Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:98


__ADS_3

...Kalau kamu ada masalah sama perempuanmu, kamu bisa pulang ke aku. Kenapa musti ke perempuan lain?? -Meysa...


...🌼🌼🌼...


Apa lagi ini? kenapa banyak sekali kejutan dalam hidup Clarissa. Perempuan itu mematung ditempatnya walaupun Bintang sudah melesat menggunakan mobil asing yang dia bawa tadi bersama sang pemiliknya. Papanya juga tidak kalah terkejut, diam mematung, Raisa anak dari Clara? Doni tidak tahu soal itu. Selama ini Doni hanya tahu kalau Clara memiliki anak dan dibawa oleh mantan suaminya, tapi mereka belum pernah bertemu sekalipun.


Clarissa ingin mendekat dan menyadarkan papanya, sekedar menanyakan perihal keadaannya. Sayangnya keterkejutan ini membuat kakinya juga turut melemah.


Doni terduduk di anak tangga, mereka tidak berniat masuk sampai Bi Siti datang dan menanyakan apa yang terjadi dengan anak dan ayah itu. Padahal keadaan rumah jadi lebih baik kemarin, Bintang sudah mau menyapanya dengan baik, Clarissa juga sudah mulai mengembangkan senyumannya sejak mama mereka pergi. Air mata Doni menetes, lagi lagi dia membuat semuanya menjdi runyam, rumahnya berantakan lagi.


Melihat keadaan yang terpuruk itu, Clarissa mendekati papanya dan memeluk pria berkulit sawo matang itu. "Pa tenang ya, kak Bintang pasti kembali."


"Kenapa papa selalu membuat kalian semua sakit sih? Ica, maafkan papa ya." Clarissa mengangguk dan kembali memeluk papanya. Dalam pelukan itu Doni kembali menangis. "Papa selalu gagal menjadi ayah yang terbaik untuk kalian, seharusnya papa yang pergi dari hidup kalian, bukannya malah mendekati kalian dan mencoba memperbaikinya."


"Enggak pa." Clarissa menggeleng kecil dibahu Doni. "Perjuangan papa untuk mempertahankan keluarga kecil kita sudah yang terbaik, Ica malah bangga sama papa mau mempertanggungjawabkan semuanya. Papa tenang ya, nanti Ica cari tahu dimana kak Bintang pergi."


Dobi hanya mengangguk. Tidak mungkin juga Bintang kembali ke apartemennya, sudah pasti laki-laki itu akan enggan menempati tempat yang Doni belikan.


...🌼🌼🌼...


"Bintaaaangggg......" Meysa berlari, dia jelas melihat sosok Bintang di kejauhan dengan seorang perempuan yang tidak dia kenali.


Tidak jauh dia berlari untuk sampai pada Bintang dan langsung menarik lengan laki-laki itu dengan sangat kuat. "Bintang...."


"Apasih,," elaknya, hampir membuat Meysa terjatuh. "BISA GAK LO GAK USAH GANGGU GUE!?!"


Sentakan itu membuat Meysa mematung, perempuan yang tengah merangkul lengan Bintang juganturut tersentak kaget dengan teriakan Bintang. Perempuan itu mengelus bahunya lembut. "Bintang, kenapa kamu teriak sih? kasihan dong adik ini sampai terkejut."


Perempuan itu menatap Meysa dan tersenyum ramah setelah melihat seragam sekolahnya. "Kamu pasti teman adiknya Bintang ya, maaf ya, kak Bintangnya sedang tidak bida diganggu."

__ADS_1


"Gue bukan adik lo." Tanggapnya ketus, perempuan dihadapannya melotot kaget. Meysa dengan kuat melepaskan rangkulan manja itu. "Bintang, siapa dia? kenapa kamu ada disini."


"Berapa kali sih gue harus ngomong sama lo, jangan ganggu gue." Mata Bintang memerah, Meysa dapat melihat bahwa mantan kekasihnya ini sedang menahan amarah. Meysa ingin memeluknya untuk menenangkan. "Bisa gak sih, lo gak usah muncul dihadapan gue."


"Jawab duluu," suara Meysa mulai menyerak, dia tidak bisa menahan kata-kata kasar Bintang untuknya. "Siapa dia, kenapa kamu pergi sama perempuan ini? kenapa dia ngerangkul kamu? kenapa dia berbicara manis sama kamu?"


"BUKAN URUSAN LO!?!?!" Bintang berbalik, menggemggam tangan perempuan disampingnya dan dia bawa pergi meninggalkan si berisik Meysa.


"Kamu ada masalah sama Raisa??"


Langkah kaki Bintang berhenti, bahkan membuat Aleta kebingungan dan terpaksa ikut berhenti. Perempuan itu ikut menatap Meysa dan memberikan tatapan jangan katakan apapun soal Raisa pada Bintang, sayangnya Meysa tidak perduli terhadap tatapan itu.


