
...πΌπΌπΌ...
Clarissa menelan salivanya pelan, pertemuan mereka sudah menjadi hal yang biasa jika di luar sekolah, tapi kenapa Meysa tampak santai dan berjalan kearahnya sembari tersenyum lebar. Sekarang mereka sedang di area sekolah, sekolah memang tidak terlalu ramai, tapi tetap banyak beberapa bagian siswa-siswi yang berjalan kearah kelas mereka. Tidak sedikit yang menatap kearahnya serta Meysa yang bergerak menghampiri, sampai didekatnya Meysa mengajaknya berjalan.
"Kenapa? kok lo kayak heran gitu?" Meysa menoleh kekanan-kirinya, yap, mereka sedang ditatap beberapa orang.
Mungkin akan ada yang menganggap Clarissa sedang butuh pertolongan, tapi juga ada yang menganggap bahwa Meysa sedang mencari muka karena bersikap sok baik pada orang yang selalu dia bully. Tidak tahu malu.
"Okey, emang aneh sih kita jalan bareng gini, apa perlu gue jaga jarak?"
Clarissa menarik Meysa untuk berjalan disampingnya lagi. "Sudahlah, terlanjur banyak yang lihat."
Meysa tersenyum tipis, dia senang, memiliki Clarissa sebagai salah satu orang yang masih menerimanya setelah dia nakali berkali-kali. Walaupun dalam perjalanan sama sekali tidak ada yang berbicara, mereka cukup merasa nyaman. Sayangnya itu hanya berlangsung sebentar saja, Kanya sudah berdiri didepan kelas menatap keduanya dengan berkacak pinggang.
"Ada apa nih?"
Mesya berjalan melewatinya. "Kepo banget."
Mendengar hal itu Kanya hanya menxelik tidak suka dan bergerak menghampiri Clarissa yang sudah tidak bergerak dari tempatnya. "Kenapa kalian jalan bareng? lo lagi diancam sama dia? lawan Ca, jangan diem aja."
"Enggak, tadi ketemu didepan terus dia nyamperin gue buat ngajak jalan bareng ke kelas."
"Dia? Ngajak bareng? impossible,"
"Serius kok," Clarissa melanjutkan perjalannya melewati Kanya yang menghadang dengan banyak pertanyaan.
...πΌπΌπΌ...
Saat jam istirahat berbunyi, kelas 12 IPA 1 mencari kesempatan untuk berganti pakaian olahraga mereka untuk jam ke tiga setelah bel istirahat berakhir. Clarissa kembali dari toilet dan menaruh pakaian seragam sebelumnya kedalam laci, tangannya meraba sesuatu dilacinya, dia ambil dan tersenyum tipis, 1 kotak susu rasa oreo dan roti berisi selai cokelat. Kepalanya menoleh pada Putra yang sedang memainkan game diponselnya, laki-laki itu sudah mengganti pakaiannya. Clarissa tidak berani mendekat untuk sekedar berterima kasih atas pemberian laki-laki itu.
"Ca, yuk temenin gue beli minuman, hauss.." Rengek Kanya, Clarissa mengiyakan sembari menenteng susu dan roti selainya.
"Loh, lo kapan ke kantinnya?" Tanya Kanya pada saat perjalanan mereka menuju kantin sekolah, dia belum melihat sahabatnya itu pergi ke kantin saat bel istirahat berbunyi, tapi kenapa sudah membawa makanan. "Oh, lo bawa dari rumah?"
Clarissa menatap susu rasa oreonya yang sepertinya tersisa setengah lagi. Dia tidak berani mengatakan pada Kanya kalau yang dia bawa berasal dari Putra. "Iyaa,"
Didalam kantin, Clarissa hanya menemani Kanya membeli minuman dingin serta cemilan ringan dan mereka kembali menuju lapangan sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Ditengah lapangan sudah banyak anggota kelasnya yang berkumpul sembari menunggu jam berlangsung, Clarissa duduk didekat Vina. Dia sengaja memilih disebelah kiri sahabatnya itu karena ingin dekat dengan Putra yang duduk membelakanginya.
Clarissa mencoba mencari cela untuk mengajak Putra berbicara, saat semua tampak asik berbincang, dengan pelan Clarissa menyikut punggung Putra menggunakan lengannya. Putra menoleh, tersenyum sembari memiringkan tubuhnya agar menatap Clarissa dengan mudah.
"Thanks,"
__ADS_1
"For what?"
"Susu sama roti selainya,"
Putra tampak menatapnya lekat, beberapa detik kemudian laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.
...πΌπΌπΌ...
Maklumi saja, belum genap satu bulan dia pindah dari kelas lamanya, roling kelas ini membuat Meysa tampak lesu. Dia tidak memiliki teman akrab, dari kelasnya hanya ada tiga orang dan dua lainnya adalah laki-laki, Meysa tidak terlalu dekat. Dia hanya duduk dipinggiran lapangan basket, sengaja dekat dengan anak perempuan lainnya agar tidak terlihat menyedihkan, sayangnya dia seperti tidak dianggap. Semua hanya merasa Meysa mengerikan ketika diapit oleh dua temannya, yap, Tyas dan Jesika.
Sial,
Meysa tidak tahan, dia berdiri untuk pergi ke kamar mandi, dan,
BUG!!!!
