
...πΌπΌπΌ...
Jika tahu kalau tujuan Vina dan Kanya adalah Rumah Sakit, Clarissa akan menerima ajakan Putra untuk pulang bersama. Lebih baik dia melupakan soal egonya daripada harus duduk disofa berisikan Erlangga. Karena hanya laki-laki itu yang selalu memberikan tatapan tidak suka ketika berhadapan dengannya.
"Rin."
Dengan sangat terpaksa Clarissa memanggil Rinda yang sedang asik bermain game.
"Apa Ca?"
"Join dong." Mendengar tawaran Clarissa, Rinda menyeringai senang. Dia memang sudah mendengar kegemaran Clarissa dalam bermain game. "Boleh?"
"Ya boleh dong, login cepetan."
Clarissa membuka ponselnya dan mengacuhkan deretan pesan dari Putra, bukannya tidak senang. Tapi didekati seperti ini bukanlah keinginannya. Mata Clarissa melirik Erlangga yang masih menatapnya tajam walaupun sesekali bersikap ramah saat Vina menanyakan keadaan laki-laki itu.
"Wahh gilaa, jago juga lo mainnya." Puji Rinda saat Clarissa dapat mengalahkan beberapa team lawan mereka. "Asik juga nih, lo masih dirumah Putra kan?"
"Hm, kenapa?"
"Bisa nih kita bergadang buat main game." Clarissa mengangguk saat Rinda mengajaknya untuk bermain game bersama. "Lo tau kan kalau dirumah Putra ada satu ruangan khusus buat main game."
"Gak tau,"
"Seriusan gak tau?"
"Iya."
"Padahal ya...." Tatapan Clarissa membuat Rinda menghentikan kalimatnya. "Kenapa Ca?"
"Lo ganggu konsentrasi gua Rin." Ucapan Clarissa terdengar kasar tapi membuat laki-laki yang mengganggu konsentrasinya itu malah mengembangkan senyumannya.
Tangan Rinda terangkat mencubit pipi Clarissa dengan gemas. "Ya ampun Ca, lo kok gemesin banget sih."
Clarissa diam saja ketika kedua pipinya dicubit bahkan mungkin ekspresi wajahnya sudah berubah karena perbuatan Rinda. Dia tidak protes ataupun sekedar mengelak agar Rinda tidak lagi mengganggunya.
"Rin." Panggilan Erlangga membuat Rinda melepaskan cubitan itu.
"Kenapa Er?"
"Gue mau kekamar mandi."
"Okey," Rinda berdiri, meminta para perempuan untuk minggir dan membantu Erlangga menuju kamar mandi. Kecelakaan itu membuat kaki kanan Erlangga memar dan perlu bantuan saat laki-laki itu ingin berjalan.
Setelah membantu Erlangga duduk di Wc duduk. Rinda keluar dan menutup pintunya, laki-laki itu bersandar pada dinding dekat pintu kamar mandi. Ketiga perempuan itu menatap kearahnya. "Iya, gue tau kok gue ini ganteng."
"Dih," Kanya nyengir mengejek.
"Emang ganteng kok." Vina tersenyum mendaat plototan dari Kanya. "Kenapa?"
"Iyakan Vin?" tanya Rinda pada Vina.
"Ho'oh," Vina mengangguk.
"Rin, udah."
Mendengar suara Erlangga memanggil sontak Rinda berdiri tegap dan membantu Erlangga untuk kembali ke ranjangnya.
"Yang lain kemana?"
__ADS_1
"Siapa?" Rinda menatap Vina.
"Ya temen-temen kalianlah."
"Daze, kayaknya lagi nungguin Marisa les piano deh, mungkin malem kesini. Noel, lagi pergi sama papanya ke kantor polisi ngurus kecelakaan Erlangga, mungkin sorean juga. Kalau Putra..." Pintu terbuka tanpa terdengar ketukan dari luar. "Itu Putra..."
