
πππ
SEBEL GAK SIH, AKU SUKA GAK JELAS SOAL UPDATE KARYA.
MAAF YA, PUNYA KESIBUKAN PADAT NIH DAN LUPA BIKIN HIATUS KARYA.
...πΌπΌπΌ...
Suara siulan terus menggema diruang mobil, Putra menyenandungkan beberapa lagu di sepanjang perjalanannya menuju apartemen. Langkahnya berjalan santai menaiki lift, dan keluar setelah pintu terbuka pada lantai yang dia tuju.
Menyusuri lorong mencari nomer apartemen yang menjadi tujuannya. Setelah sampai ditempat yang dia cari, tangannya menekan tombol dengan pelan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, pintu terbuka.
"Eihh, Putra..." Pintu dibuka sedikit lebih lebar, menampilkan sosok Putra yang tinggi. "Tumben nih kamu mampir ke Apartemen Tante?"
Putra tersenyum lebar. "Iya Tante, Meysa disini kan ya?"
Alia terdiam, dia menatap ke dalam lalu kembali menatap Putra. Mempersilahkan laki-laki itu untuk masuk, lebih dulu Alia berjalan menuju meja makan dan menatap suaminya yang sedang bersenda gurau dengan Meysa. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
"Mas...." Panggilan lirih Alia membuat Jeri dan Meysa menatap kearah sumber suara, keduanya menatap heran pada tamu tidak di undang itu.
Jeri mencuci tangannya dan berjalan keruang utama dimana Putra duduk. "Hei buddy, tumben kamu kesini? ada angin apa nih?"
"Tadi Putra ke rumah Meysa tapi kata satpam disana Mey dibawa sama Om." Jelasnya, dia dapat melihat bayangan Meysa yang menguping pembicaraan mereka dibalik dinding. Putra memainkan kunci mobilnya. "Papa suruh Putra untuk jemput Meysa, Om."
"Jemput? mau kemana?"
"Papa bilang Meysa akan ikut kami."
Jeri menatap istrinya, dia tahu bahwa Alia tidak ingin hal itu terjadi. Matanya sudah berkaca-kaca. "Kok bisa?? Ah, maksud Om, kenapa baru sekarang?"
Putra mengangkat bahunya. "Tidak tahu, Om bisa kerumah meminta penjelasan papa."
"Kamu pulang saja, nanti Om akan kesana untuk meminta penjelasan." Jeri menatap Alia yang bergerak pergi.
Kalimat Jeri membuat Putra menggaruk kepalanya. "Tapi nanti Putra kena marah sama papa Om, tidak membawa Meysa. Kata papa, mau tidak mau Meysa harus tetap Putra bawa."
Jeri menghembuskan napasnya. "Om akan membahasnya nanti dengan papamu, Okey? jangan khawatir, Om akan menyelesaikannya."
"Baiklah." Putra bangkit dari duduknya. "Nanti akan Putra sampaikan, Putra pamit ya Om?"
"Iya, hati-hati."
Jeri terduduk, dia sengaja tidak mengantarkan Putra sampai depan pintu apartemennya. Kakinya melemas, Alia tidak bersuara, tapi Jeri yakin istrinya itu tengah menahan tangis didalam kamarnya. Alia pamit setelah mendengar Putra mengatakan akan membawa Meysa tadi.
Wajahnya gusar, Jeri tidak ingin melihat Alia menangis, tapi dia tidak mungkin menentang kakaknya.
"Om...."
Jeri menegapkan tubuhnya, dia melihat Meysa berdiri didekatnya. "Iya sayang...."
"Itu, Mey gak tahu setelah dimasukkan telor apa lagi?" Tanyanya, mereka memang sedang membuat kue bolu bersama. "Tante gak keluar-keluar dari dalam kamar."
"Oh, kamu kecilin saja mixernya, Om akan panggilkan Tante ya..."
Meysa mengangguk, lalu kembali menuju dapur menuruti perintah Jeri. Dia mengusap air mata yang sudah lolos melewati pipinya, harus senang atau sedih dia mendengar percakapan antara Putra dan Jeri tadi.
...πΌπΌπΌ...
