Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:90


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Sejak pelajaran berlangsung, kelas dua belas IPA satu mendadak hening, mereka semua benar-benar fokus pada pelajaran. Tidak ada yang berani mengobrol atau sekedar bertanya soal pelajaran, selain guru yang mengajar itu sendiri bertanya. Amarah Kanya telah membuat semua orang terdiam. Perempuan itu hanya tidak menyangka, tidak seharusnya sahabat kecilnya itu menjadi akrab dengan musuhnya sejak lama.


Kecanggungan ini tercipta sejak kelima geng siswi dadakan itu melabrak Meysa telah pergi, Kanya memarahi Clarissa habis-habisan. Tidak ada yang berani melerai, Clarissa sendiri saja tidak mengelak saat dimarahi, Putra hanya menghalangi Kanya untuk tidak bermain kasar saat tubuh amarah itu mendadak maju membuat Clarissa terus mundur ketakutan. Mereka berdua sudah ada di kelas saat kejadian Meysa tidak ada yang membela kecuali belaan Putra tadi. Saat perempuan itu tersungkurpun hanya dirinya sendiri yang membuatnya bangkit. Maklumi saja, Meysa terkenal tidak memiliki hati sejak dulu, jadi untuk apa sekarang dia di bantu?


Bel istirahat berbunyi, Clarissa tidak berani bertanya pada Kanya akan makan di kanti bersama atau tidak.


"Ca, ayuk ke kantin." Ajak Delisa yang baru masuk ke kelas mereka.


Kanya menarik tangan Delisa dan Vina. "Gak usah, dia udah punya temen baru."


"Hah siapa?" Tanya Delisa. "Ajak gabung aja Ca."


Vina menjitak kepala Delisa. "Diem lo, begoo."


Delisa langsung mengelus kepalanya. "Apaan sih, sakit tau." Delisa berjalan mundur dengan tangannya masih dalam tarikan Kanya, matanya menatap Clarissa. "Ica beneran gak di ajak Nyak?"


Di dalam kantin, Vina menjelaskan semuanya pada Delisa. Maklum, sahabat satunya itu tidak lagi sekelas dengan mereka bertiga. Delisa hanya menghela napasnya, mendengar penjelasan panjang lebar Vina. Mereka berdua leluasa berbicara karena Kanya sudah di ajak oleh Edo untuk makan berdua saja di tempat yang lain.


"Tapi pasti bukan gitu yang terjadi antara Ica sama Meysa kan Vin?" Delisa bertopang dagu. "Mungkin, emang bener kalau Meysa itu selama ini jahat ya gara-gara main sama Jesika sama Tias."


"Lo kayak lagi ngebelain Meysa tahu gak?"


"Dih, ya gak juga sih." Matanya melebar, dia melambaikan tangan pada rombongan kekasihnya yang berjalan mendekat minus Putra. "Loh tumben Putra gak ikut?"


"Nemenin Clarissa di kelas." Jawab Rinda.


Rinda yang mengambil posisi di sebelah Vina langsung menatap perempuan itu. "Jadi beneran ya kalau si Meysa sama Clarissa jalan kemarin?"


"Iya."


"Wah, akhir-akhir ini emang ada yang berubah dari Meysa." Rinda menggeleng takjub. "Tapi, gue lebih seneng dia sendiri sih dari pada punya temen."


Mereka berlima langsung melihat ke arah Meysa yang duduk sendirian sedang menyantap bakso.


"Apa kita ajak gabung aja?" Tawar Noel sembarangan.

__ADS_1


Delisa langsung memukul lengan kekasihnya itu dengan kesal. "Jangan aneh-aneh, Clarissa ketahuan pergi bareng aja, Kanya langsung ngamuk. Gimana kalau sampai kami berdua satu meja makan sama dia." Ucap Delisa sembari menunjuk antara dirinya dan Vina.


"Halah, Kanya aja kok. Dia cuma kesel aja kalau Clarissa bakal gak bergantung lagi sama dia."


"MEY!?!?!?!"


"WOY!?!?!" Serentak mereka berteriak ketika Erlangga tiba-tiba memanggil Meysa dengan suara keras dan tangan yang terangkat tinggi.


"Apaan sih lo, Er." Rinda memukul kepala Erlangga dengan kasar.


