Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:38


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Menarik tangannya saja dia tidak bisa, yang berhubungan dengan Putra akan selalu membuat sel dalam tubuhnya membeku. Putra hanya meraih jari kelingkingnya, mengelus lembut, tapi itu sudah membuat Clarissa lupa pada segalanya. Tidak berani melihat, Clarissa terus berusaha mengatur napasnya, berusaha agar tetap terlihat tenang.


Putra memiringkan tubuhnya, membuat ranjang bergerak kecil. "Kata papa, sore nanti lo mau nemuin nyokap lo ya Ca?"


"Iya,"


"Nginap?"


"Iya."


"Kenapa lo mau nemuin nyokap lo?"


"Emang gue gak boleh nemuin nyokap gue?" tanyanya balik.


"Harus ya?"


"Harus ya." Clarissa mengulangi pertanyaan Putra dengan menatap laki-laki itu, dia menarik tangannya. "Apa gue gak boleh kangen sama nyokap gue, terakhir ketemu sama nyokap gue itu ya pas sidang."


"Seharusnya, nyokap lo mempertahankan diri untuk ada didekat lo." Mata Clarissa memanas mendengar Putra berbicara. "Kenapa harus memilih untuk pergi dan kerja dirumah sakit cabang kecil disana? itu yang namanya mau memperjuangkan anak-anak?"


Clarissa menatap Putra lagi. "Lo bisa diem gak sih? ada hak apa lo ngomong dengan kalimat buruk tentang nyokap gue, emang lo tau apa yang membuat nyokap gue milih jalan itu."


"Bukan gitu maksud gue Ca, banyak jalan yang bisa dipilih kok, bahkan bokap gue terang-terangan untuk membantu kalian. Tapi nyokap lo yang gak mau, untuk menyingkirkan bokap lo doang gue bisa Ca."


"Seperti yang udah lo lakuin sama Dokter Vikri?"


Putra tidak menjawab.


"Lo emang pinter ya, membuat semuanya mudah bagi lo."


Putra bangkit dari tidurannya dan duduk disisi ranjang, mereka saling memunggungi. "Gue ngelakuin itu untuk ngelindungi lo Ca."


"Ngelindungi dari apa?" Clarissa menarik napasnya dalam-dalam. "Lo sadar gak sih Put, selama lo terus nempelin gue, masalah selalu datang ke gue."


"Maksud lo gue pembawa sial?"


"Bukan," Clarissa menggeleng kecil sembari menunduk. "Gue sumber masalahnya, seharusnya lo gak bersembunyi dari cewek-cewek fanatik lo itu di gue."


"Gue anter ya?" Putra mengalihkan pembicaraan, dia tidak suka jika membahas masalah ini dengan Clarissa. "Ya..."


"Gak usah. Lo gak perlu susah payah ngurusin gue. Dan lagi lo gak usah terlalu perduliin gue, lo cukup perduliin Meysa aja." Clarissa tahu dia sudah salah menjawab, tapi kalimat itu yang sedang ada dalam pikirannya.


Pintu terbuka membuat keduanya terdiam, Marisa masuk dengan membawa secangkir teh hangat dan ditaruh didekat gelas Clarissa. "Nih minum, mumpung hangat. Kamu juga Clarissa, biar badannya enakan."


"Maaf, Marisa. Kayaknya aku mau keluar aja."


Marisa menghampiri Clarissa, menatap dengan panik. "Sakit?"


Clarissa menggeleng. "Enggak."

__ADS_1


"Tapi kamu pucet."


Hal itu membuat Putra berdiri, mengitari ranjang dan berlutut dihadapan Clarissa, menatap wajah Clarissa dengan saksama. Memang sudah terlihat memucat, bahkan saat laki-laki itu menyentuh tangannya sangat terasa dingin. "Ca?? are you okey?"


Clarissa menarik tangannya, mengusap wajah dengan gusar. "Gue gak apa-apa."


"Tapi kamu pucet, sudah makan kan?"


"Sudah kok, Marisa."


"Ca? kerumah sakit ya.." Melihat keadaan Clarissa membuat Putra sangat panik.


"Enggak perlu."


"Kenapa keras kepala sih."


"Ya gue bilang gak apa-apa kok. Kenapa maksa sih?" Ini terdengar kasar, apalagi Clarissa menggunakan nada tinggi.


"Putra. Jangan dipaksa, aku cari termometer dulu, kamu jangan kemana-mana." Ucap Marisa sebelum keluar untuk mencari pengukur suhu tubuh yang tidak dia temukan didalam ruang UKS.


"Sorry kalau tadi gue ada nyinggung perasaan lo." Clarissa tidak menanggapi, dia hanya menunduk semakin dalam. Perlahan Putra menyelipkan rambut Clarissa yang menjuntai ke belakang telinga. "Ca, maafin gue kan?"


Clarissa menatap kedua netra Putra, ia tidak tahu kenapa Putra mengatakan semua itu kepadanya tadi. Apa Putra memang sengaja menyinggung perasaannya, atau memang Putra hanya asal bicara saja.


