Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:92


__ADS_3

"Everything gonna be okay, bestie." Ucap Rosita dengan mengelus puncak kepala sahabatnya itu. "Nyonya Adietama pasti punya alasan kenapa dia gak bisa bawa lo sama dia."


"T-tapi gue putrinya, Ros." Meysa terisak dalam ceritanya. "Seakan-akan gue ini anak yang gak boleh orang lain ketahui, sampai-sampai seluruh sekolah cuma taunya gue anak sahabat mereka yang mereka bantu doang."


"Iya, tapi lo gak tahu kan alasan terbesarnya apa?"


"Gue selalu jadi yang terbaik di sekolah dari dulu, mulai dari juara, humble sama siapapun, ikut kegiatan apapun. Tapi masih gak mama lihat," Rosita turut menghapus air mata Meysa yang terjatuh. "Makanya gue kayak gini sekarang."


"Tapi lo jauh lebih baik saat ini." Ucapan Rosita cukup menenangkan. "Bahkan sudah banyak yang simpati sama lo karena lo sudah gak ngelakuin hal hal yang menyebalkan lagi, Mey."


Rosita kembali memeluk Meysa, dalam pelukan mereka Rosita berucap. "Gue emang gak tahu persis bagaimana perasaan lo, dan alasan mereka melakukan hal ini sama lo. Tapi, gue berharap sama lo kembali keposisi awal sebagai Meysa yang baik, yang ramah, seperti pertama kali kita ketemu. Ingat kan lo?"


Meysa mengangguk.


"Gue gak suka lo jahat, lo bully anak-anak yang lemah, padahal lo sendiri butuh penguatan."


Meysa melepaskan pelukan itu, dia menghela napas kuat dan menghapus jejak air mata yang tersisa. "Bener. Gue harus tunjukin sama mereka, kalau gue ini cukup untuk mereka akui."


"Nah, gitu dong, lo harus semangat."


"Thank you ya Ros, gak tahu kenapa lo selalu baik sama gue padahal gue selalu melakukan hal yang gak lo sukai."


"Lo sahabat gue, Mey." Rosita mengelus puncak kepala Meysa. "Gue sayang sama lo, tapi gue lebih sayang sama Leo sih. Dia selalu marah kalau gue ketahuan ikut-ikut kelakuan lo. Tapi, gue gak bisa biarin lo sendirian kayak gitu, berubah ya??"


"Iya. Gue akan berubah."


"Gitu dong...."


"Ros..."


Rosita menatap Meysa lagi, dia menatap curiga. "Ini ada rahasia besar lagi?"


Meysa mengangguk.


"Apaan? kita jarang ngobrol loh Mey, kenapa lo ngumpulin banyak banget cerita rahasia??"


Memang mereka terlalu lama tidak kembali bersama, Meysa juga tidak menyangka ingin menceritakan semuanya langsung pada Rosita. Mungkin karena dia tidak lagi memiliki teman cerita, jadi ketika Rosita kembali dia sangat antusias untuk menceritakannya.


"So, ini soal apa?"


"Lo inget Bintang gak?"

__ADS_1


"Bintang?" Rosita tampak berpikir. "Bintang Angkasa? mantan lo bukan sih?"


"Iya,, iya..." Jawabnya senang, entahlah, hanya ketika orang mengingat Bintang sebagai mantannya adalah suatu kebanggaan.


"Kenapa sama dia?"


Meysa terdiam, dia sedang merangkai kalimat untuk dikeluarkannya. "Ternyata dia anak terakhir dari keluarga Adietama."


"WHAAATTT!?!?!?!?!" Hanya satu kalimat yang Rosita ucapkan, tapi itu dapat disimpulkan sebagai keterkejutan yang nyata. Meysa juga membirkan Rosita diam dan mencerna. "Wait, dia kakaknya Clarissa kan? kok bisa."


"Gue gak tahu intinya, tapi bisa jadi nyokapnya Clarissa dulu pernah jadi selingkuhannya kepala utama Adietama." Meysa menghela napasnya. "Secara gak langsung, Bintang om gue kan ya?"


Rosita menutup mulutnya, dia sedang menahan tawanya. "Pfft, gak nyangka gue, hidup lo cuma berputar di keluarga Adietama doang."


"Bokap gue meninggal juga karena keluarga itu."


"Hah? kenapa bisa?"


"Jadi, Om Gio, bokapnya Clarissa selingkuh dan akhirnya mereka bercerai. Sewaktu mama mereka sakit, Om Gio meluangkan waktunya untuk menyembuhkan Tante Dinda. Mungkin wanita itu cemburu atau iri, makanya dia mau seluruh yang bersangkutan sama Tante Dinda, dia hancurin. Karena salah satu anggota keluarga Adietama ada di keluarga Tante Dinda, pasti keluarga Adietama perduli banget dong. Yang gue tahu, musuh wanita itu ya mama gue, dan dia juga tahu gue anaknya, makanya bokap gue dia hilangin biar gue sakit dan pasti mama ikut ngerasain sakitnya juga."


