
...KANYA DEALOVA VS MEYSA ADELIA...
...πΌπΌπΌ...
Tidak ada habisnya jika membicarakan soal kebencian, padahal mereka telah diberikan hukuman. Walaupun itu hukuman yang ringan. Tapi, setidaknya mereka paham bahwa yang dilakukan mereka adalah sesuatu yang salah.
Kanya menatap Meysa dengan sangat tajam seperti ingin menghabisi perempuan itu. Berbeda dengan lawannya, Meysa tampak tenang dan hanya menatap datar Kanya.
"Gue gak ada urusan sama lo." Ucap Meysa dengan lantang, dia tidak tahu apa kesalahannya sampai Kanya dengan ganasnya menyenggol bahunya hingga membuat mangkuk baksonya tumpah berceceran dilantai. Dia bahkan belum mencicipinya.
"Lo ngerasa sehebat itu sampai gue harus punya urusan sama lo?" Ujar Kanya lebih tajam.
Lengan kanan Kanya diraih oleh Clarissa, menginginkan bahwa sebaiknya mereka menghentikan perdebatan yang tidak diketahui apa penyebabnya itu. Tapi Kanya tetaplah Kanya tidak akan berubah menjadi Clarissa. Dia akan tetap melawan Meysa tanpa memandang arti kata mundur sebelum berjuang. Tangannya dia tarik dari cengkraman lembut Clarissa, membiarkan Clarissa didekatnya malah akan membuatnya membentak sahabatnya sendiri.
Kanya maju dua langkah. "Lo belum puas ganggu Ica??"
Meysa tersenyum tipis. "Gue gak ganggu."
"Tadi gue lihat sendiri."
Mata Meysa melihat Clarissa yang langsung menunduk, mungkin takut jika salah melihat. "Tanya aja sama dia, apa gue tadi ganggu dia? padahal gue lagi happy loh, lagi ingin bersikap ramah dan nyapa dia."
"Lo? bersikap ramah? sama Ica? gak salah ngomong lo."
"I'am seriously."
Kanya menatap Clarissa, dia belum sempat menanyakan satu pertanyaan apapun dan Clarissa sudah mengangguk, seperti memberikan jawaban bahwa apa yang dikatakan Meysa adalah kebenaran. Perempuan jahat itu tidak sedang mengganggunya, malah mengelus kepalanya lembut, tersenyum aneh dan melambaikan tangannya sebelum pergi dari sisinya. Benar-benar aneh.
Tatapannya beralih pada Meysa. "Gue maafin lo kali ini." Meysa menatap bingung, apa yang perlu dimaafkan? dia tidak berbuat salah dan tidak mengatakan maaf tadi. "Entah Ica bohong biar ini cepat selesai atau apalah, yang jelas lo gak bisa bertindak seenaknya selagi gue masih ada dihidup dia."
"Oke, setuju." Jawabnya dalam waktu cukup lama. Kanya menatap aneh, kenapa Meysa mengatakan setuju? "Tapi janji, kalau lo gak ada dihidup dia, gue yang bakal terus ada dihidup dia."
__ADS_1
Clarissa mengusap lengannya, bulu kuduknya berdiri, merinding saat kalimat aneh Meysa keluar sembari tersenyum puas. Belum ada yang paham maksud dari Meysa apa? yang Kanya sendiri tangkap adalah....
"Lo mau bunuh gue? biar lo bisa bisa sepuasnya ganggu Clarissa?" percakapan ini semakin dalam, Kanya maupun Meysa sama-sama menatap tak bersahabat. Perseteruan keduanya selalu memanas, tidak ada yang ingin mengalah, mereka sama-sama menantang dan selalu ingin menunjukkan siapa yang kuat diantara mereka berdua.
Meysa melipat kedua tangannya didepan dada, senyuman anehnya itu tidak pernah terlihat dia berikan kepada siapapun kecuali berurusan dengan Clarissa. Meysa diam, dia memandang dan menimang tentang pertanyaan dan kalimat sarkasme Kanya. "Itu bisa gue masukin kedalam list gue. Thank you udah ngasih ide."
Jantung Clarissa seakan mau copot. Mendengar Kanya mengatakan soal menghilang dari kehidupannya saja sudah tidak bisa dia cerna. Lalu ini, Meysa menanggapi dengan santai dan serius.
"Nyak... Gue mau kekelas." Ucapan Clarissa untuk menghentikan perdebatan telah diterima oleh Kanya, perempuan itu berbalik sembari meraih bahu Clarissa untuk dibawa pergi. Dari hadapan Meysa.
...πΌπΌπΌ...
"Pembahasan lo lama-lama agak dark ya Nyak?" Daze duduk didekatnya, menatap Kanya yang asik memainkan ponsel. "Kayak berasa jauh banget arah pembicaraan kalian berdua tadi."