"Gue pergi sama kak Bintang," Clarissa berdiri, saat hendak membuka pintu dia tersentak sedikit karena pintu terdorong cukup kuat.


"Kamu mau kemana?"


"Aku gak apa-apa kok, maaf ya sudah merepotkan, aku pergi..."


"Semedi."


"Semedi? apaan tuh?" Putra mendongak menatap kearah Marisa, perempuan itu bertanya dengan tatapan fokus kearah layar ponselnya. Putra enggan menjawab.


...🌼🌼🌼...



Clarissa menggenggam gelas berisi Ice Americano miliknya, dia sama sekali belum meminum es itu. Matanya terus melirik ponsel yang terletak tidak jauh darinya yang terus bergetar. Laki-laki yang duduk dihadapannya bergerak gelisah ingin menerima panggilan dari ponselnya.


"Angkat saja."


"Maaf dek." Mendengar Clarissa mengizinkan, Bintang langsung meraih ponselnya dan menerima panggilan itu.


"Iyaa sayang, iyaa..." Ungkapnya diakhir panggilan. Bintang menaruh ponselnya lagi dan menatap Clarissa. "Maaf,,,"


"Bener ya,,,"


"Apanya?" Bintang kaget, mereka bahkan belum bertukar cerita.


"Kalau wanita itu racun dunia."


"Kok gitu?"

__ADS_1


"Dalam beberapa bulan saja, kak Bintang sudah terfokus pada kak Raisa. Dalam beberapa hari saja, kak Bintang sudah melupakan tentang perjanjian kita untuk mengunjungi mama karena Raisa selalu meminta kakak disamping dia." Clarissa menarik napasnya sebelum kembali memulai kata. "Padahal kalian belum menikah, tapi seluruh kehidupan kak Bintang sudah dia kuasai."


"Dek, kamu kan tau...."


"Hamil??" Clarissa memotong. "Memangnya wanita hamil tidak bisa mandiri? apa dia semanja itu sampai membuat kak Bintang melupakan kewajiban sebagai anak dan kakak?"


"Dek...."


Clarissa berdiri membuat Bintang menggantungkan kata-katanya lagi.


"Ica pulang aja, kalau cuma menemui mama, Ica bisa sendiri kok. Untuk mama, mungkin akan mengerti posisi kak Bintang saat ini. Tapi untuk Ica, kak Bintang bukan lagi jajaran orang-orang yang Ica favoritkan."


"Ica..." Bintang berdiri hendak meraih Clarissa agar tidak pergi. Tapi keinginannya sia-sia, karena langkah Clarissa sudah menjauh bahkan keluar dari dalam Cafe.


...🌼🌼🌼...


"Kok gak bilang kalau mau menemui kak Bintang?"


Apa semua orang sangat suka mengatur kehidupan orang lain? Clarissa sangat lelah, tapi dia tidak ingin menyakiti perasaan Anita.


Clarissa melihat kearah Anita yang duduk dikursi belajarnya. "Maaf tante, Ica gak tahu kalau harus izin sama tante dulu untuk menemui kak Bintang."


Anita tersenyum tipis. Kalimat Clarissa terdengar sedang menahan kesal. "Bukan yang seperti itu, Deon pergi untuk menjemput kamu tapi dia tidak menemukan kamu disekolah. Putra juga tidak bisa dihubungi. Tante kan jadi khawatir."


"Maaf, kalau sudah membuat tante khawatir."


"Jadi kamu mau berangkat sekarang?"


"Iya tante."


"Sama kak Bintang?"


Sembari memasukkan beberapa pakaiannya kedalam koper kecil yang dia pinjam dari Anita, dia menggeleng. "Enggak tante, kak Bintang sibuk."


"Putra bilang ingin mengantarkan kamu, kenapa menolak?"


"Ica bisa sendiri kok tante, lagian perjalanannya terlalu jauh."


"Biar dianter Putra ke stasiun ya? kamu mau naik kereta kan?"


"Mau pergi sama Kanya kok." Clarissa tersenyum tipis, menarik koper dan menghampiri Anita yang sudah berdiri. "Ica boleh peluk tante gak?"


"Boleh." Merentangkan tangannya, mendekap Clarissa dengan lembut dan mengecup puncak kepalanya. "Janji minggu sore pulang, tante bakalan kangen semaleman gak ada kamu."


Dalam pelukan hangat Anita, Clarissa mengangguk. Kenapa rasanya begitu menyebalkan, dulu dia sangat menginginkan berada didekat Putra dalam situasi apapun, keinginnanya terwujud dalam bentuk kehancuran untuk keluarga bahagianya.


Apakah, keinginan serakah bagi seseorang dapat mengancurkan kebahagiaan yang ada bagi seseorang tersebut??


...🌼🌼🌼...


CLARISSA FATIYAH ADAMS


__ADS_1


PUTRA RIZQI ADIETAMA



__ADS_2