
Deru suara mesin mobil keras terdengar, biasanya orang-orang akan merasa kebisingan, namun kali ini, mereka malah bersorak gembira.
Kanya yang tengah duduk manis disamping pengemudi, tersenyum lebar, dia akan mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa. Dia menoleh melihat kearah Putra, kaki laki-laki gagah itu sibuk menekan pedal gas berulang-ulang, menimbulkan kepulan asap dari kenalpot mobilnya. Mulutnya bergumam mendendangkan lagu yang berputar keras pada sound besar dipinggir jalan.
"Put,"
"Em...."
"Lo mau gue kasih tahu sesuatu hal yang menarik gak."
"Gak!! gue sama sekali gak tertarik."
Kanya berdecak. "Ayolah, mumpung gue lagi berbaik hati gak sinisin lo kali ini."
"Hmm..." Putra tampak berpikir, melirik teman-temannya yang masih asik mengobrol, mungkin boleh juga mendengarkan ocehan Kanya sebelum balapan dimulai. "Boleh deh."
"Gitu dong." Kanya memiringkan tubuhnya. "Nih ya Put, percaya sama gue kalau lo bakal menang malam ini."
"Lo tahu kan Nyak? percaya sama lo itu menduakan Tuhan." Putra menggeleng pelan. "Gue gak mau aja lupa sama yang udah ciptain gue."
"Rasis lo, maksud gue bukan yang kayak gitu ogeb."
Putra tertawa. "Iya ngerti kok, terus kenapa lo bisa seyakin itu."
Kanya mengetuk dagunya. Dia tampak berpikir, "mungkin karena malam ini lo memiliki penyemangat."
"........." Putra terdiam.
"Maksudnya, gue penyemangat lo."
Kalimat mengerikan itu membuat Putra menggidikkan bahunya. "Geli kampret."
"Haha, tapi serius loh. Temen-temen lo bilang bakal kena malapetaka kalau lo bawa musuh kan? menurut gue malah bawa keberuntungan. Soalnya musuh lo itu gue."
"Padahal gue gak pernah anggep lo musuh gue."
"Sorry, jangan samakan gue sama ica, menjadikan satu sekolah waktu SMP sebagai alasan teman. Lo sama gue gak pernah deket, lagian gue itu benci banget sama lo, buat jadi teman sekelas selama dua tahun itu juga suatu kebetulan."
"Kebetulan?"
Kanya menatap datar ketika Putra tersenyum meremehkan. "Kenapa? apa lo anggep menjadi teman sekelas selama dua tahun itu bukan kebetulan?"
"Apa menurut lo, hal itu bisa jadi kebetulan buat gue?"
Kanya menggeleng ragu. "Kalau gue jadi lo, mewujudkan kebetulan itu adalah hal kurang kerjaan yang pernah gue lakuin."
"Dan gue gak pernah merasakan hal itu." Bulu kudu Kanya berdiri, jadi selama ini mereka menjadi sekelas karena Putra yang melakukannya. "Gue gak pernah main-main sama perasaan gue."
"Perasaan? tunggu, jangan bilang lo suka sama gue?"
Putra tersenyum tipis. "Ayolah Kanya, lo tahu siapa yang gue maksud."
"Hahaha, iya gue ngerti, bercanda kali." Kanya memposisikan duduknya dengan benar. Jadi Putra menyukai Clarissa? sejak kapan? ini berita besar, apa sahabatnya itu tahu? apa perlu dia beritahu? "Em.. Kali ini gue kasih kepercayaan satu lagi deh sama lo."
"Apa tuh?"
"Percaya sama gue 1000%, kalau Clarissa bakal nepis tangan lo waktu lo mau nyamperin dia."
Setelah mematikan mesin mobilnya, Putra merebahkan kepalanya pada setir, menatap Kanya. "Selain suka julid sama gue, lo udah mulai jadi cenayang gue ya Nyak?"
"Firasat sih, dan 99% selalu benar."
"Cewek, that's a natural thing."
Kanya tersenyum simpul. "Percaya gak nih?"
"Siapa bilang gue bakal samperin dia?"