"Kalau kamu ada masalah sama Raisa, kamu bisa pulang ke aku. Kenapa musti ke perempuan lain, Bintang?"


Tubuh Bintang tertahan oleh Aleta, perempuan itu menggeleng kuat. Memberi isyarat pada Bintang agar tidak berkata maupun bersikap kasar kasar pada gadis SMA itu.


"Tenang ya. Jangan sampai emosi menguasai diri kamu, Bintang."


"GAK USAH SOK MANIS DAN GAK USAH SENTUH-SENTUH BINTANG, *****." Teriaknya kuat, dia tidak perduli sedang ditatap beberapa orang yang keluar-masuk gedung apartemen.


Emosinya kurang baik, moodnya sedang tidak baik-baik saja dan kenapa Meysa menambah kekesalannya.


"SI*LAN LO!?!?!" Bintang mendorong Meysa hingga terjatuh ketanah, perempuan itu meringis sakit, tangannya tergores semen kasar. "BUDEG APA GIMANA SIH LO?!?! Berapa kali gue bilang, gue gak mau lihat lo, gak usah sok perduli sama urusan gue. BENERIN AJA HIDUP LO SENDIRI."


Masih tetap terduduk dibawah, Meysa mengusap air matanya mendengar kalimat Bintang yang menyalang sembari menunjuk dirinya secara kasar. "Aku perduli sama kamu Bintang, aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama. Aku gak mau aja kamu menyakiti banyak perempuan karema satu perempuan. Aku cuma mau kamu kembali sama aku kalau saja satu perempuan yang kamu cintai menyakitimu."


Bintang menghela napasnya kasar, sial, kenapa disaat kekesalannya memuncak, rasa bersalahnya malah muncul.


"Bintang, sudah ya, aku tahu kamu bukan laki-laki yang kasar kayak gini. Aku juga kaget melihat kamu sekasar itu sama adik dan papa kamu," ujar Aleta kesal. Dia bergerak berjongkok membantu Meysa untuk berdiri, masih dalam mode menjengkelkannya Meysa menolak. Sayangnya egoisnya Aleta lebih besar hinggal membuat Meysa kalah dan langsung berdiri. "Kamu bisa pergi atau cari tempat untuk mendinginkan otak kamu yang beku itu, biar aku obati Meysa. Setelah kamu selesai sama ego kamu, masuk ke apartemen aku dan bicarakan hal yang baik dengan Meysa dan pikirkan soal masalah kamu sama Raisa."

__ADS_1


Bintang tidak menjawab, bahkan si berisik Meysa juga terlihat dia dan nurut mengikuti arahan Aleta membawa masuk kedalam gedung apartemen.


Dalam perjalanan menuju lift, Aleta menuntun Meysa dengan hati-hati. "Jangan di masukin ke hati ya ucapan Bintang, dia bukan laki-laki yang kasar."


"Gak usah sok baik, gue lebih lama kenal sama Bintang, jadi gue lebih mengenal dia dari pada lo."


Aleta tersenyum. "Okey, soal mengenal mungkin kamu lebih lama. Tapi kalau soal keterbukaan aku lebih menang, rahasia apapun Bintang selalu memberikannya padaku."


Meysa berdecih, dia melepaskan rangkulan Aleta. "Makasih bantuannya, gue bisa pergi sendiri."


Ucapan tidak sopannya membuat Aleta hanya berdiri di depan pintu lift, menatap kepergian Meysa yang masuk dan langsung menutup pintu liftctanpa menunggunya.


...🌼🌼🌼...


"Siapa sih dia, sok tahu banget soal Bintang. Mana gaya bicaranya sok manis banget lagi." Umpat Meysa ketika keluar dari pintu lift, kenapa juga Bintang bisa sekasar itu dan sama sekali gak minta maaf sama gue soal ini."


"Mey....."


Langkah Meysa berhenti, "Om..."


Jeri menatap gaya berdiri Meysa yang membengkok. "Kenaoa jalan kamu tertatih?"


"Sehabis jatuh Om."


Wajah Jeri berubah panik. "Astaga, dimana..."


"Gak, gak Om, i'm okey." Kedua tangan Meysa menodong kedepan, memberikan isyarat pada Jeri bahwa dirinya baik-baik saja. "Jatuh di depan kok."


Jeri langsung berlari dan memapah Meysa, "ayo masuk, biar Tante langsung obati kamu, kalau sampai infeksi bahaya."

__ADS_1


"Iya, iyaa Om.." Masih dengan tertatih, Meysa berjalan cepat mengiringi langkah Jeri menuju apartemen mereka.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2