Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:29


__ADS_3

"Hai, Clarissa..." Clarissa menelan salivanya pelan, dia mengenali suara ini. Suara yang selalu mengusik hari-harinya di sekolah, suara yang terus saja hadir setelah Putra mengajaknya bicara, suara yang selalu hadir di saat Kanya tidak bersamanya. "Kok sendirian sih??"


"Pawangnya lagi libur.." Bisik salah satu temannya.


"Wih, bagus dong. Kalau ada dia kita gak bisa ngobrol bareng Clarissa kan?" Menarik kursi di hadapannya. "Boleh kan kita temenin."


Clarissa mendongak, melihat satu persatu wajah perempuan yang mengenakan seragam sama dengannya, enam orang. Empat orang kakak kelas dan dua orang adik kelas di lihat dari name tag mereka. Mengenai ekspresi wajah mereka, tentu saja tidak bersahabat.


"Kenapa, gak boleh ya?" Clarissa menggeleng, dia mencari aman. "Lo udah dari kapan sih deket sama Putra?"


Pasti pertanyaan ini yang utama. "Kami gak pernah dekat,"


"Bohong.. Kalian sering tampak berdua kok."


"Itu Putra yang terus ajak aku bicara kak, kami cuma temen waktu SMP tapi gak pernah dekat." Ucapnya, menunduk menatap mangkuk baksonya. "Demi apapun aku gak dekat sama Putra."


"Cih, jadi Puutra yang kegatelan deketin kamu?"


Clarissa mendongak. "Enggak kak, bukan begitu."


BRAK!!!


perempuan itu menggebrak meja, teman yang lainnya seakan tidak perduli dengan keberisikan yang mereka buat sejak datang. "Kok gue gak percaya ya? lo lihat dong siapa lo? gak ada menariknya sama sekali."


"Aku sadar diri kok kak,"


"Bagus..." Perempuan yang duduk di dekatnya tiba-tiba menepuk kepalanya. Reflex Clarissa menggeser tubunya. "Kenapa? jijik sama tangan gue?"


"Maaf kak, kaget." Clarissa berdiri, menaruh mangkuk bakso yang masih tersisa diatas nampan lalu menjauh dari meja. "Ada kelas kimia, harus ke ruang labor sebelum guru datang, jadi aku permisi dulu."


"Oh, silahkan. Selamat belajar."


Clarissa menunduk kecil, "terima kasih kak."


Baru sepuluh kali langkahnya menuju kasir untuk memberikan nampan dan membayar, seseorang mendorong punggungnya hingga ia terjatuh dan mangkuk bakso pecah lalu berserakan, beberapa cipratan kuah mengenai wajahnya.


"Aw panass..." Membasuh wajahnya, dia melihat ke belakang sebelum beranjak dari telungkupnya.


Salah satu dari mereka berjalan mendekat. "Hati-hati dong kalau jalan. Sini gue bantu berdiri," mengulurkan tangannya.


"Makasih kak," Clarissa sempat meraih tangan kakak kelasnya, namun saat hendak berdiri tangan perempuan itu menumpahkan jus jeruk di atas kepalanya lalu melepaskan tangan Clarissa hingga ia kembali terjatuh kelantai.


"Ups, sorry gak sengaja." Seluruh siswa dan siswi di kantin tidak ada yang melerai ataupun membantu Clarissa, mereka hanya diam dan menjadi penonton. "Sini gue......"


"Jangan sentuh Clarissaaaaa......." kakak kelas itu menggantungkan tangannya, dia mendongak melihat Daze berjalan dari arah pintu masuk. "Gue bakal patahin tangan lo."


Perempuan yang terlihat seperti seorang ketua berdiri, dia berjalan mendekati temannya dan menyuruhnya bergeser, bersidekap menatap Daze tajam. "Lo gak salah belain dia."


"Engga,"


"Hai, Daze. Seharusnya lo itu sadar diri, sebagai salah satu kacung Putra lo harus berada di pihak gue. Bukan malah bentak teman-teman gue." Ucapnya dengan nada ketus.

