
...πΌπΌπΌ...
Bel belum berbunyi, kelas sudah ramai dengan seluruh anggota. Clarissa berdiri disisi meja Putra, karena tiba-tiba saja laki-laki itu minta diajarkan cara menyelesaikan rumus matematika. Padahal Putra tidak sebodoh itu, tapi Clarissa tetap menjelaskan dengan rinci, entah masuk pada otak Putra atau tidak, dia harus tetap menjelaskan agar cepat duduk.
Masih sibuk menjelaskan, tiba-tiba tubuhnya terdorong keras dan terjatuh kebelakang tempat kosong dikelas. Bahkan Erlangga yang sedang sibuk memainkan game di ponselnya, reflek berdiri kaget karena Clarissa terjatuh sangat kuat. Kanya menyala, dia ikut mendorong Meysa tapi tidak membuat perempuan itu terjatuh seperti Clarissa.
"Anj, lo ngapain sih *****."
"Diem lo," menunjuk Kanya dengan kesal, tatapannya serius. Dia kembali menatap Clarissa yang masih duduk dilantai, Putra sedang membantunya untuk berdiri.
"Apaan sih lo?"
Meysa tidak menjawab Erlangga, matanya masih menatap amarah pada Clarissa.
"Kenapa Mey?" tanya Clarissa.
"Lo yang kenapa?"
"Gue?" Clarissa menggeleng. "Gue kenapa?"
"Gini cara lo? gue kira, gue diterima baik buat jadi temen lo, busuk juga lo."
Clarissa menggeleng heran, dia menatap Putra disebelahnya. "Aku gak tau," menatap Meysa lagi. "Maksud lo apaan?"
Meysa maju sembari telunjuknya teracung, Erlangga sudah menahan namun Meysa kuat melepaskan, amarahnya sangat besar kali ini. "Busuk lo, tau gak lo? seberapa yakinnya gue buat cerota soal hidup gue sama lo, dan dengan entengnta lo sebar?"
"Gue gak cerita sama siapa-siapa Mey," Clarissa mencoba mendekat, namun Putra tahan. "Beneran, bahkan sama Anya juga gue gak cerita, apa lagi sama Delisa dan Vina. Siapapun yang curhat sama gue, gak pernah gue sebarin, mungkin ketiga temen gue ngerasain itu, karena gue gak pernah ceritain kegelesihan mereka kesatu sama lain. Gue pendam sendiri."
"Dan lo pikir gue percaya,"
"Tapi gue emang gak cerita sama siapa-siapa."
"TERUS SIAPAAA??!?!" Meysa hendak maju, putra menahan bahu perempuan itu agar tidak mendekati Clarissa. "Terus siapa, Clarissa? siapa yang nyebarin kalau gue anak dari Anita Adietama?"
Tentu saja. Semua anggota kelas langsung slaing pandang dan berbisik soal ucapan Meysa.
__ADS_1
Meysa menonjuk Clarissa dengan kekecewaan amat besar. "SIAPA LAGII!!!!"
"Bukan gue, gak ada untungnya gue cerita kemana-mana." Clarissa mengeratkan genggamannya pada Putra. "Gue berani sumpah,"
"Kamu yakin kalau Ica yang nyebarin soal itu,"
"Lo gak percaya sama gue Put, gue adik lo!!"
Putra mengangguk. "I know that, tapi kamu beneran yakin gak kalau Ica yang nyebarin berita itu?"
Meysa mengusap air matanya. "Sepanjang gue jalan kesini, semua orang natap gue kasihan, bahkan ada yang bilang sikap menjengkelkan gue ini karena gue bagian dari Adietama!!! padahal sikap gue selama ini bukan karena itu, dan yang tahu kebenarannya cuma Clarissa, gue ceritain semua kesedihan gue sama dia. Karena dulu gue jahat sama dia, gak ada alasan lain kalau bukan dia pelakunya."
"Tenang Mey, aku bisa cari jalan keluarnya, kamu tenang."
"Gimana bisa tenang, sekarang semua orang tahu kalau gue anak nyokap lo!!! apa kata dia nanti kalau semua orang tahu, gue ini aib buat mama."
"MEY STOP IT, PLEASE!!!!" Teriak Putra, "Berhenti berteriak atau aku bawa kamu pergi dari sini dan semua ini gak akan selesai,"
Meysa mengusap air matanya lagi.
"Yakin Mey?"
"Tenang Mey," tegur Putra pelan. "Tapi bisa aja dari orang lain kan?"
