
Langit tampak cerah, senyum Meysa mengembang di hadapan makam papanya. Bunga-bunga masih terlihat segar karena setiap pagi dia sempatkan untuk menghampiri makam papanya dan menaburi tujuh rupa bunga. "Papa enggak sakit lagi kan Om?"
Jeri yang duduk di sebelah Meysa mengangguk kuat, "pasti. Bahkan mungkin papa kamu sedang menatap tersenyum di sekitar kita."
"Selagi kepergian papa membuat papa bahagia, Mey akan ikhlas."
"Itu bagus."
Jeri berdiri, tangannya terulur untuk membantu perempuan itu bangkit dari duduknya. Meysa menerima uluran tangan itu dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih Om."
"Sama-sama, yuk, tante Alia sudah masak dan menunggu untuk makan siang bersama."
"Terima kasih sudah menerima Mey di keluarga kecil Om dan Tante Alia." Kalimat Meysa menghentikan Jeri untuk bergerak dari tempatnya. "Mey merasa sangat bahagia, setidaknya setelah kehilangan papa, Mey di pertemukan dengan dua orang berhati malaikat."
"Mey jangan katakan itu, kamu adalah pelita di keluarga kami. Sejak dulu kami memang berniat untuk mengambilmu, tapi Tante Alia menentang karena dia hanya ingin kamu tetap berada disisi papamu." Jeri menghela napasnya. Dia bergerak menggenggam tangan kanan Meysa. "Walaupun Om tidak akan membuatmu berpisah dari papamu, tapi tetap saja Tante Alia menginginkanmu menghabiskan banyak waktu dengan papamu. Kamu anak yang baik Mey, melihatmu seperti melihat Alia pertama kalinya, Om sayang padamu apalagi Tante Alia. Om berharap apapun yang terjadi, kamu tetap bersama kami."
...πΌπΌπΌ...
"Pa..."
"Iya sayang." Doni menatap Clarissa, perempuan mungil itu sudah terlihat lebih baik, bahkan dia dapat memberikan senyuman manis yang sejak lama Doni rindukan itu. "Kamu ingin sesuatu?"
"Papa kapan kembali bekerja?"
"Kamu tidak suka papa berada di rumah?"
"Bukan,, bukan seperti itu maksud Ica."
Doni terkekeh. "Dokter Gio memberikan izin papa untuk cuti lama." Doni tersenyum sekilas pada Clarissa lalu kembali menatap kedepan. "Papa senang karena bisa menjemputmu, sudah lama papa tidak melakukan ini. Ica suka?"
"Suka." Clarissa mengangguk. "Sebenarnya, Ica lebih suka kalau papa jemput bersama mama."
"Maafkan papa."
Clarissa menggeleng. "Tidak masalah. Kita perbaiki keluarga kita lagi ya pa, mama pasti bahagia melihat papa kembali sama Ica dan Kak Bintang."
Doni mengangguk, dia bergerak memeluk putri kecilnya setelah lampu merah menyala. "Papa bahagia bisa diterima lagi oleh kamu, terima kasih ya sayang."
Mereka melepaskan pelukan. Clarissa masih enggan memudarkan senyumannya. "Pa, pernah bertemu kak Raisa?"
"Raisa??" Mobil kembali dilajukan oleh Doni dengan pelan. "Who is she??"
__ADS_1
Clarissa berdecak. "Kekasih kak Bintang."
"Ouhh, sudah, tapi hanya sekali, ketika berpapasan sewaktu dia ada pemeriksaan kehamilan dengan Dokter Eva." Jelas Doni, dia sempat lupa siapa nama kekasih anaknya itu. "Ada apa?"
"Bagaimana orangnya? maksud Ica, wajahnya."
"Cantik, dan memiliki senyum manis. Papa seperti melihat Clara di dalam diri Raisa."
"Clara? kekasih papa?"
"Mantan, sayang." Doni tertawa. "Papa sudah memutuskan hubungan papa dengannya."
"Kenapa? bukankah wanita itu sedang hamil, anak papa."
"Wanita itu?" Doni membeo. "Kamu mendengarkan kalimat kakakmu ya, panggil yang lebih sopan, sayang."
"Tante itu."
"Bagus. Kamu tidak perlu tahu alasannya, yang jelas papa tidak akan kembali padanya, jangan pikirkan bayi yang ada pada Clara." Ada baiknya Clarissa tidak tahu penyebab kematian mamanya adalah Clara. Luka di hati putrinya pasti akan kembali terbuka, Doni tidak akan membiarkan hal itu terjadi, cukup orang dewasa yang mengetahui hal ini. Cukup dia yang harus menebus kerusakan ini, jangan biarkan Clarissa kembali menjauhinya. "Ica mau mampir kesuatu tempat atau langsung pulang?"
"Pulang saja, Ica sudah laper pa," Clarissa membuka ponselnya. "Bi Siti bilang, beliau masak ikan sambel, Ica jadi kepikiran."