"Gue lagi males ngomong sama kaum medusa, mending pergi dari pada gue semprot." Ucapnya kasar.
Bukannya sakit hati, Daze malah tertawa dan menggeleng kecil. "Kalimat lo barusan aja itu udah termasuk nyemprot gue loh Nyak."
Semula Kanya tidak tertarik untuk menatap laki-laki yang entah sejak kapan sudah duduk didalam kelasnya, bahkan duduknya tepat disampingnya. Padahal ruang ujian laki-laki itu bukanlah didalam ruang yang sama dengannya. "Mau lo apa sih? gue tanya baik-baik yaa..."
"Eh..." Kanya mengganti posisi duduknya menghadap Daze. "Lo sama gue itu gak pernah deket. Jangankan deket ya, untuk natap muka lo aja gue gak suka, jadi lo gak usah ngajak gue ngomong dan sok-sokan akrab sama gue."
"Apa sih Nyak, seumur hidup gue gak pernah ngelakuin salah sama lo padahal. Kenapa lo selalu benci gitu sama gue." Kanya kembali duduk dalam posisi semula dan kembali memainkan ponselnya. "Lo kayak punya dendam kesumat sama gue."
"Selagi lo punya keakraban sama Putra, gue gak akan pernah mau baik sama lo."
"Lo kenapa sebenci itu sama Putra sih?"
"Bukan urusan lo,"
"Lo suka sama Putra."
Kanya menoleh, ekspresi jijik dia tampilkan pada wajah manisnya. "Lo gak salah? gue suka sama Putra. Gak guna."
__ADS_1
"Terus kenapa lo sebenci itu sama Putra."
"Lo sama gue gak pernah sedeket itu untuk lo tahu apapun yang gue suka dan gak gue suka."
"Gue malah mikirnya, lo suka sama Putra dan Putra malah suka sama Ica, makanya lo jadi benci karena cowok yang lo suka itu suka sama sahabat lo sendiri." Daze diam saat Kanya tertawa. "Lo kenapa ketawak?"
"Sumpah ya. Pikiran lo dangkal banget." Kanya benar-benar menoleh dan tatapannya semakin tidak bersahabat pada Daze. "Lo yakin kalau Putra suka sama Ica?"
Daze teridam. Dia menjadi bertanya-tanya, kenapa Kanya menanyakan hal itu padanya. Apa ada sesuatu yang Kanya tahu dan dia tidak? Daze menggeleng samar, dia sangat yakin kalau Putra menyukai Clarissa jika dilihat dari sikapnya selama ini. Lalu Kanya? kenapa meragukan soal itu?
"Lo kenapa skeptis gitu?"
"Eng-enggak ahh."
"Kenapa? lo jadi ngerasa dari pertanyaan simpel gue, lo bisa ambil kesimpulan soal lo juga gak yakin Putra ada rasa sama Ica." Kanya menggaruk pelipisnya. "Come on, Ica emang gak secantik Marisa mantan tunangannya."
"Kenapa lo bawa-bawa Marisa." Daze jelas tidak terima kalau kekasihnya dibawa-bawa dalam pembicaraan mereka.
"Mungkin Putra emang gak mandang fisik kalau suka sama perempuan. Tapi Ica gak seperti Marisa, dia pendek, gak bisa bersosialisasi, gak bisa ngomong R lagi, tapi itu bukan berarti dia gak sempurna, karena disitulah poin plus keimutan dia." Kanya mengelus dagunya. "Dan lo tahu? sisi posesif, sisi peduli Putra itu malah buat gue ngerasa seperti ada sesuatu didiri Clarissa yang Putra inginkan, jadi ini bukan soal rasa suka."
"Pikiran lo terlalu jauh."
"Gak masalah kalau lo gak percaya sama kata-kata gue, karena gue ngomong gini bukan buat dipercaya sama lo. Jadi mending pergi dari sekitar gue, karena gue udah mau muntah lihat muka lo."
Daze berdiri, sebenarnya ada pertanyaan lain yang ingin dia tanyakan pada Kanya, tapi mengingat jam ujian sebentar lagi dimulai. Dia akan menyimpannya dan kembali bertanya dilain waktu jika mood Kanya sudah kembali membaik.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
...SATU-SATUNYA PENYEMANGAT NULIS ITU YA HEADSET, TAPI HILANG, MAKANYA MOOD KURANG....
...SOALNYA ENAK KALAU NULIS SAMBIL DENGERIN LAGU, NYARI LAGU YANG PAS SAMA YANG MAU DITULIS.....
...π₯π₯π₯π₯...
__ADS_1
...SEMANGAT AKU!!! SEMANGAT KALIAN, SEHAT TERUS YAAAA........