
...πΌπΌπΌ...
Anita T. Adietama
Clarissa, kamu sedang
apa? sudah bangun?
^^^Clarissa Fatiyah A^^^
^^^Sudah tante, ini mau^^^
^^^berangkat sekolah.^^^
Anita masih sering memberinya pesan walaupun singkat, terkadang balasannya juga tidak diberikan balasan lagi oleh wanita itu. Padahal baru dua hari dia meninggalkan kediaman Adietama, tapi Anita seperti seakan-akan telah dia tinggal beberapa bulan saja. Clarissa memasukkan ponselnya kedalam tas, dia keluar kamar menuju ruang makan. Sudah ada Bintang dan mamanya yang duduk manis dimeja makan.
"Lama banget sih dek, kakak laper loh."
"Ya tinggal makan saja sih kak, Ica bangun kesiangan." Jawabnya tanpa tahu kalau Bintang telah lama menunggunya. Hampir setengah jam.
Clarissa duduk disebrang Bintang, melihat mamanya yang duduk dikursi tempat kebiasaan papanya duduk dulu. Dinda tersenyum menatap pandangan Clarissa yang kosong. "Ica kenapa?"
Pandangan yang kosong teralihkan. "Enggak ma,"
"Nanti malam papa kalian meminta kalian untuk makan malam bersama. Bisa?"
Anggukan ataupun gelengan tidak didapat dari Clarissa maupun Bintang, mereka diam tanpa merespon.
"Kalau tidak bisa, kabari papa kalian ya, jangan hanya diam. Kalian tidak mau kan kalau papa kalian berpikir kalau mama yang melarang kalian berdua untuk menemuinya." Dinda menjelaskan, agar kedua anaknya mengerti posisi yang seharusnya mereka lakoni saat ini. "Kalian sudah besar, pasti sudah tau kalau mama dan papa tidak akan pernah bisa kembali bersama. Kita akan tinggal bersama dirumah ini, mama akan tetap meminta kakak tinggal disini bersama Raisa nantinya. Tapi tetap prioritaskan Ica, adik kamu masih membutuhkan perhatian kita."
"Ica...." Clarissa menahan kalimatnya untuk menolak perkataan sang mama.
Dinda meraih tangan Clarissa dan mengelus lembut. "Sayang, percayakan semua sama kak Bintang ya? dia tidak akan meninggalkan kamu lagi meskipun dia memiliki banyak Istri nantinya."
"Ma,,," Bintang menegus mamanya dengan tawa kecil, untuk apa juga dia memiliki banyak istri.
"Mama serius kakak, jika satu perempuan mampu membuatmu lupa pada saudaramu lebih baik kamu menikahi empat perempuan sekaligus yang mampu membuatmu perduli pada satu adikmu."
Bintang berdecak. "Itu kalimat dari mana sih ma," dia berdiri, meraih roti yang sudah mamanya beri selai kacang disela mereka berbincang tadi. "Udah ah, Bintang mau berangkat, Ica mau bareng gak?"
__ADS_1
Clarissa menatap sang mama. "Dari pada memikirkan kak Bintang mau menikahi berapa perempuan dan memikirkan sikap calon istri kak Bintang terhadap Ica, lebih baik mamaa memikirkan tentang kondisi mama. Mama sakit?" Tangannya bergerak menyentuh dahi Dinda. "Wajah mama pucat, mama harus periksa nanti dan jangan lupa makan yang banyak. Mama terlihat kurusan."
Clarissa berdiri. Mengecup Dinda sebelum berlari mengejar Bintang yang sudah hampir meraih pintu utama.
"Mama aneh banget," ucap Bintang ketika Clarissa sudah masuk mobil dan memakai sabuk pengaman.
Clarissa menoleh sekilas. "Mungkin mama mendengar pembicaraan kita kemarin,"
"Tentang perbuatan Meysa?"
Clarissa mengangguk.
...πΌπΌπΌ...
"Ica sinii,,,,," Delisa mengangkat tangan tinggi-tinggi agar Clarissa melihatnya, duduk ditempat paling ujung bersama Noel dan Rinda.
Kanya dan Vina tidak terlihat karena sedang ditahan oleh guru fisika mereka karena asik mengobrol ditengah guru itu menjelaskan. Mungkin mereka berdua sekarang sedang mengeluh lelah karena mendengar ceramah panjang dan lebar tanpa dipersilahkan untuk duduk.
Clarissa membawa nampan berisi es teh dan bakso kuah dengan pelan-pelan, dia fokus melihat Rinda yang ikut melambaikan tangannya tinggi meniru gaya Delisa disebelahnya. Tanpa sadar, tubuhnya sudah mengambruk kelantai, seluruh bawaan makan siangnya tumpah berserakan dilantai.
"Hati-hati dong,,,"
Clarissa masih tengkurap dilantai, dia memejamkan matanya, satu matanya terkena cipratan kuah bakso.
