Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:83


__ADS_3

Dari dalam mobil kakaknya, Clarissa menatap lemah pada gerbang sekolah SMA Gemilang Cahaya. Dia malas untuk bangkit dari tempatnya saat ini. Dia tidak suka jika seluruh siswa menatapnya kasihan apa lagi mendekatinya untuk mengatakan belasungkawa.


Bintang mengelus lembut kepala Clarissa. "Mau bolos? kita ke apartemen kakak, sebenarnya kakak juga males mau kuliah. Tapi kakak gak suka ada dirumah."


Memangnya siapa yang betah tinggal di Rumah, yang penghuninya saja sudah seperti saling asing.


Clarissa menggeleng. Sudah terlalu lama dia membolos, ini sudah masuk semester dua dan dia tidak boleh menjadi pemalas. "Ica masuk aja kak, udah lama izin juga."


"Okey, gak usah ikut upacara ya dek. Kamu masih lemes, takutnya malah semakin parah." Titah Bintang, Clarissa terkadang tidak perduli pada dirinya sendiri. Jadi harus diingatkan agar paham.


Clarissa turun dari mobil dan sempat menunggu kakaknya itu pergi terlebih dahulu lalu dia berjalan menuju gerbang sekolahnya yang mulai ramai. Seharusnya dia langsung turun tadi sebelum pelataran sekolah ramai, beberapa ada yang sudah memberikan tatapan menyedihkan untuknya, mungkin mereka tidak berani menyapa karena tidak dekat. Tidak sengaja mata Clarissa bertemu dengan Meysa, mereka sama-sama berhenti sejenak ketika saling menatap, perempuan itu turun dari mobil yang tidak Clarissa ketahui. Mereka berdua sama-sama masuk dengan mulut saling mengunci rapat.


Clarissa dapat merasakan kepedihan yang Meysa terima, pasti lebih sakit, apa lagi saat pemakaman papanya. Tidak ada satupun kerabat yang hadir, bahkan Clarissa tidak mendengar sepatah kalimat yang keluar dari mulut Anita mengenai Meysa. Padahal Meysa adalah anak kandungnya.


"ICAAA!?!?!!" Teriak teman-teman sekelasnya yang kegirangan melihat kedatangannya. Clarissa tersenyum tipis dan menghampiri mereka. "Uhh kangen banget."


"Iya, aku juga, gak ada yang bisa diajak curhat." Rengek Ririn yang erat merangkul lengannya. "Nanti aku mau curhat Ca, dengeri ya."


"Iya.." Jawabnya, Ririn memang terkenal suka banyak masalah dan hanya Clarissa yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Mereka cukup dekat, tapi tidak terlalu sering bersama. "Kanya mana?"


Vina menunjuk kearah dimana Kanya berada dengan bibirnya. "Dia udah go public soal hubungannya, jadi udah nongkrong berdua mulu tuh."


"Ca, semester dua ini kelas diubah, lo tetep sekelas sama Kanya. Banyak yang pindah, sama yang masuk kesini." tutur Delisa. "Gue pindah, Vina aman."


"Oh ya?"


"Gue pindah Ca," Ririn merebahkan kepalanya dipundah Clarissa. "Kangen dehh sama Ica."


"Lo lebay amat sih Rin." Vina melirik tajam. "Balik ke kelas lo sana,"


"Dih, nantilah."


"Ayo Rin, balik sama gue." Ajak Delisa


Dengan tatapan malas, Ririn terpaksa melepaskan rangkulannya lalu beralih merangkul Delisa dan pergi dari hadapannya. Vina tersenyum dan dia nerganti merangkul lengan Clarissa.

__ADS_1


"Yuk masuk, lo udah dikasih tempat, soalnya wali kelas yang nentuin tempat duduknya." Ucap Vina sembari menarik tangannya masuk kedalam kelas.


Dia ditaruh duduk ditengah-tengah, barisan nomer tiga dari depan. Vina mendekati telinganya. "Cie sebelahan sama Putra."


"Hah?"


"Gak usah kaget gitu deh." Vina mencolek Clarissa gemas. "Gue balik ke tempat gue ya. Bu Siksa udah mau masuk tuh, hari ini gak upacara kok."


Di sela bel berbunyi, beberapa siswa langsung berlari masuk. Tenggorokan Clarissa sakit, dalam hitungan sepuluh menit dia menahan napasnya ketika melihat Meysa berjalan diantara yang lain dan duduk di kursi sebelahnya.


