Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:97


__ADS_3


...BIASANYA, SETELAH ADA PELANGI AKAN ADA BADAI...


...🌼🌼🌼...


"Ini yang kamu bilang backstreet?" Clarissa meninju pelan lengan Putra sebelum pergi meninggalkan laki-laki itu.


Putra mengelus bekas tinjuan Clarissa, dia tersenyum dan langsung mengejar Clarissa, meraih bahu perempuan mungil itu agar tidak berjalan cepat meninggalkannya. "Sorry, I just get worried when I see you with another guy."


Langkah kaki Clarissa masih dalam posisi semula, lebar dan tidak mendengarkan kalimat Putra.


"Ca, kaki kamu kecil kenapa langkahnya cepat banget sih." Ocehnya ketika kekasihnya itu tidak mendengarkan kalimat romantisnya.


Bukannya tidak mendengar, siapa yang tidak dapat mendengar kalimat sekeras itu, hanya saja Clarissa sedang menahan rasa malunya karena mendengar Putra mengatakan hal aneh padanya.


"Tunggu Ca," rengeknya lagi karena Clarissa masih belum memperlambat langkahnya menuruni anak tangga.


Clarissa berhenti tepat di lantai dasar, menatap Putra yang masih ditengah-tengah anak tangga. "A relationship will work well if you take care of the main key, trust." Putra memperlambat langkahnya sampai dihadapan Clarissa, perempuan itu mundur selangkah agar dapat mendangak dengan santai, jika terlalu dekat kepalanya akan sakit. "And you don't seem to believe it, even if it's something very simple. Benarkan?"


Putra terdiam. "Kalimatmu seakan-akan sudah pernah menjalin hubungan dengan sangat baik ya?"


"Pernah."


Mata Putra membelalak sempurnah, Clarissa pernah menjalin hubungan, rahangnya mengeras. "Katamu aku cinta pertamamu?"


"Yap, tapi bukan berarti aku harus pacaran sama cinta pertama bukan?"


"Damn little girl." Umpat Putra mendadak. Bukannya marah, Clarissa malah terkekeh. "Siapa? jangan ketawak, jawab siapa pacar pertamamu."


"Kenapa? toh itu berlalu, aku cuma merasa gak enak menolaknya," jawabnya enteng sembari memasukkan buku novelnya kedalam tas. "Aku sudah pesan taxi online, kemungkinan sebentar lagi datang."


"Jangan mengalihkan pembicaraan."


Tawa renyahnya kembali terdengar, dia memang nalas membahas hal itu. "Teman les kok, pacaran enggak sampai sebulan sepertinya. Kami putus karena dia mau pindah ke London, kebetulan aku juga gak terlalu berminat sama dia."


"Damn it." Putra mengusap wajahnya, "padahal aku kira bisa menjadi cinta pertama sekaligus pacar pertama."


"Salahmu,"

__ADS_1


Putra menunjuk dirinya. "Salahku?"


Clarissa mengangguk. "Iya. Coba saja kalau dulu kamu peka sama perasaanku, mungkin aku tidak menerima Max."


"Wow, berani kamu menyebutkan namanya."


Clarissa terkekeh dengan keposesifan Putra, dia memang iseng saat menerima Maxim untuk menjadi kekasihnya, karena saat itu dia sedang tidak nyaman dengan perasaannya saat melihat Putra bergandengan dengan perempuan lain. Clarissa tidak tahu siapa, yang jelas perasaannya tidak baik saat itu.


"Aku pulang duluan ya..."


"Gak, aku bawa mobil Erlangga." Meraih ponsel Clarissa, membatalkan pesanan taxi online dan memberikan tips kepada sopirnya. "Pulang sama aku."


"Okey."


Putra tersenyum, tidak ada penolakan. Clarissa merubah semuanya, sikap, sifat, cara bicara, Putra suka itu.


"Boleh gandengan tangan?"


Clarissa menatap tangan Putra yang terulur dihadapannya. "Kalau ada yang lihat?"


"Memangnya ada anak sekolah jaman sekarang yang mampir ke toko buku setelah pulang sekolah selain kamu?" tanyanya, Clarissa tidak menjawab. "Ada sih, tapi kebanyakan kutu buku itu tidak perduli dengan keadaan sekitar setelah melihat kesukaannya."


...🌼🌼🌼...


