Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:50


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Saat berjalan menuju kelasnya, bahu kirinya terketuk dua kali, Clarissa menoleh kearahnya dan tidak ada siapapun. "ICA!!?!"


Matanya membelalak kaget. Laki-laki disamping kanannya tertawa keras karena melihat ekspresi terkejutnya. "Kaget ya??"


"Pakai tanya lagi."


Rinda tersenyum tipis. "Kanya beneran diskors? berapa hari?"


"Senin sudah masuk kok."


"Malam minggu besok jadi Ca nonton konser?"


Clarissa mengangguk.


"Sama siapa? gue padahal mau nonton juga, tapi bokap selalu ngajak pergi buat liburan setiap sabtu sore sampai minggu sore." Clarissa tidak menanggapi, mereka tetap terus berjalan. "Er, kelas lo tuh, bye..."


Clarissa melihat kebelakang, rupanya Erlangga ada diantara mereka, berjalan tanpa mengeluarkan suara ataupun mengatakan sesuatu. Erlangga masuk kedalam kelas dua belas IPA dua.


"Dasar, jadi orang kok jutek banget." Rinda menatap Clarissa lagi karena tidak mendapat tanggapan baik oleh Erlangga, sahabatnya. "Sabar ya Ca, Erlangga emang gitu orangnya."


"Kenapa gue? yang harusnya sabarkan lo."


"Terima kasih ya Ca, udah mau memperhatikan kesabaran gue."


Sepertinya memang Clarissa butuh kesabaran menghadapi sikap random Rinda di pagi hari. "Kata lo, selalu ada kegiatan sama bokap lo setiap sabtu sore sampai minggu sore. Kenapa waktu itu bisa jemput gue?"


"Dipaksa Erlangga, kebetulan bokap ada tugas juga jadi liburan batal."


"Erlangga?"


"Dia kan masih sakit waktu itu, cuma gue yang mau bantuin dia jalan Ca, Noel sama Putra mana mau, palingan mereka bagian memperhatikan bumi yang akan dipijak sama Erlangga." Menghela napas. "Mereka sama sekali gak mau megangin Erlangga, ya cuma gue aja."


"Kenapa dia harus repot-repot ikut padahal tubuhnya gak kuat buat menopang diri sendiri?"


"Noel yang minta Erlangga buat ikut."


"Kenapa?"


Rinda menggaruk tengkuknya kaku. "Haduh, pokoknya semua berasal dari Putra. Kalau dia bilang A ya gak mungkin kami nolak."


"Harus??"


"Enggak juga sih, tapi namanya temen minta tolong ya masa enggak dibantu si Ca?"


Clarissa tidak menjawab. Dia berhenti tepat didepan kelasnya, kelas dua belas IPA satu. "Lo kelas berapa sih? gue gak tau."


"Anj, lo gak tau gue kelas berapa? IPS satu Ca, yaelah!!!" decaknya kesal, padahal Rinda sudah sangat senang mengira kalau Clarissa menganggap mereka teman dekat. Ternyata pikirannya salah.


"Sorry gak tau."


"Ya wajar," Rinda kembali berdiri tepat didepan Clarissa lagi. "Bay the way, besok kalau sempet foto sama semua personil Bad Omens. Salam ya buat Jolly."


"Joakim Karlson?"


"Iya Ica, gue jadi dejavu sama pertanyaan lo soal nama lengkap Jolly, gak seneng lo?"


"Lebih enak nyebut Joakim, kalau Jolly gue jadi keinget Jelly."

__ADS_1


Rinda menutup mulutnya. Laki-laki itu menepuk puncak kepala Clarissa. "Ya ampun Ica, lo cute banget sih heran. Bisa-bisanya lo kepikiran Jolly sama Jelly?"


"Hampir mirip."


"Jangan lupa.."


"Lupa apa??" tanyanya heran.


"Lah, baru dibilang. Salam sama Joakim."


"Ooohh, iya, kalau ingat."


