
...🌼🌼🌼...
Dinda mengetuk pintu berulang kali, kalau Clarissa segera membukanya bisa saja dia dianggap sebagai orang yang tidak perduli karena membiarkan laki-laki yang dikenal oleh mamanya berdiri terlalu lama diteras rumah. Clarissa sengaja masuk kedalam kamarnya dan diam untuk waktu yang lama, sampai dia mendengar pintu yang dibuka kemungkinan dilakukan oleh Dinda sendiri karena Clarissa tidak kunjung membuka.
"Ayo masukk, Ji..." Suara Dinda terdengar sampai kekamarnya, Clarissa membuka pintu dengan celah sedikit, mengintip aktivitas yang tengah dilakukan oleh mamanya dan laki-laki asing. "Ica mungkin sedang istirahat, jadi tidak dengar kamu datang."
"Gak apa-apa bu Dokter."
"Taruh disitu saja, mumpung dia disini biar saya bangunkan." Tampak Dinda hendak menaiki tangga tapi laki-laki asing itu menghampirinya.
"Tidak usah bu, lain kali saja."
GUBRAK!!!!!
Keduanya menatap keatas, suara keras datang dari lantai dua dan pintu kamar yang Clarissa tempati terbuka lebar.
"SHIIT." Umpatnya kecil, Clarissa tidak berniat berdiri atau sekedar duduk, dia tetap terbaring menyembunyikan wajahnya sampai mamanya datang dengan sangat panik.
"Ica, sayang,,, kamu tidak apa-apa."
Tangan Clarissa terangkat tinggi, wajahnya maih disembunyikan. "Gak apa-apa, cuma bangun tidur kepala Ica sakit."
"Ayo mama bantu berdiri."
Dengan pelan Dinda membantu Clarissa duduk sampai berdiri, dia melihat laki-laki yang bersama mamanya dibawah tadi tengah berdiri dihadapannya. Senyumnya mengembang. "Diperiksa saja bu Dokter, takut kalau kenapa-kenapa."
"Gak usah ma, kan cuma jatuh aja, gak ada yang terluka."
"Bisa jadi luka dalam."
"Enggak!!!" baru pertama ketemu sudah menyebalkan ya.
Ponselnya yang tergeletak dikasur berdering, Clarissa langsung meraihnya sembari terus mengelus kepalanya yang sakit.
"Dari Anya, mama bisa keluar?"
Dinda tersenyum dan menatap laki-laki yang berdiri didekatnya. "Okey, nanti turun ya jangan lama-lama. Sampaikan salam mama pada Kanya."
"Iya."
...🌼🌼🌼...
Dinda menaruh gelas kosong dan satu botol air dingin dihadapan Oji, dia duduk didekat Oji dan tersenyum tipis. "Maaf ya, Ica emang mulutnya ketus banget. Apalagi anaknya kurang bergaul, punya temen cuma satu itupun karena dari kecil bersama."
"Tidak apa-apa bu,"
"Kamu kenal Kanya kan? dulu saya pernah bawa dia kesini juga, kan kalian bertiga main bareng tuh."
Oji mengangguk. "Ingat, tidak ikut kesini ya bu?"
"Enggak. Dia lagi ada acara, kamu kalau ketemu dia, mulutnya lebih pedes dari pada Ica."
"Iyakah??"
__ADS_1
Dinda mengangguk, "mungkin Ica ikut pedes karena dengerin dia terus..."
"Apa nih Ica Ica." Clarissa turun dari tangga dan menuju kearah ruang tengah yang terletak lurus sejajar dengan anak tangga.
"Enggak kok," Dinda melambaikan tangannya. "Sini sayang, sapa Oji dong."
Clarissa hanya melambaikan tangannya. "Di dekat sini ada pantai kan?"
"I-iya."
"Ica." Dinda yang lupa soal mengajarkan kepada Clarissa tentang sopan santun atau anaknya ini yang memang malas berbasa-basi. "Masa langsung main tebak gitu, sapa dulu dong."
"Kan udah."
"Gak apa-apa bu Dokter."
"Ya paling tidak menanyakan sesuatu kepada seseorang harus dengan kata-kata yang baik." Tidak mendengar kerelaan Oji pada kalimat Clarissa. "Ulang pertanyaannya."
"Gak apa-apa bu....."
"Oji, lo apa kabar?" Clarissa mengulurkan tangannya. "Bay the way, di dekat sini ada pantai kan ya?"
"Ehh, i-iya, baik. Ada, lurus dari jalan depan ini." Jawabnya kaget sembari berdiri kaku dan meraih uluran tangan Clarissa. "Mau saya antarkan?"
"Besok aja. Boleh kan ma?"
Tidak menjawab pertanyaan putrinya, Dinda malah menatap Oji. "Memangnya tidak kerja?"
"Tidak bu, tapi mungkin tidak bisa pagi-pagi sekitar jam sepuluhan?" Oji menatap Clarissa. "Tidak apa-apa kan?"