"Halah, seorang cowok yang sudah tertarik sama Clarissa, mustahil bagi mereka untuk gak mencoba mendekat." Kanya menatap Putra yang membisu. "Benarkan?"
"Iya sih." Menggaruk pelipisnya. "Kok lo bisa tahu."
"Coba aja, mau nanti menang atau kalah lo tetap samperin dia."
"Kalau omongan lo salah."
"Gue anggap kali ini gue sedang berbaik hati sama lo, gue gak minta imbalan apapun udah jadi partner lo buat balapan."
"Deal." Mereka berjabat tangan, Kanya lebih dulu melepaskan tangannya, ketika melihat Rinda menggandeng Vina, mereka tampak mengobrol akrab. "Wah, wah, wah, temen lo bisa gitu ya deketin temen-temen gue. Termasuk lo juga, Vina, Delisa, Clarissa."
"Yah, mau gimana lagi?" Putra menatap kearah objek obrolan mereka. "Takdir."
"Huh, takdir?" Kanya menurunkan kaca mobil dan menatap tajam Noel yang sudah duduk dikemudinya dengan Delisa yang manis berada disampingnya, mendapatkan tatapan tajam itu, Noel ikut menurunkan kaca mobil. Mengangkat dagu sebagai tanda pertanyaan kepada Kanya.
__ADS_1
Jawaban yang Noel dapat, perempuan judes itu menggerakkan lurus jari telunjukknya pada leher. "Berani nyalip mobil yang gue naikin, meninggal lo."
Noel bergidik ngeri, buru-buru dia naikkan lagi kaca mobilnya dan langsung memeluk Delisa dengan ketakutan. Delisa yang memang memperhatikan hanya tertawa cekakakan, Kanya memang seaneh itu, dan Noel hanya berlebihan.
"Nyak..." Kanya menoleh, "lo tahu tindakan apa yang udah bokap gue perbuat antara bokap nyokap Clarissa?"
"Tahu, nyokap gue ngomong tadi siang."
"Apa?"
"Karena ada proyek besar, om Gio mempertahankan om Doni dan memindah tugaskan tante Dinda." Kanya tersenyum tipis, "proyek apapun yang sedang dikerjakan om Doni, gak seharusnya om Gio mempertahankan itu."
"Jadi itu, alasan kenapa tante Dinda nitipin Clarissa dirumah gue."
Suatu keajaiban besar bagi telinga Kanya, kenapa Clarissa tidak memberitahu kepadanya bahwa dia akan tinggal dirumah Putra. Sombong sekali kamu ya ica...
"Gue gak bisa bawa ica bareng gue, bokap nyokap gue juga lagi gak akur, udah tiga hari gue gak tidur dirumah." Hanya karena berbeda pendapat, kedua orang tuanya memilih untuk saling diam tanpa menyapa, membuat Kanya yang tidak betah dan memilih pergi. Sesekali dia akan pulang jika uang habis atau perlu pakaiannya. "Kalau gitu, dengan kemuliaan hati gue, tolong titip ica ya?"
Putra tersenyum. "Lo emang aneh, tapi, okelah, kalau yang lo titipin itu ica, dengan senang hati gue terima."
Tampak seorang perempuan cantik dengan pakaian yang sangat kekurangan bahan maju, berdiri ditengah-tengah dengan mengacungkan tangannya tinggi-tinggi yang terselip kain bendera bercorak kotak-kotak.
"Anjay, Rosita dua belas IPA tiga, flag girl coooy." Menatap kaget, Rosita adalah salah satu anggota Meysa, dibandingkan yang lain Rosita lebih tampak bersahabat, tidak seperti tiga anggota lainnya termasuk Meysa. Lantas, kenapa dia ada berdiri disitu. "Sejak kapan?"
"Awal mula diadakannya balapan ini, dia pacarnya Leo mantan ketua komunitas mobil." Ucap Putra menjelaskan. "Mungkin itu alasan dia agak berbeda dari lainnya."
"Lo ngerasain itu?"