"Yaudah, sana masuk, gue mau kekelas gue."


"Iya, hati-hati."


Clarissa tidak membalas lambaian tangan Rinda, dia hendak masuk kedalam kelasnya, tapi salah satu teman Meysa berdiri menghadang dan bersadar sembari bersidekap.


"Ke-kenapa?" tanyanya dengan ragu, tatapan Jesika lebih sinis dari pada Meysa walaupun kejahatan sering Meysa yang melakukannya.


"Enak ya?"


"A-apa?"


"Putra lagi pergi, sekarang nempelinnya Rinda." Jesika mengipas tangannya diarea leher. "Apa udah jadi kebiasaan lo ya buat nempel sana-sini,"


"M-I-N-G-G-I-R" Eja Daze ketika berada dibelakang Clarissa. "Bell masuk udah bunyi, ini baru jam pertama dan kalian udah sibuk ngurusin urusan orang lain."


"Ze, hati-hati, bisa jadi target si cebol ini lo lagi."


"Target apaan?" Daze berkacak pinggang menatap Jesika dan Tyas. "Jangan sok tau, Clarissa sama Rinda dekat karena mereka suka band yang sama, suka game yang sama."


"Bisa aja kan kalau si cebol itu pura-pura suka aja karena mau menarik perhatian Rinda."


Daze mendorong tubuh Clarissa untuk maju. Meninggalkan Jesika dan Tyas tanpa permisi, seperti yang mereka lakukan. Daze tidak habis pikir kenapa Meysa dan gengnya selalu saja menyenggol siapapun yang sedang didekati oleh Putra. Dia jadi teringat kejadian dulu sewaktu mereka kelas dua SMA, tidak ada yang berani melawan geng kakak kelas yang membully Clarissa karena Putra dekati.


Kedekatan secara mendadak yang Putra tunjukkan kepada Clarissa juga tidak ada yang tahu tentang alasannya. Dia serta kedua teman lainnya juga tidak ada yang tahu kenapa Putra memutuskan untuk mendekati Clarissa untuk menjauhi kakak kelas yang terobsesi untuk dekat dengan laki-laki itu, hingga kejadian fatal membuat seluruh anggota yang bersangkutan dikeluarkan dari sekolah dan keposesifan diambil alih oleh Meysa sejak perempuan itu pindah kesekolahnya saat kelas dua SMA semester dua.


Untungnya Meysa tidak seliar kakak kelas mereka dulu, Meysa hanya mengganggu Putra dan menjahili Clarissa. Sedangkan kakak kelas dulu, mengganggu Clarissa sampai membuat perempuan mungil itu sempat depresi dan tidak ingin menemui siapapun kecuali Kanya teman sejak kecilnya.


Clarissa bernapas lega setelah menaruh tasnya dan duduk dengan tenang. Paginya hari ini terbebas oleh tekanan dari geng Meysa, mungkin alasan mereka menemuinya karena ingin protes kepadanya, karenanya Meysa diskors. Clarissa menatap Daze yang sedang bercerita dengan teman sekelas yang lain, saat mata mereka bertemu, Clarisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih tanpa suara, untungnya Daze paham dan mengangguk.


...🌼🌼🌼...


Untuk menghindari pembullyan, Clarissa memilih tidak kekantin walaupun Delisa dan Vina sudah berjanji untuk menjaganya, tapi dia tetap ragu untuk pergi.


"Gak kekantin Ca?" Daze menghampiri.


Clarissa melepas earphone dan mendongak melihat Daze. "Enggak, lagi gak laper."


"Gue duluan ya?"


"Iya."


"Mau titip?"


"Enggak, makasih."


Melihat Daze keluar kelas, Clarissa kembali memasang earphone dan memainkan game online dalam laptopnya. Tangannya bergerak lincah untuk menembak, dan matanya bergerak teliti untuk melihat setiap gerakan lawannya. Dia tidak sadar ketika beberapa teman laki-laki dikelasnya sudah duduk mendekat dan menontonnya bermain.


