
...πΌπΌπΌ...
"Apa yang kakak bicarakan sama om Gio?" sekalipun Clarissa tidak pernah ingin tau urusan orang lain. Tapi hari ini, malam ini, dikamar Bintang, Clarissa bertanya pada kakaknya mengenai urusan sang kakak pada papa kekasihnya itu. Clarissa tau hubungan rumit yang terjadi pada kakaknya dengan keluarga Adietama, dan Clarissa juga paham kakaknya itu tidak ingin tau soal apapun yang terjadi pada hidupnya yang tiba-tiba berubah 180 derajat.
Bintang tidak menjawab pertanyaan Clarissa, tangannya sibuk mengetik dan matanya menatap layar komputer. Besok hari pertama Bintang magang, dan sebenarnya Clarissa tidak ingin mengganggu tapi dia sangat penasaran.
"Okey, kalau kakak tidak mau cerita." Clarissa berdiri dari sisi ranjang kakaknya, hendak keluar namun pergerakan kursi Bintang membuatnya berhenti dan menatap.
Mata mereka saling menatap lama, dan Bintang hanya tersenyum. "Temani kakak berubah memahami kondisi keluarga kita ya?"
Sejujurnya ini aneh, tapi Clarissa mengangguk dengan samar.
"Maaf, kalau beberapa hari lalu kakak menjengkelkan. Sumpah kakak tidak berniat menyakitimu."
Clarissa mengangguk lagi.
"Kakak akan mencoba bicara baik dengan papa, menjadi anak yang dulu papa banggakan." Bintang berdiri memeluk Clarissa lembut. Clarissa coba pahami, Bintang sedang menumpahkan segalanya pada Clarissa dengan menjatuhkan kepalanya penuh dibahu Clarissa. Mungkin saja Bintang hanya marah pada tindakan kedua orang tuanya yang sama sekali tidak memberitahu kebenaran tentang darah yang mengalir pada dirinya. Kakaknya itu juga oasgi sedang merasa frustasi untuk kekasih yang sedang mengandung darah dagingnya. Clarissa melirik ponsel Bintang yang bergetar disamping laptop, Bintang juga terasa bergerak dari tubuhnya mungkin hendak menatap siapa yang menelponnya malam-malam, tapi kembali dia jatuhkan kepalanya pada bahu Clarissa, dengan lembut Clarissa mengelus punggung kakaknya naik turun.
Mungkin saja itu panggilan Raisa, sejak memutuskan untuk kembali kerumah. Clarissa menangkap panggilan yang tidak pernah Bintang angkat dari Raisa, saat dalam perjalanan dari apartemen Alia menuju rumah mereka. Clarissa mengerti kenapa Raisa selalu memiliki ribuan alasan untuk menolak bertemu dengan mereka secara utuh.
Pelukan mereka terlepas perlahan, Bintang menaruh kedua tangannya dibahunya. "Kakak hanya meminta keluarga mereka untuk tidak ikut campur dalam urusan kakak, pak Darmo dan om Gio adalah orang yang selalu seenaknya."
"Tapi mereka,,,,,"
"Jangan katakan apapun, seperti kata papa, kakak adalah anak papa dan mama, kakak Clarissa. Selamanya akan tetap seperti itu, tidak akan ada yang berubah." Terlihat Bintang sangat takut mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya. Dia tidak ingin terlibat dalam keluarga besar itu, entahlah, Clarissa tidak paham kenapa Bintang tidak menginginkan hal itu. Tiba-tiba kakaknga memutar tubuhnya dan mendorongnya menuju pintu. "Sana kembali kekamar, kakak mau mengisi data untuk besok, hari pertama magang."
"Semangat kak,"
"Hmm." Clarissa belum meninggalkan pintu kamar Bintang, kakaknya sendiri juga belum menutup pintu, mereka masih enggan melepaskan tatapan mata. "Jangan bergadang main game, jangan teleponan terus sama pacar, besok sekolah."
Clarissa terkekeh mendengar kalomat terakhir Bintang. "I've never been in a relationship before, so don't judge me on that."
"I know. I'm not judging your relationship, it's just that you communicate too much at night. it will interfere with your night study." Jawab Bintang, Clarissa masih terkekeh mendengarnya, suara mobil berhenti membuat keduanya menoleh. Suara mobil Doni, Bintang melihat jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.
"Kakak tutup ya." Ucap Bintang sebelum menutup rapat pintunya. Clarissa mengangguk, kakaknya pasti masih belum bisa berbasa-basi dengan papanya.
...πΌπΌπΌ...
Seperti ini saja sudah lebih dari cukup bagi Clarissa, sarapan bersama kakak dan papanya. Meski tidak ada pembicaraan yang terjadi, tapi ini permulaan yang baik. Kakaknya juga diam saja saat papanya memberikan lauk untuk Bintang makan.
__ADS_1
Clarissa tersenyum tipis disela suapan terakhirnya, tidak ada jemputan dari Putra hari ini, dia sudah memberitahu Putra sebelumnya bahwa dia akan berangkat sekolah bersamaan dengan Bintang menuju kantor tempatnya magang. Doni mengelus puncak kepala Clarissa, dapat terlihat jelas bahwa pria itu telah mentransfer kebahagiaannya pada Clarissa pagi ini. Jika bisa dilukiskan, Clarissa akan melukis selebar apa senyum papanya menghadap mobil Bintang yang bergerak pelan keluar halaman.