"Mas......" Jeri sulit melanjutkan kalimatnya. Anita tampak berharap melihat kedatangannya, tapi dia sendiri saja sedang mengharapkan sesuatu.
"Loh, dimana Meysa?" Gio duduk dihadapan Jeri, menaruh tabletnya dan menatap Jeri serius. "Huh? dimana?"
__ADS_1
"Kenapa?"
Gio mengrenyit heran. "Apanya yang kenapa?"
Jeri kembali duduk dan menghela napasnya pelan. "Kenapa mas Gio ingin mengambil Meysa?"
"Ya, sudah seharusnya Meysa ikut denganku. Kamu tahu kan? Anita adalah ibu kandungnya, Raka sudah meninggal jadi hak asuh atas Meysa kembali pada mamanya." Jelas Gio.
Jeri menunduk, menggeleng kecil. "Kenapa baru sekarang? Mas Gio dan papa sama saja?"
"Apa maksudmu?"
Perlahan Jeri mendongakkan kepalanya, dia harus mempertahankan keluarga kecil yang baru akan dia bangun. "Aku dan Alia akan mengadopsi Meysa."
"Jeri..." Mimik Anita panik, dia ingin marah tapi Gio menahannya.
Gio menatap Jeri lagi. "Kamu tidak bisa mengadopsi anak yang masih memiliki orang tua, Jer."
"Percuma juga, kenapa mba Anita baru ingin mengambil Meysa sekarang?" Jeri menatap Gio. "Dan mas sendiri? bukankah mas tidak suka jika mba Anita dekat-dekat dengan Meysa, lantas kenapa sekarang mas malah menyetujui ingin mengambil hak asuh atas Meysa?"
"Jer. Kamu tahu kan? Putra sangat menyayangi Anita, jika aku biarkan Anita dekat dengan Meysa, lalu ada timbul rasa Anita ingin kembali pada keluarganya dulu bagaimana? Aku tidak bisa membiarkan Putra sakit lagi karena tidak bisa memiliki ibu,"
"Lalu bagaimana dengan nasib Meysa dulu? dia hanya anak kecil yang butuh dampingan seorang ibu."
"Kamu kenapa sih? ya sekarang inikan kami akan memperbaiki semuanya, memberikan kebahagiaan untuk Meysa." Gio merasa adiknya telah kehilangan akalnya.
"MAS SAMA SAJA SEPERTI PAPA!!! EGOIS!!!" Mata Jeri sudah memerah, menahan amarah. "Kenapa baru sekarang papa mengakui Bintang sebagai anaknya, bahkan sampai sekarang aku saja tidak paham bagaimana bisa Dokter Dinda hamil anak papaku? dunia ini sudah gila."
"JER!!! Kamu tidak paham karena saat itu kamu masih remaja, hanya anak SMA. Saat kejadian dulu mama masih ada, tidak mungkin papa bertanggung jawab pada kehamilan Dokter Dinda. Apa kata orang nantinya???"
"Iyakan? kalian memang egosi,"
"Setuju atau tidak, aku akan mempertahankan Meysa."
"Kemana saja, baru diakui anak?"
"Aku sudah menjelaskannya padamu Jer." Gio ikut berdiri ketika melihat Jeri berdiri. "Meysa masih memiliki ibu, kamu tidak akan bisa mengambilnya."
Jeri tidak perduli, dia beranjak dari duduknya. "Maaf, sekalipun menggunakan kekerasan, aku akan tetap mempertahankan Meysa. Aku akan memberikan segalanya, termasuk kebahagiaan dan kasih sayang."
"Semua ada pada tangan Meysa." Langkah Jeri terhenti saat kalimat Gio membenarkan logikanya. "Pasti Meysa juga membutuhkan kasih sayang dari ibunya bukan?"
Jeri tidak menjawab, melangkahkan kakinya dari rumah ini adalah pilihan terbaik. Dia buru-buru menuju mobilnya dan mengemudikan kemudi menuju sekolah SMA Gemilang Cahaya, Meysa harus dia amankan sebelum kaki tangan Gio bergerak mengambilnya.
...πΌπΌπΌ...
"Mey pulang bareng gue...."
Seketika satu kelas menghentikan aktivitasnya, beberapa ada yang sengaja memasukkan buku-buku pelajaran dengan sengaja perlahan agar tidak mengganggu percakapan penting itu.