"Em, dia lebih ramah dan lebih kelihatan gak suka cari masalah, gitu aja sih." Kanya mengangguk, memang benar, di setiap kesempatan dirinya dan Meysa beradu mulut, selalu terlihat Rosita diam dan terkadang hanya melerai atau mencegah Meysa melakukan hal brutal. Terkadang Rosita lebih terlihat sendiri dibandingkan mengobrol bersama teman-temannya.
Saat perempuan dengan celana hitam ketat dipadukan dengan tantop bercorak army mengguncangkan bendera, para pengemudi berulang menekan pedal gas. "Kencengin sabuk pengaman lo."
Ucapan terakhir Putra ketika Rosita sudah menjatuhkan benderanya, Kanya tersentak kebelakang, matanya tetutup rapat, saat dengan gilanya Putra menambahkan kecepatan lajuan mobilnya.
"PUTRAA BAAANGS*TTTTT." Putra hanya cekakan ketika mendengar umpatan Kanya yang terus mendengung diindra pendengarannya. "Bangkeeee...."
Dengan kekuatan penuh, Kanya mencoba menoleh kesamping, belum ada satupun mobil yang ditumpangi teman-temannya membalap mobil yang ditumpanginya. Dia mengencangkan cengkraman tangannya pada sabuk pengaman saat Putra telah memutar kemudinya.
"Lindungi Baim ya Allah......" Teriak Kanya, saat tiba-tiba tubuhnya miring kekanan.
Kanya berteriak lagi, "Mamaaaa,,,,, maafin Anyaa....."
Putra masih tertawa keras ditengah-tengah fokusnya menyetir. "Astagfirullah, astagfirullah," mulut Kanya terus beristigfar, memohon ampun kepada sang maha pencipta. Berdoa agar dia selalu dilindungi.
Putra berdecak. "Bisa pucet juga muka lo Nyak?"
"Kata lo kalau bawa lo itu pasti bakal menang."
"Yakaaannn, lo percaya kan sekarang sama gue?" ucapnya sombong. "Nah, sekarang giliran lo buktiin ucapan gue waktu lo nyamperin ica nanti."
"Buat memastikan hal itu tidak terjadi, gue gak mau nyamperin ica."
"Ahh, ayolah, ini seru tau, dia bakal samperin gue dan menepis tangan lo. Secara gue lebih berharga dari pada lo." Kanya semakin memanas-manasi Putra, hal ini akan menjadi sangat seru baginya, seorang Putra akan dipermalukan oleh Clarissa nanti.
Sebelum keluar dari dalam mobil dia berucap kepada Kanya. "Oke, kita coba." Kanya ikut keluar, dengan bersamaan teman-temannya yang sampai lalu menyusul. Memberikan selamat pada Putra yang telah menang setelah lama tidak turun balapan.
Terlihat Clarissa berjalan cepat diikuti Daze yang memang diperintahkan Putra untuk terus berada di dekat perempuan itu. Kanya dan Putra berjalan beriringan mendekat ke arah Clarissa. "Gue buktiin ucapan lo salah Nyak. Gue gak mengulurkan tangan, tapi gue bakal peluk dia."
"Waw.. Up to you. Kalau lo sepercaya diri itu."
Putra berjalan lebih dulu, dia tersenyum lebar tangannya bersiap untuk melebar, menarik Clarissa kedalam pelukannya.
"Caa, gue mena...." Putra terdiam, lagi-lagi ucapan Kanya benar, Clarissa menepis tangannya. Putra menoleh kebelakang mengikuti langkah kaki Clarissa yang berlari cepat memeluk Kanya.
Perempuan menyebalkan itu tengah mendorong Clarissa pelan. "Perut gue sakit Ca, minggir." Satu tangannya membekap mulut dan tangan lainnya menekan perut. "Kepala gue pusing banget."
"Gue anter ke toilet." Dengan lembut Clarissa memapah Kanya untuk berjalan, dia terlihat sangat pucat dan lemah.
"Ca...."
"Minggir...."
Clarissa memandang dirinya dengan tatapan dingin, bahkan lebih dingin dari sebelumnnya, tangannya msih terus saja ditepis. "Kanya itu cuma..."