Baru Meysa akan tenang, Putra sudah menendang lagi dengan tepisan kalimatnya. "Jangan karena Clarissa pacar lo Put, lo jadi buta soal kebenaran. Gue adik lo, lo emang gak pernah mau denger omongan gue."
Kanya menggeser tubuh Meysa, dia bergerak menghampiri Clarissa. "Lo pacaran sama Putra, Ca?"
"Nyak,,,"
"Kanya, lo lihat situasinya dulu, nanti gue jelasin." Ucap Putra membuat Kanya mengerti.
"Lo yakin kalau lo cuma cerita sama Clarissa?" Semua menoleh pada Erlangga, yang sudah berganti posisi duduk diatas mejanya. "Hah? bener lo cuma cerita sama Clarissa."
Meysa menimang, dia menatap Erlangga. "Rosita gak mungkin bocor."
"We never know," Erlangga mengangkat bahunya. "Lo aja bisa menebak Clarissa yang lo anggap bisa jaga rahasia lo malah membongkar semuanya, kenapa enggak dengan teman yang bahkan lo jarang bareng dia lagi."
__ADS_1
Kalimat Erlangga menampar relung hati Meysa. Laki-laki itu tidak salah, siapapun bisa berkhianat termasuk Rosita sahabat baiknya. Meysa hendak berbalik, namun Delisa dan Vina menahannya.
"Lo bisa selesaikan semuanya dengan kepala dingin,"
"Gue gak butuh saran lo," menatap tajam pada Delisa. "Minggir lo berdua."
"Gue bakal bantu buat cari tahu siapa dalangnya." Meysa berbalik, menatap Kanya yang tersenyum tipis.
"Gue gak butuh,"
Erlangga menarik tangannya. "Duduk, gue yang bantu."
Meysa dan Erlangga saling adu pandang, dan Meysa memutuskan pandangan mereka, dia memilih duduk dan menundukkan kepalanya diatas meja. Pelajaran tidak lagi penting masuk kedalam otaknya. Sial,
...πΌπΌπΌ...
Kanya menaruh sebuah flasdisk dihadapan Meysa, menaruhnya secara kasar. Meysa hanya menatap lalu mendongak sebelum kembali menunduk menatap flasdisk.
"Sama-sama," jawab Kanya dan meraih tasnya lalu mengajak Clarissa keluar kelas.
Perlahan Meysa meraih flasdisk dihadapannya, dia takut kalau perkataan Erlangga benar soal Rosita. Dia sendiri mampu menuduh Clarissa sebagai dalangnya, kenapa tidak dengan mereka menuduh Rosita sebagai dalangnya. Meysa menggigit bibir bawahnya, dengan gemetar dia meraih benda kecil itu, dia masukkan kedalam saku seragamnya lalu beranjak dari kelas. Sekolah sudah dibubarkan sejak tiga puluh menit yang lalu, Meysa tidak pergi karena Kanya yang memintannya, musuhnya itu mengatakan kalau dia akan membuktikan bahwa Clarissa bukan dalangnya.
Sampai sekolah benar-benra sepi, Meysa masih duduk dibangku kelasnya. Padahal rasa penasarannya amat besar ingin tahu kebenaran, tapi hati kecilnya tidak ingin tahu bahwa kemungkinan besar Rosita, sahabat satu-satunya adalah orang yang menyebarkan rahasianya.
"Hey, kok lo belum pulang Mey." Bahunya ditepuk pelan, orang yang dicurigai Meysa telah berdiri didekatnya. Entah senyum tulus atau dibuat-buat, Meysa membalas senyuman itu dengan senyuman tipis. Rosita mengajaknya keluar kelas, dia terlambat pulang karena ada tugas piket, merasa senang karena Meysa memberikan alasan sedang menunggunya.
"Lo pulang bareng siapa? sama gue ya? Leo bawa mobil kok, nanti gue,,,,"
"Gak usah,"
Rosita menghentikan ucapannya, dia menatap Meysa serius. "Gue ada salah Mey? lo kayak lagi kesel gitu,"
Meysa menatap Rosita, dadanya bergemuruh cepat, dia ingin membuang pikiran bahwa Rosita bukan orang yang seperti itu, tapi dia tidak bisa menepis. "Gue ditunggu Erlangga,"
Kepala Rosita menoleh, melihat kearah mobil Erlangga yang masih terparkir rapi. "Tumben,"
"Ada yang mau dibahas soal tugas kelompok, kebetulan gue satu kelompok sama dia." Jelasnya, Meysa melambaikan tangannya pada Rosita sembari berlari kecil menghampiri mobil Erlangga.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