Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:49


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Silau. Tapi Clarissa menahannya selama pemeriksaan. Dokter memeriksa keadaan mata kiri Clarissa dengan saksama, takut kalau cipratan kuah bakso tadi akan bahaya untuk matanya. "Bagaimana dokter, mata Ica baik-baik saja kan?"


Dokter Ali tersenyum tipis. "Tidak apa-apa kok, nanti saya kasih obat tetes mata saja ya?"


Clarissa mengangguk. Dia turun dan menerima sodoran kertas berisi resep obat untuk dia ambil pada bagian apotik. "Terima kasih dokter."


Setelah pemeriksaan, Clarissa keluar ruangan dan berjalan menuju apotik Rumah Sakit.


"Ica..."


Langkahnya berhenti, dia melihat Anita berjalan dari lorong sebelah kanannya. "Tante Anita..."


"Tante kangeennn." Anita setengah berlari ketika benar-benar memastikan kalau yang dia lihat benar-benar Clarissa. "Kamu apa kabar sayang?"


"Baik tante," menerima pelukan hangat Anita. "Tante sendiri?"


"Kurang baik, karena gak ada Clarissa dirumah," jawabnya dengan tatapan pura-pura sedih. Namun dia tertawa ketika Clarissa tidak menanggapi akting sedihnya. "Kamu gemes banget sih,"


"Tantee..." Mengelus pipinya bekas cubitan Anita.


"Kamu sedang apa disini? lihat mama kamu kerja ya?" tapi alisnya berkerut karena jalan Clarissa bukan berasal dari ruang Dinda ataupun menuju ruangan Dinda.


"Periksa mata tante," jawabannya membuat Anita membelalak kaget. "Tidak apa-apa kok tante, cuma pas makan bakso kuahnya nyiprat kemata gitu."


"Duh kok bisa sih??" melihat mata Clarissa. "Sudah periksa?"


"Sudah tante," menunjuk kertas resepnya. "Dikasih dokter Ali buat tebus obat diapotik."


"Kalau makan hati-hati sayang, untung tidak apa-apa."


Clarissa mengangguk. "Iya tante, habisnya bakso dikantin sekolah enak, Ica suka. Kapan-kapan tante cobain dehh.."


Anita tertawa sembari menutup mulutnya. "Boleh, kapan-kapan tante mampir, Ica temenin ya?"


Clarissa mengangguk. "Tante ada pasien? Ica mau tebus obat."


Anita tersenyum. "Tante tidak temenin kamu ya? soalnya sudah ditunggu. Sama siapa kesini?"


"Iya tante. Sama Kanya, tapi didalam mobil, moodnya kurang baik dari tadi."


"Anak itu,," menggeleng kecil. "Ya sudah, hati-hati, tante keruangan dulu."


"Iya tante...."


Sesekali Anita berjalan melihat kearah Clarissa, walaupun berbeda arah tetap saja dia ingin melihat perempuan mungil itu berjalan dengan benar. Saat dia kembali menatap kedepan, tubuhnya terlonjak kaget.


"Astagfirullah,,, ya ampun Kanya bikin tante kaget saja sih..." Mengelus dadanya, Kanya berdiri dengan tatapan datar. "Kenapa? Ica baru saja kearah sana, ke apotik."


"Tante tau gak mata Ica kenapa?"


"Katanya kecipratan kuah bakso pas makan tadi, kamu gak tau?"


"Tau."


"Kok tanya tante."

__ADS_1


"Ica bohong."


Anita mengerjap matanya, dia tidak paham maksud dari Kanya. "Maksud kamu bagaimana sih?"


"Ica bohong sama tante, dia kecipratan kuah bakso karena dijegal kakinya sama Meysa."


"Apa??!?!"


Kanya bersidekap menatap Anita. "Kanya gak tau sih apa hubungan Meysa sama keluarga Aditema, tapi kami berdua diberikan keringanan hukuman."


"Kamu?"


"Menampar Meysa, Kanya sedikit sebal karena perbuatan dia sama Ica." Melihat perubahan wajah Anita semakin membuat Kanya menatap curiga. "Sespecial apapun Meysa sama keluarga Adietama, Kanya tidak takut kalau harus berhadapan sama kakek Putra, karena yang dilindungi itu medusa, perempuan gak tau diri seperti Meysa..."


"Kanya..." Anita menahan dadanya.


"Kenapa?" Kanya maju. "Kanya merasa tidak sopan membicarakan ini sama tante, tapi rasanya kesal karena tidak tau harus melapor pada siapa soal perbuatan Meysa Adelia. Karena kata pak Joko, beliau tidak bisa bertindak jauh karena tidak ingin melawan Darmo Sudrajat Adietama."


Wajah Anita semakin memucat mendengar perkataan Kanya. "Kanya cuma mau bilang kalau untuk melindungi Clarissa, Kanya tidak takut kalau sampai meregang nyawa Kanya sendiri. Maaf tante, kalau Kanya sudah membuat tante panik dan khawatir. Kanya permisi."


...🌼🌼🌼...