"Woekk,, woekkk.. Kok gue kayak mau muntah gini sih." Gumam Kanya dengan tangan yang terus menutupi mulutnya.
"Apaa? lo mau ngomong apa? gue udah bilang sama lo tadi, gue enggak mau temen-teman gue ikut sama hal gak jelas kayak gini. Hal yang bisa hilangin nyawa seseorang." Kalimat panjang Clarissa terdengar menusuk keberbagai gendang telinga puluhan orang disana. Mereka merasa tersindir. "Lakuin sesuatu hal yang berguna bisa kan?"
"Tapi Kanya kan baik-baik aja..."
"Apa perlu ada yang kenapa-kenapa baru lo sadar?" Clarissa menatap dua pasang yang mematung menatapnya. "Gue biarin Delisa sama Noel karena gue yakin Noel bakal jagain dia dengan baik, gue biarin Vina sama Rinda karena gue yakin Rinda juga sekedar solidaritas sama lo. Tapi lo, gue gak yakin kalau Kanya baik-baik aja sama lo yang secara garis besarnya kalian itu gak pernah akur."
"Ca, kok jadi ngomong serius gini sih."
"Gue nyesel ikut kesini. Seharusnya sekalian aja gue gak tau hal kayak gini." Kembali menuntun Kanya yang semakin terlihat lesu dan lemah, Putra menggaruk tengkuknya kebingungan, dia malah menjadi kesal ketika melihat Kanya tengah menjulurkan lidah kearahnya tanpa sepengetahuan Clarissa.
__ADS_1
"Sialaan." Dia menatap ke arah teman-temannya yang sedang menahan tawa. "Gak usah sok nahan-nahan ketawak gitu jingan, kalau mau ngejek ya ngejek aja sih."
Leo yang sedari tadi duduk diatas mobil Noel, memulai mengeluarkan tawa lebih dulu. "Itu Clarissa gak tahu ya kalau Kanya lagi pura-pura."
"Bagi Clarissa, apapun yang terjadi pada kanya itu adalah hal besar yang gak bisa dibuat main-main." Ucap Delisa.
"Polos banget." Menatap Kanya dan Clarissa yang sudah jauh. "Jadi gimana nih sama balapan ini."
"Ya kalian tetep pada lanjutlah, gue mau nyusul mereka." Ucap Putra sembari berjalan menjauh untuk mengejar Clarissa.
Kegiatan balapan kembali dilaksanakan, komunitas motor yang kali ini menguasai, mereka sama sekali tidak memasukkan ucapan Clarissa kedalam hati mereka, toh yang diucapkan perempuan mungil itu hanya karena kesal saja.
Putra yang sudah sampai ditoilet wanita duduk diwastafel, memutar bola matanya kesal ketika memperhatikan Kanya yang sedang berakting pura-pura muntah, padahal tidak ada yang keluar dengan Clarissa yang setia dengan memijit leher belakang Kanya. "Gue kan udah bilang sama lo, gak usah ikutan kayak gitu."
"Buat pengalaman Ca."
"Pengalaman cari mati lo?" Meraih tissu toilet dan membersihkan keringat yang keluar dari dahi Kanya, "kita pulang aja. Gue anter."
Mereka sama-sama terkejut ketika Putra sudah berdiri didekat pintu toilet, bersandar dengan kedua tangan dilipat kedepan dada. "Gue aja yang anter."
"Gak usah, lo balik aja lagi ke sana,"
"Ehh Ca..." Kanya menahan agar Clarissa tidak mengusir Putra, "gue bawa mobil, lo kan gak bisa bawa mobil. Biar Putra aja yang bawa," menyerahkan kunci mobilnya kepada Putra dan kembali berjalan dengan bantuan Clarissa.
"Pinter banget sih aktingnya."
...πΌπΌπΌ...
"Mau gue gendong gak Nyak, kayaknya susah gitu buat jalan." Dia harus berpura-pura merasa bersalah. karena kali ini Kanya dan Putra sedang mencari simpati dari Clarissa.