"Itu Ca,,"

__ADS_1


Clarissa tersentak kaget ketika sebuah tangan menunjuk kearah layar laptopnya.


"Clarissa, yang sebelah situ,,,"


Teman sekelas lainnya yang tidak Clarissa ketahui namanya datang mendekat dan menekan tombol karena Clarissa tampak kewalahan. Bukan karena kebingungan dengan permainannya, tapi dia bingung karena kenapa tiba-tiba semua teman laki-laki dikelasnya mendekat dan ikut heboh dalam permainannya.


Mereka bersorak gembira ketika dalam layar besar menampilkan tulisan 'Win'.


"GILAAA, Clarissa lo jago banget main game itu?"


"Gabut." Keempat teman sekelas yang tidak dia ketahui namanya sama-sama menatap Clarissa. "Karena gabut jadi main ini sampai bisa aja."


"Keren..."


"Gilaa, baru tau kalau lo bisa sejago itu, kapan-kapan mabar kuy."


"Boleh."


Clarissa menatap keempatnya yang mendadak terdiam, dan membuatnya menoleh kearah tatapan mereka. Erlangga masuk dan berdiri didepan mejanya, menaruh satu kantung plastik dan diserahkan kepada Clarissa.


Dengan ragu Clarissa meraih dan membukanya, membuat keempat teman sekelasnya ikut mengintip isi didalam plastik itu. Dua roti selai dan satu kotak susu rasa oreo.


"Disuruh Putra." Jawabnya, lalu pergi meninggalkan kelas.


"Clarissa, sebenarnya lo pacaran gak sih sama Putra." Clarissa mendongak menatap laki-laki yang duduk dibelakangnya. "Bukannya gua ngurusin kehidupan orang ya, tapi rasanya aneh aja kalau Putra memperhatikan lo segitunya."


"Kebetulan bokap nyokap gue kerja dirumah sakit punya Putra."


"Kalau lagi ngobrol sama Putra, gue sampai lupa loh kalau dia anak Adietama, keluarga kaya yang mungkin gak akan bangkrut tujuh turunan." Lainnya mengangguk. "Tapi keren sih Ca, kalau lo deket sama dia dari dulu, wajar kalau Putra jaga lo banget, apalagi kalau Meysa sama geng lainnya gangguin lo."


"Parah emang si Meysa,"


"Tapi kayaknya itu bukan Meysa." Clarissa menyela dan malah membuat keempat teman sekelasnya menerjangnya dengan pertanyaan ataupun pernyataan.


"Yakali Meysa bukan pelakunya."


"Lo mikir gitu juga bre? gue gak yakin sih soal berita yang beredar kalau Meysa bukan pelakunya. Aneh banget kalau bukan dia pelakunya."


"Gue setuju..."


"Gue juga.."


"Gue apalagi...."


"HEH!?! Apaan nih, kenapa kalian duduk ngelilingin Clarissa gitu?" Clarissa serta keempat laki-laki teman sekelasnya itu menatap kesumber suara, beberapa teman sekelas lainnya yang baru datang dari kantin menatap heran pada Rinda dipinggir pintu.


Laki-laki itu masuk dan menatap tajam kearah empat teman sekelas Clarissa yang sedang mengerubungi perempuan itu.


"Kok malah pada bengong?"


"Ini Rin, lihat Clarissa main game."


"Hus... Hus..." Rinda masuk dan mengibas tangannya kepada keempat teman dadakan Clarissa untuk pergi. "Jaga jarak!!?"


"Kenapa Rin?"


"Mau ngajak lo kekantin,"


"Udah makan ini." Menunjuk satu kantong plastik berisi bungkus roti. "Pergi aja sendiri."


"Bagus deh kalau lo udah makan, gue pergi ya..."

__ADS_1


"Iya.." Jawabnya singkat, Clarissa memperhatikan Rinda yang berjalan keluar sembari menatap keempat teman sekelasnya yang bergabung tadi dengan tatapan sinis.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2