"First try, pretty good."
Bintang menoleh, tersenyum tipis. "Terima kasih atas pujiannya."
Tepat mendekat gerbang utama SMA Gemilang Cahaya, Bintang memelankan lajuannya. Dia ijut turun saat Clarissa turun dan mereka berbincang kecil sebelum Ckadissa meninggalkan kakaknya itu.
"Ganteng banget mantan aku," Clarissa dan Bintang menoleh, pada perempuan yang mengenakan pakaian sekolah yang kebesaran.
Clarissa menahan senyumnya. "Lo sakit Mey?"
Bintang menatap Clarissa kaget, dia tidak tau kalau adiknya sudah sesantai itu berbicara pada Meysa, mantan pembullynya.
"I'am okey," jawab Meysa tanpa menatap Clarissa. Matanya menatap Bintang sempurna, bibirnya melengkung indah. Tangannya terulur dihadapan sang mantan. "Mah nagih kado ulang tahun."
Bintang menatap Clarissa, "kakak pergi ya."
"Iya kak, hat-hati."
"Okey, gak papa kalau gak kelihatan." Teriak Meysa kecil kepada Bintang yang berjalan masuk kedalam mobilnya. Meysa berbalik dan mengejar Clarissa, mengiringi langkah kakinya. "Bintang ganteng banget, kayak mau lamar gitu pakai kemeja putih."
"Magang."
Clarissa tidak menggubris, Meysa memang sudah mengatakan akan tetap mengejar kakaknya itu bahkan saat Bintang sudah menikah sekalilun. Perempuan ini sudah gilaa.
Melihat Meysa yang dibonceng oleh Edo membuat Clarissa berlari meninggalkan Meysa, mengejar Kanya tanpa berpamitan. Meysa hanya melihat, cukup dipahami saja jika Clarissa masih enggan dekat dengan mantan pembullynya.
"Ca, berangkat sama Putra?" Tanya Kanya setelah turun dari motor, merapika rambut Clarissa yang berantakan. "Kok gue gak lihat mobilnya."
"Sama kak Bintang, hari ini hari pertama dia magang."
"Kak Bintang udah pulang kerumah?"
Clarissa mengangguk. "Dia minta tolong sama gue untuk berubah menjadi anak yang lebih baik lagi untuk papa."
"Gue ikut seneng dengernya," menarik tangan Clarissa untuk jalan menuju kelas ketika melihat Edo sudah berjalan mendekati mereka setelah memarkirkan motornya. Edo mengikuti dibelakang. "Terus, gimana soal Raisa Raisa itu,"
"Kak Bintang bilang, dia bisa selesain masalahnya sendiri." Clarissa tersenyum tipis, "mungkin kami cukup pantau gimana kelanjutannya, papa juga udah gak berani bergerak karena takut kalau pergerakannya akan membuat kak Bintang kembali menjauh."
"Kasihan om Doni,"
__ADS_1
"Gimana smaa bokap nyokap lo."
"Sudah baikan, terpaksa kakak gue balik kerumah buat mendamaikan mereka." Kanya terkekeh. "Bahkan gue udah kenali Edo sama semuanya."
"Jiahh..." Clarissa menatap Edo dibelakang, yang sudah berjalan beriringan dengan Erlangga dan Rinda. Clarissa tidak sadar kehadiran mereka berdua. "Terus, apa kata om sama tante?"
"Mereka diem aja, yang penting nilai gue gak turun."
"Hmm,"
"Lo sendiri? udah ngenalin Putra sama semuanya."
"Kan mereka udah kenal,"
Kanya berdecak pelan, "kenalin dia sebagai pacarlah, mereka kan kenalnya cuma sebagai Putra Rizqi Adietama, bukan pacar Clarissa."
Clarissa menahan ssnyumnya. "Aneh ah, berasa mau nikah aja gue,"
"Dih,"
Clarissa terguncang kaget ketika dirangkul mendadak, dia mendongak melihat laki-laki tinggi yang merangkulnya lembut.
"Mepet terooossss," ejek Kanya kesal. "Gak ilang gak, heran gue."
"Iri bilang boss,"
"Dih,"
Rinda menepuk bahu Putra pelan. "Duluan Put, yuk Er,"
Erlangga menyalip Putra dan memberikan tepukan ringan. Rinda berjalan mundur menatap Clarissa dan Putra. "Kayak perangko lo berdua,"
"Berisikk."
Rinda terkekeh, langsung berlari diikuti Erlangga tanpa ekspresi.
Kanya melihat itu tersenyum sinis, senyuman sinis itu sempat dilihat oleh Rinda sebelum berlalu pergi. "Hebat besikap kayak gak tau apa-apa."
"Kenapa Nyak?" Putra ikut menoleh ketika Clarissa bertanya pada Kanya. Laki-laki tinggi itu menaruh dagunya dikepala Clarissa.
Kanya menggeleng. "Gak ada. Hehe."
__ADS_1
Clarissa tidak menanggapi kalimat terakhir Kanya, dia sebenarnya mendengar tapi pura-pura bertanya. Ada sesuatu yang sahabatnya itu sembunyikan. Tapi mereka tidak pernah bertanya jika ada yang mengganjal sampai salah satu dari mereka berbicara sendri. Clarissa sedikit takut pada ucapan Kanya, dia mengelus tangan Putra yang bertengger dibahunya mencari penguatan.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