"Gak masuk akal!!!" Rosita terlihat kesal. "Masalahnya, gak ada sangkut pautnya lo sama Tante Dinda loh, kenapa bokap lo yang dia hancurin coba??"


Meysa tersenyum tipis. "Karena dia kurang puas ngehancurin Tante Dinda."


...🌼🌼🌼...


Sekolah masih tidak membiarkan mereka pulang, padahal mereka masih rapat dan belum dipastikan kapan selesai.


"Sebenernya rapat ngapain si?" Celetuk Delisa yang duduk dimeja milik Clarissa. Karena perempuan mungil itu sudah tertidur dipangkuannya. "Kasian Ica, ngantuk nih."


"Ke UKS aja Ca?" Tanya Vina, dia juga merasa kasihan karena istirahat pertama tadi Kanya tidak membiarkannya untuk ikut makan bersama.


Delisa mendelik. "Gak usah di ajak ngobrol Vin, nanti bangun gimana?"


"Eh, sorry, sorry..."


Kanya yang duduk ditempatnya hanya sibuk pada ponsel, dia tidak mendengar teman-temannya bercerita ria. Dia masih asik menonton sembari otaknya berpikir soal cerita Clarissa tadi. Putra masuk membuat mata Kanya melirik mengikuti langkah laki-laki itu, tapi tubuhnya tidak dia gerakkan. Putra berhenti tepat di depan bangku Clarissa, menunduk dan menyibakkan rambut perempuan itu yang menutupi wajahnya.


"Ca, pulang yuk."


"Emang udah boleh Put?" Tanya Delisa,

__ADS_1


Putra mendongak. "Gak bolehlah, kan belom bel."


"Lah, terus lo ngapain ngajak Ica pulang?" Vina protes soal itu.


"Ya terserah gue dong." Putra menunduk lagi, menepuk pipi Clarissa. "Ca, bangun."


"Hmm...." Tanpa membuka matanya.


"Ayuk pulang." Dia mengangkat tangan Clarissa yang melingkar pada pinggang Delisa. Clarisa terbangun dan mengucek matanya, dia menguap kecil. Dengan mata yang masih mengantuk, dia bangkit dari duduknya.


Putra meraih tas Clarissa dan tas miliknya. "Siapa bawa mobil?"


Hanya Rinda yang tidak mengangkat tangannya. Putra mengeluarkan kunci motornya dan dia berikan pada Erlangga, tentu saja Erlangga melakukan hal yang sama. Karena hanya Erlangga yang berangkat dan pulang sendirian, makanya dia hanya mengajak satu sahabatnya itu untuk tukeran kendaraan.


"Gue cabut."


"Hati-hati Put." Ucap Erlangga.


Putra mengangguk dan menggandeng Clarissa yang masih setengah sadar, "Nyak gue bawa Clarissa."


"Hemm...." Hanya itu yang Kanya ucapkan untuk menyetujuinya.


Teman-teman sekelas lainnya hanya memperhatikan kepergian Putra yang membawa Clarissa pulang, padahal bel pulang belum berbunyi. Putra berhenti diambang pintu menatap Meysa dan Rosita.


"Ikut pulang?"


"Gak." Meysa bersidekap. "Aku bukan kayak kamu yang memanfaatkan kekuasaan, padahal belum jam pulang."


"Terserah." Ucapnya lalu membawa Clarissa pergi.


Rosita menatap kepergian Putra dan mengikuti Meysa masuk kekelasnya. "Enak banget, Clarissa pulang duluan."


"Don't be silly, Rosita, maklum saja, kan Clarissa special." Jawab Rinda di sela dia bermain game online.


"Emang beda ya jadi orang special Putra." Rosita menggeleng takjub, Vina dan Delisa yang mendengar itu juga menggeleng takjub.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


TERIMA KASIH UNTUK SEMUA YANG MASIH MENDUKUNG KARYA CLARISSA INI, SEMANGAT PUASANYA BAGI YANG MENJALANKANNYA YA 😊 , SEHAT TERUS UNTUK KALIAN SEMUA TEMAN-TEMAN ONLINE KUUU πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


STAY SAFE UNTUK SEMUANYA πŸ’œ

__ADS_1


TETAP IKUTI KARYA INI YA, JANGAN LUPA LIKE DAN JADIKAN FAVORITE, BERIKAN JEJAK BAGI KALIAN YANG SUDAH IKUTI DI KOLOM KOMENTAR, insaAllah KALAU SENGGANG AKU MAMPIR KE KARYA KALIAN JUGA. LOVE YOU πŸ’œπŸ’œ


__ADS_2