
...FOTO INI DIAMBIL OLEH PRIBADI SAAT LIBURAN KE KERINCI. HUHU π, SEMOGA BISA KESANA LAGI WALAUPUN JALANNYA BIKIN MUAL SEPANJANG PERJALANAN...
...πΌπΌπΌ...
"Ca, bawa ini lo ya.." Menunjuk boneka beruang besarnya. Clarissa mengangguk saat Vina meminta itu. "Kalau ini boleh Ca?"
Kanya merampas dan menaruhnya lagi. "Jangan, itu kado dari Om Doni,"
"Sorry." Ucap Vina merasa tidak enak, dia hanya mengelus boneka panda dengan bulu halus diatas kasur Clarissa. "Ca, kemarin kan gue iseng tuh posting digrup sekolah buat nanyain tentang konser Bad Omens, barangkali ada yang ngelihat lo."
Clarissa menghentikan pergerakannya.
"Dan ternyata mereka lihat orang yang narik lo dari kerumunan,"
"Hah?" Clarissa meninggalkan kopernya yang langsung diambil alih oleh Kanya untuk melanjutkan pengemasan barang, Clarissa mendekati Vina. "Teruss??"
"Tuh cowok tinggi pakai sweater hitam, tapi gak ada yang tahu wajahnya karena pakai topi juga. Tapi kalau dikasih fotonya mungkin pada tahu."
"Informasi lo jelek banget Vin," tanggap Delisa yang sedang duduk memainkan ponsel, sesekali mengambil barang Clarissa dan memberikan kepada Kanya untuk dimasukkan kedalam koper. "Pemilik sweater hitam itu banyak, terus kita mau masang foto siapa, sedangkan Ica aja enggak tahu itu orang siapa."
"Tah tuh, bego banget lo Vin?"
Vina menggaruk kepalanya. "Iya juga sih," mereka semua kembali pada urusan masing-masing. "Tapi gue kok curiga ya sama Rinda."
Yap, seketika Clarissa benar-benar fokus pada pembicaraan ini. Dia juga sempat meragukan Rinda.
"Kenapa lo curiga sama Rinda?" Delisa menatap Vina setelah menaruh ponselnya diatas meja. "Tapi Rinda emang patut dicurigau sih."
"Lah, lo kok ikutan curiga Del?" Tanya Kanya.
"Ya soalnya diakan suka juga sama Bad Omens, dia juga nonton kan? mustahil banget waktu dia bilang ada dibagian belakang, padahal dia bisa beli tiket yang langsung berdiri didepan." Kanya dan Vina mengangguk. "Bisa aja dia bantuin Ica dari kerumunan, terus ngerebut hadiahnya karena dia gak bisa dapetin itu."
"Gue setuju." Vina menimpali. "Apalagi lihat gelagat dia yang terus-terusan menghindari Clarissa, fix emang dia sih."
"Menurut lo gimana Ca?"
Clarissa menatap Kanya. "Gak tahu."
"Lo beneran gak inget sama wajahnya?"
"Gelap. Lagian gue langsung pergi setelah dibawa jauh dari kerumunan." Jawabnya untuk mengalihkan pembicaraan. Rasanya, tujuannya mencari laki-laki itu bukanlah soal hadiah dari Bad Omens, tapi ini mengenai yang mereka lakukan dibawah pohon itu.
"Iih keren sweater lo." Clarissa menoleh pada Delisa disela-sela pembicaraan serius mereka. Clarissa langsung berlari, merampas sweater hitam itu dan dia masukkan kembali kedalam lemari, mengunci dengan terburu-buru. Ketiga sahabatnya menatapnya heran. "Are you okey Ca?"
"Hm.."
"Sweater siapa Ca? besar, bukan punya lo pasti."
"Punya gue kok, baru beli."
"Oh ya?" Kanya menutup koper Clarissa dan mendekati sahabatnya itu. "Kenapa beli ukuran besar? buat kak Bintang?"
"Hm.."