Bintang tertawa keras, dia tidak bisa mengelak ketika Kanya bersandar padanya dan memeluk lengannya erat. Melihatnya membalas pesan dari Raisa kekasihnya.


"Geser dong sayang.."


"Biarin aja, nanti kalau sudah nikah, mana bisa Anya peluk kak Bintang."


"Iya juga sih,"


"Kak,"


"Batalin dong pernikahannya."


"Kenapa?"


"Gak pernah tau wajah calon kakak, tiba-tiba Anya gak percaya aja."


Dinda mengelus kepala Kanya dan memutari sofa tempat mereka duduk. Menaruh buah dan minuman segar diatas meja lalu duduk disebrang Bintang dan Kanya.


"Memangnya semudah itu?"


"Hamil saja mudah kenapa batal nikah tidak mudah."


"Kamu membicarakan konsep yang berbeda sayang." Dinda menggeleng pelan, meraih koran dan membacanya. "Kalau dibatalkan, bagaimana dengan calon bayi mereka? nanti Bintang jadi kebiasaan main-main sama perempuan dan gak tanggung jawab."


"Enggak apa-apa tante, kan masih ada Anya yang bakal terima kak Bintang apa adanya."


Bintang kembali tertawa keras. "Astaga Anya, kamu gemesin banget sih..."


"Mau kan kak?"


"Enggaklah,"


"Apa kurangnya aku?" Kanya menatap Bintang, lalu menatap Dinda. "Apa coba tante kurangnya Anya?"


Bintang melepaskan rangkulan Kanya pada lengannya dan dia beralih merangkul perempuan itu. "Karena kamu gak ada kurangnya, jadi kak Bintang ngerasa kalau kakak yang gak pantes buat kamu."


"Dih, sok iya aja."

__ADS_1


"Ma, tau kemeja Ica yang oversize gak? besok mau dipakai buat nonton konser." Tiba-tiba Clarissa hadir diantara mereka dengan wajah datar. "Ica tanya bi Siti enggak tau, padahal waktu itu Ica inget ada dikamar."


"Kamu mau maksa buat dateng ke konser? padahal mata kamu masih sakit." Dinda malah mengalihkan pertanyaan Clarissa. "Makanya kalau makan hati-hati,"


"Ica gak apa-apa kok. Dimana kemejanya,"


"Mama lupa ditaruh dimana, nanti mama cari."


"Dikamar kakak dek," timpal Bintang. "Mungkin bi Siti lupa kalau itu kemeja kamu."


Clarissa pergi.


"Kamu berantem sama Ica?" Kanya menggeleng menjawab Dinda. "Gak usah bohong, berantem kenapa?"


"Gak apa-apa kok tante,"


"Kenapa?" Bintang mengguncangkan tubuh Kanya yang masih dalam rangkulannya. Mencubit pipi perempuan itu untuk menjawab pertanyaan mamanya.


Kanya meraih gelas dan menuang air dingin diatas meja. "Biasalah. Ica sibuk membela Putra."


"Kali ini tentang apa?" Dinda kembali bertanya.


"Ada yang gangguin Ica disekolah lagi tante, tapi Ica bilang kalau saksi gak boleh lapor sama Putra soal itu. Kanya kesel aja, padahal Ica dapet semua perlakuan itu karena Putra kan?" Meminum air sedikit demi sedikit. "Tapi tante tidak perlu khawatir, Kanya sudah memberi pelajaran sama perempuan yang ngebully Ica kok. Dan lagi, Ica gak kenapa-kenapa juga, masih sehat, buktinya masih ngebet mau nonton konser."


"Ya ampun Ica..." Dinda mengusap wajahnya gusar. "Mau bagaimana lagi sih buat kasih tau Ica, kalau dia tidak perlu berlaku lemah."


"Meysa pembully itu?"


Kanya menatap Bintang. "Kak Bintang tau dari mana?"


Laki-laki itu menunjukkan layar ponselnya, sederetan pesan dari Meysa Adelia.


Meysa Adelia


Bintang, kamu gak


perlu membalas pesan ini.


Tapi aku mohon, kamu percaya


sama aku ya? bukan aku yang


ngelakuin itu sama adik kamu.


Cuma kamu yang bisa


aku jadikan tempat


curhat. Please, i need you.


Kanya tersenyum tipis. "Anya juga punya pemikiran yang sama kayak dia, tapi untuk sementara, biar dia dulu yang jadi penyebabnya sampai Putra menyelesaikan masalah ini sendiri."


Terdengar Dinda menghela napasnya. "Maaf ya kalau tante harus merepotkan kamu tentang Clarissa."


"Jangan sungkan, Kanya ngelakuin ini karena emang sayang sama Clarissa." Kanya menatap Bintang. "Terserah kak Bintang aja, mau mutusin buat jadiin Kanya pendamping hidup atau enggak," Dinda dan Bintang langsung tertawa ketika Kanya menawarkan dirinya lagi untuk menjadi pendamping Bintang tanpa rencana, masih seperti Kanya saat sekolah menengah pertama dulu.


"Kanya serius, bahkan Clarissa akan aman sama Kanya."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2