...🌼🌼🌼...
Meysa hanya diam ketika meja bergetar kuat karena gerakan kaki laki-laki yang mengganggunya sejak tadi. Bahkan dia sulit memahami apakah papanya baik-baik saja mendengar kebisingan orang asing yang berada diruangan mereka. Perempuan itu menaruh baskom kecil berisi air bersih dan handuk bekas memandikan tubuh ayahnya kedalam kamar mandi.
Suara gerakan itu masih berbunyi, bahkan meja yang tertata rapi sudah melenceng terkena dorongan dan pelakunya masih belum menyadari yang tengah dilakukannya.
"Matii anjirr.." Ucapnya ketika ponselnya bersuara 'K.O' tangan lainnya meraih cup berisi cola dengan ukuran jumbo, menyeruput dan menaruh secara asal.
Entah apa yang dilakukannya diruang inap papa Meysa, tidak seharusnya dia melakukan hal itu.
"Mey, mau minum putih." Ucapnya ketika disela dia masih fokus dalam permainan ponselnya. Meysa berjalan kearah dispenser dan menaruh air putih dingin dihadapan laki-laki itu tanpa mengatakan apapun.
Putra meraih gelas itu dan menaruhnya lagi padahal belum dia minum. "Mau yang setengah hangat."
Meysa menghela napasnya. Dia berjalan meraih gelas dihadapan Putra, meminum setengah dan berjalan kearah dispenser, mengisi air hangat kedalam gelas Putra. Matanya tidak sengaja melirik kearah cela pintu.
"Nih..." Menaruh dengan kasar, bahkan menimbulkan suara. "Put, titip bokap bentar ya."
"Gak." Dia berdiri. "Emangnya gue baby sister bokap lo."
Meysa meraih pergelangan tangan Putra agar tidak pergi. "Please,,, gue mau nemuin Bintang bentar,"
"Bukan urusan gue." Menarik tangannya dari genggaman Meysa.
"Janji, gue gak bakal ganggu Clarissa. Bahkan gue yang pertama bantu dia kalau dia lagi kesulitan. Sumpah."
__ADS_1
Putra berdecih. "Yang buat dia kesulitan itu lo."
"Iya, gue gak bakal buat dia kesulitan."
Putra duduk. Membuka ponselnya lagi. "Jangan lama-lama."
Mendengar persetujuan Putra membuat Meysa buru-buru keluar ruang inap papanya dan berlari mengejar Bintang yang masih dapat dilihat matanya.
"Bintang....."
Panggilannya tidak didengar oleh Bintang, kemungkinan karena jarak dan juga tidak mungkin Meysa berteriak kencang karena ini area Rumah Sakit. Langkah kakinya semakin lebar namun dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Dalam larinya, matanya melebar ketika melihat Bintang mengangkat tangan tinggi kearah perempuan yang tidak jauh dari hadapan laki-laki itu, langkah Meysa memelan dan langsung bersembunyi dibalik dinding pembatas.
"Maaf ya buat kamu nunggu lama."
"Enggak apa-apa, aku santai kok duduk disini, para suster baik nemenin aku disini. Beruntungnya aku bisa jadi menantu orang berpengaruh di Rumah Sakit ini."
Terdengar suara Bintang tertawa dan menghilang dari pendengaran Meysa. Dia melupakan tujuannya menitipkan papanya pada Putra yang bahkan lebih mengancam dari siapapun, tapi dia lebih tidak menyangka untuk sesuatu yang baru dia lihat.
Putra tampak terkejut ketika pintu tertutup dengan kasar dan menampakkan wujud Meysa yang bersadar dengan mengelus dadanya.
"Kenapa?"
Meysa melirik Putra sekilas, dia melihat papanya dengan posisi yang masih sama, takut kalau Putra melakukan sesuatu kepada orang berharganya.
"Gak gue apa-apain kali, takut banget lo." Ucapnya ketika melihat mata Meysa meneliti pria yang terbaring tanpa sama sekali bergerak diranjang.
"Lo tau Bintang udah punya pacar?"
Putra mengangguk. "Udah mau nikah malah? udah ngisi duluan yang gue tau."
"Udah pernah ketemu belum sama perempuan itu? Cebol udah pernah....."
"Clarissa,,,, jangan panggil dia seenaknya jidat lo."
"Iya, Clarissa..." Ucapnya terdengar kesal.
"Kenapa?"
"Clarissa udah pernah ketemu pacarnya Bintang?"
"Kenapa sih?" Putra sedikit heran dengan pertanyaan Meysa, dan dia hanya menggeleng tidak tahu apapun. "Kayaknya sih belum."
"Bagus deh..."
Dimana letak bagusnya Meysa juga tidak paham, yang terpenting dia tidak sempat bertemu dengan kekasih Bintang tadi.
...🌼🌼🌼...
CLARISSA FATIYAH ADAMS
PUTRA RIZQI ADIETAMA
__ADS_1