
Sembari mengemudi, Putra berusaha terus menelpon Daze kembali. Tidak biasanya sahabat sejak kecilnya itu membuatnya khawatir seperti saat ini.
Clarissa yang melihat itu ikut kebingungan, "sini, biar gue yang coba telepon dia." Merebut ponsel Putra, jika laki-laki itu terus berusaha menelpon sahabatnya dalam keadaan menyetir, hal itu juga dapat membahayakan nyawa mereka berdua.
Hampir lebih sepuluh kali tidak terjawab, Putra semakin kesal dan terus berdecak, mulutnya mengumpat para pengguna sepeda motor yang tidak tahu aturan. Clarissa sudah keheranan dengan sikap Putra, apalagi laki-laki itu membawa mobil mengelilingi pusat kota sedari tadi, padahal Putra tadi ingin mengajaknya untuk pulang. Dan Clarissa tahu, Putra sedang kebingungan karena khawatir.
"Halo...." Putra menoleh, Daze menjawab teleponnya dengan suara gemetar. "Put, Putraa...."
Clarissa menekan tombol speaker dan mendekatkan ke telinga Putra. "Woy, kemana aja lo bangs*t, masalah penting apa?"
"Erlangga kecelakaan." Putra dan Clarissa saling menoleh. "Kak Inggrid udah urus semuanya, Er udah di operasi barusan, baru di pindahin ke ruang perawatan."
"Gue ke rumah sakit sekarang,"
"Jangan ngebut-ngebu, gue tau lo lagi bawa Ica,"
Putra tidak menjawab ocehan Daze, rasanya ingin sekali dia menerabas lampu merah, sayangnya mereka berada di posisi tengah. Suara Daze kembali terdengar. "Dia kembali,, dia yang nyuruh seseorang buat celakai Erlangga. Marisa lihat semunya, lihat dia ada di sana sewaktu kecelakaan terjadi."
Putra meraih ponselnya dan mematikan louspeaker, "kita bicarakan nanti." Lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Menoleh keluar jendela, Clarissa menatap tangan Putra yang terkepal kuat saat satu tangan tengah menguasai kemudi.
"Erlangga pasti baik-baik saja."
"Gue tau." Clarissa diam setelah mihat perubahan sorot mata Putra yang menajam menatap lurus ke depan.
Perasaannya merasa aneh saat mendengar ucapan Daze, mengatakan tentang seseorang yang telah kembali dan membuat Erlangga kecelakaan. Siapa? Clarissa masih memikirkannya.
...πΌπΌπΌ...
"Ze...."
Daze menoleh, Marisa turut mengikuti langkah kaki kekasihnya menuju sang mantan tunangannya. Putra berlari di ikuti Clarissa, "Put.."
"Gimana sama keadaan Erlangga?"
Marisa maju, dia yang menjawab pertanyaan Putra karena Daze terlalu menahan kekesalannya. "Gak ada masalah serius, Erlangga sudah ngelewati masa kritisnya."
"Mana kak Inggrid? beneran semuanya sudah aman."
Marisa mengangguk, "kamu tenang aja, Erlangga lagi di periksa, di dalem ada oma sama papa kamu."
Selang dari kalimat Marisa, Gio keluar bersama beberapa perawat dan dokter yang menangani Erlangga. "Saya akan memberikan yang terbaik untuk Er, nyonya Anderson."
Oma Erlangga mengangguk, "terima kasih tuan Adietama. Saya sangat berhutang banyak pada anda."
"Jangan sungkan.."
"Pa...." Semuanya menoleh dan melihat ke arah Putra, untuk perawat mereka menunduk kecil melihat kehadiran calon pewaris. "Erlangga gak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, tolong bergiliran menjaga Erlangga, biarkan nyonya Aderson istirahat terlebih dahulu...." Gio berdiri tegap dan menantang ketika dua orang laki-laki tengah berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan menimbulkan suara berisik, tangannya sudah menjitak salah satu laki-laki itu. "Pinter, ngajarin Rinda nakal."
"Bukan Noel om, Rinda malah yang ngajak lari tadi."
"Iya, Rinda om."
"Gak usah belain Noel," Gio kembali menatap oma Erlangga yang terlihat kusut dan penuh penyesalan. "Jangan terlalu di pikirkan nyonya, saya pamit."
"Sekali lagi terima kasih." Dokter dan perawat menunduk ke arah oma Erlangga dan Putra. Mereka pergi menjauh secara beriringan,
Gio berjalan mendekati Marisa. "Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Kalau begitu, cari makan bersama Clarissa atau suruh Inggrid mencarikannya." Mengelus puncak kepala Clarissa sebelum pergi.
"Baik om."
...πΌπΌπΌ...