"Ca.." Kanya mencubit pipi Clarissa gemas, membuatnya tersadar dan napasnya telah kembali. "Kok lo gak bilang gue kalau mau masuk hari ini? berangkat sama siapa?"


"Iya. Di antar sama kak Bintang." Dia menunduk, tidak bisa bergerak leluasa karena seperti merasakan seseorang tengah memperhatikannya dengan teliti.


"Ehh... Ica masuk." Putra menarik kursinya dan duduk disebelahnya. "Udah sembuh Ca? mama bilang demam ya, di rumah ngoceh terus pengen ngajak lo kerumah biar dirawat."


Sial. Kenapa Putra tidak tahu situasinya sih? Apa yang Meysa rasakan ketika mendengar mamanya malah memperhatikan orang lain.


"I-iya. Put,, geseran dong."


Clarissa menatap mata Putra. Astaga. Jantungnya kembali berdetak, padahal ia kira sudah tidak berfungsi lagi ketika dihadapkan oleh laki-laki ini. "Bu Siska udah mau masuk."


"Okey..." Putra berdiri dan menarik kursinya kembali, tangan laki-laki itu terangkat tinggi. "Er, kesiangan lo?"


"Iya. Biasanya Rinda bangunin, dia malah udah berangkat duluan." Eluhnya sembari menaruh tas diatas meja tepat di belakang Clarissa, Erlangga dan Rinda memang selalu berangkat bersama walaupun tidak pernah berboncengan. Entah itu sama-sama membawa mobil atau motor, katanya, saat bersamaan hanyalah ketika berpergian jauh.


"Makanya, punya pacar Er, biar ada yang bangunin." Ejek salah satu teman dibangku yang tidak jauh dari mereka.


"Gue gak punya pacar tetep bisa bangun pagi tuh." Timpal Putra tidak terima.


"Ya lo kan tuan muda, pasti punya maid yang bangunin setiap paginya, yang nyiapin air hangat." Ejek Kanya.


Putra terkekeh. "Iih, Kanya mau ngajak gue ngomong."


"Najis."

__ADS_1


Kata pedas itu membuat teman-temannya tertawa, mereka tahu kalau Kanya tidak akan pernah bisa berbaikan dengan Putra walaupun Putra selalu mengajaknya bicara duluan.


...🌼🌼🌼...


Hari ini cukup baik, ternyata tidak se-menyedihkan seperti yang dia bayangkan. Teman-temannya tidak ada yang membahas tentang kepergian mamanya, mereka tetap perduli, dan Clarissa tahu, bercandaan hari ini adalah untuk menghiburnya.


Bintang sudah menunggunya diparkiran, laki-laki itu bersandar manis pada mobil sembari memainkan ponselnya. Keributan anak-anak SMA saat pulang sekolah membuatnya tertarik dan menyimpan ponselnya, dia tersenyum tipis pada Clarissa yang berjalan ditemani oleh Vina dan Delisa.


"Kak Bintang, Anya duluaaannnn." Teriak Kanya ketika melihat Bintang diparkiran dekat gerbang, Kanya berboncengan dengan seorang laki-laki yang mengenakan seragam olahraga.


Bintang hanya tersenyum tipis.


"Dek...."


"Kakak jemput Ica?"


Bintang mengangguk, dia menatap dua teman Clarissa. "Yuk, sekalian biar kakak antar."


"Lain kali aja kak." Vina menolak karena memang ada janji untuk pergi bersama Delisa. "Da Ca...."


"Daa..." Delisa ikut melambaikan tangannya, lalu pergi mengikuti Vina.


Bintang dan Clarissa beriringan jalan menuju mobil. Mata Bintang melirik kearah Meysa yang berdiri memandanginya dari ke jauhan. Setelah hari dimana mereka sama-sama kehilangan orang yamg dicintai, mereka tidak saling menghubungi.


"Kak...."


Bintang memutuskan pandangannya dan menatap Clarissa. "Ya, kenapa dek?"


"Kalau mau nemuin dia temui aja." Ucapan Clarisaa belum dia pahami. "Ica, tunggu di mobil."


Jeda ada dalam pembicaraan mereka, sampai di mobil mereka Bintang masih membisuk. "Kak,,"


Bintang tampak kebingungan saat panggilan lirih Clarissa terdengar berulang kali, pikirannya sedang tidak baik. "Gak,, gak perlu juga."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2