Kanya menggeleng lesu. "Gak usah Put, lihat muka lo gue rasanya pengen muntah aja, by the way, congratulation ya atas menangnya lo tadi."
"Iya Nyak, sorry ya soal malam ini, gue bakal tepatin janji kok buat nuruti semua mau lo." Menyerahkan kunci mobil dengan wajah menyesal, Clarissa tampak tidak enak melihat ekspresi Putra yang seperti itu.
"Oke, kita masuk dulu. Lo tunggu sini aja ya, gak enak sama tantenya Vina kalau ada cowok yang masuk." Putra duduk dibangku luar.
Kanya dan Clarissa menyapa tante dari Vina yang tengah asik menonton film action diruang tengah, "ehh sudah pulang, kamu kenapa Kanya?"
"Tadi jadi partner balapan tante, malah pusing terus ini kayak mau muntah gitu bawaannya." Masih dengan ala-ala lemas yang dibuat-buat.
Amira hanya menggeleng, permainan anak muda jaman sekarang memang mengerikan. "Yasudah kamu istirahat saja, nanti tante buat kan teh. Vina masih diluar?"
"Iya tante, Kanya pulang duluan dianter Clarissa." Amira menatap Clarissa yang tersenyum ramah. "Maaf tante merepotkan."
"Gak apa-apa. Anak itu kalau gak ada ayahnya emang begitu. Tapi wajar sih, ayahnya emang galak banget," ucapnya. "Yasudah Kanya masuk, Clarissa antarkan saja Kanya masuk kedalam kamar Vina."
"Iya tante, permisi."
...πΌπΌπΌ...
Clarissa membantu Kanya untuk merebahkan diri, Kanya masih belum ingin menyelesaikan akting lemasnya. "Ca,"
"Em.. Thank you yak udah mau nganterin gue."
Clarissa berdecak. "Lo ngomong apasih? ya jelas gak masalah lah, lo itu berharga buat gue setelah bokap gue yang kurang ajar itu."
Kanya tertawa. "Sebelum bokap lo, siapa?"
"Nyokap gue yang masih mencoba memaafkan bokap gue kalau masih ada lontaran permintaan maaf dari mulutnya."
Kanya tertawa lagi. "Sebelum nyokap lo, siapa?"
"Kak Bintang, yang sampai sekarang gak tau dimana keberadaannya."
Kanya tampak beepikir, "pasti sebelum kak Bintang si Putra brengsek itu."
"Em.."
"Cieee,," menoel lengan Clarissa. "Selama tinggal dirumah dia, bisa nih ada kesempatan buat dapetin dia."
"Apaan sih, gue malah takut kalau deket-deket dia."
Kanya mengerti, yang ditakutkan oleh sahabatnya itu tentang perempuan disekeliling Putra, pemuja Putra, yang sangat mendambakan Putra, selama ini Clarissa selalu mencoba untuk menjauhi laki-laki itu, namun takdir tidak bisa menjauhkan mereka.
"Rasanya gue pengen banget beli apartemen sendiri terus tinggal sama lo, dari pada kayak gini."
Kanya menepuk kapala Clarissa. "Cup, cup, lo harus kuat dong, berada didekat putra itu tidak seberat berada didekat seseorang yang tidak mengerti perasaan lo."
"Nyak, lo sendiri kan tau, gue ngerasain keduanya, berat berada didekat Putra sekaligus berat karena dia gak tau gimana perasaan gue." Keduanya sama-sama menghela nafas berat.
Clarissa menghela nafas karena beban hidup keluarga yang tiba-tiba menjadi berantakan dan beban perasaannya yang tidak kunjung diberi jalan, bercampur menjadi satu.
Untuk Kanya, dia menghela nafas karena tidak bisa mengatakan apa-apa kepada Clarissa soal putra yang juga memiliki perasaan kepada sahabatnya itu.
Menguatkan. Itu yang hanya Kanya mampu berikan kepada Clarissa, dia menepuk bahu Clarissa lembut. "Sabar ya, sini gue peluk."
__ADS_1
πππππ BERSAMBUNG πππππ