Kanya sempat menatap datar dan pasti curiga, melihat ekspresi itu Vina langsung turun dari ranjang Clarissa dan menarik Kanya. "Yukk, keburu siang, nanti kita sampai sana kemaleman loh."
"Yuk, pamit sama tante Dinda dulu." Ucap Kanya melepaskan pandangan dari Clarissa, dia menurunkan koper Clarissa dan menariknya untuk dibawa turun.
...πΌπΌπΌ...
__ADS_1
"Sudah mau berangkat?"
"Iya tante."
Satu persatu mereka memeluk Dinda sembari mengucapkan izin beberapa hari untuk berlibur membawa Clarissa.
"Kunci sudah sama Ica kan?"
"Sudah ma?" mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya.
Dinda tersenyum. "Hati-hati ya. Nanti kalau sudah sampai disana kabarin ya sayang?"
"Siap tante..." Jawab Kanya. "Oh iya tante, ini vila siapa? kata Ica dikasih harga sahabat, temen tante?"
"Iya."
"Temen yang mana? temen sekolah atau temen kerja."
Dinda menggeleng, mencubit pipi Kanya gemas. "Duhh, teman dekat, kepo sekali sih. Sudah sana berangkat, nanti kalian kemaleman."
"Om baru ya tante."
"Huss..." Dinda melotot. "Sembarangan. Sudah sana pergi,,," Dinda mendorong Kanya untuk keluar, dan meminta yang lainnya turut ikut keluar.
Mereka berempat masuk kedalam mobil dengan Kanya sebagai supir. Sebelum melajukan mobilnya, Kanya menurunkan semua kaca mobil dan mereka berempat melambaikan tangan keluar jendela, memberi salam perpisahan pada Dinda. "Makan tantee, dari sini kelihatan kurusan."
Dinda hanya mengangguk sembari mengeratkan jaketnya.
...πΌπΌπΌ...
"Temen tante Dinda yang mana sih Ca?" ucapnya setelah keluar dari pekarangan rumah. Vina dan Delisa yang duduk dibangku belakang memilih untuk tidur selama perjalanan. "Kok waktu gue tanya nyokap, jawabnya 'gak tau mama'."
"Gue juga gak tahu, soalnya waktu gue minta izin sama mama, besoknya langsung dikasih kunci." Clarissa menatap Kanya. "Kenapa emangnya Nyak?"
"Kata mama sih temen lama,"
"Temen lama? bukan bokap lo kan?"
"Ya gak mungkinlah." Clarissa menatap kedepan, macet panjang, mungkin karena ini hari libur. "Mana mungkin mama mau nerima apapun dari papa, lagian setahu gue papa gak pernah punya Vila."
"Kali aja, dibeli pas sama wanita itu."
"Enggaklah." Jawabnya lagi. "Emangnya penting itu Vila siapa ya Nyak?"
"Heran aja Ca, waktu itu lo bilang dikasih harga murah karena temen nyokap lo. Eehh, tapi kemaren lo bilang, kalau temen nyokap lo itu ngembalikin uang yang udah lo kasih buat bayar sewa Vila dengan alasan buat lo jajan aja. Itu berarti Vila gratis dong." Kanya menggeleng. "Baik banget gak tuh? apa jangan-jangan..."
Clarissa tertawa. "Gak usah ngaco, emangnya mama bakal mikir buat cari pengganti papa? bahkan sampai sidang udah berakhir aja mama masih suka bengong, jarang makan, dan kadang gue sering nangkep mama lagi minum obat."
"Vitamin?"
"Obat Nyak, tapi gue gak tahu obat apaan."
"Tapi lo setuju gak kalau nyokap lo nikah lagi?"
Clarissa terkekeh. "Apaan sih, ya kalau mama bakal bahagia setelah dapat pengganti papa ya gue gak masalahlah, kebahagiaan mama ya kebahagiaan gue sama Kak Bintang juga Nyak."
"Kalau bokap baru lo ternyata masih muda Ca?"
"Dih, gue gak perduli Nyak selagi nyokap gue suka."
"Terus entar genit sama lo lagi."
__ADS_1
"Nyak, anjiir geli banget."