"Gak perlu."
Semua mata menoleh pada Meysa. Tumben sekali, biasanya perempuan itu yang kegirangan menempeli Putra.
"Mama mau ketemu sama lo."
"Weits apa nih?" Rinda menepuk bahu Putra dan langsung merangkulnya. "Kenapa Tante Anita pengen ketemu sama Meysa?"
"Berisik lo!!" Melepaskan rangkulan Rinda. "Ca, pulang sama gue sekalian ya."
"Gak usah.."
__ADS_1
"Ciat, Putra ditolak dua cewek nih."
"Rin lo mau matii?" tawaran Putra langsung mendapat gelengan kecil dari Rinda. Putra menunduk dimeja Clarissa. "Kenapa gak mau pulang bareng?"
Clarissa mendongak menatap Putra. "Ini pertama kalinya papa mau jemput, gue gak mau menyianyiakan itu."
"Okey, alasan diterima." Putra berjalan menghampiri meja Meysa. Dia duduk dimeja perempuan itu. "Alasan lo apa?"
"Gak minat."
Putra membantu Meysa merapikan mejanya. Ya. Semua tampak heran melihat sikap Putra. Kalau saja Clarissa tidak tahu apa yang terjadi, mungkin dia sudah menahan tangis karena cemburu.
"Mama nanyain lo terus, gak pengen ketemu."
"Gue gak bisa."
"Alasannya." Putra ikut berdiri.
"Mau kemakam bokap gue." Putra terdiam, tatapan Meysa tidak seperti biasanya, akting atau tidak, seharusnya Meysa tidak memberikan tatapan itu.
...πΌπΌπΌ...
"Maafkan sikap papa saya kemarin, Dokter Doni." Ucap Jeri, mereka tidak sengaja bertemu digerbang SMA Gemilang Cahaya. "Saya tidak heran dengan sikap seenaknya dari papa saya."
"Tidak masalah. Mungkin saya akan bersikap demikian kalau saja saya tidak bisa mendapatkan anak kandung saya."
"Tapi anda juga melakukan hal yang sama pada anak tiri anda." Jeri berdehem, "maaf, saya harus menyebutnya apa."
"Jangan pikirkan, Bintang tetap anak kandung saya, walaupun itu dipaksa."
Senyum Doni mengembang, melihat Clarissa berlari dengan wajah tersenyum bahagia, perempuan mungil itu merentangkan tangannya dan langsung memeluk tubuh Doni erat. "Papa sudah menunggu lama?"
"Um, baru saja." Doni menunjuk Jeri. "Tidak beri salam pada Om Jeri?"
Clarissa menatap kaget, dia menunduk kecil. "Apa kabar Om Jeri?"
"Baik, manis." Kepalanya berkeliaran. "Apa kamu kenal Meysa, dia kelas dua belas IPA satu."
"Meysa?"
"Oh, itu dia...." Jeri mengangkat tangannya. "Meysa,, sayang...."
Clarissa dan Meysa sama-sama menatap kaget tapi mereka langsung membuang muka tidak perduli. "Meysa, kenalkan ini Dokter Doni, Dokter yang bekerja dirumah sakit Adietama."
"Salam kenal Om, saya Meysa..."
"Halo, salam kenal kembali." Doni menepuk bahu Jeri. "Anak anda?"
Jeri mengangguk. "Ya, anak saya, cantikkan?"
"Betul. Bisa kita jodohkan dengan anak saya."
Jeri menatap Doni, entah bercanda atau tidak, rasanya aneh jika hal itu benar terjadi. "Wahh, saya tidak bisa memaksakan hal itu."
"Hanya bercanda," Doni membawa Clarissa kedalam mobilnya. "Lain kali kita harus makan malam bersama."
"Benar juga. Harus jadi ya?"
"Bisa diatur." Doni tersenyum tipis pada Meysa. "Senang berkenalan dengamu,"
"Saya juga om, hati-hati dijalan." Perempuan itu menunduk kecil dan tetap memperhatikan kepergian mobil yang dikendarai oleh Doni keluar dari are SMA Gemilang Cahaya.
__ADS_1
...πππππππ BERSAMBUNG ππππππππ...