__ADS_1


Daze menunduk, dia tersenyum sinis. "Sejak kapan gue jadi kacung Putra? seharusnya lo sadar, selama ini lo yang selalu mengejar Putra. Sampai lo buta."


Clarissa meringis kesakitan ketika luka di lututnya di injak dengan keras, "silahkan ngadu sama Putra, toh kalian yang bakal menyesal karena sudah membela cewek manja dan murahan ini."


BRUG!!!


"Bangs*t," seseorang telah melempar bola basket kearahnya,


"Sorry, gak sengaja." laki-laki tinggi itu berjalan melewati Daze yang ternganga kaget karena dengan santainya melempar bola ke arah perempuan manja nan bergaya itu.


"Erlanggaaa...." Geramnya.


Erlangga melepaskan jaketnya dan mentupi tubuh basah Clarissa, membantu perempuan mungil itu untuk berdiri. "Mau pulang?"


Langkah mereka berdua berhenti ketika tiga kakak kelas berdiri di depan. "Minta maaf sama Irina,"


"Kan gue udah minta maaf sama dia."


"Minta maaf yang bener."


"Kalian gak coba buat minta maaf yang bener sama dia," kepalanya ia miringkan untuk menunjuk Clarissa. "Yang kalian termasuk dia lakuin benar-benar sangat menjijikkan,"


"Jaga ucapan lo." Murka terpampang jelas di wajahnya, "lo gak boleh ngomong sesuatu hal yang menjijikkan tentang kami."


"Kenapa? karena kalian berada di pihak anak orang besar atau karena dia selalu berada di dekat Putra?" Erlangga tersenyum tipis melihat ke sekelilingnya. "Hati-hati sama perbuatan kalian."


"Apa maksud lo..." Erlangga menghentakkan tangan perempuan itu hingga membuatnya hampir terjungkit jatuh.


"Jangan sentuh gue, sampah...." Erlangga mencengram bahu Clarissa dan mereka berhenti, hanya Erlangga yang kembali menatap kakak kelasnya, "satu hal lagi, kami semua bukan kacung Putra."


...🌼🌼🌼...


"Ah, maaf." Clarissa berdiri dan membantu kain pel serta sapu yang tergeletak di lantai, "maaf tidak sengaja."


"Tidak apa-apa kak, saya yang salah taruh di tengah jalan." Dia mencegah Clarissa untuk mengambil botol sabun pembersih lantai, "terima kas... ih, kak Ica?"


"Eh," Clarissa tersenyum tipis, "kamu kenal aku? maaf sebelumnya, kamu siapa?" Seluruh orang yang memanggilnya dengan panggilan singkat pasti mengenalnya sangat dekat, tapi siapa dia?


"Kakak gak ingat sama aku? aku Elia, adik kelas kakak waktu itu."


"Waktu itu? SMP atau SMA?? maaf."


Elia terkekeh geli, "kakak masih gemesin aja, dari dulu aku ingin banget ketemu sama kakak."


"Kenapa??"


"Aku mau minta maaf sama kakak soal dulu." Meraih tangan Clarissa, "kak, dulu aku terlalu terobsesi sama kebaikan kak Putra sampai aku buta. Maaf sudah menyakiti kakak,"


Mendengar itu Clarissa menarik tangannya, saking kuatnya sampai membuat Elia terkejut. "Sumpah, aku gak inget sama kamu.."


"Aku....." Mata Elia melebar, dia melihat Putra menatap ke arahnya dengan pandangan santai dan satu tangan di masukkan ke dalam saku celananya. "Maaf kak, aku harus pergi."

__ADS_1


"Heii kenapa.....???"


Elia menarik tangannya, dan mulai mendorong troli pengangkut alat pembersih, "kakak sama kak Putra? maaf untuk semuanya, permisi....."


Putra meraih lengan Clarissa, "siapa Ca??"