"Gimana? lo kan gak bisa lihat nyokap lo sakit untuk kedua kalinya, apa lo bakal diem aja waktu bokap baru lo genitin lo."
Clarissa menggeleng. "Mending gak usah aja deh Nyak, serem gue."
Keduanya kembali terdiam setelah Kanya melanjutkan perjalanan, dan Kanya menoleh padanya saat masuk area jalan tol. "Lo gak mau cerita soal sweater hitam itu?"
"Cerita apaan? itu emang punya gue kok."
"Gak usah ngarang, gue tahu gelagat bohong lo." Menunjuk cemilan dipangkuan Clarissa, memintanya sedikit.
"Beneran, tadinya gue mau pakai buat kepuncak, tapi ternyata pas dateng kebesaran makanya gak jadi gue pakai, mungkin nanti gue kasih kak Bintang aja."
"Yakin?"
"Iya Nyak."
Kanya tertawa. "Ya udah, untuk sementara gue percaya," Kanya menoleh kebelakang. "Kali aja lo gak berani cerita karena masih ragu sama Vina dan Delisa, tapi percaya sama gue. Mereka itu beneran tulus sama lo."
"Apaan sih, gue percayalah sama mereka." Clarissa melirik kebelakang sekilas. "Nyak,"
"Hmm..."
"Menurut lo, kira-kira Rinda beneran yang nolongin gue gak pas di konser Bad Omens?"
"Emang kenapa?"
"Tanya aja."
"Kemungkinan iya sih, soalnya dia ngebet banget kan sama siapa itu siii....."
"Jolly..."
"Ya itu. Bisa jadi dia pengen ngerebut hadiahnya." Kanya menggeleng. "Geng Putra emang pada gak jelas ya..."
Clarissa tertawa. "Salah satunya ada pacar sahabat kita loh."
"Noel?? Alah, alahh, dia kelihatan normal pas didepan umum aja Ca. Tapi pas lagi sama Delisa kelihatan anehnya." Kanya melirik kaca tengah. "Gak usah pura-pura tidur lo Del."
"Kok lo tau sih?"
"Taulah." Clarissa terkekeh melihat kebelakang. "Kalian ngobrol sekeras itu siapa yang enggak denger coba? tapi bener kok yang dibilang sama Kanya, Noel emang kelihatan cool pas sendirian atau lagi sama temen-temennya."
"Kok lo bisa pacaran sama Noel sih Del?" Clarissa mengganti posisi duduknya agar melihat kebelakang.
"Lah lo gak tahu Ca?" Kanya ikut nimbrung disela memelankan kemudinya saat hendak mengantri pada tol selanjutnya.
Vina menguap, menggaruk pelipisnya dan mengeluarkan tissue basah lalu ia basuh disetiap inci wajahnya. "Clarissa mana paham, dia baru anggap kita temenkan baru, nah si Delisa dari kelas dua pacarannya."
"Bangun lo Vin?"
"Iya Nyak," bersandar dan menatap pemandangan luar.
"Iyakah kalian selama itu pacaran." Clarissa tersenyum tidak enak mengingat pertemanan mereka masih terbilang baru.
"Pokoknya capek Ca," Vina masih menatap keluar jendela. "Dia yang mau deketin Delisa, semua orang yang ribet."
Clarissa mendengarkan serius dan ketiga sahabatnya itu tertawa keras, bahkan tawa Delisa lebih kencang dari Vina dan Kanya. Memang, mengingat Noel membuat kepalanya pusing.
Perjalanan mereka diiringi dengan musik ceria, terkadang berganti melow, dan tidak sengaja berganti genre milik Clarissa yang membuat hanya perempuan itu yang bernyanyi. Kebahagiaan menyelimuti mereka, Kanya tersenyum hangat menatap Clarissa, sorotan matanya memberikan pernyataan bahwa kebahagiaan bisa dia dapatkan dari orang-orang sekitar. Menepis pikiran Clarissa yang selalu menerapkan pemikiran bahwa hidupnya tidak pernah baik-baik saja, hidupnya selalu tertinggal jauh dari semua orang.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