Kepalanya mendongak, melihat Meysa tengah berjongkok menatap dirinya. Senyum yang sulit diartikan oleh Clarissa, entah itu tulus atau tidak, Clarissa benar-benar tidak paham. Kepalanya melongok kebelakang, berdiri Jesika dan Tias dibelakangnya. Clarissa menatap Meysa lagi, perempuan itu tidak menghilangkan senyum mengembangnya. Matanya mengisyaratkan untuk dirinya mau menerima bantuan itu.
"Ica...." Delisa berlari, berjongkok membantu Clarissa berdiri, Noel dan Rinda juga turut berlari menghampiri.
"Gila ya lo,"
"Kenapa gue?" Meysa berdiri menatap Rinda.
"Lo gak kapok ya Mey, masih juga ganggu Clarissa," Noel ikut menerjang Meysa dengan kekesalan. "Gak capek lo caper mulu."
"Heh, gua udah niat baik buat bantuin dia ya." Elaknya, "tuh Jesika yang jegal."
"Kok lo jadi nuduh gue Mey,"
"Heh," Meysa tampak terdiam, dia menatap Tias yang masih berdiri dibelakang Jesika. "Lo lihat kan?"
"Kenapa saling lempar melempar sih? toh tetep kita yang ngelakuin itu."
__ADS_1
Meysa tersenyum tipis menatap kedua temannya. Dia menggeser diri untuk melihat Clarissa dan yang lainnya. "Seru ternyata."
"Apa yang seru," Rinda berdiri tepat didepan Clarissa, menutupinya dari tatapan aneh Meysa. "Lo emang cewek sinting ya, sakit lo.."
Meysa hanya tersenyum tipis, meraih ponselnya diatas meja dan pergi meninggalkan kerumunan. Tidak ada yang berani meneriakinya, menatap sinis atau sampai membully, karena mereka akan mendapatkan balasannya nanti jika berani melakukan perbuatan semacam itu pada perempuan itu.
"Bawa Ica ke UKS aja Del," Rinda menatap Delisa ketika membantu membersihkan rok Clarissa yang kotor. "Awas aja tuh anak."
"Jangan kasih tau Putra." Rinda, Noel dan Delisa menatap Clarissa bersamaan. Clarissa mengucek matanya dan menunduk, menatap piring, nampan, sepasang sendok-garpu serta gelas yang sudah berserakan dilantai. "Gue gak suka ditanggapi berlebihan dari dia."
"Ca..."
Clarissa berjalan menunduk meraih peralatan makan yang berserakan. Saat ibu kantin berjalan mendekat, dia mendongak. "Maaf bu, nanti saya ganti."
"Ehh, gak apa-apa mba Ica, kan gak sengaja juga." Menahan Clarissa untuk meraih pecahan gelas. "Sudah, jangan dibersihkan, biar saya saja."
Nampan yang dia gunakan untuk mengumpulkan pecahan gelas sudah dia berikan kepada ibu kantin, dia berjalan meninggalkan kantin tanpa melihat tiga orang yang khawatir kepadanya. Bahkan seisi kantin sudah tidak mempedulikan dirinya lagi yang berjalan keluar kantin.
...πΌπΌπΌ...
Rinda berdiri, lalu duduk lagi, berdiri lagi dan duduk lagi, itu dia lakukan berulang kali. Membuat ketiga temannya hanya memperhatikan laki-laki itu, raut wajahnya terlihat kesal.
"Kenapa sih Rin?" Daze bersandar menatap Rinda. "Clarissa sendiri yang bilang untuk gak bilang ini sama Putra kan?"
"Tapi ini gak bisa dibiarin Ze, lo lihat sendiri bertapa gilanya si Meysa. Bukannya minta maaf dia malah ketawak terus main pergi," merampas es jeruk milik Erlangga tanpa permisi.
"Kayak lo gak tau aja Meysa gimana,"
Rinda menatap Erlangga. "Kayak lo tau aja sih? dia itu perempuan prikk, so scary kalau hidup satu lingkungan sama dia."
Daze menghela napas dan menatap Rinda, serta kedua temannya bergantian. "Kita turuti aja deh maunya Clarissa untuk gak cerita sama Putra."
"Terus kalau nanti Putra tau dari saksi yang ada dikantin gimana?" tanya Rinda.
"Bilang aja kalau kita disuruh Clarissa untuk diam. Memang itu faktanya kan?"
"Kalau Putra marah?" tanya Rinda lagi.
"Emangnya Putra bisa marah kalau Clarissa yang minta?" Noel membalikkan pertanyaan untuk Rinda. Dan membuat laki-laki itu diam tidak menjawab. "Dia lagi sibuk sama tugasnya, jadi jangan bebani dia soal ini, kalian tau kan seberapa bucinnya dia sama Clarissa. Gue sih yakin, kalau Clarissa juga ada rasa gak nyamannya sama perlakuan Putra. Udah kita turuti aja maunya Clarissa, gak lucu kan kalau tiba-tiba Putra balik cuma gara-gara ini."
"Gue setuju," Daze mengangkat tangannya.
__ADS_1
Erlangga berdiri, "gue mau kekelas, udah bell."
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