"Hai,, adiknya Bintang ya?" Langkah Clarissa berhenti diambang pintu, seorang perempuan yang mengenakan celana jeans ketat serta baju kekurangan bahan menyapanya. Perempuan itu menatap seragamnya. "Anak Gemilang Cahaya? dulu kakak juga sempat sekolah disitu sih tapi pindah karena keluarga juga harus pindah kerja."


Dahi Clarissa berkerut. "Maaf, kakak siapa ya?"


"Oh," perempuan itu tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya. "Aku pacarnya Bintang."


Mata Clarissa melebar, dia menunduk lagi melihat perut rata perempuan dihadapannya yang tidak tertutupi. "Kak Raisa?"


"Raisa? who is she?" Tanyanya dengan kebingungan. "You can call me Aleta."


Clarissa tidak meraih tangan mulus dengan kuku bercat merah itu, dia melihat Bintang yang keluar dari kamarnya membawa sebuah tas kecil. Buru-buru Clarissa menghampirinya. "Kak,,,"


Bintang tidak menjawab panggilannya, dia berjalan kearaj perempuan bernama Aleta itu dan meraih tangannya. Clarissa berlari mengejar, "kak Bintang..... Kakak ini siapa? kenapa kakak sama kakak ini? kak Bintang mau kemana?"


Tidak ada satupun pertanyaan Clarissa yang Bintang jawab, laki-laki itu hanya berjalan cepat sembari menarik kuat tangan perempuan yang kebingungan itu. Aleta yang tidak tahu apapun hanya kebingungan menatap Clarissa yang panik, "maaf, lain kali kita bertemu dengan baik yaa..."

__ADS_1


Hanya kalimat itu uang terdengar ketika Bintang sudah membawanya masuk kedalam mobil, "kak..."


Clarissa nenubrukkan dirinya pada pintu mobil sebelum Bintang membukanya. "Kakk...."


"Minggir," ucapnya dingin, jika saat ini Bintang adalah suhu cuaca, kemungkinan Clarissa akan demam saking kedinginannya.


"Kak, kakak kenapa?" Tanyanya sekali lagi, dia tatap wajah Bintang yang menatap kearah lain. "Kenapa kakak menghindar? apa Ica ada salah, atau kakak lagi ada masalah?"


Bintang tidak menjawab, Clarissa terus mengguncang lengan Bintang memohon jawaban. "Siapa perempuan itu? kenapa sama kakak? bagaimana dengan kak Raisa, kak?"


"Dek, bisa gak jangan ganggu kakak? PUSING TAU GAK!!!" Clarissa tersentak, bahkan mungkin Bintang sendiri tersentak dengan kalimat bernada tingginya. "Ca,,,,"


"Kakak aneh,,,"


"Ada apa ini?" keduanya menoleh, Bintang menghembuskan napasnya kasar saat Doni masuk menenteng tas kerjanya. "Kenapa kakak teriak pada Ica?"


"Gak usah ikut campur,"


"Kak Bintaang..." Clarissa menegur nada bicara Bintang pada papa mereka. "Sekesal apapun kakak, gak seharusnya kakak ngomong seperti itu sama papa. Kakak boleh bentak Ica, tapi kakak gak boleh bentak papa."


"Ca, kamu masih belum sadar ya?"


"Bintang...." Doni mencoba ikut menegur, tidak ada yang paham dengan keadaan Bintang saat ini. "Kamu kenapa sih? papa ada salah sampai kamu ikut memarahi adik kamu? bukannya kita sudah baik-baik saja beberapa hari belakangan?"


Bintang tidak bisa mengelak, hatinya gusar, tidak bisakah harinya baik barang sebentar.


"Keluarga kita sudah berantakan pa, apa yang baik-baik saja?"


Pertanyaan itu membuat Doni terdiam, dia kira hari kemarin memang sudah baik-baik saja. Ada apa dengan Bintang.


"Bintang salah apa sama papa, kenapa papa nyakitin Bintang segininya. Apa karena Bintang bukan anak kandung papa makanya papa seenteng ini sama Bintang?"


"BINTANG!!!!" Pernyataan itu kembali msmbuat hati kecil Doni tersentak kaget, "kenapa kamu bahas ini lagi sih? bukannya kita sudah selesaikan, kamu anak papa, tidak pernah sekalipun terlintas pikiran papa soal itu."


"Jadi kali ini siapa yang salah? Bintang?" Doni tidak menjawab, "iya pa? salah Bintang sayang sama perempuan yang MEMILIKI DARAH SELINGKUHAN PAPA!!!?!?!?!"


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...BINTANG ANGKASA ADAMS...

__ADS_1



__ADS_2