Sayangnya, Erlangga malah memberikan tatapan menjengkelkan kepada Rinda. Noel hanya tertawa geli karena tingkah aneh Erlangga yang tiba-tiba itu, Erlangga memang sengaja pura-pura tidak tahu kalau mereka sedang bercanda untuk mengajak Meysa makan bersama.


"Sini, gabung."


"Anjiir gak tuh!!" Rinda tidak berani menatap Meysa.


Vina dan Delisa langsung menautkan tangan mereka ketika terdengar geseran bangku dari arah Meysa. Mereka berdua takut jika Meysa benar-benar nekat untuk duduk bersama mereka.


Meysa menghentikan langkahnya di dekat Erlangga. Dia menunjukkan nampannya yang berisi mangkuk kosong dan gelas berisi es batu. "Lain kali ya, mangkok gue sudah kosong."


"Okey, gabung aja kalau bosen sendiri."


"Aman."


"Gilaa lo, Er."


"Lah, tadi katanga suruh gabung."


"Gue bercanda begoo!!!!?"


"Ya gak tahu gue." Jawabnya santai sembari kembali menyesap mangkuk mie ayam miliknya.


...🌼🌼🌼...


Hari ini seluruh kelas SMA Gemilang Cahaya di jadwalkan kosong sampai jam selesai, karena seluruh guru mendadak rapat, tapi mereka dilarang untuk pulang lebih dulu karena khawatir rapat akan selesai dengan cepat dan mereka dapat kembali melanjutkan pelajaran. Biasanya Kanya sudah mengajak Clarissa mengobrol soal drama korea yang baru dia tonton saat jam kosong, tapi untuk kali ini Kanya hanya diam bermain ponselnya. Clarissa sendiri sudah membuka laptop untuk login gamenya seperti biasa.


"Ca, jangan main game terus sih, mata lo sakit nanti." Ucap Putra sembari menarik satu earphone di telinga Clarissa. "Ngobrol sama gue sini."


"Gak berminat."

__ADS_1


Putra hanya tersenyum tipis, matanya melihat ekspresi Meysa yang menahan tawa. Perempuan itu pasti tengah mengejeknya karena telah ditolak oleh Clarissa.


"Apa??" tanyanya tanpa nada suara pada Meysa, yang ditanya hanya menggeleng dan kembali pada buku yang sedang dia baca.


"Nyak,"


Kanya dapat mendengar panggilan itu, tapi dia tidak perduli, matanya sibuk menatap layar ponsel yang sudah menampilkan drama korea terbaru. Kanya menutup telinga. Dia masih kecewa dan kesal pada sahabatnya itu.


Clarissa berdiri dan menghampiri bangku Kanya. "Bisa ngomong bentar,"


"Sibuk."


"Sebentar doang."


Dengan malas Kanya menegapkan tubuhnya, menyimpan ponsel ke dalam saku dan keluar. Clarissa tidak membiarkan kesempatan yang di berikan oleh Kanya terbuang sia-sia, dia bergegas mengejar dan mengikuti langkah kaki Kanya.


Mereka berdua berdisi di atas rooftop, tempat biasa mereka duduk berdua untuk mengobrol hal intens berdua saja.


"Mau ngomong apa?"


"Clara."


Kata utama Clarissa membuat tatapan malas Kanya berubah menatap serius. "Clara, selingkuhan om Doni kan?"


Clarissa mengangguk.


"Dia kenapa Ca?" Kanya melangkah maju, dia menunduk sedikit agar dapat melihat wajah Clarisssa yang tertunduk, dia memegang kedua bahu Clarissa secara kuat. "Dia kenapa?"


"Dia yang sudah membunuuh mama, Nyak."


"Hah?" Perlahan Kanya melepaskan kedua tangannya dari bahu Clarissa.


"Dia cemburu karena papa masih perduli sama mama kemarin, soalnya papa ngehabisin waktu untuk mama di Rumah Sakit." Clarissa semakin tertunduk. Dia mengusap pipinya yang membasah. "Sial, kenapa juga sih gue harus baca isi chat papa sama Tante Emma."


Kanya bergerak memeluk Clarissa lembut, "sudah Ca, jadi di mana keberadaan Clara."


"Dia udah di tahan, tinggal sidang aja yang buat dia masuk jadi tahanan." Mereka melepaskan pelukan. "Lo tahu kan bokapnya Meysa?"


"Hmm, kenapa?"

__ADS_1


"Clara juga yang membuat papanya Meysa meninggal."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2