Marisa dan Clarissa duduk di kantin rumah sakit, memesan dua mangkuk soto dan dua gelas es teh. Mereka meluangkan waktu untuk mengobrol selagi menunggu pesanan datang.
"Emang bener ya kita dulu satu SMP?" Clarissa mengangguk. "Kok aku jarang lihat kamu sih? kamu dikelas berapa dulu?" menuangkan air putih lalu menyodorkan dihadapan Clarissa. "Padahal hampir seluruh siswa aku kenal loh, tau kamu saja pas SMA ini, itupun cuma sebatas dari omongan orang saja."
"Emang ada yang ngomongin aku?"
"Dari dulu aku selalu dikelas."
"Ohya? kenapa?"
"Suka aja."
Marisa mengangguk-angguk, dia berusaha memahami Clarissa. Memperhatikan wajah mungil itu dalam, mencari celah di mana Putra mantan tunangannya itu begitu menyukai perempuan di hadapannya.
"Kenapa?" Marisa tersadar saat Clarissa mendongak dan menegurnya. "Ada yang salah dari wajahku? kok lihatinnya serius gitu?"
Marisa menggeleng kaku. "Enggak kok, wajah kamu bersih banget ya? perawatan?"
"Iya,"
"Pantes."
"Di suruh nyokap, katanya selain otak harus pinter, muka juga harus di rawat."
"Iya bener tuh."
"Jadi biar gak ada yang bilang, percuma pinter kalo wajah gak mendukung."
__ADS_1
Marisa berdecak. "Itu mama kamu beneran ngomong gitu???"
"Kalau itu Kanya yang bilang."
"Kanya Dealova?" Clarissa mengangguk. "Kalian itu lengket banget ya?"
Clarissa mendongak lalu menggeleng. "Enggak, kita gak lengket kok."
"Dari kelas dua aku tau kamu, kalian kan selalu berdua gitu." Menyeruput es teh. "Sampai ada yang bilang buat deketin kamu itu aja susah, karena kamu semacam punya pawang."
"Aku bukan ular."
Marisa terbahak. "Ular itu buat orang yang punya muka dua."
"Kayak kamu itu," tawa yang masih menghiasi wajah Marisa menghilang ketika mendengar ucapan Clarissa. "Just kidding."
Menunjuk wajah Clarissa geram. "Kamu bercanda dengan wajah kayak gitu? Astaga, besok-besok belajar deh, mau ngelawak harus punya wajah konyol kayak Rinda gitu."
Mendengar itu hanya membuat Clarissa tersenyum, dia memang buruk dalam hal bercanda. "Boleh tanya?"
Marisa mengangguk ketika sembari mengunyah suapan yang baru dia lakukan. "Boleh, tanya apa?"
"Kenapa kamu sama Putra selesai? maksud aku soal pertunangan kalian?" Marisa tidak menjawab, membuat Clarissa merasa tidak enak. "Maaf kalau pertanyaanku...."
"Kami itu tidak saling menyukai," potong Marissa saat mendengar Clarissa hampir memutuskan obrolan mereka. "Dari kecil aku sama Putra itu deket banget, bahkan Putra pernah bilang kalau aku adalah perempuan yang paling dia sayangi setelah mamanya. Mungkin dulu aku hanya terobsesi oleh setiap perlakuan dan perkataan dia." Marisa memberi jeda dengan menyeruput es tehnya. "Tapi ternyata, Putra menerima pertunangan kami karena takut menolak akan membuatku sakit dan menjauhinya. Aku termasuk perempuan yang bisa meredam emosinya, bahkan sekalipun Putra sedang marah dengan Daze, aku yang akan membujuk Putra."
Clarissa tidak menanggapi.
"Putra menganggap special aku itu bukan sebagai perempuan, tapi sebagai sahabat."
"Oh, gitu."
"Kenapa?"
Clarissa menatapnya. Iya, Clarissa sendiri tidak tau kenapa ingin bertanya soal itu?
"Kenapa kamu bertanya soal itu?" Clarissa tidak jadi untuk menjawab pertanyaan Marisa karena perempuan itu mengangkat tinggi tangannya kearah pintu masuk kantin Rumah Sakit.
πππππ BERSAMBUNG πππππ
HALLO SEMUAA β£οΈβ£οΈ
DUH, SETELAH SEKIAN LAMA, AKHIRNYA AKU UPDATE "CLARISSA" LAGI YA...
SEDIH BANGET AKU TUH,
NEGBIARIN "CLARISSA" TANPA BERNIAT BUAT NYELESAIN π MULAI SEKARANG AKU MAU FOKUS BUAT NYELESAIN DIA KOK,
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS YAA β£οΈβ£οΈ