangguk, menatap punggung Clarissa yang semakin menghilang dari balik pintu yang bergeser.


Dia menghela napas, lalu naik keatas rooftop dimana teman-temannya selalu menghabiskan waktu bolos mereka dengan nongkrong disana. Saat dia sampai, dilemparnya plastik hitam berisi ice cream kedekat kaki mereka. "Ehh, apaan sih lo Ros? cari mati ya main lempar gini?"


Rosita tidak menanggapi Tias, "gue gak mau gabung sama kalian lagi."


"Apa maksud lo?" Meysa menatapnya dengan pandangan kaget. "Lo gak lagi bercanda kan Ros?"


"Gue gak mau Leo putusin gue karena berteman sama anak-anak pembully kayak kalian." Tias menarik lengan Rosita dengan kuat. "Lepas, denger ya, gue selalu diam dan lebih milih menjauh kalau kalian lagi gangguin adik kelas atau apapun karena gue menghargai kalian sebagai teman gue. Tapi kalau kalian masih kayak gitu, apa gue harus bertahan disini?"


"Lo sakit ya?"


"Kalian yang sakit," menatap Meysa, "lo udah janji Mey sama gue gak akan gangguin Clarissa, kenapa dia turun dari sini."


"Kami cuma ngobrol."


"Ngobrol?"


Tias maju lagi mendekati Rosita, "kami bahkan gak sentuh dia sedikit pun."


"Lo bisa diem gak sih Yas? gue lagi ngomong sama Meysa." Dia tahu bahwa Tias selalu ikut campur kedalam masalah mereka, tukang mengompori. "Lo sadar gak sih, lo itu biang onarnya."


"Lo kok jadi ngomongin gue sih?"


Rosita tersenyum menyeringai dan bersidekap menatap Tias jengah. "Lah, lo gak sadar? lo selalu nganggep ucapan lo itu bener dimata Meysa, padahal lo gak tau kalau dia itu pengen ngomong sesuatu hal yang lain selama ini, tapi lo selalu lebih dulu nyerocos sok tau?"


"Emang bener Mey?" Meysa menatap kearah lain.


"Bisa gak kalian diam, gue lagi pusing nih."


Tidak ada lagi yang perlu Rosita ucapkan, melihat respon Meysa hanya datar dan tidak perduli. "Waktu itu lo ngajak gue buat jauh dari masalah, merubah diri untuk menjadi lebih baik. Bahkan lo bilang gak akan lagi perduli sama Putra. Karena yang lo inginkan itu Bintang."


Tampak wajah Tias sangat kaget bercampur kecewa menatap Meysa sekarang. "Gue gak tau kalau lo ngajak Rosita buat berubah, kenapa lo gak ajak gue sama Jesika juga? lo gak anggep kita temen Mey?"


"Diam b*tch, kalian mikir gak sih? bener kata cadel tadi, kalian itu munafik. Kalo kalian emang sahabat gue kenapa kalian gak pernah ada waktu gue nangis setiap denger berita dari bokap gue?" Menatap kearah lain, "gue selalu dateng setiap kalian ada masalah kan? kenapa kalian gak pernah ada setiap gue nungguin bokap gue operasi?"

__ADS_1


Jesika mengelus bahu Meysa ragu, "gue gak pernah tau tentang bokap lo yang operasi Mey."


"Bukan gak pernah tau, tapi emang kalian gak pernah perduli sama gue. Dalam waktu hampir dua belas tahun dan bokap gue udah operasi delapan kali. Selama kita berteman hampir tiga tahun, bokap gue udah operasi dua kali, kalian gak tau kan?" Menatap Jesika tajam, "karena kalau gue kasih tau ya percuma, kalian gak perduli semua."


"Mey....." Meysa menepis tangan Tias saat hendak meraih bahunya.


"Waktu gue telepon lo, selalu sibuk buat dateng ke arena balap. Dan lo Jes, lo selalu ngikutin Tias tanpa bertanya kenapa gue telepon. Kenapa gue cuma ngajak Rosita? karena dia sama Leo selalu tiba-tiba dateng dan nemenin gue, bahkan setiap ada kesempatan dia selalu jenguk dan sapa bokap gue walaupun bokap gue gak respon apapun."


Meysa berdiri, menatap Rosita lurus.


"Mulai saat ini, gak ada kedekatan yang berlebihan lagi diantara kita. Geng geng apalah itu bubar, kita teman dekat biasa aja, gue tetep bakal bantu kalau kalian butuh sesuatu, dan kalian gak perlu balas budi apapun." Dia melewati Rosita begitu saja.


Pikirannya sedang kacau, ucapan Clarissa begitu berputar dikepalanya. Meysa mengusap wajahnya gusar, berjalan menuju kantin dan menaiki lantai dua, dia selalu diizinkan karena menurut sang pemilik Meysa sudah seperti anaknya sendiri karena dia termasuk anak yang baik.


Meysa selalu tersenyum tipis setiap pemilik kantin itu memujinya, baik apanya? membully anak yang tidak berdaya dengan kekerasan kok bisa dibilang baik.


Dia masuk kedalam ruangan yang selalu dipersilahkan oleh ibu kantin, pintu terbuka sedikit. "Kenapa? ada masalah lagi? ini makanan, sudah ibu bilang jangan suka bolos, sekali ini saja ibu tolong kamu. Kunci pintunya agar tidak ada yang melihatmu."


Meysa hanya mengangguk, ibu kantin itu memang cerewet namun sangat baik baginya. Meysa mengunci pintu setelah ibu kantin keluar dan melayani beberapa pelanggan yang kebetulan hobi nongkrong diwarung kusus anak SMA.