"Engga tau, dia bilang sih adek kelas gue, tapi gue gak inget dia sama sekali." Menggaruk kepalanya, berusaha mengingat perempuan dengan seragam cleaning servise yang berlari semakin jauh. Clarissa mendongak menatap Putra. "Sudah semua?"


"Iya," menyodorkan kuncinya dan mini bag berisi kotak perhiasan, "masuk mobil duluan, mau beli cemilan buat di jalan. Nyokap sama bokap lagi di rumah ngajak makan siang bareng, lo bakal sakit perut kalau gak di isi dulu."


"Iya, chocolatte juice ya??" mengangguk patuh, dia berjalan menjauhi Putra.


...🌼🌼🌼...


"Ma-maaf," tangannya bergetar, dia telah berusaha mencari cara agar di lepaskan, "aku salah kak. Seharusnya aku pergi saja dari kota ini."


"Bukannya itu yang gue bilang? Irina dan anggota lainnya termasuk lo aja udah gak pernah kelihatan di mata gue, kenapa sekarang lo berada di sini dan menyapa Clarissa?" Elia menunduk dalam, dia sudah berlutut di dekat kaki Putra, meminta ampun untuk kesekian kalinya. "Lo tau? setelah kejadian mengerikan yang kalian lakuin waktu itu buat Clarissa enggak mau deket-deket gue lagi. Rasanya menyesakkan melihat itu. Makanya gue gak bakal tinggal diam lihat kalian berkeliaran di dekat Clarissa, bukannya sudah gue kasih kesempatan? hiduplah di tempat lain yang tidak ada Clarissa, keluar negara atau ke akhirat sekalian."


"Aku tau aku salah kak, maaf, tadi itu tidak sengaja, aku di sini kerja." Air matanya mengalir, "aku cuma mau minta maaf tadi, engga berniat melakukan apapun."


"Siapa yang tau!!"


Elia mendongak, Putra melihat jelas air mata perempuan itu yang bercucuran penuh. "Sumpah kak, aku gak akan sapa kak ica....."


Putra menendang lutut Elia, "Namanya Clarissa, jangan panggil namanya dengan sesuka mulut lo."


"Maaf, kak Clarissa maksud aku. Biarkan aku kerja di sini kak. Setelah aku di keluarkan dari sekolah, papaku kena serangan jantung dan perusahaan kami bangkrut untuk mengobati papaku. Jadi sekarang aku ingin hidup mandiri." Elia sesenggukan menangis, menyeka air matanya yang tidak mau berhenti. "Aku janji, kalau aku melihat kakak dan kak Clarissa lagi, aku tidak akan menyapa, aku akan langsung pergi menjauh. Aku mohon...."


"Sampah kayak lo seharusnya sudah gue hancurin dari dulu...." Putra tersenyum tipis, "tapi gue kasih keringanan sekali lagi, gue bakal urus lo untuk pindah ke perusahaan yang lain, jangan di sini..."


"Terima kasih kak..."


Putra berjalan menaiki tangga, membuka pintu dengan tulisan pintu darurat, membiarkan suara tangisan Elia menggema di ruangan penuh tangga ini.


Dia sedikit tersentak, di depannya ada Clarissa yang menatapnya lurus tidak bersuara sama sekali sejak beberapa menit saling menatap. Raut wajah Clarissa sulit ia artikan.


"Ca..," panggilnya lirih.


Clarissa menyodorkan ponsel. "Ponsel lo di dalam bag ini, Daze telepon terus, dia bilang ada sesuatu yang penting. Makanya gue cari lo."


"Oh," Putra menghela napas. semoga saja Clarissa tidak mendengar percakapannya tadia, dan dia meraih ponselnya, panggilan Daze sudah mati. "Yaudah kita langsung pergi aja, lo bisa nahan laper kan?"


"Gue belum laper kok."


Putra tersenyum, "yaudah yuk..."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


PUTRA RIZQI ADIETAMA


__ADS_1


CLARISSA FATIYAH ADAMS



__ADS_2