Semua terasa buram bagi Putra, dia tidak menyapa yang lainnya, tujuannya langsung menghadap Clarissa. Menaruh papper bag besar yang tidak diketahui siapapun isinya. Clarissa tidak membuka suaranya karena Putra sudah membiusnya dengan senyuman teramat manis.
"Ini...." Mengangkat kecil papper bag dan menaruh kembali.
"Apa?" Ragu Clarissa melihat kedalam papper bag, sikap lambat Clarissa membuat Kanya dan Vina kesal karena penasaran apa yang dibawa oleh Putra. "Baju gue?"
Putra mengangguk. "Kenapa gak bilang kalau mau kesini, kan bisa pulang dulu ganti baju terus kesini."
"Gue juga gak tau kalau mau kesini, kan ikut Kanya sama Vina." Jawabnya, meraih papper bag didepannya. "Erlangga, gue pinjem kamar mandinya."
"Hm.."
Clarissa sudah masuk kedalam kamar mandi, laki-laki yang menjadi pusat malah sudah duduk ditempat bekas Clarissa dan memainkan ponselnya. Dia tidak menyadari kalau sedang diperhatikan.
"Lo gak bawain ganti baju Rinda, Vina sama Kanya juga Put."
Tanpa melihat Erlangga, Putra menjawab dengan terus menggeser layar yang menampilkan menu instagram. "Bukan urusan gue."
Lemparan permen yang Kanya lempar mendarat tepat dikepala Putra, bahkan membuat laki-laki itu mengangkat kepalanya menatap pelaku utama.
"Gak usah sok asik lo."
"Padahal gue diem aja dari tadi." Kembali menatap layar ponselnya. Tapi dia mendongak lagi. "Kalau tau kesini, kan bisa barengan sama gue, gak perlu pakai taksi segala."
"Gue gak bisa satu ruangan sama lo, sesak. Sekarang aja rasanya sesak banget dada gue karena menghirup satu udara sama lo." Rinda menggeleng, toh pertengkaran kecil antara Kanya dan Putra sudah mejadi makanan sehari-hari mereka jika bertemu. "Eh tau gak sih Vin kenapa tadi gue sama Clarissa gak selesai makan."
Kanya menunjuk Putra menggunakan bibirnya. "Ya gara-gara dia Vin, mie ayam gue langsung hambar pas dia samperin."
Putra tidak ingin menanggapi.
"Aneh banget gak sih, mana tiba-tiba perut gue mules lagi pas dia duduk didepan gue." Mengelus perutnya dengan pelan. "Makanya gue langsung pergi sama Ica karena ya itu tadi, kebelet boker."
Putra masih tetap tenang dan tidak ingin perduli pada kalimat Kanya yang mengarang segalanya.
"Tapi pas gue lihat grup sekolah, lo sama Meysa berantem dikantin." Kalimat mendadak Erlangga membuat Kanya terdiam.
"Lah, yang bener yang mana Nyak?" Vina malah bertanya semakin membuat Kanya enggan menjawab.
Namun Kanya berdiri menghadap Erlangga, Rinda serta Vina, dia belum menjawab, menunggu Clarissa duduk terlebih dahulu. "Jadi gini ceritanya."
"Gimana?"
Kanya mengangkat tangannya, memperingatkan Rinda ataupun yang lain untuk memotong ceritanya nanti.
"Demi apapun, kalian kesel gak sih kalau jadi gue?" Wajah mereka mengartikan tidak tahu maksud Kanya, tapi tidak berani bertanya karena Kanya sudah melarang. "Jadi tadi posisi Clarissa itu duduk disebelah dinding, sebelahnya lagi dia dan depannya gue, nah bitches ini dateng terus duduk disebelah dia. Jadi, Clarissa yang mau keluar gak bisa dong, dia ngomong baik-baik apa coba kata si bitches itu?"
Mereka menggeleng.
"Lewat bawah kan bisa." Ucapnya dengan gaya Meysa. "Kesel gak sih lo."
"Itu bercanda aja kali," Erlangga menimpali.
"Lo mikir gitu juga kan Er?" Erlangga mengangguki pernyataan Putra.