Meraih bungkus rokok yang selalu dia sembunyikan dibawah kasur, ibu kantin tidak tahu karena Meysa selalu tahu kapan perempuan paruh baya itu mengganti seprei dan membersihkan kamar. Mengambil sebatang dan menghisapnya, pikirannya kosong dan hanya menatap langit-langit kamar, hingga jam pelajaran sekolah selesai dia tetap berada disana.


...🌼🌼🌼...


Clarissa menoleh pada pintu kamar yang berbunyi, seseorang telah mengetuknya dari luar. "Ini Putra," pelan dia menelan salivanya, Clarissa berjalan membukakan pintu. "Hai."


Senyuman Putra benar-benar membiusnya, "Ca.."


"Hah? kenapa?"


Putra menggeleng, "lo lagi sibuk kah?"


"Lagi ngapain?" Melongok kecil menembus ruang kamar.


Clarissa bergerak menutupi arahan mata Putra yang bergerak menelusi kamar, dia tidak ingin ketahuan oleh Putra sedang mengacak-ngacak kamar. "Lagi main game."


"Kaki lo sakit gak?"


Clarissa menunduk melihat kakinya, dia sedang merasa baik-baik saja. "Gue Okay kok, kenapa?"


"Bisa jalan?"


"Bisa."


"Keluar yuk,"


Putra ini sedang apa sih??? Dia hanya memandang lurus, dan Putra tahu bahwa Clarissa tidak bisa mencerna gombalan receh ala-alanya. "Makan keluar? Chef Aldo lagi libur dan mama kurang suka kalau bukan Chef yang masak, jadi malam ini gak ada makanan."


"Mau makan dimana?"


"Ya dimana aja,"


"Berdua aja?"


Putra menghela napas, "iya Ica, mama sama papa lagi di Rumah sakit."

__ADS_1


"Oke bentar," Clarissa membiarkan Putra menunggu dilantai bawah, dia harus bersiap-siap, mengganti pakaiannya atau apapunlah, agar Putra tidak malu berjalan dengannya.


Mereka sempat berkeliling mengitari pusat kota, entah akan makan dimana, Putra sangat bingung. "Kita mau makan dimana sih? kaki gue udah gemeteran nih."


"Gue bingung Ca mau makan dimana? di Restoran ini suka gak lo."


Clarissa menggeleng kecil, restaurant mewah. Mereka hanya akan makan malam bukan dinner special. "Tempat yang gak berlebihan Put."


"Menurut gue itu gak berlebihan,"


"Nasi goreng pinggir jalan situ aja enak." Menunjuk sebuah warung dengan pelanggan sangat ramai. "Kelihatannya enak, makanya ramai."


Putra menggeleng, "lo bisa sakit perut. Kalau lo mau makan nasi goreng, gue tau dimana tempat yang enak."


...🌼🌼🌼...


Putra tersenyum lebar, menyodorkan nasi goreng dengan topping sosis dan udang, bau khas nasi goreng benar-benar membuat perut langsung terasa lapar. "Makan Ca, dijamin disini itu enak banget."


"Kita gak apa-apa disini?"


"Ya gak apa-apa lah, gue udah sering kesini kalau urusan nasi goreng. Chef Aldo aja pernah minta resepnya loh." Menyendok nasi goreng dengan lahap. "Ayo makan, katanya lo pengen nasi goreng."


"Iya," menarik piringnya. "Sorry, Marisa. Ngerepotin kamu."


Marisa menoleh, menatap Clarissa yang tampak tidak enak. "Santai aja, dia sering kok kalau mau nasi goreng buatan aku selalu ke sini. Bahkan jam tiga pagi, dia pernah gangguin aku tidur cuma minta di buatin makanan."


"Lebih bagus kalau kamu ganti password apartmentnya," celetuknya sembari menyantap nasi goreng yang telah di sajikan Marisa.


Mendengar kalimat Clarissa, Marissa menghentikan aksi membaca majalah ditangannya. Di tampak berpikir sebentar, lalu menatap Clarissa dan Putra bergantian, mereka duduk dilantai sedangkan Marisa duduk diatas sofa. "Gak bisa Clarissa, ini apartment hadiah pertunangan kami dari tante Anita."


"Oh, jadi seharusnya apartment ini buat kalian berdua."


"Engga dong." Meraih gelas kramiknya berisi teh hangat. "Hadiah buat Putra ya motornya itu."


Mendengar hal itu, Clarissa merasa semakin jauh untuk meraih Putra. Sesuatu yang sangat tinggi ia gapai. "Put, kenapa sosisnya lo taruh dipiring gue semua?"


"Gue gak terlalu suka sosis,"


"Putra mah sukanya sama kamu." Marisa menatap Putra, laki-laki itu tengah menatap datar. "Kenapa? Daze bilang sama aku kalau dia suka sama Clarissa juga, Rinda, Noel juga bilang hal yang sama."


Clarissa menyantap lagi. Erlangga, dia emang gak pernah suka sama gue kan? makanya Marisa gak nyebutin nama dia.


"Erlangga juga ngomong gitu."


Hal itu membuat Putra yang semula tidak perduli menjadi sangat terkejut, dan Clarissa merespon dengan melirik kecil. "Dia bilang suka juga sama ica? kamu gak salah denger kan Sa?"


"Iya, walaupun aku tau dia bohong sih." Menepuk punggung Clarissa, "Erlangga satu-satunya teman Putra yang sangat sangat menyebalkan."


"Aku tau.." Tanggap Putra.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Arrgghhhh......


Terima kasih teman-teman yang masih sempat meluangkan waktu untuk baca ini, semoga kalian sehat selalu.

__ADS_1


...Jangan lupakan untuk memberikan tombol like dan berikan saran kepada karya ku ini...


Dukungan kalian sangat berarti buat ku, sekali lagi terima kasih... Saranghae πŸ’œ


__ADS_2