Doni menggeleng kecil, lalu mengelus puncak kepala Clarissa. "Astaga, kenapa kamu semenggemaskan ini sih."
Mendengar deru suara mobil Doni, bi Siti tergopoh keluar dan langsung menghampiri Doni yang baru saja keluar dari dalam mobil diikuti oleh Clarissa. "Pak, ada Dokter Gio di dalam."
"Benarkah? kok tidak ada mobilnya?" Tanyanya samar pada diri sendiri sembari mencari keberadaan mobil milik Gio.
Doni dan Clarissa masuk kedalam rumah dan langsung menampilkan Gio yang sedang duduk santai menyesap kopi sembari membuka setiap halaman album foto milik keluarga Clarissa.
"Dokter Gio." Sapa Doni menghampiri.
"Om Gioo..." Sapaan Clarissa tidak kalah sumringah, bahkan perempuan itu sembari melambaikan tangannya kuat ke hadapan Gio.
"Hei sayang, apa kabar?"
"Baik."
Doni meminta Clarissa untuk berganti pakaian lalu makan siang karena perempuan itu sudah sempat merengek kelaparan selama macet dalam perjalanan tadi.
"Ada apa nih, Dokter Gio."
Gio tersenyum tipis, dia memperhatikan Doni sampai duduk nyaman dan menatapnya. "Saya hanya ingin berkunjung. Dimana Bintang??"
__ADS_1
"Mungkin masih di kampus, hubungan kami masih kurang baik." Adu Doni, "jadi kemungkinan Bintang masih nyaman berada di luar di bandingkan berada di rumah yang ada sayanya."
"Jangan berpikir yang macam-macam, bisa saja dia sedang ada kegiatan. Maklum anak semester tengah, pasti sedang sibuk juga." Jelas Doni memberikan pandangan luas, Doni hanya memikirkan kesalahannya saja dan membuat semua tingkah anak-anaknya terlihat seperti sedang menghindarinya. "Besok tolong masuk ya, setidaknya datang saja tidak perlu mulai bekerja, para Dokter ingin menyapa anda."
"Lusa boleh?"
"Wah, anda sudah berani bernegosiasi ya."
Doni dan Gio sama-sama tertawa, Doni memang sudah lancang meminta hal itu. Tapi Gio tampak tidak masalah, pria gagah itu mengangguk.
"Saya ingin mengajak Clarissa dan Bintang jalan-jalan, untuk memperbaiki hubungan kami yang merenggang. Sudah lama kami tidak melakukan hal itu." Doni menunduk, dia tampak menimang lama. "Terakhir saat ulang tahun Almarhum, dan sebulan kemudian saya meninggalkan mereka."
Doni butuh teman curhat, dia menyesal telah meninggalkan keluarganya yang bahagia ini hanya demi keegoisannya.
"Berliburlah, ingin saya pinjami Vila?"
"Oh tidak perlu." Doni menggeleng kuat. "Hanya ingin berkeliling jakarta dan menghabiskan waktu bersama saja."
"Baiklah." Gio berdiri. "Sampaikan salam saya pada Bintang jika dia kembali........"
Doni sempat diam, menunggu kelanjutan kalimat Gio, sayangnya pria itu diam dan memandang ke arah pintu masuk. Doni berdiri, melihat Bintang yang berdiri kaku dan canggung, suasana ini benar-benar berbeda. Seketika Bintang dan Gio memiliki status yang lain, setelah mereka menghabiskan waktu bersama sebagai Om dan keponakan. Kali ini,,,,, Bintang menunduk kecil dan berjalan pelan melewati.
"Bagaimana kabarmu?"
Langkah Bintang berhenti, dia berbalik ragu dan menatap Gio. "B-baik, permisi."
Doni tersenyum tipis. "Dengan saya saja perlu waktu, bagaimana dengan anda Dokter Gio. Butuh dua kali lipat waktu untuk Bintang memahami semuanya."
Gio mengangguk. Menggaruk pelipisnya dan tersenyum canggung pada Doni. "Semoga saja, masalah ini cepat selesai dan berakhir bahagia ya."
"Semoga saja."
"Oh iya, saya butuh kabar soal perkembangan kasus nyonya Clara. Bagaimana?"
"Anda urusi saja soal yang berhubungan dengan pak Raka. Bukankah Clara sempat menemui pak Raka setelah menemui Dinda?" Gio mengangguk. Clara memang wanita yang keji, berani melakukan hal sejahat itu pada dua orang yang special bagi keluarganya. "Saya lelah memikirkan dia, saya hanya ingin fokus pada hubungan saya dengan anak-anak. Untuk Clara, saya tetap ingin hukuman yang seberat-beratnya."
"Saya akan bantu."
Doni tersenyum puas. "Saya senang bisa kenal dengan orang sebaik anda, maaf kalau saya sempat membuat anda tidak nyaman."
"Santai saja, sayang pamit."
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1