"Lo gimana Rin, Vin?" tanya Kanya pada dua orang yang ditatap Kanya.
__ADS_1
Vina mengangkat tangannya ragu. "Sebercanda apapun, kalau yang ngomong Meysa itu terdengar beneran loh. Masalahnya, ucapan kayak gitu kedengeran gak baik sih."
"Dia emang gak pinter dalam pemilihan kata, pernah diajarin orang tuanya sopan santun gak sih?" Kanya semakin membara mendengar tuturan Vina.
"Gue malah gak pernah ngerasain diajarin sama orang tua."
Kanya menatap Erlangga, semua orang tahu kalau Erlangga adalah anak satu-satunya dari keluarga Anderson. Papanya dan mamanya juga sama-sama sematawayang didalam keluarga, meninggal karena kecelakaan saat kecil membuat Erlangga harus dirawat oleh nenek satu-satunya yang tersisa.
"Ohooo, dark Jokes." Ungkapnya pada Erlangga.
Clarissa berdiri. "Nyak, Vin pulang yuk."
"Sama gue," Putra langsung berdiri, mengambil alih papper bag yang dibawa oleh Clarissa. "Kalian berdua pulang dianter Rinda ataupun taksi, tapi tunggu ada yang nemenin Erlangga."
Rinda mengacungkan jempol.
Putra menatap Kanya. "Setuju? lo kan gak mau satu udara sama gue."
Kanya menanggapi dengan acungan dua jempol.
...πΌπΌπΌ...
"Ca, jangan pulang dulu ya? cari makan atau mau nonton? ada film horror baru nih."
Clarissa mendengus. "Lo sengaja nyamperin kesini, bawain gue baju biar lo ajak keliling? padahal besok ada ulangan dan gue harus belajar?"
"Hah, seriusan lo belajar? gue gak pernah belajar soalnya." Entah Putra sedang mengaku atau membanggakan diri, tetap saja itu tidak enak didengar olehnya.
Langkah mereka berhenti mendadak, lebih tepatnya Clarissa, sedangkan Putra hanya karena Clarissa yang membuatnya berhenti. Pria berjas putih tengah berdiri menatap keduanya, namun tatapan itu jelas tertuju pada Clarissa. Pria itu melangkahkan kakinya dengan lebar dan berdiri dihadapan perempuan mungil itu.
"Ica..."
Kaki Clarissa melangkah mundur secara perlahan. Demi apapun, ini tidak terduga. Clarissa lupa kalau dia sedang berada dirumah sakit tempat cinta pertamanya bekerja.
"Apa kabar? papa kangen Ica."
Clarissa tidak menjawab. Mulutnya terkunci rapat dengan tatapan tidak lepas menatap Doni Andrian Bintara, papanya. Pemeran cinta pertama sekaligus pematah hatinya.
"Ica tidak kangen papa?" Doni tidak sempat meraih tubuh mungil itu untuk masuk kedalam pelukannya, karena Clarissa sudah berlari kencang.
"ICA...." Putra berteriak kaget ketika melihat itu, sebelum mengejar Clarissa dia sempatkan menunduk kecil kepada Doni dan pergi.
Tidak ada dimanapun. Putra sangat panik karena tidak menemukan Clarissa sejak berlari kencang tadi.
"ICAAA." Teriaknya lagi, walaupun tau Clarissa tidak akan menjawabnya.
Putra terdiam ketika melihat sosok yang dia kenali berdiri ditrotoar, dengan menundukkan kepalanya. Putra berlari dan menghentikan langkah perempuan itu.
"Hei, mau kemana?"
Buru-buru Clarissa menutup wajahnya, tangisnya belum berhenti tapi Putra sudah menemukannya. Putra sedikit membungkuk, menarik tangan Clarissa agar turun dan satu tangan lainnya mengusap air mata Clarissa.
πππππ BERSAMBUNG πππππ
ALVINA ANGGRAENI
RINDA AGHA ABIAN
__ADS_1