Pandangannya menggelap saat sebuah benda lumayan keras namun empuk mengenai kepalanya. Samar-sama ia mendengar seseorang berteriak namanya dan ada yang berlari mendekatinya, dan ia tidak ingat lagi.
Pusing masih berkeliaran, Meysa membua matanya dan sempat terkejut ketika melihat ia terbaring pada sebuah ruangan bernuansa putih. Dia juga tengah diselimuti kain putih di atas ranjang, Uks? Meysa mengerjap matanya saat melihat seseorang yang tak asing menghampiri sembari membawa secangkir teh dan ditaruhnya diatas meja sebelah Meysa.
"Ada yang di eluhkan?"
"Cuma pusing." Jawabnya sembari memijit kepala secara pelan.
"Berapa lama aku tidur?"
"Sekitar dua jam lebih,"
Matanya melebar kaget, "jam pelajaran olahraga sudah berlalu dong,"
Marisa mengangguk. "Aku sudah buat keterangan sakit, kamu istirahat saja disini, aku sudah hubungi teman kamu untuk kesini barangkali kamu butuh bantuan. Dan kebetulan satu sedang senggang."
"Teman? siapa?"
Tirai putih yang menutupi mereka terbuka pelan, keduanya melihat kearah pergerakan. Marisa berdiri dan tersenyum tipis. "Hai, kelas kalian kosong."
"Iya, aku bosan di kelas."
"Okey, temani Meysa sebentar, soalnya aku ada ulangan fisika sekarang."
Perempuan tinggi dihadapan mereka mengangguk mengiyakan, Marisa pamit dan pergi meninggalkan ruang UKS.
"Lo pingsan kenapa? tumben."
__ADS_1
"Pingsan kok tumben,"
"Ya lo kan gak pernah pingsan kecuali lagi caper ke Putra," tanggapnya, perempuan itu duduk diujung ranja tempat Meysa terbaring,
Meysa mendengus kesal sembari mengelus dahinya. "Lo boleh pergi kok Ros, gue gak apa-apa sendirian."
"Ya elah, santai aja kali."
Mereka langsung merasa canggung, meskipun mereka sudah sempat berbaikan, sepertinya masih ada ketidaknyamanan diantara keduanya.
Rosita berdehem. "Jadi, lo nyerah soal Putra?"
Meysa tidak menjawab, dia masih merasa sedikit pening.
"Lo jalan bareng sama Clarissa tadi pagi, bahkan gue sempet denger dari gosip orang kalau kalian berbincang akrab." Rosita menggeleng pelan. "Lo mau merubah haluan lo,"
"Gue cuma mau nyonya Adietama mengakui gue sebagai anaknya."
Rosita menggeleng kuat, Meysa memang perempuan yang memiliki tekad kuat soal apapun.
"Gue butuh pendapat lo Ros,"
Telunjuk Rosita mengarah pada dirinya sendiri, "saran apa? lo emang nepatin janji lo ya buat berubah, padahal dari dulu lo gak pernah mau dengerin saran gue."
"Senakal-nakalnya gue, janji harus ditepatin dong."
"Bener juga."
"Gue itu percaya sama lo, entah kenapa? dibandingkan Tyas sama Jesika, gue lebih percaya kalau lo bisa jaga rahasia gue. Tyas sama Jesika gak pernah bener-bener anggep gue sahabat selama ini," Meysa mendongak, menatap Rosita dengan tatapan yakin. "Selama bokap masih ada, setiap operasi, lo sama kak Leo selalu sempetin dateng, bahkan setiap akhir bulan kalian berdua selalu mampir buat besukin bokap gue. Sedangkan mereka yang katanya selalu ada buat gue dibanding lo, malah sama sekali gak perduli. Gue bener-bener kehilangan lo sewaktu lo memutuskan untuk berubah dan pergi, sedangkan saat mereka ngejauhin gue, gue sama sekali gak perduli."
"Okey, cukup, gue pahami perasaan lo. Tapi kita berempat sahabatan. Senggak perdulinya mereka sama lo, lo harus tetep anggap mereka yang terbaik karena mau menemani lo selama ini."
Memang, selama ini Meysa selalu tidak punya teman, tapi bukankah masalah itu karena disebabkan oleh mereka berdua sendiri? entah dia yang terlalu polos untuk mengambil keputusan atau memang Tias dan Jesika yang pandai mencuci otaknya.
"Ya gue cukup senang soal mereka, dari sekian banyaknya manusia. Mereka mau menerima gue waktu gue sama sekali gak bisa berteman dengan siapapun." Ucap bangga Meysa pada dua temannya. "Terlepas dari mereka temenan sama gue mungkin karena uang,"
Rosita berdecak, diselingi tawa. "Gue gak bisa tangkis soal itu, karena gue percaya mereka memang membutuhkan itu."
"Gue gak butuh apapun lagi, cari perhatian Putra sudah gak perlu. Mau cari perhatian Bintang apalagi, lihat muka gue aja mungkin dia gak sudi lagi. Gue cuma mau Anita Tiara Aditama itu ngakuin gue sebagai anaknya, gak perlu deh didepan umum segala. Cukup didepan orang yang nanya gue ini siapa, that's it." Meys tersenyum samar. "But it is impossible."
Rosita bergerak maju, menarik Meysa kedalam pelukannya. "Gue udah pernah bilang waktu pertama kali lo cerita sama gue, everything gonna be okay Meysa. Semua ada waktunya, mungkin tante Anita cuma butuh waktu, sabar ya,"
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1